Publication Search

72,210 articles from 658 journals · 2,111 citations tracked

Showing 21-37 of 37

Analytics

Giovani Agnelli Susanti; Totok Tumangkar; Sri Subekti

Jurnal Akta Notaris 2023 Program Studi Kenotariatan Program Magister

Persekutuan Komanditer adalah suatu perusahaan yang terdiri dari satu atau lebih sekutu komplementer dan satu atau lebih sekutu komanditer. Pasal 23 ayat (1) Permenkumham Nomor 17 Tahun 2018 menentukan bahwa persekutuan yang telah terdaftar di Pengadilan Negeri dalam jangka waktu satu tahun setelah berlakunya peraturan tersebut wajib melakukan pencatatan pendaftaran pada Sistem Administrasi Badan Usaha (SABU). Tujuan penulisan ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis tanggung jawab sekutu terhadap akta pendirian Perseroan Komanditer yang tidak didaftarkan di Pengadilan Negeri, kedudukan akta pendirian Perseroan Komanditer yang dibuat sebelum berlakunya Permenkumham Nomor 17 Tahun 2018 yang tidak didaftarkan di Pengadilan Negeri, serta fungsi pendaftaran Persekutuan Komanditer sebelum dan sesudah berlakunya Permenkumham Nomor 17 Tahun 2018. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan yuridis normatif bersifat deskriptif analisis. Sumber data yang dipergunakan adalah data sekunder yang terdiri dari bahan hukum primer dan sekunder. Metode pengumpulan data dengan studi kepustakaan dengan analisis kualitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) letak tanggung jawab atas pendaftaran pendirian Persekutuan Komanditer ada pada sekutu komplementer (2) akta pendirian Persekutuan Komanditer yang tidak didaftarkan pada Pengadilan Negeri tidak mengakibatkan akta pendirian dan segala perubahannya menjadi akta dengan kekekuatan pembuktian sebagai akta di bawah tangan (degradasi) serta tidak termasuk dalam kategori akta yang dapat dibatalkan ataupun batal demi hukum (3) Fungsi pendaftaran akta pendirian Persekutuan Komanditer pada Pengadilan Negeri dan SABU adalah untuk memenuhi asas publisitas dan untuk sinkronisasi data serta syarat memperoleh Perizinan Berusaha.

Rizki Maulani

NALAR: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan 2023 Universitas 17 Agustus 1945 Semarang

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh alat peraga puzzle FPB dan KPK terhadap pemahaman konsep matematika siswa. Penelitian ini dilakukan di kelas IV pada semester genap Tahun Ajaran 2016/2017 materi KPK dan FPB di SD Negeri Gembor 6 Kota Tangerang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah quasi eksperimen dengan desain penelitian Two Group Pretest-Posttest Design, yang melibatkan 30 siswa kelas eksperimen dan 30 siswa kelas kontrol sebagai sampel. Berdasarkan hasil tes pemahaman konsep matematika siswa yang diajar dengan alat peraga puzzle FPB dan KPK lebih tinggi dari pada siswa yang diajar tidak dengan alat peraga puzzle FPB dan KPK. Hal ini dapat dilihat dari nilai rata-rata tes pemahaman konsep matematika siswa yang di ajar dengan alat peraga puzzle FPB dan KPK adalah sebesar 80,60 dan nilai rata-rata pemahaman konsep matematika siswa yang di ajar tidak dengan alat peraga puzzle FPB dan KPK adalah sebesar 64,50 (thitung = 0,002 dan ttabel =0,05) pada taraf sigifikansi 5%. Kemudian dari hasil perhitungan effect size, diketahui bahwa hasil perhitungan effect size dengan menggunakan rumus cohen’s d, diperoleh d=0,840, sehingga dapat disimpulkan bahwa penggunaan alat peraga puzzle FPB dan KPK memberikan pengaruh yang tinggi terhadap kemampuan pemahaman konsep matematika siswa di kelas IV sSDN Gembor 6 pada pokok bahasan kelipatan persekutuan terkecil (KPK) dan faktor persekutuan terbesar (FPB).

