Publication Search

73,980 articles from 714 journals · 2,111 citations tracked

Showing 1-6 of 6

Analytics

Wiwik Tiswiyanti; Selviana Ramadhani

Jurnal Kajian dan Penalaran Ilmu Manajemen 2026 CV. Aksara Global Akademia

Piutang pelanggan Indihome yang tidak tertagih merupakan salah satu permasalahan yang berdampak langsung terhadap arus kas dan stabilitas keuangan perusahaan. Laporan Tugas Akhir ini bertujuan untuk menjelaskan tata cara penagihan piutang pelanggan Indihome di Telkomsel Branch Jambi, mengidentifikasi media komunikasi yang digunakan pada setiap tahapan penagihan, serta mengetahui kendala yang dihadapi. Metode penulisan yang digunakan pada laporan ini adalah deskriptif kualitatif melalui observasi, wawancara, dokumentasi, dan studi kepustakaan pada divisi BCR (Billing Collection Retention) Indihome Telkomsel Branch Jambi. Hasil pembahasan menunjukan bahwa penagihan dilakukan secara bertahap mulai dari pendataan pelanggan menunggak, pengiriman informasi tagihan, pengingat setelah jatuh tempo, penagihan via media komunikasi, pemberian surat peringatan, penagihan oleh tim CTB (Caring Territory Base), hingga isolir sementara layanan. Media komunikasi yang digunakan meliputi telepon, WhatsApp, dan email, dengan telepon dan WhatsApp sebagai media yang paling efektif. Kendala utama yang ditemui yaitu nomor pelanggan tidak aktif, pelanggan tidak merespon, serta penundaan pembayaran akibat kendala ekonomi. Pembaruan data pelanggan secara berkala dan peningkatan intensitas follow-up diperlukan untuk meminimalkan risiko piutang tak tertagih.

Ifanisari, Ameilia Budi; Widodo, Condro

Jurnal Riset Rumpun Ilmu Ekonomi 2025 Lembaga Pengembangan Kinerja Dosen

This study aims to analyze the implementation of internal control in the receivables audit process and evaluate its effectiveness in minimizing the risk of bad debts in a health center environment. Receivables, especially those originating from health services to JKN participants and general patients, can cause problematic receivables if not managed effectively. This study uses a descriptive qualitative approach with data collection through observation, interviews and documentation review during the audit by a public accounting firm. The results of the study indicate that there are still weaknesses in the internal control structure such as suboptimal separation of duties, an unintegrated receivables information system and a weak bad debt reserve policy. In addition, late payments by third parties and poor patient administration knowledge are also external factors that influence the high risk of bad debts. Therefore, improving the internal control system, implementing information technology and strengthening coordination with the guarantor are very important to reduce the risk of bad debts and increase accountability for financial management in the health center environment.

isnayati isnayati

JUISI : Jurnal Ilmiah Sistem Informasi 2024 LPPM Universitas Sains dan Teknologi Komputer

This research aims to determine the implementation of internal control in minimizing bad debts at BPR Sejahtera Artha Sembada Brangsong. The information system used is not yet effective. There is no customer data regarding late payment of receivables. The aim of this research is design. Accounting Information System for Internal Control of Receivables at BPR Sejahtera Artha Sembada Brangsong, with the benefit of making it easier for employees to check customer arrears who have not paid receivables in order to maximize collections. In accordance with the research objectives, this research was carried out using the aging of accounts receivable method and creating a web-based Information System using the PHP and MySQL programming languages.

Yazid Salam Sinaga; Sahat Simatupang; Heriyawan Hutagalung

JURNAL EKONOMI BISNIS DAN MANAJEMEN (JISE) 2023 CV. ALIM'SPUBLISHING

Trade receivables represent bills arising from the sale of merchandise or services on credit. Trade receivables are usually given by sales to buyers on the basis of trust, without being accompanied by a written agreement, except for certain customers such as sub-distributors. The impact of uncollectible accounts is that it causes a risk of decreasing company profitability, which in turn can cause losses for the company. Uncollectible receivables are debts owed by other parties for a business transaction. The type of research used in this study is a qualitative descriptive research method, using secondary data collected through the process of observation, interviews and documentation at PT. Tri Sapta Jaya Sibolga. The following data analysis techniques used are data reduction, data presentation, drawing conclusions and triangulation. In the results of interviews with PT. Tri Sapta Jaya Sibolga concluded that the amount of uncollectible accounts based on the age of the receivables obtained the value of uncollectible receivables as being 1-30 days old, which means current, 31-60 days meaning substandard, 91-180 days meaning doubtful, and 181-365 days means uncollectible, where in 2017 the condition of uncollectible receivables was 9,605,854,106, in 2018 it was 12,002,571,945, in 2019 it was 17,345,325,639, in 2020 it was 8,349,776,069 and in 2021 it was 8,638,971,561.56 The results of the study show that the cause of receivables is the weak credit administration and control system that occurs because creditors do not implement the system based on predetermined procedures.

