Publication Search

80,260 articles from 776 journals · 2,111 citations tracked

Showing 1-19 of 19

Analytics

Sunarto; Lestari, Retno Sri; Ibrahim, Ismail; Abdullah, Tajuddin; Rowa, Saharia +1 more

Jurnal Kesehatan Tropis Indonesia 2026 PT. LARPA JAYA PUBLISHER

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara frekuensi konsumsi makanan cepat saji dan indeks massa tubuh (BMI) di kalangan siswa SMP Negeri 26 Makassar. Metode kuantitatif dengan desain cross-sectional digunakan. Penelitian ini melibatkan 30 siswa kelas satu yang dipilih melalui purposive sampling berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Kriteria inklusi adalah siswa berusia 12–15 tahun yang setuju untuk berpartisipasi, sedangkan kriteria eksklusi meliputi mereka yang memiliki kondisi medis yang memengaruhi berat badan, seperti gangguan endokrin. Data konsumsi makanan cepat saji dikumpulkan menggunakan kuesioner, sedangkan tinggi dan berat badan diukur dengan stadiometer dan timbangan digital untuk menghitung BMI. Analisis statistik dilakukan untuk menguji korelasi antara frekuensi konsumsi makanan cepat saji dan kategori BMI (kurang berat badan, normal, kelebihan berat badan, obesitas). Hasil menunjukkan tidak ada hubungan yang signifikan antara frekuensi konsumsi makanan cepat saji dan BMI (p = 0,795, p > 0,05), menunjukkan bahwa konsumsi makanan cepat saji tidak berhubungan langsung dengan status BMI. Meskipun demikian, faktor lain seperti aktivitas fisik, kebiasaan makan secara keseluruhan, genetika, dan gaya hidup dapat memengaruhi variasi BMI. Meskipun tidak ada korelasi langsung, konsumsi makanan cepat saji yang berlebihan tetap menjadi perhatian karena kandungan kalori, lemak, gula, dan natriumnya yang tinggi dikombinasikan dengan kadar serat yang rendah, yang berpotensi menyebabkan ketidakseimbangan nutrisi jika dikombinasikan dengan perilaku tidak sehat. Studi ini menekankan pentingnya pencegahan obesitas dini pada remaja untuk mengurangi risiko penyakit kronis di masa depan seperti diabetes tipe 2, hipertensi, dan gangguan kardiovaskular.

Imelda Tri Enjelina; Dewi Kartika Sari; Eska Dwi Prajayanti; Mulyaningsih Mulyaningsih

DIAGNOSA: Jurnal Ilmu Kesehatan dan Keperawatan 2026 International Forum of Researchers and Lecturers

Background: Adolescence is a transitional period from childhood to adulthood, with signs of entering adolescence including physical and psychological changes. The adolescent phase is marked by physiological maturation such as the growth of tissues and body organs. This requires adolescents to have sufficient nutritional intake. If the intake is inadequate, it can lead to disturbances in the body's metabolic processes. Nutrient deficiencies, particularly iron (Fe), can cause nutritional anemia. Low hemoglobin levels can occur due to insufficient nutrient intake from food, especially nutrients that support hemoglobin formation. Objective: The objective of this study is to determine the relationship between hemoglobin levels and BMI scores in female adolescents at SMA N 3 Boyolali. Method: The research design was correlational analytic, with a sample of 76 female students at SMA Negeri 3 Boyolali. The sampling technique used random sampling according to inclusion and exclusion criteria. The research instruments included a digital hemoglobinometer, a digital step-on scale, and a microtoa. Data were analyzed using the Spearman Rank test. Results: Bivariate analysis using the Spearman Rank statistical test showed r = 0.343 with a p-value of 0.002 < 0.05, indicating that Ha was accepted. An r of 0.343 is equivalent to 34.3%, indicating a low strength of association. Conclusion: There is a significant relationship between hemoglobin levels and BMI scores in adolescent girls.

