Publication Search

67,732 articles from 582 journals · 1,699 citations tracked

Showing 1-20 of 212

Analytics

Haryanto; Buna, Nafila; Hafifah, Nurul; Arrahmah, Muftiha; Febrianti, Febi +1 more

Jurnal Mahasiswa Ilmu Kesehatan 2026 STIKes Ibnu Sina Ajibarang

Penelitian ini bertujuan untuk mengkarakterisasi tingkat toksisitas ekstrak etanol 90% daun trembesi (Samanea saman) terhadap larva udang (Artemia salina) menggunakan metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT) dengan pendekatan Reed-Muench dan analisis probit. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan rancangan post-test only control group design. Larva Artemia salina digunakan sebagai organisme uji karena memiliki sensitivitas tinggi terhadap senyawa toksik dan sering digunakan sebagai indikator awal aktivitas bioaktif. Ekstrak diuji pada berbagai konsentrasi bertingkat untuk mengamati persentase mortalitas larva setelah 24 jam perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan konsentrasi ekstrak berbanding lurus dengan peningkatan jumlah kematian larva, yang mengindikasikan adanya hubungan dosis-respons yang jelas. Nilai LC₅₀ yang diperoleh dengan metode Reed-Muench adalah sebesar 567,02 ppm, sedangkan dengan analisis probit diperoleh nilai LC₅₀ sebesar 581,0319 ppm. Perbedaan nilai ini disebabkan oleh perbedaan pendekatan analisis, di mana metode probit dinilai lebih akurat karena melibatkan transformasi statistik yang lebih kompleks. Berdasarkan klasifikasi toksisitas BSLT, nilai LC₅₀ sebesar 581,0319 ppm termasuk dalam kategori sangat toksik (LC₅₀ < 30 ppm). Tingginya tingkat toksisitas ekstrak diduga berkaitan dengan kandungan metabolit sekunder seperti flavonoid, saponin, dan tanin yang memiliki aktivitas sitotoksik. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ekstrak etanol 90% daun trembesi memiliki potensi bioaktivitas yang tinggi dan berpeluang untuk dikembangkan lebih lanjut sebagai sumber senyawa bioaktif dalam bidang farmasi maupun bioteknologi.

Prihartanto, Henry Dwi; Armin, Edmund Ucok; Apriliani, Trisna Ayu

ISAINTEK: Jurnal Informasi, Sains dan Teknologi 2026 Politeknik Negeri FakFak

Wastewater Treatment Plant (WWTP) pada kawasan industri konvensional umumnya masih mengandalkan strategi pemeliharaan berbasis interval waktu yang tetap. Pendekatan tersebut berisiko menyebabkan penurunan performa pompa yang tidak teridentifikasi secara dini serta meningkatkan potensi pemborosan energi operasional. Penelitian ini mengembangkan Green Maintenance Framework berbasis machine learning untuk meningkatkan reliabilitas pompa sirkulasi pada sistem Moving Bed Biofilm Reactor (MBBR). Analisis dilakukan menggunakan dataset telemetri multi-sensor yang mencakup parameter getaran, temperatur, tekanan, debit aliran, dan rotasi per menit (RPM). Proses rekayasa fitur diterapkan melalui pembentukan System Efficiency Index untuk meningkatkan sensitivitas model terhadap indikator degradasi kinerja pompa. Model prediktif dibangun menggunakan algoritma Random Forest Classifier dengan skema pembagian data 80:20 secara stratified. Hasil pengujian menunjukkan bahwa model menghasilkan tingkat akurasi klasifikasi sebesar 100%, dengan variabel Vibration dan Temperature menjadi parameter yang paling dominan dalam proses prediksi. Analisis operasional memperlihatkan bahwa degradasi pompa menyebabkan penurunan flow rate meskipun nilai rotasi per menit (RPM) mengalami peningkatan, sehingga memicu kenaikan konsumsi energi dan meningkatkan risiko gangguan pada proses biologis Moving Bed Biofilm Reactor (MBBR). Dari aspek ekonomi, kondisi tersebut menyebabkan pemborosan energi sebesar 5.623 kWh atau setara Rp6.271.236, - per bulan untuk setiap unit pompa. Penelitian ini berkontribusi pada pengembangan sistem predictive maintenance berbasis kecerdasan buatan untuk mendukung efisiensi energi serta implementasi green manufacturing di kawasan industri.

