BMT (Baitul Maal Wa Tamwil) adalah sebuah lembaga keuangan mikro yang berbasis syariah yang memberikan solusi kepada masyarakat khususnya menengah kebawah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana peran BMT Al Ishlah terhadap pemberdayaan usaha mikro di Kota Jambi. Penelitian ini menggunakan kualitatif dengan menggunakan analisis diskriptif. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara dan dokumentasi dengan jumlah responden 5 anggota yang melakukan pembiayaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberdayaan yang dilakukan BMT Al Ishlah terhadap usaha mikro dilakukan dengan dua cara yaitu, pendanaan dan pembinaan. Pemberdayaan ini berperan positif dalam usaha nasabah sesuai dengan pengakuan 5 responden yang mengakui adanya peningkatan omzet dan mengakui manajemen keuangan lebih baik.
Urbanization has been rapidly increased to Makassar the cities, In the other hand, the job opportunities in the cited cities have not fully fitted those who urbanize, thus bring them to be homeless.This research is a kualitatif descriptive taking a sample of 100 out of 269 homeless in Makassar city with using non random (purposive sampling) technique. The research pointed out that there are some reasons of being homeless, namely internal and external factors. These factors could be partially and mutually influenced the homeless. Internal factors consist of (i) the low of education; (ii) personality. Meanwhile, the external factors are : (i) urbanitation; (ii) environment; (iii) geographys; and (iv) economy.The alternative solutions should be comprehensively paid attention to the two aspects (i) namely the village condition and (ii) destination cities conditions. It is principally that the solutions should be able to protect them leaving their village to look for job in the cities by opening job opportunities in the village itself. Meanwhile, the homeless in the cities should be handled by making them have no chance to gain money as homeless.
Older adults are someone who is over 60 years old, which is the final stage of the development of human life, or someone who is starting to enter the stage of the aging process. This study aimed to determine the difference in effectiveness of giving bay leaf decoction with hypertension exercise to older adults with hypertension to reduce blood pressure in Karangayu, Semarang Barat, before and after the intervention. This research method used quasi-experimental pre-and post-tests for two intervention groups, 1 and 2. The sampling technique used was non-probability sampling on 74 respondents, using pre-test and post-test observation sheets with SOP for boiled bay leaves and SOP for hypertension exercises. This study showed that the average blood pressure before being given the bay leaf decoction intervention in group 1 was 89.2% with severe pain. In contrast, the average blood pressure after being given bay leaf decoction intervention was 86.5%, with mild blood pressure. For group 2, the average blood pressure before being given the hypertension exercise intervention was 94.6% with severe pain. Meanwhile, the average blood pressure after the hypertension exercise intervention was 75.7% with mild blood pressure. The results of the marginal homogeneity test obtained a P value of 0.001 (<0.05), meaning that there was a significant difference in mean between the pre-test and post-test, which affected the effect of giving bay leaf decoction with hypertension exercise on blood pressure in the older adults. Advice to health services, such as Posbindu (Pos Pembinaan Terpadu), on how to provide non-drug treatment with bay leaf decoction and hypertension gymnastics, which means physical exercise and traditional medicine, as part of training for Posbindu officers in secondary prevention services for high blood pressure in older adults.
Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat ini dilakukan bersama dengan mitra usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yang berlokasi di Desa Setia Darma Kecamatan Tambun Selatan Kabupaten Bekasi Provinsi Jawa Barat. Terdapat tiga masalah utama yang dihadapi oleh mitra UMKM, yaitu kurangnya pengetahuan keuangan dan inklusi keuangan digital para pelaku usaha seperti belum memiliki sistem pencatatan keuangan yang baik dan belum memiliki sistem pembayaran digital dan pemasaran digital bagi usahanya. Langkah praktis untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah melalui pembinaan terhadap mitra dengan tiga cara. Pertama pembinaan dilakukan dengan memberikan pelatihan pencatatan keuangan secara manual dan terdigitalisasi. Kedua, pembinaan dilakukan dengan memberikan pelatihan penggunaan pembayaran digital dan yang ketiga memberikan pelatihan dan pembinaan mengenai digital marketing.
