Publication Search

73,128 articles from 694 journals · 2,111 citations tracked

Showing 1-20 of 66

Analytics

Djaga, Chrisnasius

REDOMINATE : Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristiani 2026 Sekolah Tinggi Teologia Kerusso Indonesia

Abstrak. Khotbah merupakan praktik yang sangat penting dalam kehidupan liturgis gereja karena memiliki peran strategis dalam menyampaikan berita keselamatan kepada jemaat. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bahwa penyampaian firman Tuhan tidak hanya berfungsi sebagai bentuk komunikasi religius, tetapi juga sebagai proses konstruksi pengetahuan yang melibatkan interaksi antara teks Alkitab, pengkhotbah sebagai penafsir, dan jemaat sebagai penerima sekaligus penafsir makna. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka (library research). Pendekatan ini dipilih karena penelitian berfokus pada analisis konseptual khotbah dalam perspektif filosofis dan epistemologis, sehingga data diperoleh melalui kajian terhadap berbagai sumber literatur yang relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa khotbah tidak dapat dipahami semata-mata sebagai praktik liturgis atau penyampaian pesan keagamaan. Khotbah pada dasarnya merupakan sebuah diskursus filosofis yang memuat dimensi epistemologis, di mana proses pewartaan firman Tuhan sekaligus menjadi proses pembentukan, pengolahan, dan transmisi pengetahuan iman.

Nababan, Christon; Siagian, Riris Johanna; Panjaitan, Key; Sihombing, Ridho; Bako, Stevan +1 more

REDOMINATE : Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristiani 2026 Sekolah Tinggi Teologia Kerusso Indonesia

Dualisme yang terjadi antara iman Kristen dan adat Batak sering sekali menjadi suatu hal yang digumulkan, khususnya bagi jemaat HKBP, terkait bagaimana kehidupan sehari-hari terkait kehidupan bergereja dan bermasyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk menggali informasi tentang bagaimana sebenarnya dualisme tersebut dialami oleh jemaat HKBP Karang Bangun Resort Dame serta bagaimana pemimpin gereja menjadi jembatan bagi ketegangan yang terjadi antara aturan gereja dan tradisi adat. Dengan pendekatan yang kualitatif yakni studi pustaka dan wawancara yang mendalam terhadap empat narasumber yaitu: Jemaat, Sintua, Naposobulung/pemudi, dan pemimpin gereja/pendeta. Data ini kemudian dianalisis secara sistematis dengan teori otoritas antara Thomas F. O'Dea dan Max Weber, serta konsep Sahala yang dikaitkan dengan budaya Batak. Hasil menunjukkan bahwa dualisme yang terjadi tidak dianggap sebagai konflik di mana Gereja ditempatkan sebagai prioritas utama. Pemimpin gereja menerapkan tiga otoritas yang diungkapkan oleh Thomas F. O'Dea dan Max Weber, yaitu tradisional, kharismatik, dan legal-rasional , yang dalam tradisi atau budaya Batak seakan-akan perwujudan Sahala. Penelitian ini sendiri seakan-akan menawarkan kontribusi yang orisinal dengan menunjukkan keberhasilan pengelolaan dualisme adat dan Gereja tanpa sistem birokratis.

Lay, Sergius; Waruwu, Clara Cici Ceriawati; Sihite, Dominkus Wardoyo; Baeha, Widia; Waruwu, Elvin Paska Juang +2 more

Sepakat : Jurnal Pastoral Kateketik 2026 Sekolah Tinggi Pastoral Tahasak Danum Pambelum Keuskupan Palangkaraya

