SciRepID - Scientific Publication Search

Publication Search

29,653 articles from 386 journals · 1,447 citations tracked

Showing 1-17 of 17

Analytics

Dewi Chintya

JURNAL KEPERAWATAN SISTHANA 2025 SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KESDAM IV DIPONEGORO

Latar belakang: Hemodialisa merupakan suatu teknologi canggih yang digunakan sebagai alternatif pengganti fungsi ginjal untuk menyaring produk-produk limbah metabolik atau racun tertentu dari darah, seperti air, natrium, kalium, hidrogen, urea, dan zat lainnya dengan memanfaatkan membran semipermeabel. Salah satu faktor yang mempengaruhi hemodialisa ialah akses vaskuler, akses vaskuler yang berfungsi dengan baik dapat digunakan untuk jangka Panjang yang adekuat dapat menghasilkan aliran darah yang lancar serta meminimalkan komplikasi. Tujuan: dilakukan penelitian ini ialah untuk mengetahui bagaimana gambaran pengetahuan dan perawatan akses vaskuler pada pasien hemodialisa. Metode: Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan potong lintang (cross sectional). Sebanyak 90 pasien hemodialisa terlibat sebagai responden yang dipilih melalui teknik pengambilan sampel total. Data dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner yang mengukur pengetahuan dan perawatan akses vaskuler. Dalam menganalisis data, digunakan uji distribusi frekuensi. Hasil: penelitian ini menjelaskan bahwasannya mayoritas responden mempunyai tingkat pengetahuan akses vaskuler kategori baik sebanyak 71 (78,9%), sedangkan sebagian besar memiliki Tingkat perawatan akses vaskuler kategori baik sebanyak 69 (76,7%). Adanya Gambaran pengetahuan dan perawatan akses vaskuler yang baik pada pasien hemodialisa sehingga, penelitian ini dapat digunakan perawat dalam intervensi keperawatan untuk lebih meningkatkan pengetahuan dan perawatan akses vaskuler pasien dalam hemodialisa.

Danny Putri Sulistyaningrum; Noer'aini, I'ien; Sa’adah, Anifatus

Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Sisthana 2025 Stikes Kesdam IV/Diponegoro Semarang, Indonesia

Latar Belakang: Hemodialisa merupakan terapi pengganti ginjal pada pasien gagal ginjal terminal yang dilakukan seumur hidup atau sampai pasien mendapatkan donor ginjal. Terapi ini dapat menimbulkan berbagai keluhan seperti fatigue dan gangguan tidur. Akibatnya pasien mengalami penurunan konsentrasi dan aktivitas fisik, serta penurunan kualitas hidup. Tujuan: Mengidentifikasi dan menganalisa fatigue dan gangguan tidur pada pasien hemodialisa, serta mengaplikasikan pemanfaatan lilin aromaterapi untuk mengatasi masalah tersebut. Metode: Mengkaji fatigue dan gangguan tidur, memberikan penyuluhan tentang fatigue dan gangguan tidur, serta menerapkan lilin aromaterapi untuk mengatasi fatigue dan gangguan tidur pada pasien hemodialisa. Hasil: Setelah diberikan lilin aromaterapi terdapat penurunan fatigue dari rerata 20.00 menjadi rerata 15.40. serta terdapat penurunan gangguan tidur dari rerata 10.14 menjadi rerata 5.29. Kesimpulan: Lilin aromaterapi mampu dimanfaatkan untuk mengurangi keluhan fatigue dan gangguan tidur pada pasien hemodialisa.

Akmal Haidar; Mardiana, Nova; Fitri , Nurwijaya

JURNAL KEPERAWATAN SISTHANA 2025 SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KESDAM IV DIPONEGORO

Penyakit ginjal merupakan masalah serius di seluruh dunia. Penderita penyakit ginjal kronis harus menjalani terapi pengganti ginjal, seperti hemodialisis (HD). Masalah klinis yang sering ditimbulkan oleh pasien gagal ginjal kronis yang menjalani hemodialisa yaitu berdampak negatif terhadap fisik dan aspek psikologis yang dapat mempengaruhi tingkat kecemasan pada pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan tingkat kecemasan pada pasien Hemodialisa di RSUD. (H.C.) Ir. Soekarno Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Tahun 2024.        Metode penelitian ini menggunakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross - sectional. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner. Populasi pada penelitian ini adalah tindakan pasiel n GGK yang mel njalani hel modialisis di RSUD l Dr. (H.C) Ir.Soekarnol Provinsi Kepul l laul an Bangka Bel litul ng Tahul n 2024 pada bul lan oktober sebanyakl 36 kali tindakan.        Hasil penelitian ini membuktikan bahwa terdapat hubungan antara faktor usia (P-value = 0,017) faktor jenis kelamin (P-value = 0,008), faktor dukungan keluarga (P-value = 0,016) dengan tingkat kecemasan pada pasien Hemodialisa di RSUD Dr. (H.C.) Ir. Soekarno Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Tahun 2024. Saran dari penelitian ini yaitu diharapkan perawat mampu memahami kondisi pasien secara komprehensif meliputi biopsikologis, sosial, biologis, lingkungan, spiritual, fisik serta dukungan sosial.

