Publication Search

73,099 articles from 684 journals · 2,111 citations tracked

Showing 1-16 of 16

Analytics

Lay, Sergius; Waruwu, Clara Cici Ceriawati; Sihite, Dominkus Wardoyo; Baeha, Widia; Waruwu, Elvin Paska Juang +2 more

Sepakat : Jurnal Pastoral Kateketik 2026 Sekolah Tinggi Pastoral Tahasak Danum Pambelum Keuskupan Palangkaraya

Penelitian ini mengkaji makna kematian dan kehidupan kekal dalam iman Katolik berdasarkan perspektif teologi eskatologi dan Kristologi sesuai dengan ajaran dogma Gereja Katolik. Tujuan penelitian adalah menjelaskan pemahaman kematian menurut ajaran resmi Gereja Katolik, sebagaimana tertuang dalam Katekismus Gereja Katolik, dokumen Konsili Vatikan II, dan ensiklik kepausan, serta relevansinya bagi kehidupan pastoral umat pada masa kini. Metode yang digunakan adalah kajian pustaka yang bersifat teologis-normatif dengan sumber utama Kitab Suci, dokumen Magisterium, dan literatur teologi yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam iman Katolik, kematian dipahami sebagai peralihan menuju kehidupan kekal bersama Allah, bukan akhir dari eksistensi manusia. Wafat dan kebangkitan Yesus Kristus menjadi fondasi dogmatis harapan keselamatan umat beriman. Ajaran tentang pengadilan khusus, api penyucian, surga, dan neraka merupakan bagian integral dari iman Katolik yang memiliki implikasi pastoral yang kuat: memberikan penguatan iman, harapan, dan penghiburan bagi umat dalam menghadapi penderitaan dan kematian. Simpulan penelitian menegaskan bahwa pemahaman teologis yang benar tentang kematian dan kehidupan kekal perlu terus diwartakan agar umat mampu menghayati hidup dalam iman, harapan, dan kasih.

Kristiawan, Ragil

Jurnal Silih Asuh : Teologi dan Misi 2026 LPPM - STT Kadesi Bogor

Penelitian ini bertujuan menganalisis gema intertekstual antara Lukas 1:49 dan Kejadian 17:1, khususnya melalui penggunaan gelar ὁ δυνατός (ho dynatos) yang mengacu pada El-Shaddai. Kajian ini berargumen bahwa kemunculan kembali gelar ini bukanlah kebetulan, melainkan strategi teologis Lukas yang disengaja untuk menghubungkan kehamilan supranatural Maria dengan janji keturunan Abraham. Metode yang digunakan adalah analisis tekstual-kritikal, historis-semantik, dan intertekstual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gema ini beroperasi pada tiga tingkat: (1) menegaskan kontinuitas identitas Allah yang setia pada perjanjian-Nya; (2) membangun paralel naratif yang ketat antara kelahiran Ishak dan Yesus; serta (3) mentransformasikan makna Inkarnasi sebagai penggenapan definitif janji El-Shaddai. Implikasi teologisnya adalah bahwa Yesus dipahami sebagai keturunan yang dijanjikan, dan kelahiran-Nya menandai dimulainya era baru umat perjanjian yang universal. Dengan demikian, Lukas 1:49 berfungsi sebagai kunci hermeneutis yang menghubungkan misi Yesus secara tak terpisahkan dengan rencana keselamatan Allah sejak perjanjian dengan Abraham.

Aluysius Hendra Wijaya; Laurentius Prasetyo

Jurnal Filsafat dan Teologi Katolik 2026 STIKAS Santo Yohanes Salib Kalimantan Barat

