Publication Search

66,884 articles from 558 journals · 1,699 citations tracked

Showing 561-572 of 572

Analytics

F.X. Sugiyana

Penelitian ini menelaah pandemi Covid-19 yang menjadi peristiwa dari kehidupan umat manusia di dunia dalam tiga tahun ini. Pemerintah meminta para kepala daerah kabupaten dan kota untuk membuat langkah-langkah strategis mengurangi penyebaran Covid-19. Pembatasan gerak dan mobilitas segera dibuat. Kebijakan untuk bekerja, belajar dan beribadat dari rumah telah dikeluarkan. Seluruh aktivitas keagamaan yang menimbulkan kerumunan segerak ditutup. Gereja yang semula identik dengan persekutuan umat mendadak hilang dan tidak tampak. Gereja sepi dengan aktivitas, termasuk perayaan ekaristi. Situasi itu menimbulkan macam-macam perasaan, tanggapan dan refleksi umat atas kondisi yang terjadi. Kecemasan dan kekuatiran terjadi. Dalam kegiatan keagamaan, imam dan umat juga mengalami kemandegan dalam berkegiatan. Tiba-tiba muncullah tradisi perayaan Ekaristi secara online, suatu perayaan yang diadakan dari gereja dan kemudian dihubungkan dengan chanel youtube, sehingga umat dari tempatnya masing-masing bisa mengikuti perayaan ekaristi tersebut secara online. Ada pergulatan sendiri untuk memaknai pengalaman iman mereka. Apakah Tuhan sungguh hadir dalam perayaan yang diselenggarakan secara online? Gambaran Tuhan yang seperti apa yang terbangun dalam diri umat beriman di masa pandemi ini? Apakah kecemasan di masa pandemi ini melulu pengalaman psikologis seseorang atau juga pengalaman spiritual? Melalui pendekatan survey, studi ini menunjukkan bahwa kecemasan dan ketakutan yang muncul di masa pandemi Covid 19 sungguh merupakan pengalaman eksistensial sebagian besar umat beriman. Pandemi bukan hanya masalah kesehatan, tetapi juga menyatakan seluruh keberadaan hidup mereka di hadapan Tuhan. Tuhan dirasakan hadir sebagai yang tetap mengasihi dan melindungi. Pengalaman doa menjadi kekuatan umat untuk menjalani hidup di masa pandemi. Perayaan Ekaristi online walaupun menyimpan kekurangan tetapi tetap memberi kekuatan dan bekal rohani dalam kehidupan umat. Mereka tetap merasakan kehadiran dan campur tangan Tuhan. Oleh karena itu beriman di tengah pandemi menjadi suatu pengalaman unik bagi setiap orang beriman.

F.X. Sugiyana

Penelitian ini menelaah pandemi Covid-19 yang menjadi peristiwa dari kehidupan umat manusia di dunia dalam tiga tahun ini. Pemerintah meminta para kepala daerah kabupaten dan kota untuk membuat langkah-langkah strategis mengurangi penyebaran Covid-19. Pembatasan gerak dan mobilitas segera dibuat. Kebijakan untuk bekerja, belajar dan beribadat dari rumah telah dikeluarkan. Seluruh aktivitas keagamaan yang menimbulkan kerumunan segerak ditutup. Gereja yang semula identik dengan persekutuan umat mendadak hilang dan tidak tampak. Gereja sepi dengan aktivitas, termasuk perayaan ekaristi. Situasi itu menimbulkan macam-macam perasaan, tanggapan dan refleksi umat atas kondisi yang terjadi. Kecemasan dan kekuatiran terjadi. Dalam kegiatan keagamaan, imam dan umat juga mengalami kemandegan dalam berkegiatan. Tiba-tiba muncullah tradisi perayaan Ekaristi secara online, suatu perayaan yang diadakan dari gereja dan kemudian dihubungkan dengan chanel youtube, sehingga umat dari tempatnya masing-masing bisa mengikuti perayaan ekaristi tersebut secara online. Ada pergulatan sendiri untuk memaknai pengalaman iman mereka. Apakah Tuhan sungguh hadir dalam perayaan yang diselenggarakan secara online? Gambaran Tuhan yang seperti apa yang terbangun dalam diri umat beriman di masa pandemi ini? Apakah kecemasan di masa pandemi ini melulu pengalaman psikologis seseorang atau juga pengalaman spiritual? Melalui pendekatan survey, studi ini menunjukkan bahwa kecemasan dan ketakutan yang muncul di masa pandemi Covid 19 sungguh merupakan pengalaman eksistensial sebagian besar umat beriman. Pandemi bukan hanya masalah kesehatan, tetapi juga menyatakan seluruh keberadaan hidup mereka di hadapan Tuhan. Tuhan dirasakan hadir sebagai yang tetap mengasihi dan melindungi. Pengalaman doa menjadi kekuatan umat untuk menjalani hidup di masa pandemi. Perayaan Ekaristi online walaupun menyimpan kekurangan tetapi tetap memberi kekuatan dan bekal rohani dalam kehidupan umat. Mereka tetap merasakan kehadiran dan campur tangan Tuhan. Oleh karena itu beriman di tengah pandemi menjadi suatu pengalaman unik bagi setiap orang beriman.