Seiring dengan perkembangan teknologi, pemanfaatan media digital seperti sosial media dan e-commerce saat ini dimanfaatkan sebagai sarana branding bagi para pelaku usaha. Dalam menarik perhatian masyarakat untuk meningkatkan minat pembelian terhadap suatu produk, maka visualisasi produk diperlukan sebagai pemancing daya tarik konsumen. Penguatan merek dengan visualisasi produk dapat meningkatkan brand awareness masyarakat terhadap sebuah produk. Objek dalam kegiatan ini adalah UMKM Doyan Jajan yang bergerak di bidang food and beverages berlokasi di Desa Laweyan, Kecamatan Sumberasih, Kabupaten Probolinggo. Metode yang digunakan dalam kegiatan ini terdiri dari tiga tahap yaitu wawancara dan observasi, pembinaan, dan implementasi. Kegiatan ini bertujuan untuk memperluas pangsa pasar, meningkatkan penjualan dan penciptaan nama merek di benak masyarakat. Dalam menghadapi persaingan bisnis yang kompetitif, pelaku usaha harus melakukan penguatan merek melalui pemanfaatan digital marketing dan visualisasi produk sehingga dapat bersaing dengan usaha serupa. Dengan adanya kegiatan ini, UMKM Doyan Jajan mendapatkan pengetahuan baru mengenai branding produk dan digital marketing.
Micro, Small and Medium Enterprises (MSMEs) contribute greatly to Indonesia's economic growth. To achieve a stable and sustainable economy, it is necessary to support solid macroeconomic stability. Empowerment of the real sector, especially the development of MSMEs. The purpose of this KKN activity is to provide branding and digital marketing management assistance for MSMEs in the Wonorejo Village. The partners in the thematic real work lecture program in the Wonorejo Sub-District are beginner MSMEs and have been starting a business for several months. The problems faced by MSMEs are digital marketing, packaging is still made in a simple way, and confusion about how to do branding. This problem arises because of the limited knowledge possessed by MSME actors, and the limited ability to use devices. This MSME actor mentoring activity aims to increase the knowledge and abilities of MSME actors in developing their business. MSME actors are given an understanding of the use of e-commerce and the importance of using technology in MSME product development so that they can increase income.
Tujuan penelitian ini untuk : (1) Untuk mengetahui Peran Guru PPKn dalam internalisasi Pancasilasebagai pandangan hidup bangsa untuk penguatan karakter demokratis pada peserta didik kelas VII;(2) Untuk mengetahui hambatan-hambatan yang ditemui Guru PPKn dalam internalisasi Pancasilasebagai pandangan hidup bangsa untuk penguatan karakter demokratis pada peserta didik kelas VII;(3) Untuk mengetahui bahwa internalisasi Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa dapatmempengaruhi penguatan karakter demokratis pada peserta didik kelas VII.Penelitian ini dilaksanakan di SMP Muhammadiyah 7 Surakarta. Subjek dalam penelitianini: Kepala Sekolah, Wakil Kepala Sekolah, Guru PPKn Kelas VII, dan Peserta didik Kelas VII.Sumber data menggunakan sumber data primer dan sumber data sekunder. Pengumpulan datadilakukan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Uji keabsahan data dilakukan dengantriangulasi teknik dan triangulasi sumber. Data penelitian dianalisis dengan teknik analisis deskriptifkualitatif model interaktif.Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa : 1) Guru PPKn sangat berperan aktif dalamprogram internalisasi Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa untuk penguatan karakterdemokratis ini dengan diwujudkannya beberapa budaya sekolah baru yang menarik yaitu:Democrazy Day/pemilihan ketua OSIS, Kartu Haid, serta Kultum dan Adzan bergilir. Selain ituGuru PPKn juga berperan sebagai pengarah, pengawas, dan Pembina dalam implementasinya; 2)hambatan yang ditemui dalam proses berjalannya program Internalisasi Pancasila sebagaipandangan hidup bangsa untuk penguatan karakter demokratis adalah culture shock (budaya kejut;kaget) dan belum sepenuhnya beradaptasi dengan lingkungan baru karena masih dalam masaperalihan; 3)internalisasi Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa benar dapat menguatkankarakter demokratis pada peserta didik.