Yahya; MB, Andi Rahmaniar; Syamsul, Musdalifah; Syafruddin

Jurnal Kesehatan Tropis Indonesia 2026 PT. LARPA JAYA PUBLISHER

Kebugaran jasmani berperan penting dalam menunjang prestasi belajar siswa dan dipengaruhi oleh aktivitas fisik serta status gizi. Aktivitas fisik yang kurang dapat menurunkan daya tahan tubuh, sedangkan gizi kurang maupun gizi lebih dapat memengaruhi tingkat kebugaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan aktivitas fisik dan status gizi dengan tingkat kebugaran jasmani pada siswa SMA Negeri 8 Maros. Penelitian kuantitatif dengan desain cross-sectional ini melibatkan 80 siswa yang dipilih secara purposive sampling. Aktivitas fisik diukur menggunakan kuesioner GPAQ (Global Physical Activity Questionnaire), status gizi dinilai berdasarkan Indeks Massa Tubuh/U (IMT/U), dan kebugaran jasmani dengan menggunakan beep test. Analisis data menggunakan uji korelasi Spearman Rank. Terdapat hubungan signifikan antara aktivitas fisik dan kebugaran jasmani (p = 0,013; r = 0,277) dengan arah positif lemah. Selain itu, status gizi juga berhubungan signifikan dengan kebugaran jasmani (p = 0,000; r = -0,405) dengan arah negatif sedang. Aktivitas fisik dan status gizi berhubungan dengan tingkat kebugaran jasmani siswa SMA Negeri 8 Maros.

Junaida, Junaida; Zehro, Lailatuz; Hasanah, Sinta Hanifa Uswatun; Hamdani, A.; Junaida, Junaida +3 more

JUISI : Jurnal Ilmiah Sistem Informasi 2026 LPPM Universitas Sains dan Teknologi Komputer

Perkembangan teknologi informasi memberikan kontribusi yang signifikan dalam peningkatan kualitas pelayanan kesehatan, khususnya dalam upaya deteksi dini Non-Communicable Diseases (PTM). PTM seperti diabetes melitus, hipertensi, penyakit kardiovaskular, dan obesitas memiliki prevalensi yang terus meningkat serta sering kali tidak terdeteksi pada tahap awal. Dinas Kesehatan Kabupaten Banyuwangi secara rutin melaksanakan program skrining PTM di fasilitas pelayanan kesehatan. Namun, berdasarkan hasil observasi lapangan, proses pencatatan dan pengelolaan data hasil skrining masih dilakukan secara manual menggunakan aplikasi spreadsheet yang tidak terintegrasi. Kondisi tersebut menyebabkan kesulitan dalam pelacakan riwayat kesehatan pasien, meningkatkan risiko ketidaktepatan data, serta memperlambat proses penyusunan laporan. Penelitian ini bertujuan untuk merancang Sistem Informasi Deteksi Dini Penyakit Tidak Menular berbasis web dengan fokus pada obesitas guna mendukung digitalisasi pengelolaan data kesehatan di lingkungan Dinas Kesehatan Kabupaten Banyuwangi. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian pengembangan sistem dengan model prototype, yang meliputi tahapan analisis kebutuhan, perancangan sistem, pembuatan prototype, serta evaluasi dan revisi berdasarkan umpan balik pengguna. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem yang dirancang mampu mengelola data pasien, mencatat hasil pemeriksaan, menghitung Indeks Massa Tubuh (IMT) secara otomatis, serta menghasilkan laporan secara cepat dan terstruktur. Sistem ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi administrasi, akurasi data, serta mendukung pengambilan keputusan berbasis data (data-driven decision making) dalam pengendalian PTM.

ariyanti, lilik; Priscilla Rosita Putri Nurmasari; Almas Awanis

Jurnal Fisioterapi dan Ilmu Kesehatan Sisthana (JUFDIKES) 2026 Stikes Kesdam IV/Diponegoro Semarang, Indonesia