Sophia Gabriella Br Manik; Jungjungan Simorangkir; Robert Juni Tua Sitio

Sunday school learning which initially used the lecture method, now there are various churches that use various teaching methods, one of which is audio-visual media. The problem, according to the author's observations, especially at the Fellowship Protestant Church (GPP) Parhorboan Resort Tapanuli Utara II, is that school teachers are still lacking in using teaching methods that can create interaction between teachers and children, thus having an impact on children's interest in participating in Sunday school worship. The research method used in this research is a descriptive qualitative method. The research implementation uses procedures that produce descriptive data in the form of written and spoken words from people whose behavior is observed through interviews or observations using a qualitative approach. This research aims to find out how to increase the interest of Sunday school children aged 9-12 years in attending Sunday services at the Fellowship Protestant Church (GPP) Parhorboan Resort Tapanuli Utara II through the use of audio-visual media. The results of this research show that Sunday school children receiving teaching delivered by Sunday school teachers using audio-visual media can increase Sunday school children's interest in attending worship.

Sophia Gabriella Br Manik; Jungjungan Simorangkir; Robert Juni Tua Sitio

Sunday school learning which initially used the lecture method, now there are various churches that use various teaching methods, one of which is audio-visual media. The problem, according to the author's observations, especially at the Fellowship Protestant Church (GPP) Parhorboan Resort Tapanuli Utara II, is that school teachers are still lacking in using teaching methods that can create interaction between teachers and children, thus having an impact on children's interest in participating in Sunday school worship. The research method used in this research is a descriptive qualitative method. The research implementation uses procedures that produce descriptive data in the form of written and spoken words from people whose behavior is observed through interviews or observations using a qualitative approach. This research aims to find out how to increase the interest of Sunday school children aged 9-12 years in attending Sunday services at the Fellowship Protestant Church (GPP) Parhorboan Resort Tapanuli Utara II through the use of audio-visual media. The results of this research show that Sunday school children receiving teaching delivered by Sunday school teachers using audio-visual media can increase Sunday school children's interest in attending worship.

Simatupang, Jhonnedy Kolang Nauli; Hizkia Lumban Tungkup

Jurnal Pendidikan Agama dan Teologi 2023 International Forum of Researchers and Lecturers

The correlation of communion prayer with the spiritual growth of P3MI GMI Efrata Parung Panjang Bogor, this research is an applied research to help each member of P3MI GMI Efrata Parung Panjang Bogor understand the meaning of the communion of prayer, and the meaning of individual spiritual growth. A proper communion of prayer will relate to positive spiritual growth, and the opposite is true. So the study aims to describe the relationship between the prayer alliance in GMI Efrata Parung Panjang Bogor and the spiritual growth of somewhere in the first place. The study presents questainnare data and the resulting interviews to obtain accurate data. Research indicates that there is a correlation between the communion of prayer and the spiritual growth of P3MI GMI Efrata Parung Panjang Bogor. This can be verified by an angket analysis that shows 0.881 value percentage, meaning that the correlation is significant. Thus, it may be concluded that there is a positive link between the variables of prayer communion and those of spiritual growth.

Rahma Gusmawati Tammu; Marniati Marniati; Mey Enggane Limbongan; Dina Ramba'; Helba Rundupadang

Jurnal Pengabdian Masyarakat Sains dan Teknologi 2023 Fakultas Teknik Universitas Cenderawasih

The Toraja Church Youth Fellowship (PPGT) is an inseparable part of the church's organizational structure. PPGT has various work programs designed to foster enthusiasm and direct the young generation to become an independent generation in various aspects. Entrepreneurship seminar activities in the Sub Theme: Identifying Wants or Needs aim to provide financial education for the younger generation so they are able to manage personal finances through self-identification of whether they buy goods because they really need them or just because they want them. This activity is attended by more than ± 25 people. The method used is lecture, discussion and question and answer. The result of this community service activity is that the young generation is able to define what wants and needs are and is able to identify needs or desires in making decisions to purchase a product.