Yahyo Yahyo

Coram Mundo : Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen 2022 Sekolah Tinggi Teologi Injili Arastamar (SETIA) Ngabang

Artikel ini mengkaji tentang konsep pernikahan yang digali dari Alkitab. Pendekatan kualitatif dan metode deskriptif dipakai untuk mengkaji perihal konsep pernikahan dalam Alkitab. Pengumpulan data menggunakan studi literatur dalam menggali data perihal topik penelitian. Dari penggalian data di dapat bahwa Dalam kehidupan rohani tubuh kita adalah milik Allah tetapi dalam pernikahan adalah milik dari pasangan kita. Pernyataan tersebut menjelaskan bahwa pernikahan memiliki kekuatan dalam kehidupan manusia untuk saling bersekutu sehingga tercipta; hubungan pernikahan yang dinamis, serta bersifat total Allah menghendaki agar suami isteri baik dalam kasih, dalam ketaatan, dalam memikul beban, serta pengabdian kepada Allah.

Abdurrohman Al Asy’ari

jurnal Riset Rumpun Agama dan Filsafat 2022 Pusat Riset dan Inovasi Nasional

The research seeks to reveal the perspective of the truth about God, is library research with a philosophical inquiry approach. Primary data sources are from the Al-Qur'an and hadith, strengthened by secondary data from other literature, then analyzed for interpretation, comparison and reflection. The research resulted in the conclusion: Proving the truth of God is not only a topic of discussion for Western philosophers, but also Muslim philosophers and theologians, such as Muslim philosophers and theologians who were followers of the Mu'tazilah and al-Ash'ariyah. This proof is divided into two propositions, First, Argument a novitate mundi (dalil al-huduts), which emphasizes the temporality of the universe, and has actually been used popularly by Muslim theologians with a general procedure, proving the temporality of the universe, second, the postulate of possibility (dalil al-imkan), focuses on arguments from contingency. These two proofs confirm that God is real. In this way, the thoughts of Muslim philosophers increasingly strengthen the existence of the reality of God. After the formula for the nature of salbiyah is applied to all Gods, it can be seen that all Gods are void Gods, except Allah SWT who is true.  

Septinus Hia

Coram Mundo : Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen 2022 Sekolah Tinggi Teologi Injili Arastamar (SETIA) Ngabang

Bisnis merupakan usaha yang dilakukan manusia dalam memenuhi kebutuhannya. Ada berbagai pandangan yang menyatakan bisnis itu kotor, pandangan ini merupakan pandangan yang salah karena bisnis pekerjaan yang dianugerahkan Tuhan kepada manusia. Dari sudut pandangan reform menjelaskan bahwa berbisnis merupakan panggilan dari Allah. Pekerjaan yang dilakukan manusia baik dalam Gereja maupun di luar  merupakan perintah yang diberikan Tuhan. Dalam Alkitab tidak ada perintah atau larangan untuk berbisnis namun bisnis dapat dilakukan sesuai dengan prinsip Friman Tuhan. Orang percaya yang terlibat dalam praktik bisnis agar memahami bahwa bisnis itu anugerah dari Allah dan berbisnis merupakan panggilan dari Allah. Oleh karena itu, orang percaya seyogianya menggunakan bisnis.

Sama'un Sama'un; Ahmad Bahrudin; Ach. Ghufron

Nusantara: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat 2022 Pusat Riset dan Inovasi Nasional

Children are the next generation of the nation. Therefore they must receive serious attention and education from an early age. Early childhood is a child who is zero years old or from birth to approximately eight years old. At this age is a period that greatly influences the next stage. However, whether we are aware of it or not, today many parents feed their children too much on their formal education. Many are not aware of the benefits of learning spirituality as a support in forming moral character in children. Guidance that is practical to use without the need to add to the burden on children's minds, namely by getting used to starting or ending activities by reciting blessings. So that they feel peace of mind and always remember and can bring up a sense of love for the Messenger of Allah from an early age.