Gaya hidup remaja masa kini sangat erat kaitannya dengan penggunaan smartphone, di mana hampir seluruh remaja telah memiliki smartphone pribadi. Penggunaan smartphone yang tidak terkontrol berisiko menimbulkan kecanduan yang dapat berdampak negatif terhadap kualitas hidup remaja. Kondisi ini berdampak pada status gizi yang tidak normal pada remaja, diantaranya kekurangan berat badan (underweight) maupun kelebihan berat badan (overweight). Tujuan penelitian ini adalah mengetahui hubungan kecanduan smartphone terhadap Indeks Massa Tubuh. Desain penelitian ini cross sectional dengan sampel 242 remaja usia 15-18 tahun dan menggunaan teknik purposive sampling. Instrumen penelitian yang digunakan adalah Smartphone Addiction Scale-Short Version yang sudah diuji validitas dan reliabilitasnya dengan nilai cut off point kuesioner untuk laki-laki >31 dinyatakan kecanduan smartphone sedangkan untuk perempuan >33 dinyatakan kecanduan smartphone, selain itu dilakukan pengukuran IMT berdasarkan berat badan dan tinggi badan. Analisa data yang dilakukan menggunakan uji statistik Chi-Square dengan uji alternatif Fisher Extract melalui SPSS versi 25. Hasil yang diperoleh yaitu p-value (0,014 < 0,05) yang menunjukan terdapat hubungan antara kecanduan smartphone terhadap Indeks Massa Tubuh (IMT).

Syarifah, Anis Satus; Nurmalisyah, Fitri Firranda; Rodiyah; Panglipuringtyas, Eko Sih; Sugiyana, Laely Ufiz Tsani

Jurnal Kesehatan Tropis Indonesia 2025 PT. LARPA JAYA PUBLISHER

Kesehatan menstruasi merupakan indikator penting bagi kesejahteraan reproduksi perempuan. Di lingkungan perguruan tinggi, mahasiswi menghadapi berbagai tekanan akademik dan lingkungan yang dapat bertindak sebagai risiko kesehatan kerja yang memengaruhi siklus menstruasi mereka.  Systematic review ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis faktor gaya hidup, psikososial, dan biologis yang memengaruhi ketidakteraturan siklus menstruasi pada mahasiswi.  Menggunakan panduan PRISMA, pencarian sistematis dilakukan pada database PubMed dan Scopus untuk artikel yang terbit antara tahun 2021 dan 2026. Sebanyak 23 artikel studi cross-sectional dan case-control memenuhi kriteria inklusi dan disintesis dalam penelitian ini.  Temuan studi secara konsisten mengidentifikasi stres psikologis (stres akademik dan depresi) sebagai prediktor paling dominan terhadap gangguan menstruasi melalui gangguan pada aksis hipotalamus-hipofisis-adrenal (HPA). Selain itu, kualitas tidur yang buruk/insomnia, Indeks Massa Tubuh (IMT) ekstrem (terlalu kurus dan kelebihan berat badan/obesitas), gaya hidup sedenter, serta pola makan yang buruk (asupan lemak tinggi, kebiasaan melewatkan makan) secara signifikan meningkatkan risiko dismenore, siklus tidak teratur, dan Premenstrual Syndrome (PMS). Sebaliknya, konsumsi makanan kaya vitamin A memberikan efek perlindungan. Gangguan menstruasi di kalangan mahasiswi memiliki prevalensi tinggi dan bersifat multifaktorial. Promosi kesehatan di kampus perlu menerapkan program manajemen stres serta edukasi kebersihan tidur dan nutrisi guna mendukung kesehatan reproduksi mahasiswi.