A.M.Hatuaon Sihite

Sinar Kasih: Jurnal Pendidikan Agama dan Filsafat 2023 Sekolah Tinggi Teologi Injili Arastamar (SETIA) Ngabang

Large organisations have many different interests, so there is often a lack of understanding of tasks and missions. This study identified several issues, including the impact of current elder performance in GPP Sukadono Helvetia, the condition of elder support that does not meet performance standards, the influence of management on performance, and the impact of elder workload on performance became the main focus of this study. This research is descriptive-inferential, where there are functional relationships. If leadership (X) is systematically related to employee performance (Y), then future phenomena are likely to be predicted and the results may propose new or additional hypotheses that can be tested. This study wants to reveal that there is a significant contribution between leadership effectiveness (X) and employee performance (Y), to the empirical contribution of 27.3%. This shows that leadership plays an important role in overcoming all challenges in the organisation. Elder leadership plays an important role of 27.3% in the performance of GPP Sukadono Helvetia. Then, this study also found that the role of management in this area has not been optimal, resulting in ineffectiveness in achieving the desired performance, especially in promoting learning and improving congregational performance. This study suggests that the role of management in the future should be more aligned with the management and effectiveness of GPP Sukadono Helvetia. This will ensure that the work of GPP Sukadono Helvetia elders is not only focussed on programme activities but also that the programme contributes to the overall success of the organisation.      

Cici Ramita; Timotius Tote Jelahu; Fransiskus Janu Hamu

Sepakat : Jurnal Pastoral Kateketik 2022 Sekolah Tinggi Pastoral Tahasak Danum Pambelum Keuskupan Palangkaraya

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan  bentuk komunikasi iman umat Katolik di Stasi St. Petrus Runggu Raya Paroki St. Petrus dan Paulus Ampah dalam menghidupi persekutuan. Studi ilmiah ini diharapkan dapat menjelaskan cara membangun komunikasi iman Gereja, baik tenaga pastoral, pengurus Gereja, maupun seluruh umat agar terwujud persekutuan yang kokoh. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan wawancara dan dokumentasi. Informan penelitian berjumlah 10 orang berdasarkan jabatan dalam persekutuan, yaitu pastor paroki, pengurus Gereja, umat, dan orang muda. Proses penelitian melalui tiga tahap, yaitu pra- lapangan, pekerjaan lapangan, dan pasca lapangan. Hasil penelitian menyatakan bahwa persekutuan umat Katolik di Stasi Runggu Raya belum kokoh karena kurangnya kesadaran untuk membangun komunikasi iman. Indikator yang ditunjukkan adalah pengurus Gereja dan umat bersikap acuh tak acuh terhadap kepentingan Gereja, sedikit umat yang mau hadir dan terlibat dalam kegiatan persekutuan, lemahnya koordinasi antara petugas pastoral, sesama pengurus Gereja dan seluruh umat. Cara membentuk komunikasi iman umat Katolik di Stasi St. Petrus Runggu Raya agar terwujud persekutuan yang kokoh adalah melalui rapat koordinasi antara pengurus Gereja yang dibimbing oleh tenaga pastoral, membangun kerja sama antara pengurus dan seluruh umat, memiliki sikap terbuka dan kesadaran akan tanggung jawab setiap pribadi sebagai anggota persekutuan, saling melayani dan berpartisipasi dalam kegiatan menggereja.

Grace Sriati Mengga; Wanie Bandaso; Agustinus Mantong; Althon K Pongtuluran; Dian Intan Tangkeallo

Jurnal Nusantara Berbakti 2022 Universitas Kristen Indonesia Toraja

This community service aims to provide comprehensive education about trichiasis, a condition in which eyelashes grow into the eye as well as provide an explanation of the definition, causes, symptoms, and risks associated with trichiasis and eye health. This counseling also provides education on various available treatment methods, ranging from medical treatment and prevention that can be taken to keep the eyes healthy. The form of community service is counseling using the media in the form of powerpoint slides and brochures accompanied by pre-test and post-test to assess the level of public knowledge. information about trichiasis. The level of knowledge before counseling regarding trichiasis and eye health was obtained by all respondents who were still lacking and after counseling there was an increase in the level of knowledge of respondents as much as 89% with a good level of knowledge.