Penelitian ini mengkaji makna kematian dan kehidupan kekal dalam iman Katolik berdasarkan perspektif teologi eskatologi dan Kristologi sesuai dengan ajaran dogma Gereja Katolik. Tujuan penelitian adalah menjelaskan pemahaman kematian menurut ajaran resmi Gereja Katolik, sebagaimana tertuang dalam Katekismus Gereja Katolik, dokumen Konsili Vatikan II, dan ensiklik kepausan, serta relevansinya bagi kehidupan pastoral umat pada masa kini. Metode yang digunakan adalah kajian pustaka yang bersifat teologis-normatif dengan sumber utama Kitab Suci, dokumen Magisterium, dan literatur teologi yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam iman Katolik, kematian dipahami sebagai peralihan menuju kehidupan kekal bersama Allah, bukan akhir dari eksistensi manusia. Wafat dan kebangkitan Yesus Kristus menjadi fondasi dogmatis harapan keselamatan umat beriman. Ajaran tentang pengadilan khusus, api penyucian, surga, dan neraka merupakan bagian integral dari iman Katolik yang memiliki implikasi pastoral yang kuat: memberikan penguatan iman, harapan, dan penghiburan bagi umat dalam menghadapi penderitaan dan kematian. Simpulan penelitian menegaskan bahwa pemahaman teologis yang benar tentang kematian dan kehidupan kekal perlu terus diwartakan agar umat mampu menghayati hidup dalam iman, harapan, dan kasih.

Senda, Siprianus Soleman; Undad, Rikardus; Ergon, Isfilus; Sipho Sewa Uma, Pietro Yustiniano; Kuki, Irene Sunirma +3 more

Sepakat : Jurnal Pastoral Kateketik 2026 Sekolah Tinggi Pastoral Tahasak Danum Pambelum Keuskupan Palangkaraya

Artikel ini bertolak dari kenyataan bahwa banyak umat telah mendengar sabda Allah dalam Liturgi dan pengajaran Gereja, namun belum sepenuhnya menghidupinya dalam kehidupan sehari-hari. Situasi ini menegaskan pentingnya katekese sebagai proses pembinaan iman yang berkelanjutan, yang tidak hanya menekankan aspek pengetahuan, tetapi juga penghayatan dan perwujutan iman dalam tindakan nyata. Tulisan ini bertujuan merefleksikan katekese sebagai jalan pembinaan iman umat yang menuntun dari sabda menuju kehidupan. Fokus kajian artikel ini adalah peran katekese dalam membantu umat dewasa mengintegrasikan sabda Allah kedalam realitas hidup sehari-hari, baik dalam keluarga, pekerjaan, maupun kehidupan sosial. Metode yang digunakan adalah refleksi teologis pastoral dengan pendekatan kualitatif melalui studi literatur gereja dan pengalaman hidup umat. Pendekatan ini menekankan ketertarikan antara pewartaan sabda, pendampingan iman, serta partisiasi aktif umat dalam proses pembinaan. Hasil refleksi menunjukkan bahwa katekese yang kontekstual, dialogis, dan berpusat pada sabda Allah, mampu menumbuhkan iman yang lebih dewasa, sadar, dan tanggung jawab. Melalui katekese, umat tidak hanya memahami ajran iman secara intelektual, tetapi juga didorong untuk menghidupinya dalam sikap kasih, pelayanan, dan kesaksian di tengah masyarakat. Pembinaan iman yang berkelanjutan menjadi sarana penting untuk membentuk umat yang tangguh dalam menghadapi tantangan zaman dan tetap berakar pada nilai-nilai injil. Dengan demikian, katekese sebagai jalan pembinaan iman memiliki peran strategis dalam menjembatani sabda Allah dengan kehidupan konkrit umat. Pembaharuan metode dan pendekatan katekese yang relevan dengan konteks umat masa kini sangat diperlukan agar proses dari sabda menuju kehidupan dapat berlangsung secara nyata, mendalam, dan berkelanjutan dalam kehidupan Gereja. Kata kunci: katekese, sabda Allah, pembinaan iman, umat dewasa, kehidupan kristen

Putranias Zebua; Yessi Florentina Pasaribu; Anisa Putri Hulu; Kristina Enjelika Pasaribu; David Pasaribu