I Komang Arya Triguna; I Made Dhita Prianthara; Komang Tri Adi Suparwati

Jurnal ilmu Kesehatan Umum 2025 Asosiasi Riset Ilmu Kesehatan Indonesia

Futsal is a high-intensity team sport that requires a combination of speed, agility, and physical endurance, particularly cardiorespiratory endurance. Cardiorespiratory endurance is crucial because it directly relates to a player's ability to maintain optimal performance throughout a match, particularly when facing fast-paced and stressful play. Therefore, variables that can influence this ability, such as body composition and nutritional status, are crucial in developing athlete performance. One indicator that can be used to measure nutritional status and body composition is the Body Mass Index (BMI), which is obtained by measuring weight and height. BMI not only reflects whether a person is within the ideal weight range but also potentially influences the efficiency of the body's organs, including the cardiovascular and respiratory systems. In the context of futsal, players with a higher BMI tend to have a higher body weight, which can hinder movement efficiency and increase fatigue during matches. Conversely, players with a lower BMI may have insufficient energy reserves and muscle mass to maintain stamina during matches. This study shows a significant negative relationship between BMI and cardiorespiratory endurance in futsal players at Bali International University. The results of statistical tests using the Spearman rank correlation method showed a correlation coefficient (r) of -0.504 with a significance value of p = 0.005. This indicates that the higher a player's BMI, the lower their cardiorespiratory endurance tends to be. These findings support the importance of ideal body weight management in futsal athlete training, both through dietary adjustments and measured physical exercise programs.

Febriayanti S, Rika; Masfufah Masfufah; Ni Ketut Kariani

Jurnal ilmu Kesehatan Umum 2024 Asosiasi Riset Ilmu Kesehatan Indonesia

Anemia is a condition experienced by the body when red blood cells have hemoglobin levels less than the normal limit (<12 gr/dl). Adolescent groups, especially young women, are susceptible to anemia because they menstruate every month. One of the factors causing anemia in adolescent girls is poor nutritional status. Wrong eating habits, such as being lazy about eating and liking to eat fast food instead of home-cooked food, cause insufficient nutrition, thus affecting the nutritional status of young women. The aim of this research is to determine the relationship between Body Mass Index (BMI) and hemoglobin levels in adolescent girls.  This type of quantitative research uses a cross sectional method. The population is 406 young women from the Mamboro Community Health Center Area High School. The sample was 89 female students with a sampling technique, namely cluster random sampling. Data analysis uses the Chi Square test. The results of the study showed that the majority of young women with BMI were thin at 56.2% and there was a relationship between BMI and hemoglobin levels of young women with a P-Value of 0.000 <0.1. The conclusion of the study is that there is a relationship between BMI and hemoglobin levels in adolescent girls.

Andrea Putri Sekar Tunjung; Gregorius Tsiompah; Oktavina Permatasari

Jurnal ilmu Kesehatan Umum 2024 Asosiasi Riset Ilmu Kesehatan Indonesia

Nutritional status is a health condition that occurs as a result of a comparison between needs and the fulfillment of nutritional substances. There are several factors that can influence a person's nutritional status, namely suitability of needs with food intake, physical activity, increased nutritional needs due to various diseases, and other factors such as social and economic background. The nutritional status of adolescents can be described through measuring BMI/U. The prevalence of underweight in adolescents aged 13-15 years, based on research and development data from the Ministry of Health in 2013, is 11.1% (3.3% very thin and 7.8% thin) while for obese people aged 13-15 years was 10.8% (2.5% very obese and 8.3% obese). Data was obtained by interviews regarding identity, student age, weight and height measurements, exercise and physical activity habits, eating patterns and interpretation of nutritional status on Z-Score BMI according to Age. The results of this study showed that 59.5% of students had good nutritional status, 15.7% of students had overweight nutritional status, 13% of students have poor nutritional status, 10.3% of students have poor nutritional status, 1.6% students have obesity nutritional status.

Haidar Ahmad Musyaffa; Anis Prabowo; Ipin Prasojo; Retno Dewi Noviyanti

Jurnal Mahasiswa Ilmu Kesehatan 2024 STIKes Ibnu Sina Ajibarang

The obesity rate among adolescents in Indonesia is increasingly worrying. Obesity in adolescents is affected by a variety of factors, including lifestyle changes that tend to lead to an unhealthy diet and lack of physical activity. To overcome this problem, early prevention efforts are very important, one of which is by measuring Body Mass Index (BMI) as an early indicator of obesity. This research uses a Research and Development (RnD) approach, which aims to develop or improve existing tools to obtain new data and insights into the use of these tools in various contexts. This tool is a development of the previous tool with the HC SR04 sensor to measure height, the Load Cell sensor to measure weight, and the Atmega328p microcontroller to calculate BMI. The main innovation of the tool is the use of a 433 MHz Radio Frequency module that allows wireless communication between height and weight data, increasing the mobility of the tool as it does not require cables and poles as a support. With the result of an error value in the IMT measurement of 1,28%. With an error value of 1.28% in BMI measurements and 93.40% in BMI measurement validity. So from the results of the above percentage, it can be stated that this tool is suitable for use.

