SciRepID - Scientific Publication Search

Publication Search

31,943 articles from 386 journals · 1,447 citations tracked

Showing 1-9 of 9

Analytics

Akmal Haidar; Mardiana, Nova; Fitri , Nurwijaya

JURNAL KEPERAWATAN SISTHANA 2025 SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KESDAM IV DIPONEGORO

Penyakit ginjal merupakan masalah serius di seluruh dunia. Penderita penyakit ginjal kronis harus menjalani terapi pengganti ginjal, seperti hemodialisis (HD). Masalah klinis yang sering ditimbulkan oleh pasien gagal ginjal kronis yang menjalani hemodialisa yaitu berdampak negatif terhadap fisik dan aspek psikologis yang dapat mempengaruhi tingkat kecemasan pada pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan tingkat kecemasan pada pasien Hemodialisa di RSUD. (H.C.) Ir. Soekarno Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Tahun 2024.        Metode penelitian ini menggunakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross - sectional. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner. Populasi pada penelitian ini adalah tindakan pasiel n GGK yang mel njalani hel modialisis di RSUD l Dr. (H.C) Ir.Soekarnol Provinsi Kepul l laul an Bangka Bel litul ng Tahul n 2024 pada bul lan oktober sebanyakl 36 kali tindakan.        Hasil penelitian ini membuktikan bahwa terdapat hubungan antara faktor usia (P-value = 0,017) faktor jenis kelamin (P-value = 0,008), faktor dukungan keluarga (P-value = 0,016) dengan tingkat kecemasan pada pasien Hemodialisa di RSUD Dr. (H.C.) Ir. Soekarno Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Tahun 2024. Saran dari penelitian ini yaitu diharapkan perawat mampu memahami kondisi pasien secara komprehensif meliputi biopsikologis, sosial, biologis, lingkungan, spiritual, fisik serta dukungan sosial.

Khoirunnisak Khoirunnisak; Indah Sri Wahyuningsih; Mohammad Arifin Noor

Jurnal Ventilator: Jurnal riset ilmu kesehatan dan Keperawatan 2025 Stikes Kesdam IV/Diponegoro Semarang, Indonesia

Chronic kidney failure is a terminal illness that requires hemodialysis therapy to sustain life. However, this therapy often impacts patients' quality of life, including physical, mental, social, and spiritual aspects. Low spiritual well-being can significantly affect the quality of life, causing stress, anxiety, and a decline in emotional balance. This research aims to analyze the relationship between spiritual well-being and the quality of life of hemodialysis patients, providing insights to support the improvement of their quality of life. This study is a type of Quantitative research with an Observational Analytic research design with a correlational study. Data collection was carried out using the KDQOL-SF and SWBS questionnaires. The number of respondents was 61 people with a total sampling technique. The obtained data were statistically processed using the Chi-square test. The result of this study shows that there is a relationship between spiritual well-being and the quality of life of hemodialysis patients with a P value = 0.000 (P value < 0.05). This study concludes that there is a significant relationship between spiritual well-being and the quality of life of hemodialysis patients. Improving spiritual well-being can enhance patients' quality of life; therefore, it is important to provide spiritual support in therapy to help patients overcome their health challenges.

Anik Eko Novitasari; Rezki Febianti

Jurnal ilmu Kesehatan Umum 2024 Asosiasi Riset Ilmu Kesehatan Indonesia

Hemodialysis is one of the installations in the hospital that handles blood washing therapy, by removing excess waste or harmful compounds, through a semi-permeable membrane which is carried out to replace kidney function that is no longer functioning properly. Hemodialysis is given to patients with a diagnosis of acute renal failure, terminal renal failure and patients who have severe poisoning with certain drugs. The research design was carried out descriptively. The aim of this research was to determine whether there was formalin exposure to hemodialysis workers or nurses when reusing or cleaning hemodialysis equipment, using a qualitative test. In this research, the results were obtained from 15 blood plasma samples, namely 6 positive formalin blood samples, with Schiff, Tollens, KMnO4 and Fehling reagents. It is known from the table of analysis results of qualitative test of formalin exposure on hemodialysis workers in one of the East Java Hospitals. For further research, it is hoped that quantitative tests will be carried out in determining the level of formalin in the blood using the instrument.