Jurnal Ilmu Sosial, Bahasa dan Pendidikan 2026 Pusat Riset dan Inovasi Nasional

This study examines eschatology within the framework of Catholic faith as a reflection of faith and hope of salvation, not merely as a depiction of the end times. The background highlights the need to avoid reducing eschatology to a sole event of judgment day, by emphasizing the close relationship between eschatology, Christology, and soteriology, as well as the role of faith in the daily life of Catholic believers. The aim of the study is to articulate eschatology as an integrative framework that connects faith, hope, love, sacraments, liturgy, and inculturation in the Church’s praxis, and to consolidate the active participation of the faithful in the Kingdom of God, which has been initiated but not yet completed. The research method is descriptive-analytical literature review, comparing the views of experts, the Church Magisterium, and contemporary liturgical and theological documents to construct a comprehensive theoretical framework. The main findings indicate that Catholic eschatology functions as a moral and spiritual engine: (1) it integrates the “already and not yet” in the experience of faith; (2) it links eschatological hope with the actions of love, justice, and social liberation; (3) it bridges private faith with sacramental practice and inculturation. Theological and pastoral implications include strengthening faith formation, participation in liturgy, and an imaginative response to present-day social and environmental challenges. This narrative affirms a living, inclusive, and relevant eschatology for the Church’s life of faith in the contemporary era.

Hardianta, Rbg Widhi Nugraha Agus Gembong; Wijaya, Michelle

Jurnal Silih Asuh : Teologi dan Misi 2026 LPPM - STT Kadesi Bogor

Penelitian ini mengkaji kisah perjumpaan Yesus dengan pemuda kaya dalam Injil Matius 19:16–30, Injil Markus 10:17–31, dan Injil Lukas 18:18–30 dalam perspektif teologi perdamaian dan keadilan sosial. Latar belakang penelitian ini bertolak dari realitas ketimpangan sosial-ekonomi yang semakin meningkat di era modern, yang ditandai oleh kesenjangan antara kelompok kaya dan miskin serta kemiskinan struktural yang terus berlangsung. Dalam konteks tersebut, kisah Yesus dan pemuda kaya dipahami tidak hanya sebagai ajaran moral mengenai keterikatan terhadap harta, tetapi juga sebagai kritik profetis terhadap struktur sosial-ekonomi yang tidak adil. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan (library research) dan hermeneutika kontekstual. Data primer diperoleh dari teks Alkitab dalam ketiga Injil Sinoptik, sedangkan data sekunder berasal dari buku, jurnal ilmiah, dan literatur teologi yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsep shalom dalam teologi perdamaian mencakup keadilan relasional, kesejahteraan sosial, dan solidaritas terhadap kaum marginal. Perintah Yesus kepada pemuda kaya untuk menjual hartanya dan membagikannya kepada orang miskin menunjukkan bahwa iman Kristen tidak dapat dipisahkan dari tanggung jawab sosial. Kekayaan dipahami sebagai stewardship yang harus digunakan demi kesejahteraan bersama. Penelitian ini menegaskan bahwa gereja dipanggil untuk menjadi agen transformasi sosial melalui praksis keadilan, pemberdayaan ekonomi, pendidikan perdamaian, dan solidaritas sosial di tengah masyarakat Indonesia yang plural dan masih menghadapi ketimpangan sosial-ekonomi.

Nelvi Datu Rombe

Damai : Jurnal Pendidikan Agama Kristen dan Filsafat 2026 Asosiasi Riset Ilmu Pendidikan Agama dan Filsafat Indonesia

Considering the importance of the next generation in the church, children must be empowered to be better. Therefore, this research can be a work that provides education about the influence of technology on Sunday school children at the Imanuel Batubara' Ra'Bung church which can be used as an instrument to help them in developing better thinking patterns. The research method used is a qualitative research method with a descriptive approach to describe the reality of the reality that occurs in the field. The qualitative method is applied through library research and field analysis. The library study is applied by finding supporting theories that are relevant to the research. Furthermore, a descriptive approach is applied through interview techniques and field analysis. Interviews were conducted by the author through field research and social analysis. The theories applied by the author are theories about counseling, theories about the church and theories about social assistance. The results of this study are that Sunday school teachers and child care providers must work together to help Sunday school children know God well and also be able to lead themselves in a better direction.