Oktavianingsih Oktavianingsih; Elvie Tresya; Indri Sarwili

Jurnal Ventilator: Jurnal riset ilmu kesehatan dan Keperawatan 2025 Stikes Kesdam IV/Diponegoro Semarang, Indonesia

Chronic kidney failure or chronic kidney disease (CKD) is a non-communicable disease that has increased the prevalence of mortality and morbidity in the last 20 years. The prevalence according to RISKESDAS in 2013 showed CKD was 2% and increased to 3.8% (739,208) in 2018. Dialysis is a kidney replacement therapy (TPG) which is used to prevent kidney deterioration. TPG carried out throughout life will change the patient's life physically, cognitively, psychologically, socially, and spiritually. When undergoing dialysis, patients experience ambivalent feelings towards the hemodialysis process that they are currently undergoing, namely positive feelings in the form of happiness when washing freely and negative feelings including feelings of anxiety and worry about the disease they are experiencing. This study aims to determine the existence of family relationships and the length of undergoing hemodialysis on the level of anxiety in patients with chronic kidney failure at Hospital X Jakarta. The method used is quantitative analysis with a cross-sectional research design on 45 respondents with the Spearman Rank correlation test. The results show a significant relationship between family support and the length of time undergoing hemodialysis with the level of anxiety in chronic kidney failure patients with values of ? = 0.001 < ? and ? = 0.007 < ?, correlation coefficient (rs) = 0.472 and (rs) = -0.397, so H0 is rejected and H1 is accepted with a moderate level of significance. In conclusion, family support and the length of time undergoing hemodialysis have a moderate relationship to anxiety levels in chronic kidney failure patients.

Lindawati Farida Tampubolon; Agustaria Ginting; Clarita Famatirani Margareta El. Hia

Jurnal Ventilator: Jurnal riset ilmu kesehatan dan Keperawatan 2024 Stikes Kesdam IV/Diponegoro Semarang, Indonesia

Chronic kidney failure patients experience excess fluid, so fluid restrictions are needed. Fluid restrictions in hemodialysis patients cause dry mouth.  The dry mouth experienced by the patient can cause high thirst, high thirst can cause non-compliance with a fluid restricted diet. As a result of limiting fluid intake carried out ini hemodialysis patients, it results in a feeling of thirst which causes the patient to have the desire to drink. The aim of this study is to determine the effect of giving slimber ice on the intensity of thirst in patients with chornic kidney failure undergoing hemmodialysis. This research uses one group pretest-posttest design. The sampling technique is purposive sampling with a total of 20 respondents. The instrument used in this research is the Visual Analogue Scale fo Assessment of Thirst Intensity. The research results showed that the average thirst intensity score of patients with chronic kidney failure undergoing pre-intervention hemodialysis was 4.80, standard deviation 1,936, and post test intervention 3.10,, standard deviation 1,410. The result of statistical tests show that there is an effect of giving slimber ice on the intensity of thirst in patients with chronic kidney failure undergoing hemodialysis. The results of the paired t-test, obtain p value = 0.001. This intervention can be a form of therapeutic management that can be applied to reduce complaints of thirst at home or in hospital.