Syamsopyan Ishak; Suherman Rate; Afiska Prima Dewi; Ritma Dewanti; Hernianti Herman

Jurnal Ilmu Kesehatan dan Gizi 2024 Pusat Riset dan Inovasi Nasional

The development of the era and technological advances can make it easier for humans to do everything, one example is the development of types of food in Indonesia which is growing rapidly, one of which is junk food or fast food. The purpose of this study was to determine the effect of eating culture on Body Mass Index in adolescents. The type of research used is quantitative descriptive with a Cross Sectional Study approach, namely to determine the effect of dependent and independent variables observed in the same time period. This study was conducted in the Al-Fatah Natar Islamic Boarding School Area, South Lampung Regency, Lampung Province with a population of 30 students and a sampling technique of total sampling. The results of the statistical analysis of multiple logistic regression tests with results on the frequency of eating variables with a value of p (0.816)>α (0.05). While on the junk food consumption variable with a value of p (0.016)<α (0.05). The results of the statistical analysis show that only junk food consumption has an effect on Body Mass Index in adolescents. So it can be concluded that the culture of consuming junk food has an effect on Body Mass Index in adolescents. For the community to be able to more actively utilize the service facilities that have been prepared, so that through consultation with health workers can increase knowledge about good eating culture in adolescents.

Nugroho, Bayu Yoni Setyo; Sulistyowati, Yuliana Sri

Jurnal Kesehatan Tropis Indonesia 2024 PT. LARPA JAYA PUBLISHER

Industri furnitur atau mebel menjadi salah satu sektor strategis dalam mendukung perekonomian nasional. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, di antaranya nilai tambah yang tinggi, daya saing di pasar internasional, orientasi ekspor, kemampuan menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar, serta ketersediaan bahan baku lokal seperti kayu, rotan, dan bambu yang melimpah. Sebagai bagian dari industri manufaktur, pekerja di sektor mebel dituntut untuk memiliki tingkat produktivitas yang tinggi, baik dari segi kecepatan maupun ketepatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tingkat kelelahan kerja pada pekerja dan menganalisis hubungan signifikan antara kelelahan tersebut dengan berbagai variabel lainnya. Metode yang digunakan adalah kuantitatif dengan desain observasional analitik dan pendekatan cross sectional. Penelitian ini melibatkan 45 responden. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang mencakup masa kerja, indeks massa tubuh (IMT), beban kerja berdasarkan NASA-TLX, intensitas pencahayaan (diukur menggunakan LUX Meter), serta tingkat kelelahan kerja. Analisis data dilakukan menggunakan uji chi-square untuk mengetahui hubungan antar variabel. Lokasi penelitian berada di PT. Home Solution. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan signifikan antara masa kerja dengan tingkat kelelahan kerja (p = 0,017). Namun, tidak ditemukan hubungan yang signifikan antara kelelahan kerja dengan IMT (p = 0,233), beban kerja (p = 0,383), maupun pencahayaan (p = 1,000). Salah satu keluhan kelelahan yang paling umum dialami pekerja adalah rasa haus saat bekerja, yang dilaporkan oleh 25 responden.

