Publication Search

72,574 articles from 669 journals · 2,111 citations tracked

Showing 1-8 of 8

Analytics

Hardianta, Rbg Widhi Nugraha Agus Gembong; Wijaya, Michelle

Jurnal Silih Asuh : Teologi dan Misi 2026 LPPM - STT Kadesi Bogor

Penelitian ini mengkaji kisah perjumpaan Yesus dengan pemuda kaya dalam Injil Matius 19:16–30, Injil Markus 10:17–31, dan Injil Lukas 18:18–30 dalam perspektif teologi perdamaian dan keadilan sosial. Latar belakang penelitian ini bertolak dari realitas ketimpangan sosial-ekonomi yang semakin meningkat di era modern, yang ditandai oleh kesenjangan antara kelompok kaya dan miskin serta kemiskinan struktural yang terus berlangsung. Dalam konteks tersebut, kisah Yesus dan pemuda kaya dipahami tidak hanya sebagai ajaran moral mengenai keterikatan terhadap harta, tetapi juga sebagai kritik profetis terhadap struktur sosial-ekonomi yang tidak adil. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan (library research) dan hermeneutika kontekstual. Data primer diperoleh dari teks Alkitab dalam ketiga Injil Sinoptik, sedangkan data sekunder berasal dari buku, jurnal ilmiah, dan literatur teologi yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsep shalom dalam teologi perdamaian mencakup keadilan relasional, kesejahteraan sosial, dan solidaritas terhadap kaum marginal. Perintah Yesus kepada pemuda kaya untuk menjual hartanya dan membagikannya kepada orang miskin menunjukkan bahwa iman Kristen tidak dapat dipisahkan dari tanggung jawab sosial. Kekayaan dipahami sebagai stewardship yang harus digunakan demi kesejahteraan bersama. Penelitian ini menegaskan bahwa gereja dipanggil untuk menjadi agen transformasi sosial melalui praksis keadilan, pemberdayaan ekonomi, pendidikan perdamaian, dan solidaritas sosial di tengah masyarakat Indonesia yang plural dan masih menghadapi ketimpangan sosial-ekonomi.

Ulina, Febriani; Setiawan, Yusak Agus

Jurnal Silih Asuh : Teologi dan Misi 2026 LPPM - STT Kadesi Bogor

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji strategi pembelajaran Pendidikan Agama Kristen dalam menerjemahkan konsep-konsep teologis yang abstrak agar sesuai dengan perkembangan kognitif peserta didik usia sekolah dasar. Latar belakang penelitian ini berangkat dari pentingnya penanaman iman sejak dini dalam keluarga sebagai ecclesia domestica, yang kemudian dilanjutkan secara sistematis dalam pendidikan formal. Namun, pada jenjang sekolah dasar, pembelajaran Pendidikan Agama Kristen menghadapi tantangan karena materi teologis yang bersifat abstrak tidak selalu selaras dengan kemampuan berpikir anak. Berdasarkan teori perkembangan kognitif Jean Piaget, anak usia 7–12 tahun berada pada tahap operasional konkret, sehingga membutuhkan pendekatan pembelajaran yang kontekstual dan berbasis pengalaman nyata. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan hermeneutika-pedagogis untuk menganalisis strategi pengajaran Yesus dalam Injil Markus 4:1–33. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Yesus menerapkan strategi pembelajaran yang efektif melalui pengelolaan ruang belajar (spasial), penggunaan perumpamaan sebagai media naratif, serta pendekatan dialogis-partisipatif. Strategi ini memungkinkan terjadinya jembatan antara konsep abstrak Kerajaan Allah dengan realitas konkret kehidupan pendengar. Dengan demikian, integrasi antara pemahaman teks Alkitab dan pendekatan pedagogis yang sesuai dengan perkembangan kognitif menjadi kunci dalam pembelajaran Pendidikan Agama Kristen yang efektif. Penelitian ini menegaskan bahwa guru Pendidikan Agama Kristen perlu mengembangkan strategi kreatif dan kontekstual agar nilai-nilai iman tidak hanya dipahami secara kognitif, tetapi juga dihayati dan diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari peserta didik.

