Publication Search

67,742 articles from 584 journals · 1,699 citations tracked

Showing 1-8 of 8

Analytics

Dedi Achyadi; Kartono Wibowo; Soedarsono Soedarsono

Jurnal Riset Rumpun Ilmu Teknik 2026 Pusat riset dan Inovasi Nasional

Time delays and cost overruns remain major problems in building construction projects, particularly in concrete structural works that dominate project duration and cost. This study aims to evaluate the application of re-engineering in concrete structural work methods on the time and cost performance of multi-storey building projects. A quantitative approach using a case study method was employed through comparative analysis between the existing method and alternative methods. The analyzed alternatives include ready-mix concrete with Sika Viscocrete 8007 admixture and semi-system formwork as Alternative I, ready-mix concrete with system formwork as Alternative II, and ready-mix concrete with Sika Viscocrete 8007 admixture combined with system formwork as Alternative III. The results show that all alternatives perform better than the existing method with a duration of 243 days. Alternative I reduced the duration to 208 days with cost efficiency of IDR 55,781,730 or 0.214 percent. Alternative II reduced the duration to 203 days with cost efficiency of IDR 187,553,261 or 0.724 percent. Alternative III achieved the best performance with a duration of 168 days, accelerating 75 days and providing the highest cost efficiency of IDR 243,334,991 or 0.941 percent. The study concludes that re-engineering effectively improves project time and cost performance, with Alternative III as the optimal method.

Aisyah Sukmaayu Jatiningsih; Ayu Hapsari, Rahma Nindya

Journal of Civil Engineering and Technology Sciences 2025 Faculty Of Engineering University 17 August 1945 Semarang

Bangunan yang berada di daerah rawan gempa dengan tanah lunak cenderung memiliki tingkat kerentanan yang lebih tinggi. Dalam merancang struktur bangunan bertingkat, beban gempa menjadi salah satu parameter utama yang sangat berpengaruh. Kekuatan sebuah bangunan ditentukan oleh elemen-elemen struktur yang menopangnya dan kolom merupakan elemen struktur yang memiliki peran penting dalam konstruksi. Jika kolom mengalami kegagalan, bangunan yang ditopangnya berpotensi runtuh. Oleh karena itu, rendahnya ketahanan konstruksi di wilayah ini tetap menjadi permasalahan yang sedang diteliti saat ini. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui seberapa jauh pengaruh variasi dimensi kolom terhadap struktur bangunan terhadap gempa, sehingga diperoleh ukuran dimensi kolom yang paling optimal. Pada penelitian ini, objek yang digunakan adalah bangunan 8 lantai yang terdiri dari lantai 1-3 merupakan kantor dan lantai 4-8 merupakan hunian. Pada perencanaan ulang bangunan ini berpedoman pada persyaratan beton struktural (SNI 2847:2019), perencanaan ketahanan gempa (SNI 1726:2019), dan beban minimum untuk perancangan bangunan gedung dan struktur lain (SNI 1727:2020), dengan pemodelan menggunakan software ETABS V.22. Redesain bangunan ini untuk mengetahui ukuran dimensi kolom yang paling optimal. Hasil penelitian perubahan dimensi kolom terhadap kekuatan struktur bangunan yakni dengan memperbesar dimensi kolom, kapasitas penampang bertambah yang dapat meningkatkan ketahanan kolom terhadap beban gempa. Selain itu, dimensi yang lebih besar juga membantu mengurangi tegangan aksial pada kolom, sehingga menurunkan risiko kegagalan akibat tegangan berlebih atau kelelahan material. Semakin besar dimensi kolom yang digunakan maka semakin kecil nilai simpangan yang dihasilkan. Artinya dengan dimensi kolom yang lebih kecil memiliki resiko yang lebih tinggi, sebab nilai simpangan lebih dekat dengan batas yang diijinkan. Akan tetapi hasil analisis menunjukkan bahwa dimensi kolom dengan berbagai variasi masih aman dari pengaruh delta izin.