Dian Ika Pratiwi; Atri Rudtitasari; Arum Seftiani Lestari; Yunida Haryanti; Rizki Amartani +1 more

Jurnal Ilmu Keperawatan dan Kebidanan 2024 Asosiasi Riset Ilmu Kesehatan Indonesia

The aim of this research was to determine the relationship between body mass index (BMI) and the menstrual cycle in adolescents at STIKARA SINTANG. The menstrual cycle is a clinical sign of female reproductive function. Menstruation is a complex process involving several hormones, sexual organs, and the nervous system. Body mass index is very influential on menstrual disorders because if a person experiences certain hormonal changes which are marked by a marked decrease in body weight (underweight, BMI < 18.5). The test used was the Chi-square test so the results were (p=0.05, pvalue =0.015), meaning there was a significant relationship between BMI and the menstrual cycle.

Tatiana Agnes Sumarto; Lilik Pranata; Vincencius Surani; Ketut Suryani; Bangun Dwi Hardika

Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan 2023 Pusat Riset dan Inovasi Nasional

Studi ini menilai kemungkinan adanya perbandingan indeks massa tubuh antara vegetarian dan non-vegetarian pada komunitas vihara xian zhi ci xuan: Sebanyak 40  sehat (14-78 tahun) peserta terdaftar dalam penelitian ini dan dibagi menjadi dua kelompok yaitu vegetarian (n=20) dan non-vegetarian (n=20). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah desain kuantitatif dengan pendekatan potong lintang. Analisis menggunakan uji Mann Whitney U. Hasil: Hasil kami dalam penelitian ini adalah tidak ada perbandingan indeks massa tubuh antara dua kelompok ini (CI 95%; Z=-1,341; p=0,512) dan tidak ada perbandingan rerata tekanan darah antara dua kelompok (Z=-1,341; p=0,180)

Retno Dewi Noviyanti; Agung Setya Wardana; Hervina Tyas Anggreini; Dewiyanti Fitria

Jurnal Pelayanan dan Pengabdian Masyarakat Indonesia (JPPMI) 2023 Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Yappi Makassar

Status Gizi merupakan unsur yang sangat penting bagi kesehatan lansia. Lansia adalah seseorang yang telah mencapai usia 50 tahun ke atas dan rentan terhadap gizi. Asupan energi yang cukup dan seimbang memegang peranan yang sangat penting dalam status gizi dan kesehatan lansia dalam jangka panjang. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan gizi lansia dan mengukur status gizi lansia. Kegiatan sosialisasi masalah gizi lansia telah dilakukan di Desa Karangasem, Sukoharjo yang diikuti oleh 29 lansia dengan rentang usia 50-65 tahun. Ada dua kegiatan utama yaitu edukasi gizi pada lansia menggunakan media leaflet dan power point, dan mengukur status gizi berdasarkan berat badan menggunakan timbangan digital stamping dan tinggi badan menggunakan microtoa kemudian menghitung indeks massa tubuh atau IMT untuk mengetahui status gizi di. dari pretest dan posttest yang dilakukan pada saat pemberian pendidikan gizi terjadi peningkatan pengetahuan pada lansia. Ditemukan juga bahwa rata-rata kategori status gizi lansia adalah obesitas. Hal ini tidak berbanding lurus dengan hasil pretest dan posttest yang menunjukkan tingkat pengetahuan lansia rata-rata berada pada kategori baik. Upaya yang perlu dilakukan adalah pengaturan jenis dan pola makan yang sesuai dengan kebutuhan tubuh lansia. Dapat disimpulkan bahwa pemberian edukasi dan penilaian status gizi sangat penting karena dapat meningkatkan derajat kesehatan lansia. Adanya pendidikan gizi dan pengkajian status gizi dapat memberikan pemahaman tentang jenis dan pola asupan gizi yang tepat pada lansia.    