Aldi Bragi Muslim; Mohammad Fatkhurrokhman

Jurnal Kendali Teknik dan Sains 2026 International Forum of Researchers and Lecturers

The development of transportation technology encourages companies to improve vehicle monitoring systems to be more effective and measurable, particularly in addressing speeding violations that can increase accident risks and reduce operational efficiency. This study aims to analyze the implementation and effectiveness of using a buzzer integrated with the Teltonika FMB910 GPS module as a vehicle speed warning indicator at PT. Lacak Cipta Aktual. This research employs a qualitative descriptive method with a case study approach, where data were collected through observation, interviews, and documentation during a one-month industrial internship and analyzed using the Miles and Huberman model, including data reduction, data presentation, and conclusion drawing. The results show that the system is capable of detecting overspeed conditions and automatically activating the buzzer when the vehicle speed exceeds the predefined threshold of 80 km/h. Based on logbook data, the system achieved a success rate of 93.9% in responding to overspeed conditions. The use of a buzzer is proven effective in providing immediate warnings to drivers, thereby improving driver awareness and speed control. However, the system still has limitations, particularly its dependence on GPS signal stability and vehicle electrical conditions. Overall, this study demonstrates that the integration of GPS and a buzzer provides a simple, effective, and cost-efficient solution to enhance driving safety and fleet management efficiency.

Sakdiah, Halimatus; Respati, Novita Weningtyas

Dinamika Akuntansi Keuangan dan Perbankan 2026 Faculty of Economic and Business Universitas STIKUBANK

Penelitian ini menguji indikasi kecurangan pelaporan keuangan pada entitas Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) selama periode 2022-2024 dengan mengadopsi kerangka Fraud Heptagon. Target keuangan, frekuensi rapat komite audit, opini audit, masa jabatan serta rangkap jabatan direktur utama, pelatihan tata kelola perusahaan yang baik (GCG), dan remunerasi dewan direksi digunakan sebagai proksi variabel penelitian. Melalui pendekatan kuantitatif asosiatif terhadap 45 sampel observasi dengan analisis regresi logistik, hasil empiris merepresentasikan bahwa seluruh variabel independen tersebut tidak memengaruhi kecurangan pelaporan keuangan. Temuan ini mengindikasikan adanya keterbatasan kapasitas eksplanatori model Heptagon ketika diterapkan pada konteks BUMN yang berkarakteristik kelembagaan, regulasi, dan pengelolaan publik yang spesifik. Hal ini menyebabkan hubungan kausal yang diasumsikan dalam konseptualisasi awal model tersebut tidak sepenuhnya terkonfirmasi secara empiris. Secara teoretis, hasil ini menekankan pentingnya memahami perilaku kecurangan secara kontekstual, sementara secara praktis, penelitian ini mendorong perlunya evaluasi terintegrasi antara indikator keuangan dan mekanisme tata kelola dalam upaya deteksi dini kecurangan pelaporan keuangan pada entitas negara.

