Publication Search

80,083 articles from 756 journals · 2,111 citations tracked

Showing 1-20 of 165

Analytics

Ramadhan, Aditya Galang; Hidayati , Fajrina; Perdana, Silvia Mawarti; Lesmana, Oka

Jurnal Kesehatan Tropis Indonesia 2026 PT. LARPA JAYA PUBLISHER

Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit menular yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Kondisi fisik rumah yang tidak memenuhi syarat kesehatan dapat meningkatkan risiko terjadinya penularan tuberkulosis paru. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kondisi fisik rumah dan Personal Hygiene dengan kejadian tuberkulosis paru di wilayah kerja Puskesmas Talang Bakung Kota Jambi Tahun 2026. Penelitian ini menggunakan desain case control dengan pendekatan retrospektif. Sampel penelitian berjumlah 46 responden yang terdiri dari 23 kasus dan 23 kontrol. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi langsung, pengukuran menggunakan lux meter, thermohygrometer, meteran, serta wawancara menggunakan kuesioner. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat menggunakan uji Chi-Square, dan multivariat menggunakan regresi logistik ganda metode Backward LR. analisis bivariat menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara pencahayaan rumah dengan kejadian tuberkulosis paru (p=0,039; OR=4,286; 95%CI=1,240–14,730) dan kelembaban rumah dengan kejadian tuberkulosis paru (p=0,018; OR=5,313; 95%CI=1,498–18,840). Sementara itu, luas ventilasi (p=0,429; OR=0,521), kepadatan hunian (p=0,343; OR=0,216), dan Personal Hygiene (p=0,167; OR=3,550) tidak berhubungan dengan kejadian tuberkulosis paru. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa kelembaban rumah merupakan faktor yang paling dominan berhubungan dengan kejadian tuberkulosis paru (p=0,010; OR=5,312; 95%CI=1,498–18,840). penelitian ini adalah terdapat hubungan antara pencahayaan dan kelembaban rumah dengan kejadian tuberkulosis paru. Kelembaban rumah merupakan faktor dominan yang berhubungan dengan kejadian tuberkulosis paru di wilayah kerja Puskesmas Talang Bakung Kota Jambi Tahun 2026. Disarankan kepada masyarakat untuk meningkatkan kualitas lingkungan rumah, terutama menjaga kelembaban dan pencahayaan agar memenuhi standar kesehatan guna mencegah penularan tuberkulosis paru.

Putri, Nurdiyanti; Farradika, Yoli

Bali Health Published Journal (BHPJ) 2026 Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan KESDAM IX/Udayana

Background: South Tangerang City has experienced an increase in the prevalence of diarrhea in children under five years old over the past three years. In 2023, South Tangerang City prevalence of the incidence of diarrhea in under five years old 17,68%. Purpose: This study aims to determine the distribution of diarrhea incidence in children under five years old based on risk factors through a spatial analysis approach in South Tangerang City in 2023. Methods: This study employs a quantitative, descriptive approach with an ecological design. The study was conducted from November 1, 2024, to July 31, 2025. The population and sample of this study consist of all seven sub-districts in South Tangerang City in 2023, using a total sampling technique. The variables studied included diarrhea incidence in children under five years old, population density, safe sanitation access, supervised drinking water facilities according to standards, and vitamin A supplementation coverage. Secondary data was obtained from the Health Department and the Central Statistics Agency of South Tangerang City in 2023. Results: The study results showed that in 2023, Pamulang Subdistrict had the highest number of diarrhea incidences in children under five years old. The area is also known to have a very high population density, safe sanitation access that is still below the national target, the percentage of supervised drinking water facilities and vitamin A coverage that has reached the national target. Conclusion: Most subdistricts in South Tangerang City in 2023 have high and low rates of diarrhea in children under five years old, and safe sanitation access is still below the national target.

Saputro, Bambang Rinanto Adi; Novitasari, Dian; Febriana, Riska; Pujiastuti, Anasthasia