Penelitian ini mengkaji simbol air dalam Injil Yohanes sebagai bahasa wahyu yang mengungkapkan identitas ilahi Yesus dalam kerangka pneumatologi. Latar belakang penelitian ini adalah adanya kecenderungan studi sebelumnya yang menafsirkan simbol air secara parsial, baik sebagai simbol sakramental maupun metafora spiritual, tanpa melihat keterkaitannya secara menyeluruh dalam struktur naratif Injil Yohanes dan tradisi Yahudi. Tujuan penelitian ini adalah untuk menunjukkan bahwa simbol air merupakan struktur teologis yang mengintegrasikan kristologi, dan pneumatologi  Yohanes. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan jenis studi kepustakaan, melalui analisis teologis-intertekstual terhadap teks-teks Yohanes yang berkaitan dengan simbol air serta hubungannya dengan Perjanjian Lama dan tradisi Yahudi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa simbol air berkembang secara progresif dari makna literal menuju simbol kehidupan ilahi dan Roh Kudus, serta mencapai klimaks dalam peristiwa penyaliban sebagai pencurahan Roh dan kelahiran Gereja. Dengan demikian, air berfungsi sebagai medium pewahyuan yang tidak hanya menjelaskan karya keselamatan, tetapi juga mengungkapkan identitas Yesus sebagai sumber kehidupan ilahi. Implikasi penelitian ini menegaskan bahwa pneumatologi Yohanes pada dasarnya merupakan ekspresi kristologi dalam bahasa simbolik.

Sofyan, Uswatun Hasanah; Muhamad Ridwan Effendi

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran simbol keagamaan dalam merefleksikan maupun menutupi kesenjangan kelas sosial di masyarakat perkotaan, dengan menggunakan perspektif teori Karl Marx mengenai agama sebagai ideologi dan alat legitimasi kekuasaan. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus, melalui wawancara semi-struktural terhadap warga kota dari kelas sosial menengah ke atas dan kelas menengah ke bawah, serta tokoh agama setempat. Data dianalisis dengan teknik analisis tematik untuk melihat pola relasi antara simbol agama, posisi kelas, dan akses terhadap kekuasaan sosial-ekonomi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa simbol agama kerap digunakan oleh kelas atas sebagai sarana pembentukan citra, legitimasi status, dan penguatan struktur sosial, sedangkan bagi kelas bawah agama berfungsi sebagai sumber harapan dan solidaritas sosial, namun tidak selalu membuka akses terhadap mobilitas ekonomi. Secara umum, agama dapat berfungsi ganda: menjadi media pemersatu sosial sekaligus cermin ketimpangan kelas yang tersembunyi dalam praktik keagamaan sehari-hari. Penelitian ini menegaskan pentingnya membaca agama tidak hanya secara teologis, tetapi juga sebagai fenomena sosial yang berkaitan dengan produksi makna, kekuasaan, dan distribusi sumber daya.

DSS, Thermanto; Triyanto, Yoel

Jurnal Silih Asah 2025 LPPM - STT Kadesi Bogor

Penelitian ini bertujuan untuk menafsir ulang makna iman anak berkebutuhan khusus melalui sudut pandang teologi disabilitas dalam konteks budaya serta pelayanan gerejawi di Indonesia. Anak berkebutuhan khusus, seperti autisme, sindrom down, hiperaktif, cerebral palsy, dan hambatan intelektual lainnya, acapkali dilihat dari sudut pandang medis atau psikologis saja. Sedangkan melalui sudut pandang spiritual mereka seringkali diabaikan atau dianggap tidak penting. Umumnya dalam banyak gereja, konsep iman masih sangat idealis, bergantung pada kapasitas intelektual dan kemampuan lisan. Hal ini mengakibatkan anak berkebutuhan khusus acapkali tidak bisa mengekspresikan iman yang "benar" sehingga seringkali dianggap kurang memiliki iman. Studi ini memakai metode penelitian literatur dengan mengkaji berbagai macam teori dan pendekatan dalam teologi disabilitas modern, seperti yang dikembangkan oleh tokoh seperti Amos Yong, John Swinton, maupun Thomas Reynolds. Studi ini juga mengaitkannya dalam konteks sosial-budaya dan konteks gerejawi di Indonesia. Artikel ini menunjukkan bahwa anak berkebutuhan khusus memiliki kapasitas spiritual yang asli, meskipun melalui cara pemahaman dan mengekspresikan iman yang berbeda dari anak reguler. Mereka dapat juga berperan aktif dalam lingkup liturgi dan aktivitas gerejawi. Dalam wilayah negara Indonesia, norma atau etika lokal seperti gotong royong, empati kolektif, serta penghargaan terhadap perbedaan dapat menjadi landasan berpikir teologis untuk membangun gereja yang lebih ramah anak berkebutuhan khusus. Kesimpulannya, penelitian ini mengundang gereja serta komunitas Kristen di Indonesia untuk memandang anak berkebutuhan khusus bukan hanya sebagai pihak yang menjadi sasaran pelayanan saja, namun juga sebagai subjek yang memiliki iman yang utuh, yang berharga, yang memiliki kontribusi spiritual yang dapat ikut serta membangun tubuh Kristus dalam kebhinekaan.