Fiqi Nurbaya; Dewi Puspito Sari; Nine Elissa Maharani; Nur Aini

JURNAL ILMIAH KESEHATAN MASYARAKAT DAN SOSIAL 2026 CV. ALIM'SPUBLISHING

Stunting merupakan masalah kesehatan masyarakat yang masih menjadi prioritas di Indonesia dan dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk faktor lingkungan. Pengelolaan sampah rumah tangga yang tidak aman berpotensi meningkatkan risiko penyakit infeksi yang dapat mengganggu pertumbuhan anak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara pengelolaan sampah rumah tangga dengan kejadian stunting pada balita di Desa Ngadirojo Kidul, Kecamatan Ngadirojo, Kabupaten Wonogiri. Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan case control. Sampel penelitian berjumlah 72 balita yang terdiri dari 36 kasus (stunting) dan 36 kontrol (tidak stunting) dengan perbandingan 1:1. Data dikumpulkan melalui pengukuran status gizi berdasarkan indikator tinggi badan menurut umur serta wawancara menggunakan kuesioner untuk menilai praktik pengelolaan sampah rumah tangga. Analisis data dilakukan secara bivariat untuk mengetahui hubungan antara variabel paparan dan kejadian stunting. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar keluarga belum menerapkan pengelolaan sampah yang aman, dan terdapat hubungan antara pengelolaan sampah rumah tangga dengan kejadian stunting pada balita. Penelitian ini menyimpulkan bahwa praktik pengelolaan sampah rumah tangga merupakan salah satu faktor lingkungan yang berpotensi berkontribusi terhadap kejadian stunting. Oleh karena itu, diperlukan intervensi berbasis lingkungan untuk mendukung upaya percepatan penurunan stunting di tingkat desa.

Fiqi Nurbaya; Dewi Puspito Sari; Nine Elissa Maharani; Nur Aini

JURNAL ILMIAH KESEHATAN MASYARAKAT DAN SOSIAL 2026 CV. ALIM'SPUBLISHING

Stunting merupakan masalah kesehatan masyarakat yang masih menjadi prioritas di Indonesia dan dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk faktor lingkungan. Pengelolaan sampah rumah tangga yang tidak aman berpotensi meningkatkan risiko penyakit infeksi yang dapat mengganggu pertumbuhan anak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara pengelolaan sampah rumah tangga dengan kejadian stunting pada balita di Desa Ngadirojo Kidul, Kecamatan Ngadirojo, Kabupaten Wonogiri. Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan case control. Sampel penelitian berjumlah 72 balita yang terdiri dari 36 kasus (stunting) dan 36 kontrol (tidak stunting) dengan perbandingan 1:1. Data dikumpulkan melalui pengukuran status gizi berdasarkan indikator tinggi badan menurut umur serta wawancara menggunakan kuesioner untuk menilai praktik pengelolaan sampah rumah tangga. Analisis data dilakukan secara bivariat untuk mengetahui hubungan antara variabel paparan dan kejadian stunting. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar keluarga belum menerapkan pengelolaan sampah yang aman, dan terdapat hubungan antara pengelolaan sampah rumah tangga dengan kejadian stunting pada balita. Penelitian ini menyimpulkan bahwa praktik pengelolaan sampah rumah tangga merupakan salah satu faktor lingkungan yang berpotensi berkontribusi terhadap kejadian stunting. Oleh karena itu, diperlukan intervensi berbasis lingkungan untuk mendukung upaya percepatan penurunan stunting di tingkat desa.

Febriana Krisdayanti Barus; Charles Fransiscus Ambarita

JURNAL EKONOMI BISNIS DAN MANAJEMEN (JISE) 2026 CV. ALIM'SPUBLISHING

Latar belakang penelitian ini berakar pada fenomena kemajuan yang tidak merata di antara indikator pembangunan di Sumatera Utara, di mana Indeks Pembangunan Manusia (IPM), meskipun diklasifikasikan dalam kategori “tinggi”, belum secara konsisten berkontribusi pada penurunan tingkat pengangguran. Tujuan utama penelitian ini adalah untuk menguji pengaruh IMB, tingkat kemiskinan, dan tingkat pengangguran terhadap pertumbuhan ekonomi di Provinsi Sumatera Utara. Metode yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan analisis regresi linier berganda menggunakan data deret waktu dari tahun 2010 hingga 2025 yang bersumber dari BPS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara simultan, IPM, kemiskinan, dan pengangguran secara signifikan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi daerah. Secara parsial, IMB memiliki pengaruh positif dan signifikan, menunjukkan bahwa investasi dalam kualitas modal manusia meningkatkan produktivitas ekonomi. Sebaliknya, baik tingkat kemiskinan maupun tingkat pengangguran terbuka menunjukkan pengaruh negatif dan signifikan, yang menyiratkan bahwa peningkatan variabel-variabel ini cenderung menghambat ekspansi ekonomi. Lebih lanjut, variabel independen yang dimasukkan dalam model ini menjelaskan 49,49% variasi pertumbuhan ekonomi, sedangkan proporsi sisanya dijelaskan oleh faktor eksternal di luar cakupan penelitian ini. Hasil ini menyoroti pentingnya penerapan kebijakan yang menyelaraskan pengembangan sumber daya manusia dengan tuntutan pasar tenaga kerja untuk mengatasi masalah pengangguran terdidik.