F.X. Sugiyana

Penelitian ini menelaah pandemi Covid-19 yang menjadi peristiwa dari kehidupan umat manusia di dunia dalam tiga tahun ini. Pemerintah meminta para kepala daerah kabupaten dan kota untuk membuat langkah-langkah strategis mengurangi penyebaran Covid-19. Pembatasan gerak dan mobilitas segera dibuat. Kebijakan untuk bekerja, belajar dan beribadat dari rumah telah dikeluarkan. Seluruh aktivitas keagamaan yang menimbulkan kerumunan segerak ditutup. Gereja yang semula identik dengan persekutuan umat mendadak hilang dan tidak tampak. Gereja sepi dengan aktivitas, termasuk perayaan ekaristi. Situasi itu menimbulkan macam-macam perasaan, tanggapan dan refleksi umat atas kondisi yang terjadi. Kecemasan dan kekuatiran terjadi. Dalam kegiatan keagamaan, imam dan umat juga mengalami kemandegan dalam berkegiatan. Tiba-tiba muncullah tradisi perayaan Ekaristi secara online, suatu perayaan yang diadakan dari gereja dan kemudian dihubungkan dengan chanel youtube, sehingga umat dari tempatnya masing-masing bisa mengikuti perayaan ekaristi tersebut secara online. Ada pergulatan sendiri untuk memaknai pengalaman iman mereka. Apakah Tuhan sungguh hadir dalam perayaan yang diselenggarakan secara online? Gambaran Tuhan yang seperti apa yang terbangun dalam diri umat beriman di masa pandemi ini? Apakah kecemasan di masa pandemi ini melulu pengalaman psikologis seseorang atau juga pengalaman spiritual? Melalui pendekatan survey, studi ini menunjukkan bahwa kecemasan dan ketakutan yang muncul di masa pandemi Covid 19 sungguh merupakan pengalaman eksistensial sebagian besar umat beriman. Pandemi bukan hanya masalah kesehatan, tetapi juga menyatakan seluruh keberadaan hidup mereka di hadapan Tuhan. Tuhan dirasakan hadir sebagai yang tetap mengasihi dan melindungi. Pengalaman doa menjadi kekuatan umat untuk menjalani hidup di masa pandemi. Perayaan Ekaristi online walaupun menyimpan kekurangan tetapi tetap memberi kekuatan dan bekal rohani dalam kehidupan umat. Mereka tetap merasakan kehadiran dan campur tangan Tuhan. Oleh karena itu beriman di tengah pandemi menjadi suatu pengalaman unik bagi setiap orang beriman.

F.X. Sugiyana

Penelitian ini menelaah pandemi Covid-19 yang menjadi peristiwa dari kehidupan umat manusia di dunia dalam tiga tahun ini. Pemerintah meminta para kepala daerah kabupaten dan kota untuk membuat langkah-langkah strategis mengurangi penyebaran Covid-19. Pembatasan gerak dan mobilitas segera dibuat. Kebijakan untuk bekerja, belajar dan beribadat dari rumah telah dikeluarkan. Seluruh aktivitas keagamaan yang menimbulkan kerumunan segerak ditutup. Gereja yang semula identik dengan persekutuan umat mendadak hilang dan tidak tampak. Gereja sepi dengan aktivitas, termasuk perayaan ekaristi. Situasi itu menimbulkan macam-macam perasaan, tanggapan dan refleksi umat atas kondisi yang terjadi. Kecemasan dan kekuatiran terjadi. Dalam kegiatan keagamaan, imam dan umat juga mengalami kemandegan dalam berkegiatan. Tiba-tiba muncullah tradisi perayaan Ekaristi secara online, suatu perayaan yang diadakan dari gereja dan kemudian dihubungkan dengan chanel youtube, sehingga umat dari tempatnya masing-masing bisa mengikuti perayaan ekaristi tersebut secara online. Ada pergulatan sendiri untuk memaknai pengalaman iman mereka. Apakah Tuhan sungguh hadir dalam perayaan yang diselenggarakan secara online? Gambaran Tuhan yang seperti apa yang terbangun dalam diri umat beriman di masa pandemi ini? Apakah kecemasan di masa pandemi ini melulu pengalaman psikologis seseorang atau juga pengalaman spiritual? Melalui pendekatan survey, studi ini menunjukkan bahwa kecemasan dan ketakutan yang muncul di masa pandemi Covid 19 sungguh merupakan pengalaman eksistensial sebagian besar umat beriman. Pandemi bukan hanya masalah kesehatan, tetapi juga menyatakan seluruh keberadaan hidup mereka di hadapan Tuhan. Tuhan dirasakan hadir sebagai yang tetap mengasihi dan melindungi. Pengalaman doa menjadi kekuatan umat untuk menjalani hidup di masa pandemi. Perayaan Ekaristi online walaupun menyimpan kekurangan tetapi tetap memberi kekuatan dan bekal rohani dalam kehidupan umat. Mereka tetap merasakan kehadiran dan campur tangan Tuhan. Oleh karena itu beriman di tengah pandemi menjadi suatu pengalaman unik bagi setiap orang beriman.