Gifani, Eyricha; Yuspratiwi, Grace

Jurnal Silih Asah 2025 LPPM - STT Kadesi Bogor

Budaya dan gereja merupakan dua hal penting yang tidak dapat terpisahkan. Terdapat tradisi, kebiasaan dan prinsip-prinsip sosial yang berlaku dalam masyarakat pada setiap kebudayaan yang bersesuaian dengan ajaran gereja menjadi dorongan oleh penulis untuk menyusun penelitian ini. Melalui karya ilmiah ini, diharapkan dapat menggali, menemukan, selanjutnya menyajikan nilai dari prinsip sosial masyarakat Mamasa yakni sitayuk, sikamase, sirande maya-maya sebagai sebuah kearifan local salah satu budaya yang memiliki makna teologis sebagaimana menurut hipotesa penulis bersesuaian dengan prinsip-prinsip persekutuan bergereja. Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah penelitian kualitatif dengan pendekatan analisis deskriptif hasil observatif dan studi literatur. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat membawa gereja yang ada dalam masyarakat atau wilayah Mamasa untuk dapat menilai prinsip sosial ini sebagai prinsip yang Alkitabiah sehingga senantiasa dapat melestarikannya dalam menjalani kehidupan baik bermasyarakat maupun bergereja.

Apia Ahalapada; Yeremia Hia

Jurnal Pendidikan Agama dan Teologi 2025 International Forum of Researchers and Lecturers

This article examines the theological meaning of the concept of the new heaven and new earth based on Revelation 21:1-8, serving as a foundation for eternal hope for Christians. Through a qualitative theological approach, this study explores how the eschatological understanding influences the faith life and spiritual attitude of believers. The concept of the new heaven and new earth not only refers to the physical renewal of the universe at the end of time but also serves as a source of spiritual strength that fosters perseverance, faith, and hope in facing worldly struggles. Furthermore, this reflection emphasizes the role of the Church as the representation of the New Jerusalem, preparing the faithful for eternal fellowship with God. Thus, the promise of renewed creation functions as an ethical and existential foundation encouraging Christians to live faithfully, courageously, and with hope until the divine promise is fully realized. This article asserts that the hope in the new heaven and new earth has tangible implications for contemporary Christian life as a reflection of the already and yet-to-be-fulfilled Kingdom of God

Nanda Nurlina; Bashori Bashori

Jurnal Riset Ilmu Pendidikan, Bahasa dan Budaya 2025 Asosiasi Periset Bahasa Sastra Indonesia

Konsep nafs dalam Al-Qur’an memiliki peran signifikan dalam memahami struktur kejiwaan dan spiritualitas manusia. Dalam psikologi Islam, nafs sering dikaitkan dengan dinamika batiniah yang memengaruhi perilaku dan pembentukan karakter seseorang. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji makna nafs dalam Al-Qur’an melalui pendekatan semantik dan mengaitkannya dengan dimensi psikologis serta spiritual dalam proses pembentukan karakter. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan penelitian kepustakaan (library research). Analisis semantik dilakukan terhadap ayat-ayat yang mengandung kata nafs, kemudian diklasifikasikan berdasarkan konteks linguistik dan teologisnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa makna nafs dalam Al-Qur’an dapat dikategorikan ke dalam beberapa dimensi, seperti nafs ammarah (jiwa yang memerintah pada kejahatan), nafs lawwamah (jiwa yang mencela), dan nafs mutma’innah (jiwa yang tenang). Ketiga dimensi ini mencerminkan perjalanan spiritual dan psikologis manusia menuju penyempurnaan diri. Penelitian ini memberikan kontribusi dalam pengembangan tafsir tematik Al-Qur’an, serta memperkaya khazanah psikologi Islam dalam kerangka pembentukan karakter yang holistik dan transendental.