Islakhul Muamalah Devitasari; Suwono Suwono; Hatta Setiabudhi

Jurnal Kajian dan Penalaran Ilmu Manajemen 2026 CV. Aksara Global Akademia

Studi ini dirancang untuk menginvestigasi pengaruh Suhu Permukaan Laut (SST) dan konsentrasi klorofil-a terhadap variabilitas hasil tangkapan ikan di kawasan Pantai Selatan melalui pendekatan model regresi linear berganda dengan estimasi Ordinary Least Squares (OLS). Pada tahap diagnostik awal, terdeteksi adanya indikasi autokorelasi positif pada residual model (statistik Durbin–Watson = 0,993), suatu kondisi yang berpotensi menginduksi bias pada estimasi standard error sehingga dapat mengkompromikan validitas inferensi statistik. Guna mengantisipasi permasalahan tersebut, dilakukan koreksi menggunakan metode Newey-West Heteroskedasticity and Autocorrelation Consistent (HAC) standard errors yang diimplementasikan melalui komputasi Python. Hasil estimasi pasca-koreksi mengungkapkan bahwa secara simultan, variabel SST dan klorofil-a memberikan pengaruh yang signifikan terhadap keragaman hasil tangkapan ikan, dengan nilai koefisien determinasi (R²) sebesar 23,7%. Berdasarkan uji parsial (uji t terkoreksi), SST menunjukkan pengaruh negatif yang signifikan secara statistik terhadap hasil tangkapan, sementara klorofil-a tidak memperlihatkan pengaruh yang signifikan. Temuan tersebut mengimplikasikan bahwa variabel termal (SST) memiliki kontribusi yang lebih dominan dibandingkan indikator produktivitas primer (klorofil-a) dalam memengaruhi dinamika hasil tangkapan ikan pada wilayah kajian.

Saviola Saviola; Keri Lestari

Jurnal Riset Ilmu Farmasi dan Kesehatan 2026 Asosiasi Riset Ilmu Kesehatan Indonesia

Rational drug use is one of the essential efforts to improve the quality of pharmaceutical services and ensure patient safety. Evaluation of prescribing patterns can be conducted using prescribing indicators established by the World Health Organization (WHO). This study aimed to describe drug use based on WHO prescribing indicators at Apotek M Bandung during January 2026. The study employed an observational design with retrospective data collection from prescription documents received at the pharmacy. The research sample was determined using a total sampling method in accordance with predefined inclusion and exclusion criteria. The indicators analyzed included the average number of drugs per prescription, the percentage of generic drug prescribing, antibiotic prescribing, injectable drug prescribing, and the use of medicines listed in the National Essential Medicines List (DOEN). The results showed that the average number of drugs per prescription was 2.4 items. The percentage of generic drug prescribing was 84.3%, antibiotic prescribing was 0.5%, and no injectable drugs were prescribed. The percentage of medicines prescribed from the DOEN was 88.20%. Overall, most indicators met WHO standards, except for the average number of drugs per prescription and the use of DOEN medicines, which had not yet reached the ideal values. Based on these findings, it can be concluded that the prescribing pattern at Apotek M Bandung reflects a relatively rational use of medicines; however, further efforts are still required to optimize compliance with WHO prescribing standards

Sri Yuliyanti Mozin; Sri Naila Putri Abdullah; Alya Putri Pantoiyo; Nur Afni Zakaria; Rahmi Thaib

Jurnal Ilmu Komunikasi, Administrasi Publik dan Kebijakan Negara 2026 Asosiasi Peneliti Dan Pengajar Ilmu Sosial Indonesia