Abraham, Agustinus

Jurnal Pendidikan Agama dan Teologi 2025 International Forum of Researchers and Lecturers

This research  examines the transfiguration of Jesus in the Synoptic Gospels, with particular emphasis on the theological distinctiveness of the Gospel of Mark. The study employs a qualitative method using a literature review approach, focusing on narrative analysis, textual comparison, and theological reflection. The analysis shows that although Matthew, Mark, and Luke present the transfiguration event, each Gospel offers distinctive features in wording, narrative structure, and theological emphasis. Mark presents the transfiguration in a concise form, portraying Jesus as the messianic Son of God and as a prophet like Moses, while highlighting the apocalyptic and symbolic aspects of this divine encounter. From Mark’s perspective, the transfiguration serves as a prefiguration of Jesus’ resurrection and a revelation of His messianic identity, which in the Greco-Roman context may be understood as apotheosis—the elevation of a human into divinity. This study affirms that the transfiguration in Mark is not only a historical event but also a theological event that encompasses eschatological and christological dimensions, as well as a reflection on divine hiddenness. In conclusion, the transfiguration is understood as a manifestation of Jesus’ hidden glory within suffering, confirming that the path to resurrection and glory must pass through the cross. This article contributes to biblical and theological studies by demonstrating how Mark articulates a unique christology, one that remains relevant for contemporary Christian faith and opens avenues for further exploration through apocalyptic theology and scriptural intertextuality.

Siren Nugroho; Loria Loria; Delon Josephine Efrata; Sarmauli Sarmauli

Sukacita : Jurnal Pendidikan Iman Kristen 2025 Asosiasi Riset Ilmu Pendidikan Agama dan Filsafat Indonesia

In the historical and theological context, the Kingdom of God is understood not as a political or geographical kingdom, but as a spiritual reality present in human life and history. Through an analysis of Mark 1:15, this journal explains that the coming of Jesus signifies the fulfillment of God's plan of salvation and calls people to repent and believe in the gospel. This study also highlights Jesus' use of parables, such as the parable of the mustard seed and the growing seed, which illustrate the growth and characteristics of the Kingdom of God. By emphasizing the importance of repentance and faith, the results of the teachings indicate that the Kingdom of God is cultivating spiritual change in individuals. The conclusions obtained imply that although the Kingdom of God is already present, its full realization still awaits fulfillment in the future. Therefore, this paper recommends that Christians dig deeper into the concept of the Kingdom of God, improving their understanding and application of Kingdom values in daily life as a response to Jesus' teachings.

Tupa Pebrianti Lumbantoruan; Selviana Putri Naibaho; Agustinus Gulo; Yesica Elisabet Tanjung; Juita Manullang

Damai : Jurnal Pendidikan Agama Kristen dan Filsafat 2024 Asosiasi Riset Ilmu Pendidikan Agama dan Filsafat Indonesia

This article discusses the concept of the Kingdom of God in Jesus' teaching according to the Gospel of Mark. The Kingdom of God is understood as a spiritual and eschatological reality that is present through the ministry of Jesus Christ. In the Gospel of Mark, Jesus' teaching about the Kingdom of God challenges the traditional view that expects the coming of the Messiah as a political leader. Using a qualitative approach, this study examines the verses of Mark 1:15, 4:11-12, 4:30-32, and 10:15 to explain the characteristics of the Kingdom of God, such as its theocentric, messianic, and dynamic nature. The study highlights that the Kingdom of God is the active rule of God in human history, with two main dimensions: "already present" through Jesus' ministry and "not yet fully realized" until His second coming. This article provides theological and historical insights into the relevance of Jesus' teachings on the Kingdom of God for the life of the church and society today.