Ninda Qurmaulia Dhani; Michella Beatrix

Prosiding Seminar Nasional Ilmu Teknik 2025 Asosiasi Riset Ilmu Teknik Indonesia

Delays in high-rise building construction projects in Surabaya are a crucial issue as they can significantly affect cost, quality, and project completion schedules. This reserach intends to identify the dominant factors contributing to project delays using the Relative Importance Index (RII) method, considering both frequency and impact aspects. Data were obtained from 80 valid respondents who hold strategic roles in construction project implementation, such as Project Managers, Site Managers, Site Engineers, Estimators, Field Supervisors, General Managers, and Company Directors. The analysis results indicate that in terms of frequency, the dominant factors are unfavorable weather conditions (RII = 0.750), labor shortages (RII = 0.743), and design changes during construction (RII = 0.735). Meanwhile, in terms of impact, the dominant factors are delays in material delivery (RII = 0.780), labor shortages (RII = 0.770), and substandard material quality (RII = 0.740). These findings emphasize that labor shortage consistently influences project delays in both frequency and impact, while weather and material factors show different patterns between occurrence and consequence. All dominant factors were classified into the High-Medium category, indicating that they should be prioritized in project risk management.

Tia Herlina Sugiharto; Michella Beatrix

Prosiding Seminar Nasional Ilmu Teknik 2025 Asosiasi Riset Ilmu Teknik Indonesia

The implementation of risk management is an important method that is carried out in order to identify risk factors that may arise during the implementation of the project. However, the implementation of risk management still faces some obstacles in its implementation. Therefore, this study aims to analyze the barriers to the implementation of risk management in construction projects in Surabaya. A total of 80 respondents filled out questionnaires from construction service providers including contractors and consultants. Respondents involved include professional experts such as Project Managers, Site engineers, Site managers, implementers, estimators, General Managers and Company Directors. Data processing using fuzzy AHP method as a data processing tool and decision making. The results of the study revealed that the main factors that can hinder the implementation of cost risk management are inaccurate cost estimates (Y4) with the highest weight of 0.433, lack of quality Control (Qc) supervision criteria (Y5) is ranked second with a weight of 0.288, poor coordination between stakeholders (owner,contractor and consultant) (Y1) is ranked third with a weight of 0.274, lack of risk management training (Y3) is ranked fourth with a weight of 0.005, and some, old age) (Y2), the work can not be done according to the work drawings (Y6), limited skilled human resources (Y7), materials not according to specifications (Y8), improper initial cost estimation (Y9), late progressive payment from the owner (Y10) ranked fifth jointly because it has an equivalent weight value of 0.These findings conclude that accurate cost estimation (Y4) is very important in construction projects because it becomes the main basis in budget planning, decision making, and risk management.

Rahman, Fathin Aulia; Wahyudi, Widi; Anwar, Syaiful

JURNAL WILAYAH, KOTA DAN LINGKUNGAN BERKELANJUTAN 2023 Fakultas Teknik Universitas Cenderawasih

Yogyakarta Special Region is widely known as a student, tourist, and cultural city. These conditions triggered Yogyakarta's development and growth to be very rapid. So environmental problems arise, which, if not immediately addressed, will worsen environmental conditions. The type of research carried out was descriptive-qualitative through observation and interviews. The research results showed that many developments violated legal and environmental rules. The environmental impacts that occur include a reduction in the amount of green open land, a reduction in water catchment areas, sanitation problems, groundwater availability, and river pollution. Disaster risks arising from development include landslides on river borders due to development, flooding, and land shifts. Efforts that need to be implemented to manage and prevent environmental damage include the implementation of environmental and social management systems, the implementation of institutional functions, and efforts to develop community capacity through training and community education. Meanwhile, efforts are being made to reduce disaster risk through physical mitigation, biological mitigation, and the mitigation of social, economic, and cultural impacts.

Moch. Luqman Ashari; Ayu Puspa Arum Masniarni Kusuma Wardani; Desfita Putri Maharani