Nadeak, Uli Erni; Ruben Nesimnasi

Sukacita : Jurnal Pendidikan Iman Kristen 2025 Asosiasi Riset Ilmu Pendidikan Agama dan Filsafat Indonesia

In the context of modernity, characterized by secularization and existential anxiety, traditional models of Christian faith formation often appear disconnected from the lived reality of believers, particularly regarding the doctrines of salvation and eschatology. This study investigates the crucial role of the church in bridging this gap by developing a pedagogical approach that integrally links ecclesial education with eschatological hope. Employing a qualitative descriptive analysis method, this research examines theological literature, contemporary church documents, and case studies of Christian formation programs. The analysis reveals that a robust eschatological perspective oriented towards the hope of salvation, resurrection, and the renewal of all things is not merely a final chapter of doctrine but an essential, transformative framework for all faith education. It shapes Christian identity, ethics, and mission in the present. The study concludes that for faith formation to be salvific and relevant today, the church must intentionally reconfigure its educational praxis. This reconfiguration involves moving from a compartmentalized teaching of "last things" to fostering an eschatological imagination that informs discipleship, worship, and social engagement, thereby presenting salvation as a comprehensive hope actively shaping Christian life in the modern world.

Samuel Bartolo

Jurnal Pelayanan Masyarakat 2025 Lembaga Pengembangan Kinerja Dosen

This Community Service activity (PKM) was carried out at the Church of Faith, Hope, and Love (IHAKA) with the aim of empowering lay members who do not have a formal theological background but have a desire to serve as Cell Group (KOMSEL) leaders. The method used is a participatory approach based on training and contextual reflection, consisting of three stages: interactive workshops, service reflection, and mentoring. The training is designed to equip participants with basic understanding of spiritual leadership, the ability to communicate the Word, as well as patterns of household worship relevant to the congregation's context. The results of the activity showed an increase in participants' confidence in leading worship, the ability to actively discuss the Word, and the formation of closer service relationships through prayer and shared meals. Post-training mentorship also strengthens participants' commitment to serving with faithfulness and humility. This activity demonstrates that service is not merely a routine activity, but a calling in life that can be carried out by lay congregants through simple yet impactful guidance. This PKM is expected to serve as an initial model for other local churches in nurturing lay ministers in a contextual and sustainable manner.

Agustinus Abraham

Anugerah : Jurnal Pendidikan Kristiani dan Kateketik Katolik 2025 Asosiasi Riset Ilmu Pendidikan Agama dan Filsafat Indonesia

This study examines the increasing prevalence of premarital sexual behavior among Indonesian adolescents, including Catholic youths, which poses a significant challenge to the moral formation and faith development promoted by the Catholic Church. Using a qualitative method with a literature study approach, this research analyzes the phenomenon of adolescent free sex from the perspective of Catholic moral theology and family pastoral care. The findings reveal that the rise of free sexual behavior among adolescents is strongly influenced by curiosity, fragmented family structures, weak value-based sexual education, and the unregulated use of digital media. Moral theology views sexuality as a divine gift whose authentic meaning is realized only within the sacramental bond of marriage; therefore, premarital sex is considered a deviation from human dignity and the true nature of love. The study also highlights the essential role of the family as the Domestic Church in shaping conscience, character, and responsible sexual attitudes among youths. Pastoral strategies proposed include integral sexual education, strengthening parent–child communication in the digital age, and contextual pastoral accompaniment rooted in compassion, as emphasized in Amoris Laetitia. This research underscores the need for collaborative efforts between families, the Church, and educational institutions to guide young people toward a holistic understanding of sexuality, authentic love, and their Christian vocation in contemporary society.  