Jurnal Kesehatan Tropis Indonesia 2026 PT. LARPA JAYA PUBLISHER

Anemia masih menjadi masalah kesehatan yang banyak terjadi pada remaja putri dan wanita usia subur. Rendahnya pengetahuan mengenai pentingnya konsumsi tablet tambah darah dan vitamin B kompleks dapat meningkatkan risiko terjadinya anemia yang berdampak pada kesehatan dan produktivitas. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai pentingnya konsumsi tablet tambah darah dan vitamin B kompleks sebagai upaya pencegahan anemia. Metode yang digunakan adalah penyuluhan kesehatan melalui media leaflet yang dilaksanakan pada masyarakat Gintungan RT 06/RW 02, Desa Gogik, Ungaran Barat. Kegiatan diikuti oleh 37 peserta yang terdiri atas remaja putri, wanita usia subur, ibu hamil, ibu menyusui, dan masyarakat umum. Materi yang diberikan meliputi pengertian anemia, faktor risiko, manfaat tablet tambah darah dan vitamin B kompleks, aturan konsumsi, efek samping, faktor yang memengaruhi penyerapan zat besi, serta pola makan bergizi untuk mencegah anemia. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pengetahuan peserta sebesar 35,1% setelah penyuluhan. Peserta juga menunjukkan pemahaman yang lebih baik mengenai manfaat suplemen, cara konsumsi yang benar, dan upaya pencegahan anemia. Penyuluhan menggunakan media leaflet efektif sebagai sarana edukasi dalam meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai pencegahan anemia.

Hayatli, Miftahurrahmah El; Azzahrah, Sarah Haq; Harahap, Diva Nazwa; Annisa, Fadilah; Sitorus, Rezki Alya Mawaddah

Jurnal Kesehatan Tropis Indonesia 2026 PT. LARPA JAYA PUBLISHER

Malaria masih menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat yang berdampak terhadap angka kesakitan, kematian, dan produktivitas masyarakat. Perilaku pencegahan menjadi faktor penting dalam menurunkan risiko penularan malaria. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan perilaku pencegahan terhadap risiko kejadian malaria pada masyarakat di Kabupaten Asahan. Penelitian menggunakan desain analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Sampel berjumlah 50 responden yang dipilih menggunakan teknik consecutive sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner terstruktur yang mencakup penggunaan kelambu, penggunaan anti nyamuk, penggunaan pakaian pelindung, kebiasaan keluar rumah pada malam hari, kebersihan lingkungan, dan perilaku pencarian pengobatan. Analisis dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat kepercayaan 95%. Hasil menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki perilaku pencegahan yang baik (62,0%) dan risiko kejadian malaria yang rendah (66,0%). Uji Chi-Square menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara perilaku pencegahan dengan risiko kejadian malaria (p=0,003). Responden dengan perilaku pencegahan kurang memiliki peluang 6,88 kali lebih besar mengalami risiko malaria tinggi (OR=6,88; 95% CI=1,84–25,68). Disimpulkan bahwa perilaku pencegahan berhubungan signifikan dengan risiko kejadian malaria di Kabupaten Asahan.

Apriani, Putu Yuli; Suarniti, Ni Wayan; Erawati, Ni Luh Putu Sri

Bali Health Published Journal (BHPJ) 2026 Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan KESDAM IX/Udayana

Background: Cesarean section (CS) is a mode of delivery frequently used in women with high-risk pregnancies. Over the past two decades, the rate of CS has increased significantly worldwide. Although CS can be a life-saving intervention when performed based on appropriate medical indications, it may also result in adverse outcomes for both mothers and infants and increase the clinical and economic burden on healthcare systems. Limiting CS rates can be achieved through the control of modifiable risk factors. Purpose: This study aimed to describe the factors contributing to the occurrence of cesarean section. Method: This study employed a descriptive cross-sectional design and was conducted at Singasana Regional General Hospital, Tabanan Regency, from February to May 2025. The study sample consisted of 259 women who underwent cesarean delivery during the period 2020–2024. Data were collected through a review of medical records using a checklist instrument. Univariate analysis was performed to describe maternal characteristics and indications for cesarean section. Result: Most cesarean deliveries occurred in women aged 20–35 years (77.99%) and in multiparous women (48.65%). The most dominant maternal factor was a previous cesarean section (37.6%), while the most common fetal factor was fetal distress (42.7%). Conclusion: Maternal age of 20–35 years, multiparity, a history of previous cesarean section, and fetal distress were the dominant factors associated with cesarean delivery. These findings highlight the importance of early antenatal risk screening and optimal labor management to reduce unnecessary cesarean sections and improve maternal and neonatal safety.