Public service performance serves as a crucial measure of how effectively government agencies provide services to the public. Rising expectations from the public compel governments to ensure that services are delivered in an efficient, open, responsible, and responsive manner. Within the realm of public administration reform, the standard of public services has emerged as a key issue for governments looking to enhance public confidence and governance. The Indonesian government has created the Public Service Index (Indeks Pelayanan Publik/IPP) as a tool to assess the performance of public services. The IPP functions as an all-encompassing measurement system to evaluate the quality, efficiency, and responsibility associated with public service provision across government entities. This research intends to explore the definition of public service performance, the legal framework that regulates public services in Indonesia, and the metrics employed for calculating the Public Service Index. The study uses a qualitative descriptive method and a literature review approach, evaluating various pertinent books, regulations, and scholarly articles concentrating on public service management and performance evaluation. The results indicate that the Public Service Index plays a vital role in assessing service quality, institutional effectiveness, and the degree of public satisfaction. Additionally, the application of the IPP measurements fosters transparency, bolsters accountability, and encourages ongoing enhancements in public service delivery. Therefore, enhancing public service performance necessitates robust regulatory backing, institutional dedication, and the utilization of clear and quantifiable performance metrics to guarantee enduring improvements in service quality.

Sri Yuliyanti Mozin; Alisa Tutulango; Siti Vahizrah Carlos; Faja Diasti Paputungan; Fathiya H

Jurnal Ilmu Komunikasi, Administrasi Publik dan Kebijakan Negara 2026 Asosiasi Peneliti Dan Pengajar Ilmu Sosial Indonesia

Public service quality has emerged as a crucial metric for assessing how well the government functions and the efficiency of its administration. Recently, rising expectations from the public have led gov-ernments to offer services that are open, responsible, effective, and attuned to citizens' needs. Alongside administrative changes and the evolution of governance models focused on efficiency and citizen satisfaction, the appetite for high-quality public services has surged. Nonetheless, numerous public entities continue to struggle with providing reliable and top-notch services due to a lack of defined service norms and systems for measuring performance. The purpose of this research is to investigate ways to enhance public service quality by establishing robust service standards and quantifiable performance metrics. The study employs a qualitative descriptive methodology, drawing on a review of relevant lit-erature from the past seven years. Multiple academic sources were analyzed to uncover essential ideas, frameworks, and empirical evidence concerning public service management, the enhancement of service quality, and the assessment of performance in governmental organizations. The results show that adopting well-defined service standards, along with measurable performance metrics, can greatly en-hance service effectiveness, accountability, and overall public satisfaction. Additionally, merging prin-ciples of service excellence with quantifiable indicators promotes transparency, boosts organizational performance, and fosters ongoing improvements in service delivery. The research concludes that to enhance public service quality, a structured framework for service standards, ongoing performance assessments, and a firm organizational dedication to innovation and service enhancement are necessary.

Mohd Fadli Ariansyah; Eka Pandu Cynthia

Prosiding Seminar Nasional Ilmu Teknik 2026 Asosiasi Riset Ilmu Teknik Indonesia

Lifestyle changes, such as smoking habits, low physical activity, and suboptimal sleep patterns, have the potential to affect various health indicators. However, empirical evidence showing a direct link between lifestyle factors and objective health indicators still shows varying results. This study aims to analyze the relationship between lifestyle factors and health indicators in adult respondents, in an effort to provide an empirical picture of behavioral factors related to health conditions. This study used a quantitative approach with a cross-sectional observational analytic design. Data were obtained from 94 respondents who had complete lifestyle data and health examination results. Lifestyle factors analyzed included smoking habits, exercise frequency, and sleep duration, while health indicators included body mass index (BMI), systolic and diastolic blood pressure, blood sugar levels, cholesterol, uric acid, and pulse rate. Data analysis was performed using descriptive statistics, the Shapiro–Wilk normality test, and the Spearman correlation test according to the characteristics of the data distribution. The results showed that smoking habits were significantly associated with diastolic blood pressure (p < 0.05), exercise frequency was significantly associated with BMI and systolic blood pressure (p < 0.05), and sleep duration was significantly associated with uric acid levels (p < 0.05). Meanwhile, the relationship between lifestyle factors and other health indicators did not show statistical significance. These findings indicate that the influence of lifestyle on health is specific to certain indicators and is not evenly distributed across all health parameters. This study concludes that identifying lifestyle factors relevant to certain health indicators is important as a basis for formulating more targeted health promotion strategies.