Anita Sriwaty Pardede

Jurnal Riset Rumpun Ilmu Kesehatan 2023 Pusat riset dan Inovasi Nasional

Perubahan demografi akan berpengaruh terhadap berbagai aspek kehidupan lanjut usia (lansia) baik secara individu maupun dalam kaitannya dengan keluarga dan masyarakat. Dengan meningkatnya jumlah penduduk lansia harus diupayakan agar kelompok lansia tetap mempunyai kondisi fisik dan mental yang prima untuk menjadi sumberdaya manusia yang optimal. Masalah gizi yang umum terjadi pada lansia selain kekurangan gizi juga kelebihan gizi  yang memacu timbulnya  penyakit degeneratif  seperti penyakit  jantung  koroner,  hipertensi,  diabetes  mellitus,  batu empedu, gout (reumatik), ginjal, sirosis hati dan kanker. Sehingga dengan peningkatan status gizi pada lansia diharapkan keadaan kesehatan dapat dipertahankan atau bahkan ditingkatkan (Dep.Kes. RI, 2000).             Penelitian kuantitatif ini menggunakan desain penelitian cross sectional, dimana variabel terikat (dependen) yaitu Status Gizi berdasarkan Indeks Massa Tubuh (IMT) dengan karakteristik lansia (umur, jenis kelamin, status perkawinan, tingkat pendidikan, status pekerjaan, dan tingkat pendapatan), perilaku (kebiasaan merokok, aktivitas fisik) dan asupan konsumsi makanan sebagai variabel bebas (independen). Penulis melakukan observasi atau pengukuran  pada  saat bersamaan dan wawancara food recall. Penelitian dilakukan di Wredha Rineksa daerah binaan Puskesmas Tugu Kota Depok dengan jumlah 110 orang lansia. Pemilihan lokasi dengan alasan Wredha Rineksa merupakan rumah singgah (sekarang disebut Pos Pembinaan Terpadu). Instrumen yang digunakan dalam penelitian adalah : Kuesioner tentang karakteristik lansia, perilaku (kebiasaan merokok, aktivitas fisik) dan asupan konsumsi makanan, Format Form Food Recall 24 jam, Alat ukur Tinggi Badan yaitu Microtoise dan Berat Badan dengan timbangan Seca Digital, KMS Lansia.             Hasil penelitian adalah : Sebagian besar (56,4%) lansia di Wredha Rineksa (WR) daerah binaan Puskesmas Tugu Kota Depok berstatus gizi normal, dengan rata-rata IMT 23,5 kg/m² dengan nilai terendah 16 kg/m² dan tertinggi 32,8 kg/m², sedangkan status gizi lebih dengan IMT > 25 kg/m²  adalah  33,6% ; Karakteristik lansia umur > 60 tahun (59,1%), perempuan (73,6%), berstatus kawin (71,8%), berpendidikan menengah (50,9%), tidak bekerja (84,5%), dan tingkat pendapatan rendah  sebanyak 62,7%. Sebagian besar lansia tidak mempunyai kebiasaan merokok (91,8%), dan aktivitas fisik  dengan aktivitas sedang 37,3%. Asupan Konsumsi lansia di WR rata-rata kurang dari Angka Kecukupan Gizi, hanya asupan protein yang lebih dari AKG. Asupan rata-rata konsumsi energi pada laki-laki 87,73% dan perempuan 95,5% dari AKG ; rata-rata konsumsi karbohidrat pada laki-laki 89% dan perempuan 91% dari AKG ;  rata-rata konsumsi protein pada laki-laki 138% dan perempuan 131% dari AKG ;  rata-rata konsumsi lemak pada laki-laki 83,6% dan perempuan 77,8% dari AKG. Pada penelitian ini didapatkan  hubungan yang bermakna antara umur, tingkat pendidikan, tingkat pendapatan, dan asupan energi dengan status gizi.    

Suprapti, Eka; Adriana, Vivi; R.K, Maria Kurnyata; Yusfira, Yuliana

Jurnal Kesehatan Medika Udayana 2022 Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kesdam IX/Udayana

Background: Menstrual cycle disorders that are not treated promptly and properly will result in various health problems. The purpose of this study was to determine the correlation of physical activity and body mass index with the menstrual cycle of young girls in Balangtaroang village, Bulukumba Regency Methods: The sampling method used in this study is non-probability sampling with a total sampling technique of 25 respondents. The test used in this research is the Somers'd statistical test. Results: Where the results of the research for the variable physical activity on the menstrual cycle based on the Somers'd test results obtained p value = 0.044 <? = 0.05 and an average value of 2.120, this means that H0 is rejected and Ha is accepted, and for the body mass index variable on the menstrual cycle based on the Somers'd test results, p value = 0.133> ? = 0.05 and an average value of 1,400 Conclusion: Based on the results of the research above, it can be concluded that there is a correlation between physical activity and the degree of the menstrual cycle and there is no correlation between body mass index and the menstrual cycle.