Pertiwi, Aditiyani Nugraha; Irawansyah; Hasanah, Uswatun

Jurnal Kesehatan Tropis Indonesia 2026 PT. LARPA JAYA PUBLISHER

Hipertensi atau silent killer menjadi penyebab utama morbiditas dan mortalitas. Faktor yang berperan dalam peningkatan tekanan darah adalah kualitas tidur. Kualitas tidur yang buruk dapat menyebabkan aktivasi sistem saraf simpatis dan gangguan regulasi tekanan darah sehingga berkontribusi terhadap peningkatan derajat hipertensi. Tujuan penelitian ini mengetahui hubungan kualitas tidur dengan derajat hipertensi pada pasien dewasa di wilayah kerja Puskesmas Tanjung Karang. Metode Penelitian yakni desain penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Populasi penelitian adalah seluruh pasien dewasa yang terdiagnosis hipertensi. Teknik pengammbilan sampel menggunakan purposive sampling. Kualitas tidur diukur menggunakan kuesioner Pitssburgh Sleep Quality Index (PSQI). Derajat Hipertensi ditentukan berdasarkan hasil pengukuran tekanan darah sesuai klasifikasi hipertensi. Analisis data menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat signifikan 0,05. Hasil penelitian adalah terdapat hubungan antara kualitas tidur dengan dderajat hipertensi pada penderita hipertensi. Implikasi pada penelitian ini menunjukkan pentingnya pemantauan dan peningkatan kualitas tidur sebagai bagian dari upaya pengendalian hipertensi. Edukasi mengenai pola tidur yang baik dapat menjadi salah satu strategi untuk membantu menurunkan risiko peningkatan derajat hipertensi pada pasien dewasa.

Fajri, Al’; Hidayati , Fajrina; Nasutio, Helmi Suryani; Lesmana, Oka

Jurnal Kesehatan Tropis Indonesia 2026 PT. LARPA JAYA PUBLISHER

Rendahnya Angka Bebas Jentik (ABJ) menunjukkan tingginya potensi penyebaran nyamuk dan risiko kejadian DBD. Berdasarkan observasi awal di wilayah kerja Puskesmas Aur Duri ditemukan adanya jentik nyamuk pada sebagian besar rumah yang diperiksa serta adanya kasus positif DBD di wilayah tersebut.Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan keberadaan jentik nyamuk Aedes aegypti di wilayah kerja Puskesmas Aur Duri Kota Jambi. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan desain cross sectional dan pendekatan kuantitatif.Populasi penelitian sebanyak 7.723 rumah tangga, dengan sampel 121 rumah tangga yang dipilih menggunakan teknik proportional random sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi langsung, pengukuran lingkungan, dan wawancara terstruktur menggunakan lembar observasi.. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-square dengan tingkat kepercayaan 95% (? = 0,05), serta besar hubungan dinilai menggunakan Prevalence Ratio (PR). hasil uji Chi-square menunjukkan bahwa hanya variabel warna TPA yang memiliki hubungan signifikan dengan keberadaan jentik nyamuk Aedes aegypti (p=0,00; PR=3,31; 95%CI=1,40–2,47), sedangkan variabel lain seperti letak TPA (p=0,80; PR=1,01), sumber air (p=0,70; PR=1,10), jumlah TPA (p=0,75; PR=1,10), suhu TPA (p=0,08; PR=1,45), kelembaban (p=0,99; PR=1,01), dan pH air (p=0,50; PR=0,76) tidak menunjukkan hubungan yang signifikan dengan keberadaan jentik nyamuk Aedes aegypti. Hasil analisis menunjukkan bahwa hanya warna TPA yang memiliki hubungan dengan keberadaan jentik nyamuk Aedes aegypti.

Laras Eka Nur Hasanah; Fadean Stefany; Dwi Intan Pakuwita AR

Jurnal Sains dan Kesehatan (JUSIKA) 2026 Universitas Muhamadiyah Manado

This study aimed to examine the association between physical activity and nutritional status as risk factors for noncommunicable diseases among women of reproductive age. A descriptive quantitative study with a cross-sectional approach was conducted in Kranggan Village involving 35 respondents selected through purposive sampling. Data on physical activity were collected using questionnaires, while nutritional status was assessed based on Body Mass Index (BMI). The findings showed that most respondents had moderate physical activity levels (51.4%), followed by low physical activity levels (42.8%). Regarding nutritional status, the majority of respondents were classified as overweight (51.4%) and obese (28.6%). Statistical analysis demonstrated a significant relationship between physical activity and nutritional status (p = 0.003). The results indicate that inadequate physical activity is associated with increased nutritional status problems, particularly overweight conditions. Therefore, low physical activity and excessive body weight represent interconnected risk factors contributing to the development of noncommunicable diseases among women of reproductive age. This study highlights the importance of promoting regular physical activity and maintaining balanced nutritional status as preventive strategies to reduce the risk of noncommunicable illnesses.

