Publication Search

71,892 articles from 646 journals · 2,111 citations tracked

Showing 141-147 of 147

Analytics

Madalena Marseli

Jurnal Filsafat dan Teologi Katolik 2021 STIKAS Santo Yohanes Salib Kalimantan Barat

Salah satu dari beberapa tema yang dibahas oleh Santo Paulus dalam surat-suratnya kepada berbagai jemaat yaitu mengenai kesatuan antara Kristus dan Gereja. Apa dasar dari hubungan kesatuan antara Kristus dan Gereja menurut Santo Paulus? Bagaimana Kristus dan Gereja tidak dapat dipisahkan? Mengapa Kristus menghendaki relasi yang utuh dengan Gereja-Nya? Artikel ini akan mencoba melihat dari berbagai perspektif: teologis, soteriologis dan eklesiologis dari tulisan Santo Paulus mengenai Gereja. Selain itu, akan dibahas pula sikap yang tepat untuk mencintai Kristus dan Gereja-Nya, serta sikap Gereja dalam menghadapi tantangan pada zaman ini dengan adanya penyebaran yang semakin meningkat dan luas dari pandemi covid-19.

Angelo Luciani Moa Dosi Woda

Jurnal Filsafat dan Teologi Katolik 2021 STIKAS Santo Yohanes Salib Kalimantan Barat

Misteri salib Kristus yang menebus dan menyelamatkan semua manusia, dunia, dan alam semesta, kerap disalahmengerti oleh sebagian orang pada zaman mutakhir ini. Mereka mengklaim bahwa tangisan kematian Yesus di atas kayu salib dianggap sebagai ungkapan putus asa, kutukan dan penderitaan orang yang berdosa. Selain itu, mereka berpendapat bahwa dalam peristiwa salib, terjadi keterpisahan dalam misteri Allah Tritunggal. Tentu saja, pernyataan tersebut tidak benar. Sesungguhnya, Allah menyatakan cinta dan kerahiman-Nya yang sempurna dalam peristiwa salib bagi pembaruan hidup seluruh makhluk ciptaan-Nya.

Elia Katarina; Silvester Adinuhgra; P. Fransiskus Janu Hamu

Sepakat : Jurnal Pastoral Kateketik 2020 Sekolah Tinggi Pastoral Tahasak Danum Pambelum Keuskupan Palangkaraya

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui relevansi budaya Dayak Siang manugal dalam hidup menggereja. Manugal merupakan salah satu tradisi kebudayaan masyarakat Suku Dayak Siang yang sampai sekarang masih tetap dilaksanakan tanpa terkecuali termasuk yang beragama Katolik dan umat Katolik di stasi Santo Petrus Cangkang lebih tertarik mengikuti kegiatan manugal jika dibandingkan dengan hidup menggereja. Oleh karena itu, penulis tertarik untuk mengkaji tema skripsi relevansi budaya Dayak Siang manugal dalam kehidupan menggereja. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan jenis penelitian kualitatif. Data diperoleh dengan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data model Miles dan Huberman yang terbagi atas 4 tahap yaitu pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian membuktikan bahwa adanya relevansi nilai-nilai positif budaya  manugal  dalam  kehidupan  menggereja,  yang  pertama  nilai  teologis terdapat dalam bentuk doa, yang kedua nilai sosiologis terdapat dalam kebersamaan, yang ketiga nilai estetika terdapat dalam bentuk barisan dan kangkurung. Melalui studi ini di harapkan adanya keseimbangan antara kegiatan manugal dengan hidup menggereja.

Arta Veronika Naibaho; Fati Invokavit Telaumbanua

Coram Mundo : Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen 2020 Sekolah Tinggi Teologi Injili Arastamar (SETIA) Ngabang

Kebudayaan merupakan sistem yang tidak terlepas dari kehidupan manusia. Keberadaannya menentukan sikap yang harus diambil oleh individu dan komunitas dalam berelasi dan berinteraksi. Kitab Suci Alkitab menjelaskan bahwa, kebudayaan manusia mulai terbentuk sejak penciptaan. Penciptaan dimulai tentang apa yang Allah karyakan sedangkan kebudayaan adalah tentang apa yang manusia mulai karyakan. Namun, Alkitab juga secara jujur menjelaskan bahwa sifat dari kebudayaan manusia itu telah menjadi rusak akibat dosa, sejak kejatuhan manusia pertama Adam dan Hawa yang memilih untuk tidak taat kepada Allah. Allah menjadikan manusia berakal budi dan istimewa dari segala ciptaan yang ada, dengan maksud untuk memuliakan Dia, namun yang terjadi justru sebaliknya, akal budi menjadi tercemar oleh dosa, sehingga secara tidak sadar segala hasil asah dan karyanya telah berorientasi pada pengagungan dan pemuliaan diri manusia itu sendiri. Dalam konteks memahami kebudayaan honor and shame yang tumbuh dan hidup di tengah-tengah kehidupan orang percaya, maka dirasa perlu tindakan meninjau secara benar dan tepat berdasarkan pandangan Alkitab dalam menyikapi kebudayaan ini. dengan memahami tipologi budaya honor and shame, maka dapat membantu melihat peluang yang tepat agar umat Allah memahami dengan baik dan benar bagaimana budaya dan worldview semestinya dibentuk melalui perspektif dan pemahaman akan Firman Tuhan.