Ferry Hartono

Jurnal Filsafat dan Teologi Katolik 2020 STIKAS Santo Yohanes Salib Kalimantan Barat

Masalah makanan haram dan halal merupakan perkara besar dalam Kitab Suci, baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Tokoh-tokoh dalam Kitab Makabe seperti Eleazar serta seorang ibu dengan anak-anaknya lebih rela mati daripada harus makan makanan haram. Meskipun secara mengejutkan tidak banyak dibahas dalam Perjanjian Baru, tema haram dan halal ini pun disinggung dalam situasi yang serius dan dengan pernyataan- pernyataan yang mutlak, baik dari Yesus sendiri maupun dari para rasul. Injil Markus secara spesifik juga membahas soal ini dalam pasal 7. Pembahasan Markus ini, selain mencatat salah satu pernyataan doktriner Yesus yang paling mutlak, menyumbangkan pula alasan-alasan teologis dan praktis yang matang. Haram dan halal menurut Yesus dalam Injil Markus dikembalikan kepada maksud dan tujuannya yang hakiki, yang tidak pernah hanya soal fisik, melainkan memiliki nilai teologis yang intrinsik. Kutipan dari Kitab Yesaya dalam perikop ini menjadi kunci utama untuk memahami dimensi teologis yang mendasari ajaran Yesus mengenai haram dan halal. Rupanya nilai terhakiki dari dimensi teologis ajaran Yesus tentang kemurnian itu terletak pada universalitasnya. Untuk pembahasan kali ini, saya tetap memilih metode analisis naratif dengan fokus pada analisis karakter berdasarkan interaksi mereka dalam percakapan.

Ferry Hartono

Jurnal Filsafat dan Teologi Katolik 2019 STIKAS Santo Yohanes Salib Kalimantan Barat

Upaya menemukan teologi biblis yang relevan dengan zaman ini sangat penting. Studi tentang karakter-karakter dalam Mrk 4:35–8:30 ini merupakan salah satu upaya tersebut. Analisis naratif dalam studi Kitab Suci, dengan fokus pada analisis karakter, tidak sulit untuk diarahkan pada refleksi teologis yang relevan. Proses identifikasi pembaca dengan tokoh- tokoh dalam Kitab Suci pada umumnya dapat dilakukan dengan lancar, seperti yang ditunjukkan dalam artikel ini. Metode analisis karakter dengan kategorisasi berdasarkan jenis dan  sifat  dalam artikel  ini,  selain  memperjelas posisi  para  karakter,  juga  mempertegas pengenalan akan karakter utama dalam Injil Markus, yakni Yesus. Interaksi mereka dengan Yesus, baik secara langsung maupun tidak langsung, pada akhirnya menuntun para pembaca untuk menentukan sikap dalam interaksi pribadi dengan Yesus.

Ferry Hartono

Jurnal Filsafat dan Teologi Katolik 2019 STIKAS Santo Yohanes Salib Kalimantan Barat

Yesus ditampilkan Injil Markus sebagai karakter yang misterius. Studi tentang kemisteriusan pribadi Yesus semakin menanjak belakangan ini sejak Wrede mengungkapkan teori tentang “Rahasia Mesianis”-nya. Analisis karakter Yesus secara naratif  dalam  artikel  ini  merupakan  salah  satu  upaya  terfokus  untuk  membantu mengungkit beberapa aspek dari “Rahasia” ini. Saya menggunakan metode analisis karakter yang dirancang oleh Malbon, yang berfokus pada performa karakter, dalam hal ini Yesus. Analisis ini menaruh perhatian pada apa yang karakter-karakter lain katakan kepada dan tentang Yesus; apa tanggapan Yesus; apa yang Yesus lakukan, serta apa karakter-karakter lain lakukan sebagai tanggapan atas kata dan tindakan Yesus. Pembahasan hanya dibatasi atas Mrk 4:35-8:30 karena dalam bagian inilah terjadi proses identifikasi  karakter  Yesus  yang  berpuncak  pada  pengakuan  Petrus  atas  Kemesiasan Yesus. Proses ini tampak terkait secara hakiki dengan tonggak peristiwa misi pertama Yesus ke seberang, yang notabene merupakan daerah orang non-Yahudi. Hasil dari studi ini menunjukkan karakter Yesus yang familiar, meneguhkan beberapa fakta yang sudah ada sebelumnya, sekaligus menyajikan aspek-aspek yang mungkin mengejutkan.