Ingrat, Intan Wahid; Yuniar, Nani; Salsabila, Syefira

Jurnal Kesehatan Tropis Indonesia 2026 PT. LARPA JAYA PUBLISHER

Pengelolaan limbah medis merupakan salah satu upaya penting dalam menjaga kesehatan lingkungan rumah sakit serta mencegah terjadinya pencemaran lingkungan dan penularan penyakit. Limbah medis yang tidak dikelola dengan baik dapat menimbulkan risiko kesehatan bagi petugas kesehatan, pasien, pengunjung rumah sakit, dan masyarakat sekitar. Keberhasilan pengelolaan limbah medis dipengaruhi oleh berbagai faktor, di antaranya pengetahuan, sikap, dan tindakan petugas kesehatan sebagai pelaksana utama dalam proses pengelolaan limbah medis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pengetahuan, sikap, dan tindakan petugas kesehatan dengan upaya pengelolaan limbah medis di Rumah Sakit Aliyah II Kota Kendari Tahun 2026.Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan rancangan cross sectional. Populasi penelitian berjumlah 81 petugas kesehatan yang seluruhnya dijadikan sampel dengan teknik total sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner dan lembar observasi. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat kepercayaan 95% (?=0,05). Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki pengetahuan kurang baik sebanyak 62 responden (76,5%), sikap negatif sebanyak 72 responden (88,9%), tindakan kurang baik sebanyak 68 responden (84,0%), dan upaya pengelolaan limbah medis kurang baik sebanyak 42 responden (51,9%). Hasil uji statistik menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara pengetahuan dengan upaya pengelolaan limbah medis (p=0,002) dan tindakan dengan upaya pengelolaan limbah medis (p=0,004). Sementara itu, sikap petugas kesehatan tidak menunjukkan hubungan yang signifikan dengan upaya pengelolaan limbah medis (p=0,059).Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pengetahuan dan tindakan petugas kesehatan berhubungan dengan upaya pengelolaan limbah medis, sedangkan sikap petugas kesehatan tidak berhubungan dengan upaya pengelolaan limbah medis di Rumah Sakit Aliyah II Kota Kendari Tahun 2026.

Nasution, Irfan Sazali; Tambunan, Ade Febriyanti; Zahro, Fatima; Munthe, Meikesya; Lubis, Rahma Yanti +1 more

Jurnal Kesehatan Tropis Indonesia 2026 PT. LARPA JAYA PUBLISHER

Diabetes Melitus (DM) tipe 2 kini mulai mengancam kelompok usia remaja akibat pergeseran gaya hidup dan pola konsumsi di lingkungan sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi secara mendalam kebiasaan konsumsi makanan manis dan gaya hidup sedentari yang berisiko memicu diabetes melitus pada siswa-siswi Sekolah Menengah Pertama (SMP). Metode penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Data dihimpun melalui wawancara mendalam terhadap informan kunci (siswa) dan informan triangulasi (pengelola kantin dan guru UKS), serta diobservasi melalui lingkungan pangan sekolah. Analisis data dilakukan secara tematik untuk mengidentifikasi pola perilaku harian. Hasil eksplorasi ini diharapkan dapat memberikan gambaran riil mengenai faktor sosiokultural dan lingkungan sekolah yang membentuk preferensi pangan tidak sehat pada remaja sebagai dasar intervensi preventif.