Karolina Suwul; Intansakti Pius X

Damai : Jurnal Pendidikan Agama Kristen dan Filsafat 2025 Asosiasi Riset Ilmu Pendidikan Agama dan Filsafat Indonesia

The Church in indonesia now plays an increasingly broad role in society, but also faces various complex challenges. These challenges come not only from outside, such as discrimination and social pressure, but also from within; such as limited resources and a reluctance to change. Therefore, the Church needs to understand these various issues in order to formulate ministry strategies that are relevant, contextual, and able to addres the needs of a diverse society. The Church is called to be a forum for the brotherhood of God’s people from various cultural backgrounds, while also bearing witness that unity in diversity is a tangible manifestation of God’s love in the world. However, cultural diversity can also create tension if not managed wisely. The inculturation of local cultures, such as Torok in Manggarai culture, has profound meaning. Torok is not merely a series of literary words, but has a profound meaning that reflects the identity of the Manggarai people in their relationship with themselves, others, nature, and God Himself as creator. As a poetic prayer, Torok serves as an expression of the totality of human life and a means to cultivate the values of brotherhood. The Church does not intend to implement rigid uniformity in matters that do not concern the core of the faith or the welfare of the faithful. On the contrary, the Church respects and strives to preserve the cultural riches that are characteristic of various tribes and nations.

DSS, Thermanto; Triyanto, Yoel

Jurnal Silih Asah 2025 LPPM - STT Kadesi Bogor

Penelitian ini bertujuan untuk menafsir ulang makna iman anak berkebutuhan khusus melalui sudut pandang teologi disabilitas dalam konteks budaya serta pelayanan gerejawi di Indonesia. Anak berkebutuhan khusus, seperti autisme, sindrom down, hiperaktif, cerebral palsy, dan hambatan intelektual lainnya, acapkali dilihat dari sudut pandang medis atau psikologis saja. Sedangkan melalui sudut pandang spiritual mereka seringkali diabaikan atau dianggap tidak penting. Umumnya dalam banyak gereja, konsep iman masih sangat idealis, bergantung pada kapasitas intelektual dan kemampuan lisan. Hal ini mengakibatkan anak berkebutuhan khusus acapkali tidak bisa mengekspresikan iman yang "benar" sehingga seringkali dianggap kurang memiliki iman. Studi ini memakai metode penelitian literatur dengan mengkaji berbagai macam teori dan pendekatan dalam teologi disabilitas modern, seperti yang dikembangkan oleh tokoh seperti Amos Yong, John Swinton, maupun Thomas Reynolds. Studi ini juga mengaitkannya dalam konteks sosial-budaya dan konteks gerejawi di Indonesia. Artikel ini menunjukkan bahwa anak berkebutuhan khusus memiliki kapasitas spiritual yang asli, meskipun melalui cara pemahaman dan mengekspresikan iman yang berbeda dari anak reguler. Mereka dapat juga berperan aktif dalam lingkup liturgi dan aktivitas gerejawi. Dalam wilayah negara Indonesia, norma atau etika lokal seperti gotong royong, empati kolektif, serta penghargaan terhadap perbedaan dapat menjadi landasan berpikir teologis untuk membangun gereja yang lebih ramah anak berkebutuhan khusus. Kesimpulannya, penelitian ini mengundang gereja serta komunitas Kristen di Indonesia untuk memandang anak berkebutuhan khusus bukan hanya sebagai pihak yang menjadi sasaran pelayanan saja, namun juga sebagai subjek yang memiliki iman yang utuh, yang berharga, yang memiliki kontribusi spiritual yang dapat ikut serta membangun tubuh Kristus dalam kebhinekaan.

