Publication Search

72,210 articles from 658 journals · 2,111 citations tracked

Showing 1-6 of 6

Analytics

Arief Fahmi Lubis

Jurnal Media Administrasi 2020 Universitas 17 Agustus 1945 Semarang, Indonesia

Additional criminal threats added on top of the main criminal sanctions aim to prevent military members from committing violations. The aim of this research shows that to maintain discipline, the application of additional punishment must remain based on the principles of law and justice. Qualitative research uses a descriptive approach to collect data systematically, factually, and quickly according to the description at the time of the research. The results of this research show that this additional penalty is expected to provide a stronger incentive for military members to comply with established ethics and regulations, maintain military integrity and efficiency, and improve the public's image and trust in military institutions.

Ferdinand Sitinjak; Tonahati Tonahati; Nathan Houn

Coram Mundo : Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen 2020 Sekolah Tinggi Teologi Injili Arastamar (SETIA) Ngabang

Masalah lingkungan hidup merupakan masalah yang dihadapi oleh dunia saat ini, apakah itu pencemaran air, sampah ataupun udara, semuanya itu sangat mempengaruhi kualitas hidup manusia. Ketika Allah menciptakan langit, bumi dan manusia serta segala isinya, Ia berkata, “sungguh amat baik.” Kemudian Allah berhenti pada hari yang ke-tujuh dan memberkati hari perhentian-Nya tetapi belum ada semak apapun di bumi, sebab Allah belum menurunkan hujan dan belum ada manusia untuk mengusahakan tanah itu. Selanjutnya Allah membuat taman Eden dan menempatkan manusia yaitu Adam yang dibentuk-Nya dari tanah. Kepada Adam Dia memberi perintah untuk mengusahakan dan memelihara taman itu. Dalam perjalanan kehidupan Adam, Allah memberikan kepadanya Hawa, yang diciptakan-Nya untuk menjadi  penolong yang sepadan bagi  Adam dalam tugas memelihara dan mengusahakan taman itu. Tetapi oleh karena dosa, mereka mengabaikan perintah Tuhan ini bahkan mengksplorasi untuk  mengambil manfaat dari bumi diatas maupun isi yang didalamnya untuk perkembangan kehidupan dan kreasi pikiran manusia. Dituliskan didalam kitab Kejadian 4:21-22 tentang keturunan Adam yang mulai mengeksplorasi bumi untuk mengambil mineral dari dalamnya, “Nama adiknya ialah Yubal; dialah yang menjadi bapa semua orang yang memainkan kecapi dan suling. Zila juga melahirkan anak, yakni Tubal Kain, bapa semua tukang tembaga dan tukang besi.”  Dosa telah membuat hati manusia mengeras sehingga muncul sifat egoistik untuk memuaskan dirinya sendiri dengan menjarah bumi dengan segala isinya. Sehingga benar apa yang dituliskan dalam kitab Yesaya 24:4-6 .. “Bumi berkabung dan layu, ya, dunia merana dan layu, langit dan bumi merana bersama. Bumi cemar karena penduduknya, sebab mereka melanggar undang-undang, merubah ketetapan dan mengingkari perjanjian abadi. Sebab itu sumpah serapah akan memakan bumi dan penduduknya akan mendapat hukuman; sebab itu penduduk bumi akan hangus lenyap

Harry Stefanus; Silvester Adinuhgra; Paulina Maria Ekasari Wahyuningrum

Sepakat : Jurnal Pastoral Kateketik 2020 Sekolah Tinggi Pastoral Tahasak Danum Pambelum Keuskupan Palangkaraya

Skripsi  ini  bertujuan  untuk  melihat  pentingnya  pendampingan  pastoral bagi orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus, dan mengetahui model pendampingan pastoral yang perlu diterapkan. Hal ini didasarkan pada sulitnya penerimaan oleh orang tua terhadap hadirnya Anak Berkebutuhan Khusus dalam rumah tangga mereka. Tulisan ini dikaji dengan menggunakan metode kepustakaan. Dengan bersumber pada buku, jurnal, kitab suci, dan dokumen Gereja, data siswa yang diambil dari salah satu sekolah luar biasa dan sumber lainnya yang mendukung penulisan ini. Berdasarkan hasil kajian penulis, disimpulkan bahwa peranan pendampingan pastoral terhadap orangtua anak berkebutuhan khusus sangat besar. Dengan pelayanan pastoral para orang tua mampu untuk menerima Anak Berkebutuhan Khusus dalam rumah tangga mereka. Pendampingan pastoral untuk orang tua dari Anak Berkebutuhan Khusus diharapkan menjadi tanggung jawab Gereja karena salah satu dari seluruh anggota Gereja ialah keluarga yang memiliki Anak Berkebutuhan Khusus. Pendampingan pastoral ini diharapkan mampu memberi   penguatan   kepada   orang   tua   serta   keluarga   dalam   merawat, membimbing, menuntun serta memenuhi keperluan Anak Berkebutuhan Khusus

