Publication Search

72,574 articles from 669 journals · 2,111 citations tracked

Showing 1-4 of 4

Analytics

Nona, Tryepina Paulina; Suwul, Karolina

Jurnal Ilmu Pertahanan, Politik dan Hukum Indonesia 2025 Asosiasi Peneliti dan Pengajar Ilmu Hukum Indonesia

The contemporary digital era has triggered the normalization of pornography and promiscuous sexual behavior, which significantly threatens the theological understanding and sacramental practice of Catholic marriage among young adults. This article aims to examine, from a theological-juridical perspective, how canons 1055–1101 of the Code of Canon Law (CIC) serve as the authoritative foundation for the Church in safeguarding the dignity and validity of the sacrament of marriage. The method employed is a comprehensive literature study of the CIC, relevant magisterial documents of the Church, and contemporary scholarly works on the dynamics of young adult relationships. The concise findings indicate that exposure to and normalization of pornography directly weaken three fundamental aspects of Catholic marriage, namely the capacity to give free consent, the intention to practice permanent fidelity, and the correct understanding of the body’s meaning as a total self-gift. Nevertheless, the Church possesses solid canonical and pastoral instruments to address these challenges and facilitate restoration. In conclusion, a synergistic integration of canonical approaches, moral teachings, and pastoral guidance is required to assist young adult couples so that they may realize marriages that are not only canonically valid but also psychologically mature and sacramentally holy.

Alberta Ranti; Timotius Tote Jelahu; Silvester Adinuhgra

Sepakat : Jurnal Pastoral Kateketik 2021 Sekolah Tinggi Pastoral Tahasak Danum Pambelum Keuskupan Palangkaraya

Judul skripsi ini diangkat untuk mengetahui pentingnya pendampingan keluarga tentang sakramen perkawinan di Stasi St. Petrus Cangkang Paroki St. Theresia Liseux Saripoi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode studi kepustakaan dengan pengumpulan data dari buku-buku jurnal,  dan skripsi yang cocok dengan penelitian. Langkah-langkah penelitian meliputi penentuan judul skripsi dan hasil penelitian terdahulu  yang dapat mendukung penelitian ini. Dalam penelitian ini dijelaskan bahwa Pasangan suami istri belum memahami dan menghayati hakekat  perkawinan katolik dalam hidup berkeluarga terutama di stasi St. Petrus Cangkang. Hal ini terjadi karena kurangnya pembinaan dan pendampingan tentang perkawinan katolik. Hal ini juga dipengaruhi oleh tenaga pastoral yang ada di stasi St. Petrus Cangkang sehinga pembinaan terhadap keluarga katolik juga kurang diperhatikan. Diharapkan  agar pasangan suami istri dapat memahami dan menghayati perkawinan mereka dengan baik. Hal ini diupayakan dengan katekese dan pendampingan tertentu. Progaram pendampngn ini menjadi sangat penting sebab pasangan suami istri memerlukan pendampingan dalam proses pertumbuhan dan perkembangan iman dalam perkawinannya. Melalui katekese diharapkan agar pasangan suami istri lebih mudah memahami dan menerapkan hidup berkeluarga seturut ajaran dalam  perkawinan seperti setia terhadap pasangan mereka masing- masing.

Rikardus Jehaut

Jurnal Filsafat dan Teologi Katolik 2020 STIKAS Santo Yohanes Salib Kalimantan Barat

Artikel ini bertujuan untuk membedah disiplin Gereja menyangkut larangan untuk menerima komuni kudus bagi yang bercerai dan menikah lagi dalam terang Kitab Hukum Kanonik dan beberapa penegasan Magisterium. Dengan menggunakan analisis kritis atas berbagai dokumen resmi Gereja, ditemukan bahwa larangan tersebut didasarkan atas pertimbangan bahwa menikah lagi selagi masih terdapat ikatan yang valid dipandang sebagai sebuah dosa berat. Terdapat kontradiksi objektif antara sakramen persekutuan Kristus Sang Mempelai dengan Gereja, yang terpenuhi dalam Ekaristi, dan ketidaksetiaan orang yang bercerai yang hidup bersama yang lain kendati sadar akan ikatan perkawinan sebelumnya. Harus dicatat bahwa norma ini sama sekali bukan sebuah hukuman atau diskriminasi terhadap yang bercerai dan menikah lagi, namun lebih mengekspresikan situasi objektif yang dalam dirinya sendiri menghalanginya untuk menerima komuni kudus. Di lain pihak, mengingat bahwa mereka yang bercerai dan menikah lagi tidak dipisahkan dari Gereja melainkan tetap menjadi anggota Gereja, para gembala harus memperhatikan kebutuhan pastoral mereka dengan menerapkan berbagai solusi pastoral yang sesuai yang disediakan oleh Hukum Gereja dan praksis yang diakui oleh Gereja untuk forum internal.

Irwan Irwan

Jurnal Filsafat dan Teologi Katolik 2019 STIKAS Santo Yohanes Salib Kalimantan Barat

Perkawinan antara orang-orang yang dibaptis, oleh Kristus Tuhan diangkat ke martabat sakramen. Ada rahmat sakramental dalam perkawinan ini. Perkawinan antara seorang Katolik dengan seorang yang tidak dibaptis, perkawinan antar-iman, bukanlah sebuah sakramen. Apakah perkawinan antar-iman ini tanpa rahmat? Apakah perkawinan antar- iman tidak dapat diceraikan? Untuk menjawab pertanyaan ini digunakan dokumen- dokumen Gereja Katolik dan pendapat beberapa teolog moral.