SciRepID - Scientific Publication Search

Publication Search

29,653 articles from 386 journals · 1,447 citations tracked

Showing 1-2 of 2

Analytics

Annisa Mauludiyah Usman; Andi Nur Aina Sudirman; Fadli Syamsuddin

Jurnal Ilmu Kesehatan dan Gizi 2023 Pusat Riset dan Inovasi Nasional

Pada masa lanjut usia secara bertahap seseorang mengalami kemunduran, baik kemunduran fisik, mental, dan sosial. Salah satu masalah proses penuaan adalah inkontinensia urin. Inkontinensia urin adalah pengeluaran urin yang tidak terkendali pada waktu yang tidak terkendali dan tanpa melihat frekuensi maupun jumlahnya yang menimbulkan gangguan kesehatan, sosial, psikologi serta dapat menurunkan kualitas hidup bagi penderitanya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan inkontinensia urin dengan kualitas tidur lansia di Desa Mongolato Kecamatan Telaga Kabupaten Gorontalo. Desain penelitian ini menggunakan cross sectional dengan jumlah sampel sebanyak 50 orang diambil dengan menggunakan teknik sampling yaitu purposive sampling. Hasil penelitian yang diperoleh mayoritas lansia berada pada kategori inkontinensia ringan dengan kualitas tidur baik sejumlah 26 responden atau (52%), sedangkan tidak terdapat lansia mengalami kualitas tidur buruk. Pada kategori inkontinensia sedang terdapat 22 orang lansia atau (44%) mengalami kualitas tidur buruk, sedangkan tidak terdapat lansia mengalami kualitas tidur baik, kemudia pada kategori inkontinensia  berat dengan kualitas tidur buruk sejumlah 2 orang (4%). Hasil analisa statistic dengan metode chi square diperolah nilai p = (0.003) < = 0.05 yang berarti Ha diterima. Inkontinensia Urin berhubungan dengan Kualitas Tidur Pada Lansia Di Desa Mongolato Kecamatan Telaga Kabupaten Gorontalo. Lansia  dapat mencegah kejadian inkontinensia urin dengan berbagai aktivitas dari aktivitas ringan hingga olahraga ringan seperti senam kegel yang secara langsung berpengaruh terhadap kualitas tidurnya sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup dan derajat kesehatan lansia menjadi lebih baik.    

Tuti Anggarawati; Nanang K.A; Khairun Nisa; Alfatihah H.A.F; Andi Widianto +1 more

Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Sisthana 2021 Stikes Kesdam IV/Diponegoro Semarang, Indonesia

Prevalensi   diabetes   tipe 2   terkait   usia   lansia   sampai   tahun   2030 mengalami peningkatan tajam karena diprediksi lebih dari 82 juta populasi lansia di negara berkembang menderita diebetes. Tipe 2 merupakan bentuk penyakit yang sering di lansia dan merupakan ancaman serius terhadap kesehatan karena terjadi komplikasi kronis. Tanda dan gejala diabetes pada lansia sering kali tidak jelas  dan  diagnosa  biasanya  terlambat.  Gejala  diabetes  dapat  muncul  tidak spesifik  dan  tidak  pasti,  seperti  keletihan,  inkontinensia  urin,  atau  perubahan status mental seperti depresi, konfusi, dan apatis. Beberapa ahli berpendapat bahwa dengan meningkatnya umur maka intoleransi terhadap glukosa juga meningkat. Peningkatan kadar gula darah pada lansia disebabkan oleh beberapa hal, yaitu fungsi pankreas dan sekresi insulin yang berkurang, perubahan karena lansia sendiri  yang berkaitan dengan resistensi insulin akibatnya kurangnya massa otot dan perubahan vaskuler, aktifitas fisik yang  berkurang,  banyak  makan  dan  kegemukan,  stress,  sering  menggunakan obat-obatan, dan adanya faktor keturunan. Stres memicu  reaksi  biokimia  tubuh melalui  2  jalur,  yaitu  neural  dan neuroendokrin. Reaksi pertama respon stres  yaitu  sekresi  sistem  saraf  simpatis untuk  mengeluarkan  norepinefrin  yang menyebabkan    peningkatan    frekuensi jantung. Kondisi ini menyebabkan glukosa darah meningkat guna sumber energi untuk perfusi.  Peningkatan hormon  stres yang diproduksi dapat  menyebabkan kadar gula darah menjadi meningkat. Kondisi yang rileks dapat mengembalikan kotra-regulasi  hormon  stres  dan  memungkinkan  tubuh  untuk  menggunakan insulin lebih efektif. Seseorang  yang  terkena  diabetes  akan  memerlukan  pengobatan  yang terus-menerus untuk  mengontrol  kadar gula  darah  dan  mencegah  komplikasi. Tapi ada pengobatan lain yang bisa dilakukan sendiri untuk membantu mencegah penyakit ini bertambah buruk. Stres yang tinggi yang dialami penderita dapat meningkatkan angka kesakitan dan kematian, sehingga dibutuhkan kemampuan penderita dalam melakukan perawatan diri   dengan memanajemen stress yang dialami.