Putri, Gracia Esti; Pratiwi, Arum Dian; Afa, Jusniar Rusli

Jurnal Kesehatan Tropis Indonesia 2026 PT. LARPA JAYA PUBLISHER

Kelelahan kerja merupakan salah satu permasalahan kesehatan kerja yang dapat menurunkan produktivitas dan meningkatkan risiko kecelakaan kerja, khususnya pada lingkungan kerja smelting dengan suhu tinggi dan aktivitas fisik berat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara variabel bebas yaitu lama kerja, paparan panas, beban kerja, keluhan subjektif gangguan pernapasan, dan Musculoskeletal Disorders (MSDs) dengan variabel terikat yaitu kelelahan kerja pada pekerja smelting PT. Antam (Persero) Tbk. UBPN Kolaka Tahun 2026. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian adalah seluruh pekerja smelting sebanyak 120 orang dengan teknik total sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner dan alat ukur fatique Reaction Timer SLS-L77. Berdasarkan hasil uji normalitas, data penelitian tidak berdistribusi normal sehingga analisis data dilakukan menggunakan uji Spearman’s rho. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan signifikan antara lama kerja dengan kelelahan kerja dengan nilai p-value sebesar 0,049 dan nilai korelasi (r) sebesar 0,180 yang menunjukkan hubungan positif dengan kekuatan sangat lemah. Sementara itu, paparan panas memiliki nilai p-value 0,669 dan nilai korelasi (r) 0,039, beban kerja memiliki nilai p-value 0,363 dan nilai korelasi (r) -0,073, keluhan subjektif gangguan pernapasan memiliki nilai p-value 0,596 dan nilai korelasi (r) 0,049, serta MSDs memiliki nilai p-value 0,807 dan nilai korelasi (r) 0,023, yang menunjukkan tidak terdapat hubungan signifikan dengan kelelahan kerja. Disimpulkan bahwa lama kerja merupakan faktor yang berhubungan dengan kelelahan kerja pada pekerja smelting PT. Antam (Persero) Tbk. UBPN Kolaka Tahun 2026

Susanti, Susan; Badi’ah, Atik; Dedi, Blacius

Jurnal Kesehatan Tropis Indonesia 2026 PT. LARPA JAYA PUBLISHER

Latar Belakang: Kekurangan Energi KRONIS (KEK) pada ibu hamil masih menjadi masalah gizi yang berdampak terhadap kesehatan ibu dan janin. KEK meningkatkan risiko terjadinya komplikasi kehamilan, persalinan, serta bayi berat lahir rendah. Data di wilayah kerja Puskesmas Bojonggambir menunjukkan masih tingginya jumlah ibu hamil dengan KEK. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian KEK pada ibu hamil di wilayah kerja Puskesmas Bojonggambir Kabupaten Tasikmalaya. Metode Penelitian: Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Populasi adalah seluruh ibu hamil yang tercatat di wilayah kerja Puskesmas Bojonggambir, dengan sampel sebanyak 82 responden yang diambil menggunakan teknik purposive sampling. Variabel independen meliputi usia, pendidikan, pengetahuan, paritas, dan pola konsumsi, sedangkan variabel dependen adalah kejadian KEK yang diukur menggunakan Lingkar Lengan Atas (LILA). Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat, dan multivariat. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan antara usia, pendidikan, pengetahuan, paritas, dan pola konsumsi dengan kejadian KEK pada ibu hamil. Faktor yang paling dominan berhubungan dengan KEK adalah pola konsumsi. Ibu hamil dengan pola konsumsi yang kurang baik memiliki risiko lebih tinggi mengalami KEK dibandingkan dengan ibu yang memiliki pola konsumsi baik. Simpulan: Penelitian ini adalah kejadian KEK pada ibu hamil dipengaruhi oleh faktor usia, pendidikan, pengetahuan, paritas, dan pola konsumsi, dengan pola konsumsi sebagai faktor dominan. Diperlukan upaya promotif dan preventif melalui edukasi gizi dan pemantauan status gizi secara rutin untuk menurunkan kejadian KEK.

Kristi, Elsa; Lestari, Hariati; Yunawati, Irma

Jurnal Kesehatan Tropis Indonesia 2026 PT. LARPA JAYA PUBLISHER

Musculoskeletal Disorders (MSDs) merupakan salah satu masalah kesehatan kerja yang banyak terjadi pada pekerja sektor informal, termasuk pada pekerja penggilingan padi yang memiliki risiko tinggi akibat aktivitas fisik berulang dan beban kerja berat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan keluhan MSDs pada pekerja penggilingan padi di UD Sinar Swastika Kabupaten Konawe tahun 2026. Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Populasi penelitian adalah seluruh pekerja sebanyak 40 orang dengan teknik total sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner Nordic Body Map (NBM) serta instrumen untuk mengukur indeks massa tubuh, kebiasaan olahraga, masa kerja, beban kerja, durasi kerja, dan aktivitas berulang. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden mengalami keluhan MSDs kategori tinggi (62,5%). Analisis bivariat menunjukkan bahwa beban kerja memiliki hubungan signifikan dengan keluhan MSDs (p < 0,05), sedangkan indeks massa tubuh, kebiasaan olahraga, masa kerja, durasi kerja, dan aktivitas berulang tidak menunjukkan hubungan yang signifikan (p > 0,05). Disimpulkan bahwa beban kerja merupakan faktor dominan yang berhubungan dengan keluhan MSDs. Oleh karena itu, diperlukan upaya pengendalian beban kerja melalui penerapan ergonomi dan peningkatan program keselamatan dan kesehatan kerja (K3) untuk mengurangi risiko MSDs pada pekerja.