Tio, Teodorus

Sepakat : Jurnal Pastoral Kateketik 2025 Sekolah Tinggi Pastoral Tahasak Danum Pambelum Keuskupan Palangkaraya

Penelitian ini bertujuan untuk memberikan pemahaman mendalam mengenai Konsili Trente (1545–1563) sebagai respons resmi Gereja Katolik terhadap tantangan Reformasi Protestan, sekaligus sebagai tonggak pembaruan internal Gereja. Masalah yang diangkat dalam studi ini adalah ketegangan teologis dan historis antara tuntutan pembaruan dari dalam Gereja serta kritik keras yang dilancarkan oleh para reformator Protestan terkait Kitab Suci, sakramen, dan otoritas Gereja. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi literatur melalui analisis data sekunder dari dokumen konsili, literatur teologi, serta penelitian historis sebelumnya. Kebaruan dari penelitian ini terletak pada penegasan peran Konsili Trente bukan hanya sebagai instrumen “kontra” terhadap Reformasi, melainkan juga sebagai wadah refleksi teologis yang menghasilkan reformasi internal mendalam dalam bidang liturgi, sakramentologi, formasi imam, dan disiplin gereja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Konsili Trente berhasil mengokohkan identitas Katolik melalui penegasan ajaran iman sekaligus memperbarui praksis pastoral, yang pada akhirnya menjadi landasan teologi dan kehidupan Gereja Katolik hingga Konsili Vatikan II. Oleh karena itu, studi ini menekankan pentingnya melihat Konsili Trente secara seimbang: sebagai benteng iman sekaligus sumber pembaruan yang relevan bagi dinamika Gereja sepanjang sejarah.

Ulan Dari, Liska Kristiani

Sepakat : Jurnal Pastoral Kateketik 2025 Sekolah Tinggi Pastoral Tahasak Danum Pambelum Keuskupan Palangkaraya

Krisis ekologis di Kalimantan Barat, seperti banjir tahunan, deforestasi, dan pencemaran sungai, menuntut keterlibatan berbagai pihak, termasuk mahasiswa Katolik. Gereja Katolik melalui ajaran ekologi integral menegaskan bahwa tanggung jawab ekologis adalah bagian dari iman. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan tingkat pengetahuan, kesadaran, gaya hidup, dan refleksi iman mahasiswa Katolik terhadap isu lingkungan. Menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif, data dikumpulkan dari 34 responden melalui angket daring dan dianalisis secara statistik deskriptif. Hasil menunjukkan bahwa mayoritas responden memiliki kesadaran ekologis awal dan bersedia terlibat dalam aksi lingkungan, namun belum sepenuhnya konsisten dalam praktik gaya hidup ramah lingkungan. Hanya sebagian kecil yang menerapkan kebiasaan konkret seperti membawa tempat makan sendiri. Temuan ini menunjukkan adanya kesenjangan antara kesadaran dan tindakan, serta perlunya strategi pembinaan iman yang mengintegrasikan spiritualitas dan praktik ekologis. Penelitian ini menjadi dasar awal untuk pengembangan program ekopastoral yang kontekstual di lingkungan kampus dan komunitas kategorial.

Adinuhgra, Silvester; Sinaga, Louis Fingky Alexander; Ngarani, Nullya

Sepakat : Jurnal Pastoral Kateketik 2025 Sekolah Tinggi Pastoral Tahasak Danum Pambelum Keuskupan Palangkaraya

Penelitian ini mengkaji pengalaman umat Stasi Ibu Teresa Sei Hanyu dalam membangun Gereja Sinodal, sebuah model gereja yang menekankan partisipasi aktif dan kolaborasi seluruh umat beriman. Melalui wawancara mendalam dan observasi partisipan selama tiga minggu, studi ini mengungkap bagaimana prinsip-prinsip sinodalitas diterapkan di tingkat akar rumput. Temuan utama menunjukkan bahwa Stasi Ibu Teresa telah mengimplementasikan berbagai inisiatif untuk mewujudkan Gereja Sinodal, termasuk dialog antar umat, pemberdayaan kelompok kategorial, dan peningkatan partisipasi dalam liturgi serta pelayanan sosial. Meskipun menghadapi tantangan seperti resistensi terhadap perubahan dan kesenjangan generasi, stasi ini berhasil menciptakan ruang dialog yang memungkinkan suara-suara beragam untuk didengar dan dihargai. Dampak penerapan prinsip Gereja Sinodal terlihat dalam peningkatan keterlibatan umat dalam pengambilan keputusan gereja dan penguatan relasi sosial antar umat. Kolaborasi antara Stasi Ibu Teresa dengan Paroki induk juga mengalami peningkatan, terutama dalam perencanaan pastoral dan pelaksanaan program pembinaan iman. Penelitian ini menyimpulkan bahwa transformasi menuju model gereja yang lebih partisipatif dan inklusif membutuhkan komitmen dan keterlibatan aktif dari seluruh umat. Stasi Ibu Teresa mendemonstrasikan bahwa prinsip-prinsip sinodalitas dapat diterapkan secara konkret di tingkat lokal, memberikan kontribusi pada visi Gereja Katolik universal yang lebih inklusif dan responsif.