Simplesius Sandur

Jurnal Filsafat dan Teologi Katolik 2021 STIKAS Santo Yohanes Salib Kalimantan Barat

Gereja adalah rumah keselamatan bagi umat Allah. Rumah ini didirikan oleh Yesus dan diwariskan kepada para murid-Nya. Ada banyak teori tentang Gereja dan teori-teori tersebut didasarkan pada ajaran suci dan pandangan para teolog. Kita sebut “model-model Gereja” terhadap pandangan-pandangan ini. Salah satu model Gereja adalah Gereja sebagai komunio atau Gereja Persekutuan. Pada poin pertama, hal ini merupakan komunio atau persekutuan dengan Yesus, kemudian komunio antara murid-murid Yesus, komunio mereka yang percaya kepada Yesus Kristus. Ide Gereja komunio ini didasarkan atas Kisah Para Rasul, suatu komunio para rasul setelah kenaikan Yesus ke surga. Dalam dunia modern konsep Gereja komunio berkembang setalah Konsili Vatikan II. Gereja sebagai komunio juga dikembangkan oleh para teolog setelah konsili seperti Congar dan Dulles. Setelah Konsili Vatikan II bertumbuh suatu gerakan dalam Gereja yang disebut dengan Pembaharuan Karismatik atau Gerakan Karismatik Katolik. Gerakan ini bertumbuh dalam Gereja Katoli dan memberikan pengaruh besar kepada Gereja dan perkembangannya di dunia modern terutama mengenai peran awam dalam Gereja. Seperti yang kami amati dalam beberapa hal, ide tentang Gereja Pesekutuan diadopsi oleh gerakan ini. Dapat dikatakan bahwa model Gereja dari Persekutuan Karismatik Katolik adalah suatu bentuk atau aktualisasi dari ajaran Konsili Vatikan II. Dalam artikel ini, kami mencoba melihat dan menjelaskan relasi antara Gereja sebagai komunio dengan Gerakan Pembaharuan Karimatik Katolik.

Tantani binti Longkiad

Jurnal Filsafat dan Teologi Katolik 2021 STIKAS Santo Yohanes Salib Kalimantan Barat

Salah satu kebutuhan paling mendasar dalam perkembangan hidup rohani seseorang adalah bebas dari ikatan dosa aktual dan habitual. Sarana yang paling efektif untuk membebaskan manusia dari ikatan ini adalah Sakramen Rekonsiliasi. Kristus, melalui Gereja-Nya, menyediakan sarana istimewa ini untuk membantu umat beriman agar hidup dalam kemerdekaan anak-anak Allah, bebas dari dosa aktual dan habitual, sehingga mereka berkembang dalam hidup rohaninya, dan hidup dalam persekutuan dengan Allah. Sakramen Rekonsiliasi diberikan sebagai sarana penebusan yang efektif setiap kali manusia jatuh dalam dosa, terutama sekali jika seseorang jatuh dalam dosa berat. Sakramen ini memiliki kekuatan rahmat adikodrati yang berasal dari kuasa Roh Kudus untuk mengampuni, menguduskan, membersihkan, menyucikan dan menyelamatkan, melalui kuasa doa dalam rumus absolusi yang diberikan lewat imam, sebagai  alter Christi. Persoalannya, mengapa banyak umat beriman tidak berminat untuk pergi mengaku dosa secara sakramental lewat seorang imam? Bagaimana menanggapi persoalan ini?