Tujuan dari artikel pengabdian masyarakat ini adalah untuk mempromosikan pemahaman multikultural, menghormati perbedaan, dan kesiapan untuk berinteraksi dengan orang lain, terutama di kalangan umat, guna meningkatkan kualitas iman Katolik dalam masyarakat multikultural. Untuk mencapai hal ini, mengadopsi pendekatan moderasi menjadi sangat penting. Konsep moderasi dapat bervariasi di berbagai konteks, tetapi melibatkan pengakuan akan keberadaan sudut pandang yang beragam, toleransi, penghormatan terhadap perbedaan pendapat, serta penolakan terhadap kekerasan sebagai sarana untuk memaksakan kehendak. Pendidik agama Katolik memainkan peran penting dalam menyebarkan dan membina budaya moderat dalam masyarakat, dengan tujuan akhir mencapai harmoni dan perdamaian. Hal ini dapat dicapai dengan memperkuat nilai-nilai universal seperti kasih sayang, saling menghormati, dan saling memahami antar komunitas agama. Selain itu, penyuluh agama Katolik bertujuan untuk memperluas pengetahuan dan pengalaman umat tentang agama-agama lain, sambil mendorong kolaborasi dan kerjasama antara komunitas agama demi kemajuan masyarakat. Dengan memeluk prinsip-prinsip moderasi, para pembimbing agama Katolik berkontribusi pada perkembangan moral dan etika individu dalam komunitas iman Katolik.
Tujuan penelitian ini untuk mengkaji upaya perlindungan konsumen dari segi pengawasan pemerintah dalam kasus minyak goreng curah dengan logo halal palsu di Banten. Penelitian ini menggunakan metode penelitian hukum normatif dengan pendakatan perundang-undangan dan deskriptif. Hasil penelitian menunjukan bahwa masyarakat, lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat dan pemerintah berperan secara bersamaan dalam melakukan pengawasan terhadap produk yang beredar di pasaran dalam kasus minyak goreng curah dengan logo halal palsu, sesuai dengan amanat UUD 1945 serta Undang-undang No. 8 Tahun 1999 tentang perlindungan konsumen bahwa tujuan pengawasan ini dilakukan untuk melindungi segenap bangsa dalam hal ini konsumen dalam upaya pemenuhan kebutuhan. Dilakukan penindakan sesuai dengan aturan yang berlaku oleh kepolisian agar memberikan efek jera bagi pelaku usaha.
Teacher professional competence is very important because it is something that every teacher must have to make quality and carry out the duties of an educator properly. One way to make the competence of a teacher or an educator is by coaching. The development of this competency is very important and needs to be done for a teacher or an educator to make it more effective and efficient in the application of teaching. Descriptive qualitative research method is the method used in this study. Data collection techniques are carried out through observation, interviews, and documentation. From the results of the study, it was found that the implementation of the teacher professional competence development program at Darunnajah Cipining Vocational School was quite good including: MGMP, Taftisy I'dad, Kamisan, Ta'hil, In House Training and Khutbatul 'Arsy, Teacher Supervision (Supervision) and Appreciation (Motivation). From the results of this study, the authors recommend that Darunnajah Cipining Vocational School educational institutions should further improve teacher professional competency development.