Crespany, Vinsensia Yulisa; Imelda, Maria

Sepakat : Jurnal Pastoral Kateketik 2025 Sekolah Tinggi Pastoral Tahasak Danum Pambelum Keuskupan Palangkaraya

Krisis ekologis telah menarik perhatian besar di seluruh dunia. Gereja juga telah menyerukan tindakan nyata. Melalui ensiklik yang ditulis oleh Paus Fransiskus, disampaikan ajakan untuk melakukan transformasi positif sebagai tanggapan terhadap krisis ekologis. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran Gereja sebagai agen transformasi serta mengimplementasikan pemahaman atas Laudato si’ dalam tindakan konkret. Metode yang digunakan adalah studi pustaka dengan pendekatan deskriptif kualitatif, menelaah dokumen Gereja seperti Laudato si’ dan data sekunder lainnya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Gereja merupakan agen transformasi ekologis yang memiliki peran penting dalam memajukan kesejahteraan ekologis. Dalam Laudato si’, terdapat tiga aspek yang membentuk implikasi peran Gereja: pertobatan ekologis, liturgi, dan pendidikan iman, yang menumbuhkan kesadaran ekologis serta solidaritas terhadap para korban krisis ekologis. Gereja tidak hanya menjadi pembawa pesan, tetapi juga secara aktif berperan sebagai penggerak perubahan berkelanjutan.

Molu, Serlina Baba; Sukarna, Timotius; Windarti, Maria Titik

Jurnal Silih Asah 2025 LPPM - STT Kadesi Bogor

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran gembala dalam menumbuhkan iman jemaat berdasarkan Mazmur 23:1–6. Gembala dalam konteks Alkitab dipahami sebagai figur yang menuntun, melindungi, dan memelihara umat Allah, yang dalam pelayanan gereja diterjemahkan melalui pengajaran, konseling, teladan hidup, dan strategi pastoral. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif, di mana data diperoleh melalui studi literatur, observasi, wawancara, dan dokumentasi di lingkungan Gereja Gerakan Pentakosta (GGP) Sanggabuana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gembala memiliki peran penting sebagai teladan rohani, pembimbing iman, serta fasilitator transformasi jemaat melalui strategi penggembalaan yang efektif. Peran ini berdampak pada meningkatnya kesetiaan, kerendahan hati, serta keteguhan iman jemaat dalam menghadapi tantangan kehidupan. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa keberhasilan pertumbuhan iman jemaat sangat ditentukan oleh kualitas penggembalaan yang dijalankan oleh gembala sidang secara konsisten dan kontekstual.