Rasianti Puspita Sari; Sitti Rahma Soleman

Jurnal Ilmu Keperawatan dan Kebidanan 2024 Asosiasi Riset Ilmu Kesehatan Indonesia

Chronic Kidney Failure is a condition when kidney function is impaired because it cannot filter blood normally. Patients with kidney failure will experience impaired function of regulating fluid and electrolyte balance. This condition can occur over the years which is progressive and irreversible, requiring hemodialysis therapy. Kidney damage can reduce a person's quality of life. Quality of life includes physical dimensions, psychological dimensions, social dimensions, and environmental dimensions. Objective: Knowing the description of quality of life in chronic renal failure patients undergoing hemodialysis at RSUD Ibu Fatmawati Soekarno Surakarta. Method: This type of research uses descriptive methods with a quantitative approach. The patient sample size was 44 respondents with Accidental Sampling. Measurement of quality of life using the Kidney Disease Quality of Life Short Form 1.3 (KDQOL SFTM 1.3) questionnaire. Result: The results of this study indicate that chronic renal failure patients undergoing hemodialysis have a good quality of life as many as 15 respondents (34,1%) and very good 23 respondents (52,3%) while 6 respondents (13,6%) have a moderate quality of life. Conclusion: Chronic renal failure patients have a good quality of life at RSUD Ibu Fatmawati Soekarno Surakarta.

Argi Syahdila Darma; Hermawati Hermawati; Panggah Widodo

Jurnal ilmu Kesehatan Umum 2024 Asosiasi Riset Ilmu Kesehatan Indonesia

Background: According to the World Health Organization (WHO), in 2018 the incidence of CKD worldwide reached 10% of the population, chronic kidney failure patients undergoing hemodialysis are estimated to reach 1.5 million people worldwide. Chronic kidney failure sufferers who will undergo hemodialysis often experience anxiety. One technique that can overcome the level of anxiety in patients undergoing hemodialysis is distraction technique. The distraction technique that will be given to reduce anxiety is the application of classical music, apart from being able to influence mood, now music is known to have amazing powers both physically, emotionally and spiritually. Objective: To find out the results of implementing classical music therapy for anxiety in patients with chronic kidney failure. who underwent hemodialysis in the ICU Room at Pandan Arang Boyolali Regional Hospital. Method: descriptive case study. To create a picture of classical music therapy nursing care for anxiety in Chronic Kidney Failure patients undergoing hemodialysis in the ICU room at Pandan Arang Hospital, Boyolali Regency. Results: Application of classical music therapy to 2 responses in Mr. A before therapy 4 statements of very severe anxiety after therapy 1 statement of mild symptoms, while for Mr. S before therapy 3 statements of severe anxiety and after therapy 1 statement of mild anxiety. Conclusion: there was a decrease in anxiety in both respondents after classical music therapy.      

Luthfiana Prisma Martuti; Ida Nurjayanti; Agus Rismanto

Jurnal ilmu Kesehatan Umum 2024 Asosiasi Riset Ilmu Kesehatan Indonesia

Chronic Kidney  Disease (CKD) is defined when kidney damage lasts more than 3 months. Chronic Kidney  Disease (CKD) is a disease with various causes in the form of structural or functional abnormalities, accompanied by a decrease in glomerular filtration rate (GFR). People with chronic kidney disease and kidney failure often require kidney replacement therapy or hemodialysis. Sleep disorders are one of the complications of hemodialysis and often occur in patients with chronic kidney disease and over a long period of time. This can affect the quality of sleep of people with chronic kidney disease, both in terms of quantity and duration of sleep, which ultimately affects the individual's daily function. Non-pharmacological methods such as aromatherapy are important to relieve, prevent or treat certain diseases using natural plant spices or aromatic essential oils. Lavender aromatherapy belongs to the Lamiaceae family and its scientific name is Lavandula angustifolia. Inhaling lavender oil is a simple method that has been proven to have a positive effect on various symptoms, especially in hemodialysis patients with sleep disorders.

Armila Damayanti; Resti Yuliati Sutrisno; Purnomo Widiyanto

Jurnal Ilmu Kesehatan Umum, Psikolog, Keperawatan dan Kebidanan 2024 Asosiasi Riset Ilmu Kesehatan Indonesia

Chronic Kidney Failure (CKD) is a kidney disease caused by damage or dysfunction in the kidneys. A common problem in CKD sufferers is excess fluid which causes swelling in the extremities (edema). The causes of edema in CKD patients are failure to comply with fluid restrictions, lack of dietary control, fluid and sodium retention. One of the independent nursing interventions that is very effective for treating edema is ankle pump exercise therapy with leg elevation at 30 ̊. The case study was carried out in the hemodialysis unit at Dr. Tjitrowardojo Purworejo. The aim of the study was to identify the effect of providing ankle pump exercise therapy and 30° leg elevation intervention to reduce edema in CKD patients. The research design used is a descriptive method with a case study approach. The subjects of this case study are CKD patients undergoing hemodialysis who experience edema and patients who have signed an informed consent form. The instrument used is a monitoring sheet for the degree of edema. The intervention given in this case study was ankle pump exercise therapy and 30° leg elevation which was carried out for 7 minutes in 3 meetings over 7 days. Evaluation was carried out on days 1, 4, 8. The results showed that the degree of edema on the first day was grade III (5mm), on the second day it was grade II (4mm), on the third day it was grade I (2mm). Based on the results of the case study, it can be concluded that the application of ankle pump exercise and 30° elevation has proven effective in reducing the degree of edema in chronic kidney failure, so that this independent nursing intervention can be carried out by nurses for CKD patients undergoing hemodialysis.