Keywords: Implementation, Coaching, Competence
This article highlights the important role of catechism in developing the faith of young Catholics in the modern era. This study uses a theological analytical discourse methodology to analyze the role of catechism as a medium for building faith. Catechesis is a means used by the Church to communicate the teachings of faith to the people. Through catechesis, the Church can provide effective accompaniment of faith to young people. This study focuses on the problems faced by young people today. They are the next generation of the Church who need special attention because they are very vulnerable to being influenced by the fast and swift currents of modernity. Therefore, an effective assistance effort is needed for them. The research findings show that young people, who are in a period of searching for identity, tend to get bored easily and are quickly satisfied. In this context, catechesis as a form of faith formation is an effective choice and responsive to the lifestyle of today's youth. Through catechesis, young people can gain a deeper understanding of the teachings of the faith, strengthen their relationship with God and develop a strong Christian identity. Digital catechesis, which combines technology with messages of faith, can be a relevant and attractive medium for young people. In conclusion, digital catechesis has a significant role in developing the faith of young Christians. In facing the challenges of modern times, the Church needs to use catechesis as an effective strategy to assist young people in strengthening their faith. By utilizing technology and adapting the right content, digital catechism can be an effective tool in forming a young generation who are firm in their faith and ready to face the changing times.
This article highlights the important role of catechism in developing the faith of young Catholics in the modern era. This study uses a theological analytical discourse methodology to analyze the role of catechism as a medium for building faith. Catechesis is a means used by the Church to communicate the teachings of faith to the people. Through catechesis, the Church can provide effective accompaniment of faith to young people. This study focuses on the problems faced by young people today. They are the next generation of the Church who need special attention because they are very vulnerable to being influenced by the fast and swift currents of modernity. Therefore, an effective assistance effort is needed for them. The research findings show that young people, who are in a period of searching for identity, tend to get bored easily and are quickly satisfied. In this context, catechesis as a form of faith formation is an effective choice and responsive to the lifestyle of today's youth. Through catechesis, young people can gain a deeper understanding of the teachings of the faith, strengthen their relationship with God and develop a strong Christian identity. Digital catechesis, which combines technology with messages of faith, can be a relevant and attractive medium for young people. In conclusion, digital catechesis has a significant role in developing the faith of young Christians. In facing the challenges of modern times, the Church needs to use catechesis as an effective strategy to assist young people in strengthening their faith. By utilizing technology and adapting the right content, digital catechism can be an effective tool in forming a young generation who are firm in their faith and ready to face the changing times.
STRATEGI DAKWAH BIL HAL BERBAGI SAYUR GRATIS OLEH
PERGURUAN SILAT PERSAUDARAAN SETIA HATI WINONGO
DI KABUPATEN MAGETAN JAWA TIMUR
Anggie Novita, Davita Dyah Ayu Puspitasari, Andhita Risko Faristiana
Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah
Institut Agama Islam Negeri Ponorogo
Email : anggienovita8523@gmail.com, ayup1178@gmail.com, andhitarisko@iainponorogo.ac.id
ABSTRAK
Sesuai dengan pergeseran sosial selama periode reformasi saat ini, di mana pidato lisan kadang-kadang berjumlah sedikit lebih dari hiasan bibir lipstik karena tidak ada bukti nyata, Oleh karena itu, dakwah perlu dilakukan dengan contoh positif untuk mendukung proses reformasi. Dakwah bil Hal merupakan jalan yang baik karena dakwah bil-hal mencakup semua hal yang berkaitan dengan kebutuhan manusia, terutama yang berhubungan dengan kebutuhan material, fisik, dan ekonomi. Seperti kegiatan berbagi sayur gratis oleh perguruan pencak silat Persaudaraan Setia Hati Winongo. Teknik pendekatan kualitatif digunakan dalam penelitian ini, yang memungkinkan untuk produksi data deskriptif selanjutnya dalam bentuk kata-kata dan tulisan serta perilaku yang ditemukan melalui pengamatan subjek penelitian. Peneliti menggunakan strategi ini karena tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan penyebab di balik penyelenggaraan acara berbagi sayuran gratis. Menurut pemaparan pembahasan penelitian di atas dapat diperoleh kesimpulan dengan adanya kegiatan berbagi sayur gratis di Magetan Desa Duyung Takeran, adapun pelaksana dari kegiatan tersebut yaitu organisasi Persaudaraan Setia Hati Winongo di Desa Duyung. Tujuan diadakanya kegiatan tersebut adalah semata-mata karena munculnya rasa kepedulian kepada masyarakat di masa pandemi Covid-19 di tahun 2020 dengan membantu sedikit kebutungan ekonomi berupa bahan pangan yang berlanjut hingga tahun 2023.