Nining Tunggal Sri Sunarti; Reni Tri Lestari

Jurnal Pelaksanaan Pengabdian Bergerak bersama Masyarakat 2026 Asosiasi Riset Ilmu Kesehatan Indonesia

Status gizi ibu dan anak merupakan indikator penting kesehatan masyarakat dan berperan besar dalam pencegahan anemia, kekurangan energi kronis (KEK), dan stunting. Rendahnya literasi gizi serta keterbatasan kemandirian ibu dalam melakukan deteksi dini status gizi masih menjadi tantangan di tingkat komunitas. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran ibu mengenai gizi seimbang serta kemampuan deteksi dini status gizi ibu dan anak melalui edukasi berbasis teknologi informasi. Metode pelaksanaan meliputi tahap persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi. Persiapan dilakukan melalui observasi awal dan pengembangan media edukasi digital. Pelaksanaan dilakukan dengan penyuluhan langsung, diskusi interaktif, serta pengenalan aplikasi edukasi gizi dan deteksi dini pertumbuhan anak. Evaluasi dilakukan menggunakan pre-test dan post-test untuk menilai perubahan tingkat pengetahuan peserta. Kegiatan ini melibatkan 22 ibu sebagai peserta. Hasil menunjukkan peningkatan pengetahuan yang signifikan, ditandai dengan meningkatnya jumlah peserta pada kategori pengetahuan baik dan tidak ditemukannya lagi peserta dengan kategori pengetahuan kurang setelah intervensi. Peserta menunjukkan antusiasme dan komitmen untuk menerapkan prinsip gizi seimbang dalam kehidupan sehari-hari. Edukasi gizi seimbang berbasis teknologi informasi terbukti efektif dalam meningkatkan literasi gizi ibu dan berpotensi mendukung deteksi dini masalah gizi secara mandiri. Kegiatan ini direkomendasikan untuk diintegrasikan secara berkelanjutan dalam program kesehatan ibu dan anak di tingkat komunitas.

Frans Mitran Ajami; Abas, Mamat; Iken Meyti Katili; Marwan Bakari Suleman

Jurnal Suara Pengabdian 45 2026 LPPM Universitas 17 Agustus 1945 Semarang

Pemanfaatan lahan kosong di wilayah perdesaan sering kali belum optimal akibat rendahnya pemahaman masyarakat terhadap fungsi ruang terbuka hijau dan konsep desain lanskap. Desa Suka Makmur, Kabupaten Pohuwato, merupakan salah satu wilayah yang memiliki lahan terbuka cukup luas namun berada dalam kondisi gersang dan belum tertata. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pemanfaatan lahan kosong melalui sosialisasi dan edukasi desain lanskap ruang terbuka hijau sebagai upaya awal pembangunan lingkungan yang berkelanjutan. Metode yang digunakan adalah KKN-PAR (Participatory Action Research) dengan tahapan identifikasi awal, sosialisasi dan edukasi, serta evaluasi perubahan pemahaman masyarakat. Evaluasi dilakukan menggunakan kuesioner pre-test dan post-test terhadap 24 responden. Hasil pengabdian menunjukkan adanya peningkatan pemahaman masyarakat pada seluruh indikator yang diukur, meliputi fungsi ruang terbuka hijau, manfaat ekologis dan sosial, serta konsep dasar desain lanskap. Peningkatan pemahaman ini mengindikasikan terjadinya perubahan perilaku awal masyarakat pada aspek kognitif. Hasil pengabdian ini menegaskan bahwa pendekatan edukatif berbasis partisipasi masyarakat efektif dalam membangun kesadaran lingkungan dan dapat menjadi landasan bagi pengelolaan ruang terbuka hijau yang berkelanjutan di wilayah perdesaan.