Telaumbanua, Frendling Juliaman; Olis, Olis

Jurnal Silih Asah 2025 LPPM - STT Kadesi Bogor

Revolusi Industri 4.0 mendorong lahirnya Pendidikan 4.0 yang terintegrasi dengan teknologi digital. Perubahan ini berdampak signifikan pada seluruh sistem pendidikan, termasuk Pendidikan Agama Kristen (PAK). PAK memiliki mandat unik, yaitu membentuk manusia seutuhnya berdasarkan nilai-nilai Alkitab, sehingga harus responsif terhadap perkembangan teknologi tanpa kehilangan integritas teologisnya. Tantangan utama terletak pada keterbatasan kompetensi guru dalam mengintegrasikan teknologi dengan pendekatan pembelajaran yang relevan. Dalam konteks ini, pembelajaran adaptif muncul sebagai strategi pedagogis yang menyesuaikan metode, materi, dan tempo dengan karakteristik peserta didik. Melalui pembelajaran adaptif, guru PAK dapat memanfaatkan teknologi untuk menciptakan pengalaman belajar yang kontekstual, personal, dan bermakna.Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi pustaka, mengkaji literatur terkini terkait PAK, pembelajaran adaptif, dan teknologi pendidikan. Hasil kajian menunjukkan bahwa integrasi pembelajaran adaptif dan teknologi dalam PAK mampu menjawab tantangan Pendidikan 4.0 dengan memfasilitasi diferensiasi pengajaran, penilaian formatif, dan kolaborasi lintas pihak. Teknologi berperan sebagai medium strategis untuk menyampaikan nilai iman dengan cara yang kreatif dan relevan, sementara pembelajaran adaptif memastikan relevansi materi sesuai kebutuhan peserta didik yang beragam.Kesimpulannya, PAK adaptif berbasis teknologi bukan hanya alternatif metodologis, tetapi strategi strategis yang harus dikembangkan secara berkelanjutan. Dengan dukungan kompetensi guru, infrastruktur teknologi, serta sinergi antara sekolah, gereja, dan keluarga, PAK dapat menjadi sarana pembentukan generasi Kristen yang matang secara intelektual, spiritual, dan moral di tengah dinamika global abad ke-21.

Maria Modesta Missi Mone; Theresia Yunita

Jurnal Pengabdian Masyarakat Nian Tana 2025 Fakultas Ekonomi & Bisnis, Universitas Nusa Nipa

Workshop Pra Jabatan Pengurus Orang Muda Katolik diselenggarakan sebagai sarana pembekalan awal bagi para calon pengurus agar memiliki pemahaman, keterampilan, serta sikap dasar yang diperlukan dalam menjalankan tanggung jawab organisasi. Kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat identitas OMK Paroki Katedral St. Yoseph Maumere dalam iman Katolik , menumbuhkan jiwa kepemimpinan yang berlandaskan nilai-nilai Kristiani, serta mengembangkan kemampuan manajerial dan komunikasi yang efektif. Melalui pendekatan partisipatif berupa diskusi, simulasi, dan kerja kelompok, OMK diajak untuk mengalami proses pembelajaran yang kontekstual sekaligus membangun kebersamaan. Hasil yang diharapkan adalah terciptanya pengurus Orang Muda Katolik Paroki Katedral St. Yoseph Maumere yang kompeten, berintegritas, serta siap mengemban misi pelayanan di tengah Gereja dan masyarakat. Workshop ini menjadi fondasi penting untuk mendukung keberlanjutan dan dinamika organisasi Orang Muda Katolik dalam menjawab tantangan zaman.

Remita Nian Permata Zendrato; Meditatio Situmorang

This journal explores the role of the Church Unity Body in strengthening the unity of Christian faith. The Church, as the body of Christ composed of various members from diverse backgrounds and traditions, is called to unite in one faith, one teaching, and one way of life aligned with the teachings of Christ. This unity is crucial for maintaining harmony within the community of believers and for addressing social and theological challenges in the modern world.The role of the Church Unity Body is evident through Bible teaching based on enduring truth, participation in sacraments such as Holy Communion and Baptism, as well as collaboration among churches in social service and mission. In this context, the church functions not only as a place of worship but also as a community that supports spiritual growth and the well-being of its members. The unity of Christian faith requires mutual respect, forgiveness, and humility among church members. By strengthening this unity, the church can provide a clearer testimony to the world, demonstrating that in Christ, differences can be reconciled in love that transcends all. This article also highlights the importance of the church’s role in building a unity of faith that goes beyond denominational boundaries, within the framework of ecumenism, to realize the wholeness of the body of Christ and bring about transformation in the world.