Baiq Disnalia; Faizaturrahmi, Eka; Fatmasari, Baiq Dika; Makmun, Indriyani

Jurnal Kesehatan Tropis Indonesia 2026 PT. LARPA JAYA PUBLISHER

Angka kematian neonatus masih tergolong tinggi dan menjadi masalah kesehatan baik secara global maupun nasional. Asfiksia neonatorum adalah salah satu penyebabnya tingginya angka kematian bayi baru lahir di Indonesia (27,0%). Di Kabupaten Lombok Barat, asfiksia neonatorum menjadi penyebab tertinggi kedua kasus kematian neonatal di Kabupaten Lombok Barat selama tahun 2020. Untuk mengetahui hubungan antara preeklamsia dengan kejadian asfiksia neonatorum di RSUD Awet Muda Narmada Kabupaten Lombok Barat Tahun 2021. Penelitian ini menggunakan metode observasional analitik dengan desain case control. Populasi terjangkau untuk kelompok kasus dalam penelitian ini yaitu seluruh bayi baru lahir hidup dengan asfiksia neonatorum di RSUD Awet Muda Narmada Kabupaten Lombok Barat Periode Januari sampai Oktober 2021 yang berjumlah 41 kasus, sedangkan populasi terjangkau untuk kelompok kontrol yaitu bayi bayi baru lahir hidup tidak asfiksia neonatorum di RSUD Awet Muda Narmada Kabupaten Lombok Barat pada periode yang sama berjumlah 765 kasus. Pengambilan sampel kasus dengan teknik total sampling sejumlah 41 kasus, dan pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik simple random sampling sejumlah 41 kasus.  Data diambil dari register dan rekam medis pasien. Data dianalisis secara univariat dan bivariat dengan uji Chi-Square. Hasil analisis dengan uji Chi-Square menunjukkan nilai signifikansi 0,001 (p < 0,05) yang menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan preeklamsia dengan kejadian asfiksia neonatorum. Ada hubungan preeklamsia dengan kejadian asfiksia neonatorum di RSUD Awet Muda Narmada tahun 2021. Diharapkan ibu hamil lebih waspada terhadap terjadinya preeklamsia, dan bagi bidan lebih meningkatkan upaya skrining faktor risiko pada ibu hamil, terutama preeklamsia sehingga dapat mencegah terjadinya asfiksia neonatorum.

Tetelepta, Josi Petrosina; Mulyanti; Ester

Jurnal Kesehatan Tropis Indonesia 2026 PT. LARPA JAYA PUBLISHER

Stunting dan malaria masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang banyak ditemukan pada wilayah endemis, termasuk Kabupaten Nabire, Papua. Kondisi lingkungan tempat tinggal yang kurang memadai diduga berkontribusi terhadap meningkatnya risiko infeksi malaria dan gangguan pertumbuhan pada anak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan faktor lingkungan rumah dengan kejadian stunting pada balita yang memiliki riwayat malaria di wilayah kerja Puskesmas Kimi. Penelitian menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan case-control. Kelompok kasus terdiri atas balita stunting yang memiliki riwayat malaria dalam satu tahun terakhir, sedangkan kelompok kontrol merupakan balita dengan status gizi normal dan tanpa riwayat malaria. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi kondisi lingkungan rumah, serta penelusuran data kesehatan. Analisis statistik dilakukan menggunakan uji Chi-square dengan tingkat kemaknaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa beberapa karakteristik lingkungan fisik rumah berhubungan secara signifikan dengan kejadian stunting pada balita yang memiliki riwayat malaria (p<0,05). Faktor yang terbukti berasosiasi meliputi tipe bangunan rumah, jenis lantai, penggunaan kawat kasa pada ventilasi, kondisi lingkungan di dalam rumah, serta kondisi lingkungan sekitar rumah yang mendukung perkembangbiakan nyamuk. Temuan ini menunjukkan bahwa kualitas lingkungan tempat tinggal memiliki peran penting dalam meningkatkan paparan terhadap malaria yang selanjutnya dapat memengaruhi status kesehatan dan pertumbuhan anak. Dapat disimpulkan bahwa lingkungan rumah yang tidak memenuhi standar kesehatan berpotensi meningkatkan risiko stunting melalui peningkatan kejadian malaria dan penyakit infeksi lainnya. Oleh karena itu, upaya penanggulangan stunting di daerah endemis malaria perlu diintegrasikan dengan perbaikan kualitas perumahan, peningkatan sanitasi lingkungan, pengendalian vektor, serta edukasi kesehatan masyarakat secara berkelanjutan.