Sulistyaningrum, Danny Putri; I'ien Noer'aini; Naylul Izza

Jurnal Fisioterapi dan Ilmu Kesehatan Sisthana (JUFDIKES) 2024 Stikes Kesdam IV/Diponegoro Semarang, Indonesia

Hemodialisa merupakan terapi pengganti ginjal bagi pasien dengan diagnosa medis gagal ginjal kronik, utamanya pada stadium akhir. Terapi ini dilakukan sepanjang hidup sehingga pasien rentan mengalami ketidakseimbangan masalah baik fisik, psikologis, sosial maupun spiritual. Lamanya terapi hemodialisa memberikan respon yang berbeda – beda pada setiap pasien. Timbulnya perasaan kesepian akibat kurangnya support keluarga, kekhawatiran yang berlebihan terhadap komplikasi, bahkan ansietas dan stress terhadap ancaman kematian. Apabila tingkat spiritual pasien rendah, maka pasien tidak akan mendapatkan tujuan hidup dengan baik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan lama hemodialisa dengan pemenuhan kebutuhan spiritual pasien yang menjalani terapi hemodialisa. Desain penelitian ini cross sectional yang melibatkan 62 responden dengan teknik purposive sampling. Hasil analisis statistic menggunakan uji spearman rank menunjukkan bahwa ada hubungan lama hemodialisa dengan pemenuhan kebutuhan spiritual pasien yang menjalani terapi hemodialisa (p= 0.000).

Rendiansyah Taha; Firmawati Firmawati; Harismayanti Harismayanti

Jurnal Ilmu Kesehatan dan Gizi 2023 Pusat Riset dan Inovasi Nasional

Pasien yang menjalani Hemodialisa mengalami masalah fisik dan psikologi. Salah satu masalah psikologi yang timbul yakni kecemasan. Kecemasan yang timbul tidak teratasi dengan baik dapat berdampak buruk pada kualitas hidup seseorang. Salah satu terapi non farmakologi yang efektif dapat mengatasi kecemasan yakni terapi murottal Al-Qur’an dan terapi Dzikir. Tujuan penelitian untuk mengetahui Efektivitas Terapi Spiritual Murotal Al-Qur’an dan terapi dzikir terhadap penurunan tingkat kecemasan pasien Hemodialisa. Metode penelitian kuantitatif dan menggunakan desain penelitian Quasy Experimental dengan rancangan Pretest-Postest With  Two Group Design. Jumlah populasi dalam penelitian sebanyak 30 responden yaitu 15 kelompok murottal Al-Qur’an dan 15 kelompok Dzikir. Hasil penelitian didapatkan skor kecemasan sebelum dan sesudah diberikan terapi murottal Al-Qur’an dan terapi Dzikir dengan masing-masing nilai p-value = < 0,000. Terapi mendengarkan murottal Al-Qur’an dan terapi Dzikir secara statistik sama-sama mampu menurunkan tingkat kecemasan pada pasien hemodialisa, tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara terapi murottal Al-Qur’an dan Terapi Dzikir. Akan tetapi secara klinis terapi dzikir lebih efektif dibandingkan terapi murottal Al-Qur’an. Maka dapat di simpulkan terdapat efektivitas terapi spiritual murottal Al-Qur’an dan terapi Dzikir terhadap penurunan tingkat kecemasan pada pasien hemodialisa di RSUD Toto Kabila. Penelitian ini di harapkan dapat menjadikan sebagai salah satu referensi terapi non farmakologi kepada pasien kecemasan yang menjalani terapi Hemodialisa.    

