Publication Search

73,128 articles from 694 journals · 2,111 citations tracked

Showing 1-2 of 2

Analytics

Dwi Lestari, Indah; Aulia Ramdini, Dwi; Yuliyanda Pardilawati, Citra; Dwi Rahayu , Ihsanti

Jurnal Mahasiswa Ilmu Kesehatan 2026 STIKes Ibnu Sina Ajibarang

Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) merupakan penyakit progresif yang ditandai oleh hambatan aliran udara yang tidak sepenuhnya reversibel, serta memiliki tingkat kepatuhan pengobatan yang rendah. Salah satu strategi yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kepatuhan adalah melalui konseling oleh apoteker. Tujuan dari tinjauan literatur ini adalah untuk mengevaluasi pengaruh konseling apoteker terhadap tingkat kepatuhan pengobatan pada pasien PPOK. Pencarian data dilakukan melalui beberapa basis data, yaitu Google Scholar, Springer, ScienceDirect, dan PubMed dengan topik yang relevan. Hasil tinjauan menunjukkan bahwa konseling apoteker secara signifikan meningkatkan pemahaman pasien mengenai penyakit PPOK, manajemen eksaserbasi, dan teknik penggunaan inhaler yang benar. Selain itu, konseling juga berperan dalam mengurangi kecemasan, meningkatkan kepercayaan diri, efikasi diri, dan pengelolaan terapi yang lebih baik. Dengan demikian, implementasi konseling apoteker dalam praktik klinis sangat dianjurkan sebagai upaya meningkatkan kepatuhan pengobatan dan memperbaiki kualitas hidup pasien PPOK.

Putri, Shakira Izzatya; Sayoeti, Muhammad Fitra Wardhana; Damayanti, Ervina; Himayani, Rani

Jurnal Mahasiswa Ilmu Kesehatan 2026 STIKes Ibnu Sina Ajibarang

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi telah mendorong transformasi pelayanan kesehatan, termasuk di bidang kefarmasian. Salah satu inovasi yang berkembang adalah telefarmasi, yaitu pelayanan kefarmasian jarak jauh yang memanfaatkan teknologi digital untuk menjembatani interaksi antara apoteker dan pasien. Studi ini bertujuan untuk mengkaji persepsi apoteker terhadap implementasi telefarmasi melalui pendekatan tinjauan literatur. Metode yang digunakan adalah tinjauan literatur sistematis terhadap 10 artikel yang diperoleh dari basis data ilmiah seperti PubMed, Google Scholar, dan ScienceDirect dalam lima tahun terakhir. Hasil menunjukkan bahwa mayoritas apoteker memiliki persepsi positif terhadap telefarmasi, terutama dalam aspek efisiensi waktu dan biaya, peningkatan akses dan kepatuhan pasien, serta solusi atas kekurangan tenaga apoteker. Namun, ditemukan pula persepsi negatif seperti beban kerja yang meningkat, risiko kesalahan akibat keterbatasan kontak fisik, dan kendala teknis. Temuan ini menegaskan perlunya dukungan infrastruktur, pelatihan tenaga kesehatan, serta literasi digital pasien untuk memastikan keberhasilan implementasi telefarmasi secara berkelanjutan.