Tahnia, Tia; Defrin, Defrin; Firdawati, Firdawati; Semiarty, Rima; Sriyanti, Roza +1 more

Jurnal Sains dan Kesehatan (JUSIKA) 2026 Universitas Muhamadiyah Manado

Preeclampsia is a pregnancy complication that significantly contributes to maternal and neonatal morbidity and mortality worldwide. Globally, it affects approximately 3–8% of pregnancies and causes more than 70,000 maternal deaths each year. In Indonesia, preeclampsia accounts for around 30% of the 4,151 maternal deaths reported in 2024. In Padang City, there were 254 cases in 2023 and 129 cases in 2024, with Puskesmas Bungus having the highest prevalence (7.2% and 3.77%). This study aimed to analyze the association between body mass index (BMI), history of hypertension, and history of preeclampsia with the incidence of preeclampsia among pregnant women at Puskesmas Bungus, Padang. This study used a quantitative case-control design involving 50 cases and 50 controls. Data were analyzed using chi-square and logistic regression tests. The results showed significant associations between obesity (p=0.031; OR=2.897), history of preeclampsia (p=0.006; OR=13.821), and history of hypertension (p=0.002; OR=17.216) with the incidence of preeclampsia. Multivariate analysis identified history of hypertension as the most dominant factor associated with preeclampsia. This study concludes that obesity, history of hypertension, and history of preeclampsia are significant risk factors for preeclampsia among pregnant women. Strengthening early detection and routine antenatal care for high-risk pregnancies is necessary to reduce maternal complications associated with preeclampsia.

Anam, Akhmad Fatkhul; Bhakti Aryani; Totok Subianto; Elfi

Jurnal Kesehatan Tropis Indonesia 2026 PT. LARPA JAYA PUBLISHER

Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia, termasuk di Kota Cirebon, Provinsi Jawa Barat, yang mengalami fluktuasi jumlah kasus setiap tahun. Tingginya kepadatan penduduk, mobilitas masyarakat, dan kondisi lingkungan yang mendukung perkembangan vektor nyamuk Aedes aegypti berpotensi meningkatkan risiko penularan penyakit ini. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan sebaran kasus DBD di Kota Cirebon tahun 2025 menggunakan pendekatan Sistem Informasi Geografis (SIG). Penelitian menggunakan metode kuantitatif deskriptif dengan desain cross-sectional serta memanfaatkan data sekunder kasus DBD tahun 2025 yang diperoleh dari instansi terkait. Data dianalisis dan divisualisasikan menggunakan aplikasi QGIS berdasarkan jumlah kasus, kepadatan penduduk, usia, dan jenis kelamin penderita. Hasil penelitian menunjukkan bahwa distribusi kasus DBD berbeda pada setiap kecamatan, dengan Kecamatan Harjamukti sebagai wilayah dengan jumlah kasus tertinggi, sedangkan Kecamatan Pekalipan memiliki jumlah kasus terendah. Pola persebaran kasus secara spasial cenderung mengelompok pada wilayah yang berdekatan. Kepadatan penduduk tidak menunjukkan hubungan yang konsisten terhadap jumlah kasus DBD. Kelompok usia 5–14 tahun merupakan kelompok paling dominan terdampak, dan jumlah penderita laki-laki lebih tinggi dibandingkan perempuan. Oleh karena itu, upaya pengendalian DBD perlu difokuskan pada wilayah berisiko tinggi dengan memperhatikan faktor lingkungan dan kelompok rentan masyarakat.