Gustin U. Djaini

Jurnal Ilmu Kesehatan dan Gizi 2023 Pusat Riset dan Inovasi Nasional

Secara psikologi masalah yang paling sering dialami oleh pasien yang menjalani hemodialisa adalah Resiliensi. Resiliensi merupakan faktor yang berperan penting bagi individu untuk dapat bertahan dalam mengatasi suatu permasalahan.. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan mekanisme koping dengan Resiliensi pada pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisa di RSUD Toto Kabila. Penelitian ini merupakan observasional analitik dengan pendekatan crossectional studi. Populasi dan sampel penelitian adalah pasien yang menjalani hemodialsia sebanyak 32 responden. Pengumpulan data menggunakan lembar kuisioner dan dianalisis menggunakan uji statistik chi square. Hasil penelitian didapatkan bahwa Terdapat hubungan yang bermakna atau signifikan antara ada hubungan mekanisme koping dengan Resiliensi pada pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisa di RSUD Toto Kabila dengan nilai p value sebesar 0,017 (p value < α 0,05). Disarankan kepada perawat dalam memberikan pelayanan pada pasien hemodialialisa dapat melakukan intervensi keperawatan yang dapat mekanisme koping dan resiliense

Febriani Hinur; Pipin Yunus; Abdul Wahab Pakaya

Jurnal Ilmu Kesehatan dan Gizi 2023 Pusat Riset dan Inovasi Nasional

Gagal ginjal kronik merupakan penyakit terjadi setelah berbagai macam penyakit merusak ginjal sampai pada titik keduanya tidak mampu menjalankan fungsinya mempertahankan homeostatis, penyakit ini dapat ditangani dengan melakukan hemodialisa namun salah satu masalah besar yang berkonstribusi pada kegagalan hemodialisa adalah masalah penolakan pasien karena minimnya pengetahuan pasien tentang hemodialisa. Tujuan penelitian untuk mengetahui gambaran pengetahuan pasien gagal ginjal kronik tentang hemodialisis. Desain penelitian deskriptif kuantitatif dengan jumlah sampel sebanyak 38 orang, tehnik pengambilan sampel accidental sampling. Hasil penelitian menunjukan pengetahuan pasien berada pada kategori cukup sebanyak 14 orang, pengetahuan baik sebanyak 13 orang dan pengetahuan kurang sebanyak 11 orang. Sehingga disimpulkan pengetahuan pasien gagal ginjal kronik tentang hemodialisis terbanyak yaitu kategori cukup sebanyak 14 orang atau 36,8%. Saran diharapkan kepada pasien dan masyarakat luas agar sering mencari tahu informasi tentang kesehatan terutama penyakit gagal ginjal kronik sebab penyakit ini menjadi salah satu penyakit yang tumbuh dengan cepat.  

Rahmanti, Ainnur; haksara, endro

Jurnal Fisioterapi dan Ilmu Kesehatan Sisthana (JUFDIKES) 2023 Stikes Kesdam IV/Diponegoro Semarang, Indonesia

Hemodialisa merupakan tindakan yang digunakan untuk menangani pasien CKD. Tindakan ini dapat mempengaruhi psikologis pasien CKD karena harus dilakukan suumur hidup, pasien menjadi ketergantungan pada mesin yang pelaksanaannya rumit dan membutuhkan waktu yang lama serta memerlukan biaya yang relative besar. Sehingga pasien menjadi bosan, malas menjalani hemodialisa, kualitas hidup menurun dan bisa berakibat kematian. Kecemasan ini salah satu hal yang dikeluhkan oleh pasien-pasien hemodialisa. Penerapan aromatherapy lavender sebanyak 0.6 ml selama 1 x 30 menit merupakan salah satu terapi nonfarmakologi yang aman untuk mengurangi tingkat kecemasan pada pasien yang akan menjalani hemodialisa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran penerapan aromatherapy lavender dapat menurunkan tingkat kecemasan pasien CKD yang akan menjalani hemodialisa di Rumkit Tk. II dr. Soedjono Magelang. Jenis penelitian yang digunakan deskriptif dengan metode pendekatan studi kasus. Subjek yang digunakan sebanyak 2 orang dengan kriteria pasien hemodialisa, pasien yang tidak mempunyai riwayat alergi terhadap aromatherapy lavender, pasien sadar dan dapat berkomunikasi, pasien yang bersedia menjadi responden, pasien yang menjalani tingkat kecemasan sedang dengan lembar penilaian HRS-A (score 21-27). Berdasarkan analisa data didapatkan hasil bahwa subyek I mengalami penurunan dari score kecemasan 27 (sedang) menjadi 19 (ringan) dan subyek II dari score kecemasan 24 (sedang) menjadi 17 (ringan). Kesimpulan penerapan aromatherapy lavender efektif untuk menurunkan tingkat kecemasan pada pasien yang akan menjalani hemodialis. Penerapan aromatherapy lavender direkomendasikan untuk menurunkan tingkat kecemasan pasien yang menjalani hemodialisa.