Angelo Luciani Moa Dosi Woda

Jurnal Filsafat dan Teologi Katolik 2021 STIKAS Santo Yohanes Salib Kalimantan Barat

Misteri salib Kristus yang menebus dan menyelamatkan semua manusia, dunia, dan alam semesta, kerap disalahmengerti oleh sebagian orang pada zaman mutakhir ini. Mereka mengklaim bahwa tangisan kematian Yesus di atas kayu salib dianggap sebagai ungkapan putus asa, kutukan dan penderitaan orang yang berdosa. Selain itu, mereka berpendapat bahwa dalam peristiwa salib, terjadi keterpisahan dalam misteri Allah Tritunggal. Tentu saja, pernyataan tersebut tidak benar. Sesungguhnya, Allah menyatakan cinta dan kerahiman-Nya yang sempurna dalam peristiwa salib bagi pembaruan hidup seluruh makhluk ciptaan-Nya.

Angelo Luciani Moa Dosi Woda

Jurnal Filsafat dan Teologi Katolik 2020 STIKAS Santo Yohanes Salib Kalimantan Barat

Patut diakui, pembahasan mengenai ajaran iman Gereja tentang Roh Kudus, masih kurang dalam Gereja Katolik. Karena itu, berdasarkan pembaruan hidup dan karya misi Gereja dalam Konsili Vatikan II, segenap umat beriman Kristiani merefleksikan kembali teologi tentang Roh Kudus. Dalam konteks ini, Joseph Kardinal Ratzinger (Paus Benediktus XVI) memberikan kontribusi penting mengenai ajaran iman Gereja universal tentang Roh Kudus. Suatu refleksi pneumatologis yang mengalir dari sumber-sumber iman Gereja sesuai dengan situasi zaman modern ini. Itu berarti karya Roh Kudus dalam sejarah keselamatan yang berpuncak pada misteri Kristus dan Gereja mengungkapkan misteri Allah Tritunggal yang Mahakudus, yaitu Bapa dan Putera dan Roh Kudus.

Rikardus Jehaut

Jurnal Filsafat dan Teologi Katolik 2020 STIKAS Santo Yohanes Salib Kalimantan Barat

Artikel ini bertujuan untuk membedah disiplin Gereja menyangkut larangan untuk menerima komuni kudus bagi yang bercerai dan menikah lagi dalam terang Kitab Hukum Kanonik dan beberapa penegasan Magisterium. Dengan menggunakan analisis kritis atas berbagai dokumen resmi Gereja, ditemukan bahwa larangan tersebut didasarkan atas pertimbangan bahwa menikah lagi selagi masih terdapat ikatan yang valid dipandang sebagai sebuah dosa berat. Terdapat kontradiksi objektif antara sakramen persekutuan Kristus Sang Mempelai dengan Gereja, yang terpenuhi dalam Ekaristi, dan ketidaksetiaan orang yang bercerai yang hidup bersama yang lain kendati sadar akan ikatan perkawinan sebelumnya. Harus dicatat bahwa norma ini sama sekali bukan sebuah hukuman atau diskriminasi terhadap yang bercerai dan menikah lagi, namun lebih mengekspresikan situasi objektif yang dalam dirinya sendiri menghalanginya untuk menerima komuni kudus. Di lain pihak, mengingat bahwa mereka yang bercerai dan menikah lagi tidak dipisahkan dari Gereja melainkan tetap menjadi anggota Gereja, para gembala harus memperhatikan kebutuhan pastoral mereka dengan menerapkan berbagai solusi pastoral yang sesuai yang disediakan oleh Hukum Gereja dan praksis yang diakui oleh Gereja untuk forum internal.

Fransiskus Heryman Surya Gadur

Jurnal Filsafat dan Teologi Katolik 2019 STIKAS Santo Yohanes Salib Kalimantan Barat

The relevant Catechism in the midst of the struggling of the life of the faithful is an urgent task of the Church. Catechism cannot be given just to the point of the church’s routine, but should be started from the basic needs of the faithful and the church itself as to grow in faith. Model of catechism that oriented to the kingdom of God is one of the answers toward the struggling of the faithful in relation to the environment and local situation as well as with God. There is a positive hope to create such group of the faithful through this effort. St. Therese of the Child Jesus’s Parish, Simpang Tiga chose such model to discover the reality of catechism’s activity during these periods. By such perspective of catechism, this Parish wants to shape a strong and substantial communion of faithful – having an experience of God, and dialogue with their roots of life in Kalimantan.