Raihanah Raihanah

Jurnal Ilmu Sosial, Bahasa dan Pendidikan 2022 Pusat Riset dan Inovasi Nasional

Mental health is very influential in the teaching and learning process, therefore it is important to maintain mental health so that the learning process runs effectively, one way to heal mental disorders such as emotional wounds is to do self-healing. This study discusses the comparison of the implementation of self-healing in Islamic boarding school students and students in public formal schools. By using a comparative research method with a qualitative approach and the data obtained through filling out a questionnaire (questionnaire) and interviews of 5 students and 5 students of state junior high schools. The results of the study show that there are differences in the implementation of self-healing in junior high school students and students based on where they are, the conditions and situations they are experiencing, students use self-healing more by drawing closer to Allah and putting their trust in God, while junior high school students are more able to do self-healing. Self-healing that students cannot do, such as using a mobile phone, is due to the rules that exist in Islamic boarding schools.

Robingun Suyud El Syam; Siti Lailiyah; Robiah Adawiyah; Salis Irvan Fuadi

Jurnal Ilmu Sosial, Bahasa dan Pendidikan 2021 Pusat Riset dan Inovasi Nasional

Manusia hidup di dunia sebagai khalifah (perwakilan), maka ia mesti menyelami hakikat atas tugas tersebut. Melalui pendekatan historis kosmologis diketahui, bahwa Allah telah menciptakan makluk sebelum manusia di muka bumi yakni entitas jin. Entitas ini mempunyai amanah dari Allah, mengelola bumi dan beribadah pada-Nya. Namun entitas itu gagal, memiliki perilaku merusak dan saling membunuh sehingga kedamain sulit diwujukan. Maka Allah mengganti mereka dengan manusia, melanjutkan amanah pengeloaan bumi dan beribadah. Belajar dari entitas jin, manusia sebagai pengganti (khalifah) mesti menjaga dunia dan taat beribadah agar amanah tersebut bisa ditunaikan.  

Bachrul Ulum

Tabsyir: Jurnal Dakwah dan Sosial Humaniora 2020 STAI YPIQ BAUBAU, SULAWESI TENGGARA

This research report is motivated by the large number of sharia financial institutions that have emerged and the increasing number of sharia banks that provide financial services while meeting the increasingly diverse needs of society. With the current abundance of sharia banking, there are accusations that sharia banking is a conventional bank that only has a sharia label attached to it. However, nowadays sharia banks always try to implement Islamic values based on Sharia principles. Sharia banking has a big influence on people's economic activities. Various sharia banking products are expected to be able to encourage and accelerate people's economic progress in accordance with Islamic principles. In Islamic principles, economic activity cannot be separated from the postulate of faith in Allah SWT and even becomes a built in control for economic actors. From here, sharia banking was built and designed to improve the standard of human life. Sharia banking is expected to become an alternative and even a decisive solution for the development of the national economy, especially for Muslims.

Ferdinand Sitinjak; Tonahati Tonahati; Nathan Houn

Coram Mundo : Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen 2020 Sekolah Tinggi Teologi Injili Arastamar (SETIA) Ngabang