Sulistyaningrum, Danny Putri; Noer’aini, I’ien; Al Farizi, Gilang Rizki; Rusmiyati

Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Sisthana 2023 Stikes Kesdam IV/Diponegoro Semarang, Indonesia

Hemodialisis merupakan terapi pengganti ginjal bagi pasien chronic kidney disease stage v. Meskipun hemodialisis mampu membuang kelebihan cairan dan sisa metabolisme, namun banyak pasien hemodialisis tidak patuh terhadap dietnya. Hal ini ditandai tingginya keluhan hipervolemi karena pasien maupun caregiver khususnya keluarga tidak paham dan kesulitan dalam manajemen cairan maupun nutrisi. Sementara upaya pelayanan kesehatan dalam meningkatkan pengetahuan caregiver belum maksimal. Keberhasilan manajemen cairan maupun nutrisi sangat dipengaruhi oleh peran caregiver. Baik pelayanan kesehatan maupun keluarga merupakan caregiver yang mampu mendukung pasien hemodialisis dalam memahami manajemen diet ginjal dan strategi pembatasan cairan. Tujuan kegiatan ini adalah memberikan pelatihan berupa edukasi cairan dan nutrisi kepada caregiver pasien hemodialisis. Strategi kegiatan ini melalui pemberian pelatihan sebanyak 2 kali dengan pre – posttest. Pelatihan menggunakan metode ceramah dan tanya jawab. Hasil kegiatan pengabdian masyarakat diperoleh bahwa terdapat peningkatan rerata tingkat pengetahuan caregiver terhadap edukasi C-Nut (Cairan dan Nutrisi) untuk mencegah kegawatan pada pasien hemodialisis.                     

Febriani Hinur; Pipin Yunus; Abdul Wahab Pakaya

Jurnal Ilmu Kesehatan dan Gizi 2023 Pusat Riset dan Inovasi Nasional

Gagal ginjal kronik merupakan penyakit terjadi setelah berbagai macam penyakit merusak ginjal sampai pada titik keduanya tidak mampu menjalankan fungsinya mempertahankan homeostatis, penyakit ini dapat ditangani dengan melakukan hemodialisa namun salah satu masalah besar yang berkonstribusi pada kegagalan hemodialisa adalah masalah penolakan pasien karena minimnya pengetahuan pasien tentang hemodialisa. Tujuan penelitian untuk mengetahui gambaran pengetahuan pasien gagal ginjal kronik tentang hemodialisis. Desain penelitian deskriptif kuantitatif dengan jumlah sampel sebanyak 38 orang, tehnik pengambilan sampel accidental sampling. Hasil penelitian menunjukan pengetahuan pasien berada pada kategori cukup sebanyak 14 orang, pengetahuan baik sebanyak 13 orang dan pengetahuan kurang sebanyak 11 orang. Sehingga disimpulkan pengetahuan pasien gagal ginjal kronik tentang hemodialisis terbanyak yaitu kategori cukup sebanyak 14 orang atau 36,8%. Saran diharapkan kepada pasien dan masyarakat luas agar sering mencari tahu informasi tentang kesehatan terutama penyakit gagal ginjal kronik sebab penyakit ini menjadi salah satu penyakit yang tumbuh dengan cepat.  

Rahmanti, Ainnur; Sunarto, Sunarto

Jurnal Fisioterapi dan Ilmu Kesehatan Sisthana (JUFDIKES) 2022 Stikes Kesdam IV/Diponegoro Semarang, Indonesia

Latar belakang: Peningkatan Berat Badan Interdialitik (IDWG) adalah peningkatan volume cairan yang diwujudkan dengan kenaikan berat badan sebagai indikator untuk mengetahui jumlah asupan cairan selama periode interdialitik dan kepatuhan management mandiri pasien terhadap regulasi cairan pada pasien yang mendapat terapi hemodialisis. Pasien gagal ginjal yang menjalani hemodialisa harus dibatasi asupan cairannya. Upaya untuk mencegah peningkatan IDWG dapat dilakukan dengan pemberian intervensi self care management. Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan penerapan intervensi self care management terhadap IDWG pada pasien hemodialisa. Metode: Rancangan penelitian yang digunakan adalah deskriptif dengan metode pendekatan studi kasus Subyek dalam studi kasus ini adalah 2 orang pasien dengan kriteria pasien dengan gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisa, pasien yang bersedia diberikan intervensi self care management. Hasil studi kasus menunjukkan bahwa pemberian intervensi self care managementdapat menurunkan berat badan antar sesi hemodialisisyaitu pada subyek Idari 5 % (kategori sedang) turun menjadi 0,8 % (kategori ringan) dan pada subyek II dari 6 % (kategori sedang) turun menjadi 0,8 % (kategori ringan). Intervensi self care management terbukti efektif untuk mencegah peningkatan IDWG pada pasien hemodialisa. Saran Intervensi Self care Management direkomendasikan sebagai intervensi keperawatan untuk pasien yang menjalani hemodialisa