Ferry Hartono

Jurnal Filsafat dan Teologi Katolik 2020 STIKAS Santo Yohanes Salib Kalimantan Barat

Masalah makanan haram dan halal merupakan perkara besar dalam Kitab Suci, baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Tokoh-tokoh dalam Kitab Makabe seperti Eleazar serta seorang ibu dengan anak-anaknya lebih rela mati daripada harus makan makanan haram. Meskipun secara mengejutkan tidak banyak dibahas dalam Perjanjian Baru, tema haram dan halal ini pun disinggung dalam situasi yang serius dan dengan pernyataan- pernyataan yang mutlak, baik dari Yesus sendiri maupun dari para rasul. Injil Markus secara spesifik juga membahas soal ini dalam pasal 7. Pembahasan Markus ini, selain mencatat salah satu pernyataan doktriner Yesus yang paling mutlak, menyumbangkan pula alasan-alasan teologis dan praktis yang matang. Haram dan halal menurut Yesus dalam Injil Markus dikembalikan kepada maksud dan tujuannya yang hakiki, yang tidak pernah hanya soal fisik, melainkan memiliki nilai teologis yang intrinsik. Kutipan dari Kitab Yesaya dalam perikop ini menjadi kunci utama untuk memahami dimensi teologis yang mendasari ajaran Yesus mengenai haram dan halal. Rupanya nilai terhakiki dari dimensi teologis ajaran Yesus tentang kemurnian itu terletak pada universalitasnya. Untuk pembahasan kali ini, saya tetap memilih metode analisis naratif dengan fokus pada analisis karakter berdasarkan interaksi mereka dalam percakapan.

Ferry Hartono

Jurnal Filsafat dan Teologi Katolik 2019 STIKAS Santo Yohanes Salib Kalimantan Barat

Upaya menemukan teologi biblis yang relevan dengan zaman ini sangat penting. Studi tentang karakter-karakter dalam Mrk 4:35–8:30 ini merupakan salah satu upaya tersebut. Analisis naratif dalam studi Kitab Suci, dengan fokus pada analisis karakter, tidak sulit untuk diarahkan pada refleksi teologis yang relevan. Proses identifikasi pembaca dengan tokoh- tokoh dalam Kitab Suci pada umumnya dapat dilakukan dengan lancar, seperti yang ditunjukkan dalam artikel ini. Metode analisis karakter dengan kategorisasi berdasarkan jenis dan  sifat  dalam artikel  ini,  selain  memperjelas posisi  para  karakter,  juga  mempertegas pengenalan akan karakter utama dalam Injil Markus, yakni Yesus. Interaksi mereka dengan Yesus, baik secara langsung maupun tidak langsung, pada akhirnya menuntun para pembaca untuk menentukan sikap dalam interaksi pribadi dengan Yesus.

Rensiani Lebang Pasorong; Yehezkiel Siappa; Otniel Fradel Januar; Septian Rangga Rante Lembang; Ingrid Yuwiesia Allo Linggi

Sabar : Jurnal Pendidikan Agama Kristen dan Katolik 2016 Asosiasi Riset Ilmu Pendidikan Agama dan Filsafat Indonesia

This study explores the relevance of women’s position in leadership within the contemporary context by considering the roles of women throughout history as well as the values underlying perspectives on leadership in modern society. Through a critical analysis of biblical texts, particularly in the Old Testament, this journal seeks to understand how female figures in the Bible, namely Deborah, Ruth, and Esther, influence perceptions of women in leadership. The findings of this study provide profound insights into the relevance and challenges faced by women in pursuing leadership careers in the contemporary era. In the modern context, women still face a number of challenges that hinder their progress in attaining leadership positions. Some of these challenges include gender inequality. The importance of gender equality in the modern context can also be seen from the relevance previously mentioned regarding the position of women in contemporary leadership. This study highlights the importance of understanding and encouraging women’s participation in leadership as an integral part of creating a just, inclusive, and sustainable society. Gender equality is not only about providing equal rights to all individuals, but also about recognizing and appreciating the diverse contributions of all people, regardless of gender.