Danny Putri Sulistyaningrum; Maya Cobalt Angio Septianingtyas; Putri Indriani

Jurnal Rumpun Ilmu Kesehatan 2022 Pusat Riset dan Inovasi Nasional

Hemodialisa merupakan terapi pengganti ginjal yang dijalani oleh penderita gagal ginjal terminal seumur hidupnya. Seringkali hemodialisa menyebabkan ansietas dan stress sehingga mereka harus mampu beradaptasi dengan kondisinya. Salah satu bentuk adaptasi penderita gagal ginjal terminal adalah melakukan pembatasan cairan untuk mencegah hipervolemia. Kondisi hipervolemia dapat diketahui dengan mengukur interdialytic weight gain (IDWG). Tujuan penelitian ini untuk menganalisa hubungan self acceptance dengan interdialytic weight gain penderita gagal ginjal terminal yang menjalani hemodialisa. Penelitian ini menggunakan cross sectional yang melibatkan 62 responden dengan teknik purposive sampling. Alat pengumpul data terdiri dari lembar observasi yang berisi data demografi dan IDGW, serta kuesioner Unconditional Self Acceptance Questionnaire (USAQ). Analisis statistic penelitian ini menggunakan uji korelasi pearson product moment. Hasil penelitian menunjukkan tidak ada hubungan self acceptance dengan interdialytic weight gain penderita gagal ginjal terminal yang menjalani hemodialisa (p = 0.534; α = 0.05).

Rahmanti, Ainnur; Sunarto, Sunarto

Jurnal Fisioterapi dan Ilmu Kesehatan Sisthana (JUFDIKES) 2022 Stikes Kesdam IV/Diponegoro Semarang, Indonesia

Latar belakang: Peningkatan Berat Badan Interdialitik (IDWG) adalah peningkatan volume cairan yang diwujudkan dengan kenaikan berat badan sebagai indikator untuk mengetahui jumlah asupan cairan selama periode interdialitik dan kepatuhan management mandiri pasien terhadap regulasi cairan pada pasien yang mendapat terapi hemodialisis. Pasien gagal ginjal yang menjalani hemodialisa harus dibatasi asupan cairannya. Upaya untuk mencegah peningkatan IDWG dapat dilakukan dengan pemberian intervensi self care management. Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan penerapan intervensi self care management terhadap IDWG pada pasien hemodialisa. Metode: Rancangan penelitian yang digunakan adalah deskriptif dengan metode pendekatan studi kasus Subyek dalam studi kasus ini adalah 2 orang pasien dengan kriteria pasien dengan gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisa, pasien yang bersedia diberikan intervensi self care management. Hasil studi kasus menunjukkan bahwa pemberian intervensi self care managementdapat menurunkan berat badan antar sesi hemodialisisyaitu pada subyek Idari 5 % (kategori sedang) turun menjadi 0,8 % (kategori ringan) dan pada subyek II dari 6 % (kategori sedang) turun menjadi 0,8 % (kategori ringan). Intervensi self care management terbukti efektif untuk mencegah peningkatan IDWG pada pasien hemodialisa. Saran Intervensi Self care Management direkomendasikan sebagai intervensi keperawatan untuk pasien yang menjalani hemodialisa

Priatna, Apit; Yusuf, Arif Maulana; Elanda, Anggi

Jurnal Elektronika dan Komputer 2021 STEKOM PRESS

The use of information, media and communication technology has changed both the behavior of society and human civilization globally. The development of hospitals in Karawang is increasingly mushrooming, as well as the increasing number of degenerative diseases such as hypertension and diabetes, the increasing prevalence of chronic kidney disease. So it requires the handling of renal replacement therapy (Renal Replacement Therapy) because it is increasingly needed for cases of acute and chronic renal failure. The purpose of this research is to build an integrated and controlled information system that can simplify the patient administration process and reduce the effectiveness of the patient's time for dialysis. The methodology that the authors use in this study includes methods of identification and system design. System identification includes identification of the organization, running systems, and problem identification. The problems faced at this time in the Hemodialysis Installation. Patient data is not the same between patients who are served by hemodialysis (dialysis) and those in the application report, the transaction value for using tools and materials is sometimes empty or there is no transaction value in the application, it will cause losses to the customer. hospital. It is hoped that this system can eliminate the problems that have been happening so far.