Endro Haksara; Ainnur Rahmanti

JURNAL KEPERAWATAN SISTHANA 2021 SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KESDAM IV DIPONEGORO

Chronic renal failure is a progressive and continuous destruction of kidney structures. Chronic renal failure occurs in susceptible individuals, analgesic nephropathy, destruction of renal papillae associated with daily use of analgesic drugs for years. Whatever the cause, there is a progressive deterioration of kidney function which is characterized by a progressive decrease in the Glomelurus Filter Rate (GFR) (Corwin, 2009). Chronic kidney failure is a failure of kidney function to maintain metabolism and fluid and electrolyte balance due to progressive destruction of kidney structures with manifestations of accumulation of residual metabolites (uremic toxicants) in the blood (Muttaqin & Sari, 2011). as well as electrolytes and acid-base composition of body fluids, removing metabolic wastes that are no longer needed by the body, regulating blood pressure and hormonal function. Chronic Kidney Disease (CKD) is the final stage of chronic kidney failure where GFR <15 ml/min/1.73m2 so that the body fails to maintain metabolism and fluid and electrolyte balance, causing uremia, namely retention of urea and other nitrogenous wastes in the blood (Smeltzer et al. al, 2008; National Kidney Foundation in Kallenbach, et al, 2005). With the increasingly real decline in kidney function or worsening of symptoms of uremia, renal replacement therapy is required for survival, namely dialysis and organ transplantation. There are two methods of dialysis, one of which is Hemodialysis (Potter, 2005; Smelzer, 2008).     

Endro Haksara; Ainnur Rahmanti

JURNAL KEPERAWATAN SISTHANA 2021 SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KESDAM IV DIPONEGORO

The main function of the kidneys under normal conditions is to regulate fluids and electrolytes and the acid-base composition of body fluids, remove metabolic wastes that are no longer needed by the body, regulate blood pressure and hormonal function. Chronic Kidney Disease (CKD) is the final stage of chronic kidney failure where GFR <15 ml/min/1.73m2 so that the body fails to maintain metabolism and fluid and electrolyte balance, causing uremia, namely retention of urea and other nitrogenous wastes in the blood (Smeltzer et al. al, 2008; National Kidney Foundation in Kallenbach, et al, 2005). With the increasingly real decline in kidney function or worsening of symptoms of uremia, renal replacement therapy is required for survival, namely dialysis and organ transplantation. There are two methods of dialysis, one of which is Hemodialysis (Potter, 2005; Smelzer, 2008). Cases of chronic kidney failure in the world have increased by more than 50%, in the United States which is a very developed country every year there are about 20 million adults suffering from chronic kidney failure and undergoing hemodialysis in more than 100,000 patients, while in Indonesia, according to the Indonesian Kidney Diatrans Foundation, YDGI), in 2007 there were about 100,000 chronic kidney failure patients but only a few patients were able to undergo hemodialysis. Kidney replacement therapy in Indonesia was started in 1972 in Jakarta (Dr. Cipto Mangunkusumo Hospital/FKUI), in Bandung in 1976 (Hasan Sadikin Hospital/FK UNPAD).

Endro Haksara; Ainnur Rahmanti; Adi Irawan; Akas Tri Wicaksono; Dedy Purba Winarto +2 more

Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Sisthana 2020 Stikes Kesdam IV/Diponegoro Semarang, Indonesia

PGK merupakan suatu proses patofisiologi dengan etiologi beragam, mengakibatkan penurunan fungsi ginjal yang progresif dan umumnya berakhir dengan gagal ginjal. Selanjutnya gagal ginjal adalah suatu keadaan klinis yang ditandai dengan penurunan fungsi ginjal yang reversible, pada suatu derajat yang memerlukan terapi pengganti ginjal yang tetap, berupa dialysis atau transplantasi ginjal. Uremia adalah suatu sindroma klinik dan laboratorik yang terjadi pada semua organ, akibat penurunan fungsi ginjal pada penyakit ginjal kronik (Suwitra, 2009).   Gejala sindroma uremia dini ialah gangguan fungsi gastrointestinal. Penderita merasa  mual-mual,  muntah-muntah  dan  tidak  nafsu  makan.  Gejala-gejala  tersebut diduga akibat timbunan metabolit, antara lain: metilguanidin, asam guanidinosuksinat, asam parahidroksi-fenilasetat, fenol, indol, asam-asam aromatik, dan senyawa-senyawa amin. Metabolit-metabolit tersebut berasal dari degradasi protein (Syaifuddin, 2006).   Gejala gastrointestinal  yang lain ialah kerusakan epitel dan perdarahan, mulut kering, lidah terasa pahit, perdarahan gusi, hematemesis, melena. Kerusakan epitel dan gangguan fungsi epitel, diduga karena iritasi oleh timbunan metabolit dan gangguan metabolisme sel-sel- epitel. Gangguaan juga terjadi pada epitel kulit, garukan karena gatal meninggalkan ekskoriasi ditungkai, lengan dan di badan. Rasa gatal diduga akibat timbunan atau endapan kalsium dan ureum di dermis. Gejala kardiovaskuler dapat menyertai PGK, hipertensi, jantung hipertensif, payah jantung kongesif, perikarditis uremik, hemoperikardium, tamponade jantung (Syaifuddin, 2006).