Marthen Mau; Henni Somantik

Jurnal Riset sosial humaniora, dan Pendidikan (Soshumdik) 2024 LPPM Universitas 17 Agustus 1945 Semarang

The statements of Jesus on the cross represent a deeply theological aspect that must continue to be studied, understood, and applied in today’s Christian ministry. Christian ministry must not ignore the meaning of Jesus’ holy suffering as an expression of His sacrifice to redeem sinful humanity. Unfortunately, there are still some who question the authenticity of this suffering, even believing that the one who was crucified was not Jesus, but one of His disciples or another person. This perspective stands in opposition to the core teachings of the Christian faith.This study aims to narrate the peak quality of Jesus’ holy suffering through His seven last sayings on the cross. The research uses a qualitative method with a library research approach and grammatical analysis of biblical texts. Data were collected from theological literature and analyzed in light of biblical implications concerning the idea of Jesus’ suffering.The findings show that each statement of Jesus on the cross holds profound theological meaning and reflects God’s eternal plan for the redemption of human sin. A grammatical analysis of these texts strengthens the understanding that Jesus’ suffering is not only a historical event but also bears a deep spiritual significance essential for human salvation. Therefore, the teaching of Jesus’ words on the cross must become an integral part of church ministry today to strengthen the faith of believers in the truth of the Gospel.

Yusni Telaumbanua

Jurnal Filsafat dan Teologi Katolik 2024 STIKAS Santo Yohanes Salib Kalimantan Barat

Tribulation is a significant theme in Christian theology, referring to the suffering and hardships experienced by believers leading up to the second coming of Christ. This study aims to analyze the theological understanding of tribulation and explore its meaning for the lives of believers. The main issue addressed is how tribulation is understood in biblical perspective and its relevance to strengthening the faith of Christians in the modern era. The research method employed is a qualitative approach with literature review, examining biblical texts and theological works discussing tribulation. The findings show that tribulation is viewed as a test of faith that serves to strengthen the spirituality of believers, though there are various interpretations regarding its duration and intensity. The discussion also reveals differences in views among premillennialism, amillennialism, and postmillennialism in interpreting tribulation. In conclusion, tribulation plays a vital role in the lives of believers as a trial that leads to spiritual growth and hope for the second coming of Christ. A deeper understanding of tribulation can provide spiritual resilience for Christians amidst the increasing challenges of the modern world.

Yeni Siahaan; Nurelni Limbong; Warserto Freddy Sihombing; Haposan Silalahi; Herdiana Boru Sihombing

Jurnal Teologi Injili dan Pendidikan Agama 2024 Sekolah Tinggi Pastoral Kateketik Santo Fransiskus Assisi

This research aims to discuss the meaning of the symbol of holding the seven stars and the seven golden candlesticks in Revelation 2:1 and its theological reflection. This research uses a qualitative research method, namely a library research approach. The object studied in this research is the meaning of the symbol of holding the seven stars and the seven golden lampstands. The results and discussion of this research show that the meaning of the symbol of the seven stars is to symbolize the angels/leaders of the congregation and the meaning of the symbol of the seven golden lampstands is to symbolize the congregations that Jesus addresses in Revelation 2:1. This research concludes that the Lord Jesus stated that He held all His angels or messengers, who are currently referred to as shepherds or leaders of the congregation, in the protection of His hands and revealed that Christ never tires of working among His congregation, He wants His congregation to become a shining light, like a lampstand used as a light in the darkness.

Angelo Luciani Moa Dosi Woda

jurnal Riset Rumpun Agama dan Filsafat 2024 Pusat Riset dan Inovasi Nasional

In the midst of fast-paced times and the spread of various views, it feels like people are starting to forget the meaning of Christian brotherhood. It is as if the spirit of loving our fellow brothers and sisters like the Lord Jesus loved us is fading away. Now, modern humans are more likely to be "indifferent" to other people, and feel confident in determining themselves. Is this view true? What are the causes and bad effects of this wrong attitude? Can we overcome this prolonged crisis? What steps should be taken? We learn again to understand and appreciate Christian brotherly love.