M Juni Azka An-nur; Neni Rakhmawati

Jurnal Manajemen Kreatif dan Inovasi 2026 International Forum of Researchers and Lecturers

This study was conducted with the aim of evaluating the dynamics of the financial condition of PT Indofood Sukses Makmur Tbk over a five-year period, namely from 2019 to 2023. This writing applies a quantitative descriptive methodology sourced from secondary data through audited annual financial reports. The main instruments in this data analysis include three pillars of financial ratios: Current Ratio (CR) as a representation of the liquidity aspect, Debt to Asset Ratio (DAR) to measure the level of solvency, and Return on Equity (ROE) as a benchmark for the effectiveness of the company's profitability. Through annual calculations and trend analysis, this study captures the development of the issuer's performance longitudinally. The results of the observation show a significant strengthening in the company's liquidity position, where the Current Ratio jumped from 127% in 2019 to 192% at the end of the 2023 period. In line with that, the solvency profile shows fundamental improvements; Debt reliance, which had reached 51% in mid-2020-2021, was successfully reduced to 46% in 2023. Meanwhile, the company's profitability demonstrated stable resilience, with a consistent ROE of 10% to 13%, despite fluctuations due to operational cost dynamics. Overall, PT Indofood Sukses Makmur Tbk demonstrated excellent financial health through strategic capital and asset management. As a sustainability measure, management is advised to continue optimizing current assets and tightening cost efficiency to secure future profit margins.

Azam Ibnu Sabil; Amri Gunasti

Konstruksi: Publikasi Ilmu Teknik, Perencanaan Tata Ruang dan Teknik Sipil 2026 Asosiasi Riset Ilmu Teknik Indonesia

This study aims to analyze the differences in motorcycle traffic flow (Q) during the morning and afternoon peak hours as an indicator of roadway operational performance, referring to the Indonesian Road Capacity Guidelines (PKJI) 2014, with a case study on Mawar Street–Wijaya Kusuma Street, Jember Regency. The research data were obtained from 12 observation points through traffic surveys that recorded motorcycle traffic flow in vehicles per hour (veh/h). The analytical methods used include descriptive statistical analysis, normality testing, and paired sample t-test. The results show that the average motorcycle traffic flow during the morning peak hour is 115.58 veh/h with a standard deviation of 62.97, while during the afternoon peak hour it is 63.25 veh/h with a standard deviation of 28.57. The paired sample t-test yields a significance value of 0.015 (p < 0.05), indicating a statistically significant difference between morning and afternoon traffic flows. These findings suggest that the level of roadway capacity utilization is higher during the morning peak hour, which is closely associated with dominant routine travel activities such as commuting to work and school. The results of this study are expected to serve as a basis for evaluating roadway operational performance and to support traffic management and traffic engineering planning aimed at improving road network performance and reducing congestion.

Herriyawan, Herriyawan; Timur, Muhammad Bagus Bintang; Wibowo, Arief

Dinamik 2026 Universitas Stikubank

Demam berdarah dengue merupakan tantangan kesehatan masyarakat yang terus berulang di wilayah tropis, termasuk Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk memprediksi jumlah kasus tahunan dengan memanfaatkan lima algoritma pembelajaran mesin, yaitu Regresi Linier, Decision Tree, Random Forest, Support Vector Machine (SVM), dan Neural Network. Data historis tahun 2017–2024 diolah menggunakan teknik windowing deret waktu untuk menghasilkan fitur lag yang sesuai bagi pembelajaran terawasi. Evaluasi kinerja dilakukan melalui metrik Mean Absolute Error (MAE), Mean Squared Error (MSE), Root Mean Squared Error (RMSE), serta koefisien determinasi (R²). Model Decision Tree menunjukkan performa paling unggul pada sebagian besar indikator. Prediksi untuk tahun 2025 mengindikasikan adanya peningkatan moderat jumlah kasus. Namun, rendahnya nilai R² pada seluruh model mengisyaratkan perlunya pendekatan multivariat yang lebih kompleks dengan mempertimbangkan faktor iklim, lingkungan, dan demografi. Hasil penelitian ini menegaskan pentingnya kualitas data dan pemilihan fitur yang tepat dalam peramalan epidemiologis guna mendukung perencanaan kesehatan yang lebih efektif.