Dewi Ratna Sari; Sunu Priyawan

Journal of Student Research 2023 Pusat Riset dan Inovasi Nasional

Pengkajian memiliki tujuan guna mengetahui efektifitas pengelolaan piutang terhadap pengendalian piutang tak tertagih pada PT. Sarayu Garuda Elektrindo dalam lima bulan terakhir dan untuk mengetahui pengelolaan yang efektif dalam pengendalian piutang tak tertagih pada PT. Sarayu Garuda Elektrindo. Metode yang dipakai pada pengkajian ini ialah deskriptif kuantitaif dalam sumber data melalui observasi, wawancara, serta dokumentasi berupa laporan penjualan juga laporan piutang. Rasio pengukuran pada pengkajian ini ialah rasio Receivable Turn Over (RTO), rasio Average Collectiod Period (ACP), rasio tunggakan, serta rasio penagihan. Berdasarkan perolehan pengkajian dapat disimpulkan jika pengelolaan piutang pada PT. Sarayu Garuda Elektrindo belum efektif, dilihat dari kebijakan kredit yang masih diloggarkan dengan tidak adanya batasan kredit untuk pelanggan, tidak adanya denda jika pelanggan terlambat melunasi kewajibannya, dan tidak adanya analisis 5C yang digunakan perusahaan untuk mengevaluasi calon pelanggan, serta terdapat hasil perhitungan rasio RTO dan ACP yang terdapat dibawah standar yang ditentukan pada perusahaan ialah pada bulan Juni perputaran piutang sebanyak 9,86 kali dan memerlukan waktu 37 hari guna mengganti piutang sebagai kas, bulan Juli perputaran piutang sebanyak 2,12 kali dan memerlukan waktu 170 hari guna menggantu piutang sebagai kas, di bulan Agustus perputaran piutang sebanyak 2,36 kali dan memerlukan waktu 153 hari untuk mengubah piutang menjadi kas, bulan September perputaran piutang sebanyak 2,26 kali dan memerlukan waktu 153 hari untuk mengubah piutang menjadi kas. Sedangkan pada bulan Oktober perputaran piutang sebanyak 1,34 kali dan memerlukan waktu 268 hari guna mengganti piutang sebagai kas. Untuk rasio tunggakan mengalami fluktuasi dari bulan Juni sebesar 20%, bulan Juli terjadi peningkatan menjadi 63%, bulan Agustus terjadi penyusutan menjadi 55%, di bulan September rasio tunggakan kembali naik menjadi 57%, dan di bulan Oktober juga mengalami kenaikan menjadi 67%. Sedangkan untuk rasio penagihan pada bulan Juni adalah yang paling tinggi sebesar 80%, pada bulan Juli mengalami penurunan penerimaan kas menjadi 37%, di bulan Agustus kembali mengalami kenaikan sebesar 45%, namun di bulan September kembali mengalami penurunan sebesar 43%, dan penurunan kembali terjadi di bulan Oktober sebesar 33%. Pada analisis umur piutang juga menunjukkan hasil yang terus mengalami kenaikan taksiran kerugian piutang, di bulan Juni taksiran kerugian piutang sebesar Rp. 6.307.900, bulan Juli sebesar Rp. 18.750.200, bulan Agustus sebesar Rp. 33.781.200, bulan September sebesar Rp. 66.930.480, dan bulan Oktober sebesar Rp. 115.103.920.

Soedarmanto, Soedarmanto; Amanda, Amanda

Studia Ekonomika 2022 STIE KASIH BANGSA

Penjualan merupakan pusat pendapatan bagi sebagian besar perusahaan, sebab dengan pendapatan diharapkan akan diperoleh laba untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran perusahaan. Pada penjualan kredit harus lebih diperhatikan, karena perusahaan akan menghadapi resiko yang lebih besar dibanding penjualan tunai, yaitu adanya resiko piutang tak tertagih, terhambatnya arus kas masuk (cash flow) perusahan, dan lain-lain. Hal itu akan menurunkan laba perusahaan, padahal tujuan utama suatu perusahaan adalah mencapai perolehan laba yang optimal. Oleh sebab itu diperlukan sistem informasi akuntansi yang baik untuk penjualan kredit, karena penjualan merupakan urat nadi kelangsungan perusahaan. Untuk menghasilkan informasi akuntansi yang baikmaka alternatif yang dapat digunakan adalah dengan menerapkan sistem akuntansi dalam setiap kegiatan ekonomi perusahaan dengan baik. Salah satunya adalah sistem akuntansi penjualan kredit, sistem akuntansi penjualan kredit digunakan dalam rangka menghasilkan informasi untuk keperluan pengawasan maupun operasi kegiatan penjualan kredit perusahaan dalam rangka meningkatkan perolehan laba yang maksimal. Sistem Akuntansi Penjualan harus dilaksanakan sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan perusahaan, termasuk juga sistem akuntansi penjualan kredit harus bisa mengikuti prosedur yang ada agar bisa memenuhi kebutuhan perusahaan, yaitu kebutuhan informasi penjualan. Namun, sebagian besar perusahaan masih tidak menyadari akan hal ini, bahwa sistem informasi yang baik sangat diperlukan sehingga menghasilkan sistem manajemen yang baik dan efektif. Dengan adanya berbagai masalah yang dihadapi oleh perusahaan dalam pelaksanaan sistem akuntansi penjualan kredit, maka pelaksanaan sistem akuntansi penjualan kredit perlu dilakukan berbagai perbaikan-perbaikan, sehingga mampu menghasilkan informasi yang akurat, yang nantinya akan berguna bagi manajemen perusahaan dalam pengambilan keputusan.