Andri La Gau; Rizkan Halalan Djafar; Bayu Dwi Setyo

Jurnal Kesehatan Amanah 2022 Universitas Muhammadiyah Manado

PendahuluanMeningkatnya angka kejadian diabetes melitus mengakibatkan komplikasi, sala satunya resiko kaki diabetik, kaki diabetik dapat disebabakan oleh berbagai faktor resiko diantaranya yaitu Obesitas ditandai dengan tingginya indeks massa tubuh (IMT)Tujuan penelitian Di ketahui Hubungan Indeks Massa Tubuh Dengan Resiko Kaki Diabetik Pada Pasien DM Tipe 2 di Puskesmas Tuminting Kota Manado Desain Penelitian menggunakan metode Deskriptif Analitik dengan pendekatan cross sectional, berdasarkan jumlah sampel yang diambil sebanyak 50 responden. responden dengan alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini yaitu kuisioner kemudian data di kumpulkan dan di olah menggunakan program komputer SPSS versi 16.0 untuk di analisa menggunakan hasil uji Chi-square. Hasil penelitian menggunakan.UjiChi-square. didapatkan nilai p value tersebut lebih kecil dari nilai taraf signifikan sebesar (0,00<0,05) hasil penelitian ini menunjukan bahwa didapatkan angka tertinggi indeks massa tubuh tingkat gemuk dengan kaki diabetik resiko sedang. Kesimpulan hubungan indeks massa tubuh dengan resiko kaki diabetik pada pasien diabetes melitus tipe 2 Di Puskesmas Tuminting Kota Manado. Saran  meningkatkan tingkat pengatahuan keluarga dalam  pengendalian kadar gula darah dan perawatan kaki

Tuti Rahmawati; Dewi Marfuah; Silvia Ika Rahmawati

Sejahtera: Jurnal Inspirasi Mengabdi Untuk Negeri 2022 Universitas Maritim AMNI Semarang

Status Gizi merupakan unsur yang sangat penting bagi kesehatan lansia. Lansia adalah seseorang yang telah mencapai usia 50 tahun ke atas dan rentan terhadap gizi. Asupan energi yang cukup dan seimbang memegang peranan yang sangat penting dalam status gizi dan kesehatan lansia dalam jangka panjang. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan gizi lansia dan mengukur status gizi lansia. Kegiatan sosialisasi masalah gizi lansia telah dilakukan di Desa Jetis Kadipiro, Surakarta yang diikuti oleh 17 lansia dengan rentang usia 50-65 tahun. Ada dua kegiatan utama yaitu edukasi gizi pada lansia menggunakan media leaflet dan power point, dan mengukur status gizi berdasarkan berat badan menggunakan timbangan digital stamping dan tinggi badan menggunakan mikrotoa kemudian menghitung indeks massa tubuh atau IMT untuk mengetahui status gizi lansia, dari pretest dan posttest yang dilakukan pada saat pemberian pendidikan gizi terjadi peningkatan pengetahuan pada lansia. Ditemukan juga bahwa rata-rata kategori status gizi lansia adalah obesitas. Hal ini tidak berbanding lurus dengan hasil pretest dan posttest yang menunjukkan tingkat pengetahuan lansia rata-rata berada pada kategori baik. Upaya yang perlu dilakukan adalah pengaturan jenis dan pola makan yang sesuai dengan kebutuhan tubuh lansia. Dapat disimpulkan bahwa pemberian edukasi dan penilaian status gizi sangat penting karena dapat meningkatkan derajat kesehatan lansia. Adanya pendidikan gizi dan pengkajian status gizi dapat memberikan pemahaman tentang jenis dan pola asupan gizi yang tepat pada lansia.