Journal of Student Research 2023 Pusat Riset dan Inovasi Nasional

Dalam keadaan Indonesia yang terus kehilangan lahan kosong, bangunan gedung bertingkat menjadi salah satu jalan keluar untuk memperluas area beraktivitas. Namun perlu digarisbawahi bahwa gedung bertingkat juga memiliki risiko terbakar sehingga dapat menyebabkan kerugian materi maupun korban jiwa yang lebih besar. Penelitian ini bertujuan untuk menyusun perencanaan Emergency Response Plan (ERP) pada gedung bertingkat yang memiliki tujuh lantai. Perencanaan ini diharapkan dapat memenuhi standar yang ditetapkan oleh pemerintah melalui undang-undang maupun peraturan lain agar suatu gedung memiliki prosedur tanggap darurat. Penelitian ini diawali dengan pendataan dimensi dari bangunan gedung dan fungsi setiap lantai pada bangunan. Dari data tersebut kemudian didapatkan estimasi kapasitas bangunan yang selanjutnya dapat dihitung kebutuhan pintu darurat, tangga darurat, dan waktu yang diperlukan untuk dapat menyelamatkan diri dari gedung. Setelah dilakukan perhitungan dan analisis, bangunan gedung yang diteliti membutuhkan dua unit pintu darurat masing-masing untuk seriap lantai. Pintu darurat yang dibutuhkan dengan ukuran paling lebar adalah pada lantai 5 karena banyaknya orang yang berada di tempat tersebut. Ukuran lebar tangga yang diperhitungkan adalah satu meter yang mana sudah sesuai dengan rancangan bangunan. Selanjutnya waktu perhitungan matematis total untuk waktu evakuasi yang paling besar adalah lantai 5 pada koridor I, yaitu selama 3,13 menit. Hal tersebut karena kecilnya ukuran lebar dari koridor.

Muchammad Raihan Rakhadary; Moch. Luqman Ashari2

Journal of Student Research 2023 Pusat Riset dan Inovasi Nasional

High-rise office building adalah gedung dengan jumlah lantai paling sedikit 16 lantai yang difungsikan sebagai area kantor. Dengan ketinggian gedung yang cukup tinggi dan jumlah penghuni yang lebih dari 100 orang maka dapat dikategorikan sebagai bangunan dengan potensi bahaya tinggi. Salah satu bahaya yang mengintai adalah kebakaran yang dapat membahayakan penghuni gedung. Dengan pelatihan evakuasi yang tepat saat keadaan darurat kebakaran, diharapkan dapat meminimalisir kerugian yang dapat terjadi. Evaluasi dalam pelaksanaan simulasi evakuasi kebakaran diperlukan untuk mengoptimalkan simulasi yang dilakukan. Melalui penelitian dengan metode deskriptif kualitatif ini, peneliti akan membahas penerapan sistem tanggap darurat kebakaran mulai dari sarana dan prasarana yang diperlukan dalam menghadapi situasi darurat kebakaran pada gedung bertingkat. Penelitian ini menghasilkan beberapa kesimpulan yang akan membantu pembaca dalam mengoptimalisasi sistem tanggap darurat yang ada pada gedung bertingkat.

Shofiyah, Qurrotus; Hutasoit, Eva Olivia; Pratama, Galang Kori

Jurnal Teknik Sipil 2023 Faculty Of Engineering University 17 August 1945 Semarang

Pondok pesantren Bustanul Makmur II yang berada di Kecamatan Genteng Kabupaten Banyuwangi mempunyai asrama putra dan asrampa putri. Asrama putri merupakan bangunan bertingkat 4 lantai serta terdapat permasalahan pada distribusi air bersih yaitu suplai air yang belum bisa mencukupi penggunanya yang diduga bermasalah pada ground tank. Tujuan studi ini untuk mengetahui serta menghitung debit puncak dan kehilangan tekanan pada instalasi jaringan pipa air bersihnya. Studi ini menggunakan acuan SNI 0140:2007 terkait cara perhitungan debit air dan SNI 8153:2015 tentang sistem pipa pada bangunan gedung, serta menggunakan metode perhitungan Hazen William tentang kehilangan tekanan pada instalasi jaringan pipa. Metode pengumpulan data dilakukan dengan survei lokasi, wawancara dengan pihak asrama, serta observasi. Hasil studi menunjukkan bahwa debit puncak air bersih dilapangan tidak bisa memenuhi penggunanya dikarenakan nilai debit puncak air bersih dilapangan sebesar 9,22 m 3 /jam, seharusnya nilai debit puncak air bersihnya sebesar 12,76 m 3 /jam dan kapasitas graound tank dilapangan hanya sebesar 27,7 m 3 /hari yang seharusnya berkapasitas 38,28 m3 /hari. Nilai kehilangan tekanan yang terjadi pada Asrama Putri Pondok Pesantren Bustanul Makmur II sebesar 1,259171061 m.