ABSTRACT
In keeping with the social shifts during the current reform period, where oral speech sometimes amounted to little more than lipstick lipstick decoration because there was no concrete evidence, therefore, da'wah needs to be done with positive examples to support the reform process. Da'wah bil Hal is a good way because da'wah bil-hal covers all matters related to human needs, especially those related to material, physical, and economic needs. Such as free vegetable sharing activities by the Persaudaraan Setia Hati Winongo pencak silat college. The technique of qualitative approach is used in the study, which allows for the subsequent production of descriptive data in the form of words and writing as well as behaviors found through the observation of the research subject. Researchers used this strategy because the purpose of the study was to determine the cause behind organizing free vegetable sharing events. According to the presentation of the research discussion above, conclusions can be obtained with the free vegetable sharing activity in Magetan, Takeran Duyung Village, as for the implementer of the activity, namely the Persaudaraan Setia Hati Winongo organization in Duyung Village. The purpose of holding this activity is solely because of the emergence of a sense of concern for the community during the Covid-19 pandemic in 2020 by helping a little economic struggle in the form of food which continues until 2023.
PENDAHULUAN
Islam merupakan agama yang diturunkan Allah SWT kepada nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam sebagai nabi dan rasul terakhir untuk dijadikan pedoman bagi seluruh manusia hingga akhir zaman (H. A.Kadir Sobur : 2013). Dimana agama Islam menugaskan umatnya untuk menyebarluaskan dan mensiarkan Islam kepada seluruh umat atau biasa disebut dengan agama dakwah. Islam tidak hanya menugaskan melainkan juga mengajak agar umatnya mampu menerima sekaligus melaksanakan ajaran-ajaran yang ada di dalam Islam, maka dari itu perlunya metode dakwah bil-hal yang tepat seperti tolong-menolong antar masyarakat dikarenakan manusia merupakan makhluk sosial yang artinya tidak bisa untuk hidup sendiri tanpa adanya bantuan orang lain.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
وَاِذْ اَخَذْنَا مِيْثَاقَ بَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ لَا تَعْبُدُوْنَ اِلَّا اللّٰهَ وَبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسَانًا وَّذِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنِ وَقُوْلُوْا لِلنَّاسِ حُسْنًا وَّاَقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَاٰتُوا الزَّكٰوةَۗ ثُمَّ تَوَلَّيْتُمْ اِلَّا قَلِيْلًا مِّنْكُمْ وَاَنْتُمْ مُّعْرِضُوْنَ
(Ingatlah) ketika Kami mengambil perjanjian dari Bani Israil, “Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuatbaiklah kepada kedua orang tua, kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin. Selain itu, bertutur katalah yang baik kepada manusia, laksanakanlah shalat, dan tunaikanlah zakat.” Akan tetapi, kamu berpaling (mengingkarinya), kecuali sebagian kecil darimu, dan kamu (masih menjadi) pembangkang. Al-Baqarah [2]:83
Strategi dakwah merupakan suatu proses yang mengatur, mengarahkan, serta menentukan cara dan upaya apa yang dapat menghadapi sasaran dakwah pada situasi ataupun kondisi tertentu agar bisa menjadi tujuan dan sasaran dakwah yang tercapai secara maksimal (Syamsul Munir Amin;2008:165). Bentuk nyata strategi dakwah yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam saat di Madinah yaitu dengan membangun masjid sebagai pusat kegiatan dakwah, melakukan perjanjian dengan kaum Yahudi Madinah yang mana berisikan tentang memperkuat posisi kaum muslimin dari gangguan penduduk asli, Yahudi maupun bangsa Arab.
Selanjutnya mempersaudarakan kaum Muhajirin dan anshor yang mana Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menganjurkan kepada kaum Muhajirin dan Anshar untuk saling bersaudara dan menentang keras akan adanya kesukuan, bentuk strategi dakwah yang dibangun oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang terakhir yakni membangun ekonomi rakyat dengan mendirikan pasar di mana pasar ini dijadikan untuk sarana berdakwah yang pada umumnya pasar adalah tempat ramai para masyarakat atau kaum berkumpul untuk mencari kebutuhan atau keperluan.