Wiwien Wiwien; Nehemia Nome

Jurnal Pendidikan Agama dan Teologi 2023 International Forum of Researchers and Lecturers

There is no denying that it is one measure of the Christian's relationship with God. Personal finances, especially in terms of giving and keeping a tithe tax offering. Tithing is an important issue in Christian finance. Some believe that this is a tax to God for a happy life. Despite life's difficulties. Some people do not pay tithing. unmanageable income. In fact, there are things that we cannot give. Because he enjoys spending too much money on his life. Also, some Christians tithe eagerly, but for no apparent reason. Because that's what the church and family taught me since I was little.

Ahmad As’at Patilima; Sri Dewi Yusuf

jurnal Riset Rumpun Agama dan Filsafat 2023 Pusat Riset dan Inovasi Nasional

Penelitian ini dilakukan atas dasar problem paradigmatik yang muncul dan mengakar pada mindset kaum mukmin, yang cenderung memisahkan antara ibadah mahdah dan ibadah muamalat. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kepustakaan (library research), dan pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Teologis Antrophosentris. Zakat merupakan salah satu dari lima pilar agama, oleh masyarakat kita cenderung dikategorikan sebagai ibadah yang sakral serta tertutup dari inovasi dan perubahan-perubahan. Layaknya shalat, puasa dan haji, zakat juga diberlakukan demikian, dimana zakat hanya dimaknai sebatas perintah teologis, yang kemudian menggerus makna dari zakat yang tidak implikatif terhadap kesadaran filantropi. Zakat merupakan ibadah yang berdimensi ganda, meliputi dimensi mahdah dan juga muamalat. Rekonstruksi sadar zakat dengan mengembalikan khittah zakat sebagai ibadah yang mencakup dimensi mahdah dan muamalat, maka zakat tidak boleh dimaknai terpisah.    

Nata bura, Restia; Arnita Tulak, Sindi; Iin, Iin

Coram Mundo : Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen 2022 Sekolah Tinggi Teologi Injili Arastamar (SETIA) Ngabang

Tujuan penelitian ini yaitu tentang teologi Paulus tentang makna salib. Paulus adalah satu-satunya penulis dalam Perjanjian Baru yang berulang kali menyebutkan salib dalam 1 Korintus 1:17-18; Galatia 5:11; Galatia 6:12, 14; Efesus 2:16; Filipi 2:8; Filipi 3:18 dan Kolose 1 :20; Kolose 2:14. Paulus berdasarkan 1 Korintus 1:23; 3:3,8; 1:23; 3:3,8; 2 Korintus 13:4 dan Galatia 2:20 juga berbicara tentang kematian Kristus. Bagi rasul Paulus, salib adalah yang terpenting karena itu adalah inti dari pesan Injil. Maka tujuan dari artikel ini adalah untuk mengetahui makna salib yang sebenarnya berdasarkan teologi rasul Paulus, dan bagaimana orang Kristen saat ini memaknai salib Kristus. Kajian ini dapat memberikan kepada seluruh umat Kristiani ajaran tentang makna salib yang sebenarnya berdasarkan pemahaman teologis rasul Paulus. Adapun Metode penelitian yang digunakan oleh penulis dalam penulisan ini adalah metode penelitian kualitatif melalui penelitian teologis. Hasil dari penelitian ini adalah orang Kristen akan memahami makna salib dari perspektif teologi Paulus.

Keke Teguh Manik; Gifson Manik; Ririn Simanjuntak; Meli Afriani N; Herdiana Boru Hombing

Coram Mundo : Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen 2022 Sekolah Tinggi Teologi Injili Arastamar (SETIA) Ngabang

Dalam Alkitab, manusia diciptakan segambar dan serupa dengan Allah atau disebut dengan Imago Dei. Allah menciptakan manusia dan memberi kuasa kepada manusia supaya merawat dan  menjaga seluruh ciptaan-Nya. Namun, kuasa yang diberikan Allah membuat manusia merasa berhak untuk melakukan apa saja terhadap ciptaan-Nya. Dan tidak sedikit juga manusia salah memahami konsep segambar dan serupa dengan Allah yang mengaitkannya dengan kedagingan. Berdasarkan tulisan  ini penulis akan membahas penciptaan manusia segambar dan serupa dengan Allah (Kejadian 1 : 26-28). Penulis bertujuan untuk memberi pemahaman konsep (Gambar dan Rupa) yang tidak sama dengan kedagingan dan pemahaman tentang kuasa yang diberikan Allah serta makna teologis dalam ayat tersebut.