Masalah lingkungan hidup merupakan masalah yang dihadapi oleh dunia saat ini, apakah itu pencemaran air, sampah ataupun udara, semuanya itu sangat mempengaruhi kualitas hidup manusia. Ketika Allah menciptakan langit, bumi dan manusia serta segala isinya, Ia berkata, “sungguh amat baik.” Kemudian Allah berhenti pada hari yang ke-tujuh dan memberkati hari perhentian-Nya tetapi belum ada semak apapun di bumi, sebab Allah belum menurunkan hujan dan belum ada manusia untuk mengusahakan tanah itu. Selanjutnya Allah membuat taman Eden dan menempatkan manusia yaitu Adam yang dibentuk-Nya dari tanah. Kepada Adam Dia memberi perintah untuk mengusahakan dan memelihara taman itu. Dalam perjalanan kehidupan Adam, Allah memberikan kepadanya Hawa, yang diciptakan-Nya untuk menjadi  penolong yang sepadan bagi  Adam dalam tugas memelihara dan mengusahakan taman itu. Tetapi oleh karena dosa, mereka mengabaikan perintah Tuhan ini bahkan mengksplorasi untuk  mengambil manfaat dari bumi diatas maupun isi yang didalamnya untuk perkembangan kehidupan dan kreasi pikiran manusia. Dituliskan didalam kitab Kejadian 4:21-22 tentang keturunan Adam yang mulai mengeksplorasi bumi untuk mengambil mineral dari dalamnya, “Nama adiknya ialah Yubal; dialah yang menjadi bapa semua orang yang memainkan kecapi dan suling. Zila juga melahirkan anak, yakni Tubal Kain, bapa semua tukang tembaga dan tukang besi.”  Dosa telah membuat hati manusia mengeras sehingga muncul sifat egoistik untuk memuaskan dirinya sendiri dengan menjarah bumi dengan segala isinya. Sehingga benar apa yang dituliskan dalam kitab Yesaya 24:4-6 .. “Bumi berkabung dan layu, ya, dunia merana dan layu, langit dan bumi merana bersama. Bumi cemar karena penduduknya, sebab mereka melanggar undang-undang, merubah ketetapan dan mengingkari perjanjian abadi. Sebab itu sumpah serapah akan memakan bumi dan penduduknya akan mendapat hukuman; sebab itu penduduk bumi akan hangus lenyap

Alex Karamoy; Jenerul Roe-Roe

Coram Mundo : Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen 2020 Sekolah Tinggi Teologi Injili Arastamar (SETIA) Ngabang

Tuhan Allah yang menciptakan alam semesta dan manusia merancangkan kehidupan yang sempurna, dan kehidupan itu adalah dari kekekalan hingga kekekalan, kehidupan yang tidak mengenal kematian, kehidupan dengan Allah. Tetapi dosa telah memisahkan manusia dari Allah, manusia harus mengakhiri rancangan semula dan manusia yang merupakan ciptaan mahkota itu harus mengalami kematian dan mereka hidup dalam dosa. Segala upaya yang dilakukan oleh manusia tidak dapat memulihkan keadaan semula, manusia tetap terpisah dari Allah. Allah sang penguasa tunggal semesta tidak pernah gagal, Ia memulihkan kehidupan serta hubungan manusia dengan Allah, dengan mengorbankan tubuhNya sendiri sebagai tebusan atas dosa manusia. Allah datang kedunia dalam wujud manusia, Yesus Kristus yang menghapus dosa dunia. KaryaNya menetapkan sebuah hukum yang baru, yang dapat tertulis didalam hati manusia, Bahwa Yesus adalah Tuhan dan juru selamat manusia. Dan semua karya ilahi ini dapat diterima hanya dengan iman.

Arta Veronika Naibaho; Fati Invokavit Telaumbanua

Coram Mundo : Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen 2020 Sekolah Tinggi Teologi Injili Arastamar (SETIA) Ngabang

Kebudayaan merupakan sistem yang tidak terlepas dari kehidupan manusia. Keberadaannya menentukan sikap yang harus diambil oleh individu dan komunitas dalam berelasi dan berinteraksi. Kitab Suci Alkitab menjelaskan bahwa, kebudayaan manusia mulai terbentuk sejak penciptaan. Penciptaan dimulai tentang apa yang Allah karyakan sedangkan kebudayaan adalah tentang apa yang manusia mulai karyakan. Namun, Alkitab juga secara jujur menjelaskan bahwa sifat dari kebudayaan manusia itu telah menjadi rusak akibat dosa, sejak kejatuhan manusia pertama Adam dan Hawa yang memilih untuk tidak taat kepada Allah. Allah menjadikan manusia berakal budi dan istimewa dari segala ciptaan yang ada, dengan maksud untuk memuliakan Dia, namun yang terjadi justru sebaliknya, akal budi menjadi tercemar oleh dosa, sehingga secara tidak sadar segala hasil asah dan karyanya telah berorientasi pada pengagungan dan pemuliaan diri manusia itu sendiri. Dalam konteks memahami kebudayaan honor and shame yang tumbuh dan hidup di tengah-tengah kehidupan orang percaya, maka dirasa perlu tindakan meninjau secara benar dan tepat berdasarkan pandangan Alkitab dalam menyikapi kebudayaan ini. dengan memahami tipologi budaya honor and shame, maka dapat membantu melihat peluang yang tepat agar umat Allah memahami dengan baik dan benar bagaimana budaya dan worldview semestinya dibentuk melalui perspektif dan pemahaman akan Firman Tuhan.