Rizky Khairun’nisa; Benni Purnama; Sharipuddin Sharipuddin

Prosiding Seminar Nasional Ilmu Teknik 2025 Asosiasi Riset Ilmu Teknik Indonesia

Stunting and wasting are nutritional problems in toddlers that remain a double burden of malnutrition in Indonesia and have an impact on the quality of health and future human resource development. Monitoring the nutritional status of toddlers is generally carried out using anthropometric indicators, but the use of this data is still limited to descriptive analysis. This study aims to apply the K-Means algorithm in clustering infants vulnerable to stunting and wasting based on anthropometric indicators, so that groups of infants with different levels of nutritional vulnerability can be identified. The dataset used consists of infant data with variables of gender, age (months), height (cm), and weight (kg). The research stages included data preprocessing, encoding categorical variables, data normalization, determining the optimal number of clusters using the Elbow and Silhouette Score methods, and analyzing the characteristics of each cluster. The evaluation results showed that the optimal number of clusters was four. Each cluster has different anthropometric characteristics and distributions of stunting and wasting status, ranging from groups with relatively normal nutritional conditions, groups with a tendency toward overnutrition, to groups that are vulnerable to acute and chronic malnutrition. These clustering results provide a more comprehensive and segmented mapping of toddlers, which can be used as a basis for formulating more targeted and data-driven nutrition policies and interventions.

Nafisa Nurfatia Hidayat; Patihul Husni

Jurnal Kesehatan dan Kedokteran 2025 Lembaga Pengembangan Kinerja Dosen

Pseudomonas aeruginosa is a Gram-negative bacterium commonly found in the environment and serves as an important indicator of microbiological contamination in cosmetic products. Its ability to survive in low nutrient conditions and its resistance to various preservatives make it a microorganism frequently found in water-based products. Contamination can occur during production, storage, and use, and has the potential to cause irritation or infection, especially in individuals with low immunity. This literature review was compiled based on data searches on PubMed, Elsevier, Google Scholar, and Scopus with inclusion criteria of original studies from 2015 to 2025 that reported the detection of P. aeruginosa in cosmetic products. The results of the review show that P. aeruginosa is not only found in new products but also in used products, mainly due to unhygienic usage practices. Although some products are declared free from contamination, monitoring of the production process and consumer education on how to use and store cosmetics are still necessary. Thus, the detection and control of P. aeruginosa are important aspects in ensuring the safety of cosmetic products on the market.

Setyowati, Endah; Nasrudin, Muhammad; Subektianto, Rahmad Adi

ISAINTEK: Jurnal Informasi, Sains dan Teknologi 2025 Politeknik Negeri FakFak

Penelitian ini membahas mengenai upaya perluasan infrastruktur teknologi informasi di Provinsi Papua kaitannya dengan peningkatan eksistensi ekonomi digital berdasarkan indikator infrastruktur teknologi informasi. Upaya ini didahului dengan melakukan klasterisasi wilayah di Provinsi Papua guna mengetahui kemiripan karakteristik infrastruktur setiap kabupaten/kota. Analisis klaster ini menggunakan pendekatan K-Means dan K-Medoids. Indikator infrastruktur teknologi informasi yang digunakan berupa variabel persentase keberadaan BTS, persentase kekuatan sinyal yang baik, persentase penerimaan sinyal internet, IPM, dan rasio produktivitas informasi dan komunikasi. Hasil analisis klaster menunjukkan terbentuknya dua klaster yaitu klaster 1 dengan infrastruktur teknologi informasi yang baik dan klaster 2 dengan infrastruktur yang kurang baik. Kabupaten/kota yang berada pada klaster 1 memiliki nilai rata-rata keberadaan BTS, kekuatan sinyal baik, penerimaan sinyal internet, IPM, dan rasio produktivitas informasi dan komunikasi yang jauh lebih tinggi daripada kabupaten/kota pada klaster 2.  Dengan adanya perbedaan ini tentu pemerintah di Provinsi Papua tetap harus konsisten untuk melaksanakan pemerataan pembangunan infrastruktur sekaligus sebagai bentuk pemerataan ekonomi dan perluasan ekonomi digital.