Publication Search

70,009 articles from 606 journals · 1,760 citations tracked

Showing 1-3 of 3

Analytics

Lasrina Simarmata; Sarah Christina Samosir; Robinson Josua Lase; Dhany Rynando Zega; Bryan Pratama Saragih

Jurnal Riset Rumpun Ilmu Kesehatan 2026 Pusat riset dan Inovasi Nasional

Pneumonia caused by extensively drug-resistant (XDR) Pseudomonas aeruginosa is still  clinicaly chalenging, particularly among geriatric patients with neurological comorbidities such as stroke. This report presents a case of XDR P. aeruginosa pneumonia complicated by sepsis in a 73-year-old patient, characterized by persistent leukocytosis until the tenth day of hospitalization despite empirical meropenem therapy. This evidence-based case report aims to analyze clinical outcomes, specifically 28-day and 30-day mortality rates, and to identify mortality predictors in the adult population through a systematic literature search of the PubMed and Google Scholar databases for the 2019–2026 period. Synthesized evidence from six core studies indicates that XDR P. aeruginosa infections carry a profoundly high 28-day mortality rate, ranging from 41% to 51% in cohorts receiving antibiotic monotherapy. Key mortality predictors identified include the presence of sepsis or septic shock, a delay in initiating adequate therapy exceeding 52 hours, advanced age, and the requirement for Intensive Care Unit (ICU) admission. The phenomenon of persistent or worsening leukocytosis during treatment, as observed in this case, serves as a critical clinical indicator associated with antimicrobial response failure and a dismal prognosis. Ultimately, XDR P. aeruginosa pneumonia is associated with poor clinical outcomes, where therapeutic success is strictly contingent upon the timely administration of antibiotic regimens with proven activity against these highly resistant isolates.

Mukarromah, Lailatul; Fitra Wardhana Sayoeti, Muhammad; Yuliyanda Pardilawati, Citra

Jurnal Mahasiswa Ilmu Kesehatan 2026 STIKes Ibnu Sina Ajibarang

Diabetes melitus tipe 2 (DMT2) merupakan salah satu masalah kesehatan global dengan beban ekonomi dan klinis yang sangat tinggi. Beragam pilihan terapi antidiabetes telah tersedia, mulai dari obat konvensional seperti metformin dan sulfonilurea hingga obat generasi baru seperti inhibitor dipeptidyl peptidase-4 (DPP-4i), agonis reseptor glucagon-like peptide-1 (GLP-1 RA), dan inhibitor sodium-glucose co-transporter 2 (SGLT2i). Perbedaan harga dan efektivitas terapi menuntut adanya kajian farmakoekonomi, khususnya cost-effectiveness analysis (CEA), untuk mendukung pengambilan keputusan klinis dan kebijakan kesehatan. Literature review ini bertujuan untuk merangkum bukti CEA pada berbagai obat antidiabetes yang dipublikasikan dalam lima tahun terakhir, baik di Indonesia maupun internasional. Hasil telaah menunjukkan bahwa obat generasi baru umumnya memberikan manfaat klinis yang lebih baik, terutama dalam pencegahan komplikasi kardiorenal, namun biaya yang lebih tinggi sering menjadi kendala dalam penilaian efektivitas biaya. Sementara itu, obat konvensional tetap menjadi terapi yang relatif cost-effective pada banyak konteks, terutama di negara berpendapatan menengah. Perbedaan hasil antarstudi sangat dipengaruhi oleh harga obat, perspektif analisis, serta asumsi manfaat jangka panjang. Kajian ini menegaskan pentingnya evaluasi farmakoekonomi dalam menentukan pilihan terapi yang rasional dan efisien untuk pasien DMT2.

Rizal Rizal; Suwandi I. Luneto

Jurnal Pengabdian Masyarakat Nusantara (Pengabmas Nusantara) 2022 Universitas Muhammadiyah Manado

Target terapi suatu penyakit dapat tercapai jika pengobatannya rasional. Rasionalitas penggunaan obat meliputi tepat diagnosis, tepat indikasi penyakit, tepat pemilihan obat, tepat dosis, tepat cara pemberian, tepat interval waktu pemberian, tepat lama pemberian, waspada terhadap efek samping, tepat tindak lanjut (follow-up), tepat penyerahan obat, dan patuh terhadap perintah pengobatan. Efek farmakologi suatu obat dalam penggunaanya menimbulkan respon klinis berupa efektivitas atau efek yang dikehendaki dan efek toksisisitas atau efek yang merugikan dari suatu obat. Indonesia merupakan mega centre tumbuhnya berbagai spesies tanaman yang berkhasiat obat. Masyarakat Desa Munte memiliki tingkat pemahaman rasionalitas penggunaan obat yang masih rendah (6,4%), dan persentase penggunaan tanaman sebagai bahan obat yang tinggi (90%). Tujuan pengabdian ini yaitu masyarakat mampu memformulasikan dan memanfaatkan tanaman obat yang rasional untuk penanggulangan penyakit berdasarkan bukti klinis. Metode pelaksanaan kegiatan yaitu dengan pemberian edukasi dan pelatihan tentang prinsip dasar obat sintesis dan herbal, prinsip dasar penggunaan obat yang rasional, penggunaan obat herbal yang berdasarkan bukti ilmiah, dan praktik formulasi obat dari herbal/ tanaman obat, serta dilaksanakan pemeriksaan deteksi dini penyakit degeneratif. Pelaksanaan kegiatan pengabdian masyarakat ini dilakukan di Desa Munte, Kec. Likupang Barat, Kab. Minahasa Utara, pada tanggal 4 Maret 2020. Kegiatan ini dihadiri oleh 55 orang yang sebagian besar merupakan tokoh masyarakat, kepala-kepala lingkungan, aparat-aparat desa, pemuda masjid dan gereja, serta masyarakat Desa Munte secara umum. Luaran pada pengabdian masyarakat ini yaitu masyarakat Desa Munte mengetahui dan memahami lebih mendalam tentang prinsip-prinsip dasar obat sintesis maupun herbal, mengetahui cara penggunaan obat yang rasional, masyarakat mampu memformulasikan obat herbal yang tepat berdasarkan prinsip-prinsip kefarmasian, rasional, dan berdasarkan bukti-bukti ilmiah.