Dakwah adalah upaya untuk mengubah perspektif orang dari yang buruk ke yang baik. Dari kufur ke iman, dari kemiskinan ke kekayaan, dari perpecahan ke persatuan, dan dari kemaksiatan menuju ketaatan untuk menerima rahmat Tuhan (M.Qoddaruddin A. : 2019). Dakwah lebih menekankan pada inisiatif untuk meningkatkan motivasi daripada mempromosikan penghindaran tindakan yang dilarang oleh keyakinan agama. Perbuatan larangan suatu tindakan adalah tindakan hukum spasial. Dakwah dalam konteks sekarang bukan merupakan tindakan hukum, meskipun faktanya diakui bahwa dakwah dan hukum dapat hidup berdampingan.
Tujuan dakwah adalah untuk membuat Islam dikenal orang-orang pada tingkat individu dan sosial untuk membuat kasih sayang Islam dikenal oleh semua makhluk hidup sebagai "Rahmat Lil'alamen" (Pimay, 2005: 35-38). Agar kesinambungan ajaran Islam dan penganutnya dari generasi ke generasi tetap terjaga, dakwah dapat menjaga nilai-nilai Islam di kalangan umat Islam dari satu generasi ke generasi berikutnya. Fungsi dakwah lainnya adalah fungsi korektif, yang melibatkan meluruskan nilai-nilai yang bengkok, menghentikan kejahatan, dan menyelamatkan manusia dari kegelapan spiritual (Sayyid Quthub :1991).
Metode dalam menyampaikan dakwah Islam dapat dilakukan dengan tiga pendekatan, yaitu lisan, tulisan, dan perbuatan. Pendekatan bil lisan adalah dakwah yang berfokus pada kemapuan lisan. Pendekatan bil-risalah adalah dakwah melalui tulisan seperti buku, brosur, atau media elektronik. Selanjutnya dakwah dengan metode bil-hal yaitu dakwah yang berfokus pada aksi atau kreativitas perilaku da’i secara luas (perbuatan nyata).
Da'wah bil hal juga dikenal sebagai dakwah bil Qudwah, yang mengacu pada dakwah yang sebenarnya melalui penggunaan Akhlaq Karimah. Menurut Buya Hamka, yang menyatakan bahwa "Akhlaq adalah sebagai alat dakwah, yaitu etika pikiran yang dapat dilihat orang, bukan dalam ucapan tulisan yang manis dan menarik tetapi dengan etika yang baik. luhur," ini sesuai dengan pernyataan (Suisyanto : 2002)
Efek globalisasi di dunia dakwah adalah pengalaman yang sangat dirasakan karena kita memahami pentingnya. Semua Muslim memiliki tanggung jawab untuk melakukannya, terutama mereka yang memiliki pengetahuan tentang Islam. Sampai sekarang, lebih banyak dakwah telah dilakukan dengan menggunakan strategi lisan yang mencakup lebih banyak elemen kognitif.
Sesuai dengan pergeseran sosial selama periode reformasi saat ini, di mana pidato lisan kadang-kadang berjumlah sedikit lebih dari hiasan bibir lipstik karena tidak ada bukti nyata, Oleh karena itu, dakwah perlu dilakukan dengan contoh positif untuk mendukung proses reformasi. Sangat penting bagi dakwah untuk memainkan peran positif menyiratkan bahwa fokus pada sikap perilaku afektif ditempatkan pada amal nyata serta aspek lisan, lebih tulus, dan kurang mendalam. Ini menunjukkan bahwa seruan hadir. Dakwah lisan juga diimbangi dengan sedekah konkret yang dapat diamati secara empiris dan dapat digunakan untuk memobilisasi kesadaran tujuan dakwah. Untuk melakukan itu, seseorang harus mempertimbangkan bagaimana gaya dakwah bil-hal dapat mengatasi masalah ini.