Sustiyani, Elly; Asya, Lia Ilam; Faizah, Nurul

Jurnal Kesehatan Tropis Indonesia 2026 PT. LARPA JAYA PUBLISHER

Kekurangan Energi Kronis (KEK) pada ibu hamil merupakan salah satu masalah gizi yang dapat meningkatkan risiko komplikasi pada ibu dan janin. Kurangnya pengetahuan ibu dan keluarga mengenai gizi selama kehamilan menjadi salah satu faktor yang memengaruhi terjadinya KEK. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan asuhan kebidanan komunitas pada keluarga Tn. “S”, khususnya Ny. “B” dengan masalah KEK di Desa Pemenang Timur, Kecamatan Pemenang, Kabupaten Lombok Utara. Jenis penelitian yang digunakan adalah studi kasus deskriptif dengan pendekatan asuhan kebidanan yang meliputi pengkajian, diagnosis, intervensi, implementasi, evaluasi, dan catatan perkembangan. Data diperoleh melalui wawancara, observasi, pemeriksaan fisik, dan dokumentasi. Hasil pengkajian menunjukkan bahwa Ny. “B” usia kehamilan 28–29 minggu mengalami KEK dengan Lingkar Lengan Atas (LILA) 21 cm, berat badan 49 kg, serta kurangnya pengetahuan tentang gizi ibu hamil. Intervensi yang diberikan berupa edukasi mengenai KEK, gizi seimbang, konsumsi makanan tambahan, tablet tambah darah, dan istirahat yang cukup. Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan ibu dan keluarga serta perbaikan status gizi ibu yang ditandai dengan peningkatan berat badan menjadi 53 kg dan LILA menjadi 24 cm. Asuhan kebidanan komunitas yang diberikan efektif dalam meningkatkan pemahaman keluarga dan membantu perbaikan status gizi ibu hamil dengan KEK.

Nurul Azmi Eka Rinie; Fiky Jayanti; Puji Lestari; Ayi Hernani Putri; Rusni Masnina

Jurnal Ilmu Kesehatan dan Gizi 2026 Pusat Riset dan Inovasi Nasional

Low Birth Weight (LBW) refers to infants born with a birth weight of less than 2,500 grams and remains an important issue in neonatal health due to its association with increased neonatal morbidity and mortality. To analyze the determinants of LBW based on primary studies published from 2021 to 2026. A literature review was conducted using the PRISMA approach. Article searches were performed through PubMed, Google Scholar, Scopus, ScienceDirect, and ProQuest using the keywords low birth weight, determinant factors, risk factors, BBLR, and faktor risiko with Boolean operators AND/OR. The inclusion criteria were primary studies, full-text availability, publication in Indonesian or English, and publication years from 2021 to 2026. A total of 20 articles were included, consisting of 15 international articles and 5 national sources. The review showed that LBW is influenced by interrelated maternal, nutritional, obstetric, and sociodemographic factors during pregnancy. The most dominant factors included multiple pregnancy with an adjusted OR of 21.74, maternal food insecurity with an AOR of 6.85, maternal hemoglobin level <11 g/dL with an AOR of 5.21, lack of iron-folic acid supplementation with an AOR of 4.17, maternal age ≤20 years with an AOR of 3.42, pregnancy interval <1 year with an adjusted OR of 2.92, missed antenatal care visits with an AOR of 2.74, smoking during pregnancy with an OR of 2.18, and maternal hypertension with an AOR of 1.94. LBW is influenced by multiple interrelated factors; therefore, efforts to reduce its incidence should focus on evidence-based interventions, particularly through optimizing antenatal care services, improving maternal nutritional status, and early detection of pregnancy.

Pamungkas, Sapta Erna

Jurnal Kesehatan Tropis Indonesia 2026 PT. LARPA JAYA PUBLISHER

Malaria masih menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia, terutama di Provinsi Papua yang memiliki angka kejadian malaria tinggi. Tingginya kejadian malaria tidak hanya dipengaruhi oleh faktor lingkungan, tetapi juga oleh tingkat pengetahuan masyarakat mengenai penyebab dan pencegahan penyakit tersebut. Pengetahuan yang rendah dapat memengaruhi perilaku pencegahan sehingga meningkatkan risiko penularan malaria. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan dengan kejadian penyakit malaria di wilayah kerja Puskesmas Sowek, Kepulauan Aruri, Kabupaten Supiori. Penelitian menggunakan desain analitik dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 32 responden yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner untuk mengukur tingkat pengetahuan responden mengenai penyebab dan pencegahan malaria serta data kejadian malaria. Analisis data dilakukan secara univariat untuk menggambarkan karakteristik responden dan tingkat pengetahuan masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden berjenis kelamin laki-laki (69%), berusia 25–30 tahun (53%), berpendidikan SMP (41%), dan memiliki pendapatan keluarga rendah (47%). Sebagian besar responden memiliki tingkat pengetahuan yang kurang mengenai penyebab malaria (68,8%) maupun pencegahannya (68,8%). Temuan ini menunjukkan bahwa rendahnya tingkat pengetahuan masih menjadi masalah utama di masyarakat dan berpotensi meningkatkan risiko kejadian malaria. Oleh karena itu, diperlukan penguatan program promosi kesehatan dan edukasi masyarakat untuk mendukung upaya pengendalian dan eliminasi malaria.