Rikardus Jehaut

Jurnal Filsafat dan Teologi Katolik 2020 STIKAS Santo Yohanes Salib Kalimantan Barat

Artikel ini bertujuan untuk membedah disiplin Gereja menyangkut larangan untuk menerima komuni kudus bagi yang bercerai dan menikah lagi dalam terang Kitab Hukum Kanonik dan beberapa penegasan Magisterium. Dengan menggunakan analisis kritis atas berbagai dokumen resmi Gereja, ditemukan bahwa larangan tersebut didasarkan atas pertimbangan bahwa menikah lagi selagi masih terdapat ikatan yang valid dipandang sebagai sebuah dosa berat. Terdapat kontradiksi objektif antara sakramen persekutuan Kristus Sang Mempelai dengan Gereja, yang terpenuhi dalam Ekaristi, dan ketidaksetiaan orang yang bercerai yang hidup bersama yang lain kendati sadar akan ikatan perkawinan sebelumnya. Harus dicatat bahwa norma ini sama sekali bukan sebuah hukuman atau diskriminasi terhadap yang bercerai dan menikah lagi, namun lebih mengekspresikan situasi objektif yang dalam dirinya sendiri menghalanginya untuk menerima komuni kudus. Di lain pihak, mengingat bahwa mereka yang bercerai dan menikah lagi tidak dipisahkan dari Gereja melainkan tetap menjadi anggota Gereja, para gembala harus memperhatikan kebutuhan pastoral mereka dengan menerapkan berbagai solusi pastoral yang sesuai yang disediakan oleh Hukum Gereja dan praksis yang diakui oleh Gereja untuk forum internal.

Arta Veronika Naibaho; Fati Invokavit Telaumbanua

Coram Mundo : Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen 2020 Sekolah Tinggi Teologi Injili Arastamar (SETIA) Ngabang

Kebudayaan merupakan sistem yang tidak terlepas dari kehidupan manusia. Keberadaannya menentukan sikap yang harus diambil oleh individu dan komunitas dalam berelasi dan berinteraksi. Kitab Suci Alkitab menjelaskan bahwa, kebudayaan manusia mulai terbentuk sejak penciptaan. Penciptaan dimulai tentang apa yang Allah karyakan sedangkan kebudayaan adalah tentang apa yang manusia mulai karyakan. Namun, Alkitab juga secara jujur menjelaskan bahwa sifat dari kebudayaan manusia itu telah menjadi rusak akibat dosa, sejak kejatuhan manusia pertama Adam dan Hawa yang memilih untuk tidak taat kepada Allah. Allah menjadikan manusia berakal budi dan istimewa dari segala ciptaan yang ada, dengan maksud untuk memuliakan Dia, namun yang terjadi justru sebaliknya, akal budi menjadi tercemar oleh dosa, sehingga secara tidak sadar segala hasil asah dan karyanya telah berorientasi pada pengagungan dan pemuliaan diri manusia itu sendiri. Dalam konteks memahami kebudayaan honor and shame yang tumbuh dan hidup di tengah-tengah kehidupan orang percaya, maka dirasa perlu tindakan meninjau secara benar dan tepat berdasarkan pandangan Alkitab dalam menyikapi kebudayaan ini. dengan memahami tipologi budaya honor and shame, maka dapat membantu melihat peluang yang tepat agar umat Allah memahami dengan baik dan benar bagaimana budaya dan worldview semestinya dibentuk melalui perspektif dan pemahaman akan Firman Tuhan.

Ferry Hartono

Jurnal Filsafat dan Teologi Katolik 2020 STIKAS Santo Yohanes Salib Kalimantan Barat

Masalah makanan haram dan halal merupakan perkara besar dalam Kitab Suci, baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Tokoh-tokoh dalam Kitab Makabe seperti Eleazar serta seorang ibu dengan anak-anaknya lebih rela mati daripada harus makan makanan haram. Meskipun secara mengejutkan tidak banyak dibahas dalam Perjanjian Baru, tema haram dan halal ini pun disinggung dalam situasi yang serius dan dengan pernyataan- pernyataan yang mutlak, baik dari Yesus sendiri maupun dari para rasul. Injil Markus secara spesifik juga membahas soal ini dalam pasal 7. Pembahasan Markus ini, selain mencatat salah satu pernyataan doktriner Yesus yang paling mutlak, menyumbangkan pula alasan-alasan teologis dan praktis yang matang. Haram dan halal menurut Yesus dalam Injil Markus dikembalikan kepada maksud dan tujuannya yang hakiki, yang tidak pernah hanya soal fisik, melainkan memiliki nilai teologis yang intrinsik. Kutipan dari Kitab Yesaya dalam perikop ini menjadi kunci utama untuk memahami dimensi teologis yang mendasari ajaran Yesus mengenai haram dan halal. Rupanya nilai terhakiki dari dimensi teologis ajaran Yesus tentang kemurnian itu terletak pada universalitasnya. Untuk pembahasan kali ini, saya tetap memilih metode analisis naratif dengan fokus pada analisis karakter berdasarkan interaksi mereka dalam percakapan.