Menurut Manual Dakwah (Harun, 10-14), dakwah bil-hal mencakup semua hal yang berkaitan dengan kebutuhan manusia, terutama yang berhubungan dengan kebutuhan material, fisik, dan ekonomi. Ini menempatkan fokus yang lebih besar pada pertumbuhan pribadi dan kesejahteraan masyarakat untuk meningkatkan standar hidup Anda sesuai dengan doktrin Islam.
Pengembangan kegiatan dakwah dapat berupa: 1) kegiatan transmigrasi, 2) pelaksanaan pendidikan masyarakat, 3) kegiatan koperasi, 4) perbaikan gizi masyarakat, 5) pelaksanaan usaha kesehatan masyarakat, seperti rumah sakit, 6) penciptaan lapangan kerja, 7) pelaksanaan panti asuhan, dan 8) peningkatan pemanfaatan media komunikasi dan seni budaya. Untuk mencapai hasil yang diinginkan, Nabi Muhammad (saw) menggunakan dakwah bil hal di bidang amal.
Dakwah menunjukan akan adanya organisasi dakwah untuk menjalankan fardhu kifayah disebut dakwah dan juga pelaksanaan dakwah perorangan terhadap hubungan dan juga kriteria disebut tabligh. Perlunya memiliki sikap berbagi antar sesama merupakan salah satu perilaku yang sangat baik diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Yang mana dapat membangun kesadaran pada masyarakat untuk berbagi pada sesama untuk bisa membantu walaupun hal tersebut tidak mudah untuk dijalankan, dilihat dari masih sedikit yang memiliki kesadaran untuk berbagi pada sesama manusia.
Dalam hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi organisasi yang ada di Indonesia yang mana perlu memberikan pemahaman kepada masyarakat akan pentingnya berbagi dengan sesama, salah satu organisasi yang berperan dalam konsentrasi berbagi yaitu perguruan Persaudaraan Setia Hati Winongo dalam program berbagi sayur gratis. Kegiatan berbagi sayur gratis ini berawal dari mewabahnya virus Covid-19. Organisai PSHW di Desa Duyung ini termotivasi untuk mengadakan kegiatan berbagi sayur gratis karena melihat kondisi masyarakat yang terkena dampak dari virus Covid-19 dengan maksud membantu sedikit kebutuhan pangan masyarakat.
Berdasarkan latar belakang di atas maka akan muncul masalah di mana peran perguruan Persaudaraan Setia Hati Winongo di kabupaten Magetan dalam menerapkan nilai-nilai dakwah bil hal melalui program berbagi sayur gratis. Dalam hal ini penulis melakukan penelitian lebih lanjut terhadap program berbagi sayur gratis dengan judul: “Strategi Dakwah Bil Hal berbagi sayur gratis oleh perguruan silat Persaudaraan Setia Hati Winongo di Kabupaten Magetan Jawa Timur”.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini dilaksanakan di Desa Duyung Kecamatan Takeran Kabupaten Magetan Provinsi Jawa Timur Indonesia. Alasan memilih tempat ini dengan pertimbangan bahwa peneliti tertarik dengan program kegiatan berbagi sayur gratis oleh organisasi Persaudaraan Setia Hati Winongo. Waktu penelitian dilaksanakan pada 28 Mei 2023.
Teknik pendekatan kualitatif digunakan dalam penelitian ini, yang memungkinkan untuk produksi data deskriptif selanjutnya dalam bentuk kata-kata dan tulisan serta perilaku yang ditemukan melalui pengamatan subjek penelitian (Sugiyono, 2017). Peneliti menggunakan strategi ini karena tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan penyebab di balik penyelenggaraan acara berbagi sayuran gratis.
Berbeda dengan penelitian kuantitatif, temuan penelitian kualitatif dikumpulkan dengan menggunakan teknik wawancara, dokumentasi, studi kasus, dan metode lain daripada dengan prosedur statistik atau jenis perhitungan lainnya. penelitian kualitatif semacam ini disebut fenomenologi kualitatif, sebuah atau metode yang menekankan filsafat untuk menyelidiki pengalaman peserta penelitian. Fenomenologi diartikan sebagai cara berpikir yang menggunakan tahapan-tahapan yang dilakukan secara rasional, kritis, dan tidak didasarkan pada spekulasi bias belaka untuk menghasilkan informasi baru atau mengembangkan pengetahuan yang ada.
Data dapat dikumpulkan dengan dua cara: melalui metode pengumpulan data primer, dan melalui data sekunder. Data primer merupakan sumber data penelitian yang diterima langsung dari sumber asal, tanpa menggunakan perantara, menurut Nur Indrianto dan Bambang Supomo (2013: 142). Organisasi Persaudaraan Setia Hati Winongo, yang menawarkan acara berbagi sayuran gratis, dihubungi untuk penelitian pengumpulan data utama proyek menggunakan metodologi wawancara langsung.
Data sekunder merupakan sumber data penelitian yang diterima peneliti secara tidak langsung melalui perantara (diperoleh dan didokumentasikan oleh pihak lain), menurut Nur Indrianto dan Bambang Supomo (2013-143). Untuk memeriksa laporan, tujuan penelitian ini adalah untuk meninjau literatur. Literatur dan buku domuken yang relevan dengan penelitian ini dan dapat mendukung penelitian ini merupakan contoh sumber data sekunder yang memiliki sifat pendukung bagi proses penelitian dan memenuhi kebutuhan data primer.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Apa Itu Persaudaraan Setia Hati Winongo (PSHW)?
Pada tahun 1903 Ki Ngabehi Soerodwirdjo mendirikan perguruan pencak silat yang diberi nama Sedulur Tunggal Kecer atau STK yang bertempat diDesa Tambak Gringsing, Kota Surabaya. setelah itu pada tahun 1966 berdirilah Perguruan Setia Hati Winongo yang didirikan oleh Bapak Raden Djimat Hendro Soewarno yang merupakan murid kesayangan dari Ki Ngabehi Soerodwirdjo. Persaudaraan Setia Hati Winongo berada di Desa Duyung, Kecamatan Mangunharjo, Kota Madiun, nama persaudaraan pencak silat tersebuut diambil dari nama Desa letak didirikannya. Awal berdiri perguruan pencak silat ini diajarkan pelajaran pencak silat yang berasal dari para pendekar terkenal pada zaman Ki Ngabehi Soerodwordjo, Sasaran utama perguruan ini pada saat itu merupakan generasi-generasi muda. Dalam mencari generasi baru pada saat itu Persaudaraan Setia Hati Winongo menamai dengan “Tunas Muda”, yang memiliki arti “Setia hati yang akan bersinar Kembali” dimana Gerakan tunas muda tersebut pertama kali populer dan digunakan pada berdirinya Persaudaraan Setia Hati Winongo, yang mana diharapkan generasi muda dapat menjadi penerus yang berguna bagi kepentingan bangsa dan negara.
Pada saat penerimaan anggota baru Tunas Muda Winongo harus diadakannya pengesahan terlebih dahulu dengan adanya pengesahan maka akan resmi menjadi warga atau anggota baru. Tidak hanya itu ilmu-ilmu setia hati hanya boleh diketahui oleh warga yang telah diresmikan dan dilarang bagi warganya untuk mengajarkan kepada selain warga. Adanya pelajaran tingkat lanjut mau diikuti atau tidak itu tergantung kesadaran dari warga dari Setia Hati winongo tersebut, karena dalam mengikuti peruguruan ini tidak ada unsur paksaan. Persaudaraan Setia Hati Winongo selain berada di Madiun, tidak pernah membuka cabang perguruan pencak silat dimanapun, kalaupun ada kemungkinan itu hanya dijadikan tempat berlatih ataupun juga kunjungan silaturahmi. Seseorang yang ingin bergabung pada perguruan ini baik dari luar madiun atau bahkan mancanegara tetap saja saat pengesahan dilakukan dimadiun, karena sebagai pusat awal berdirinya perguruan setia hati winongo. Hal tersebuut dilakukan agar tetap menjaga kemurnian aliran setia hati winongo dan karena hal ini juga yang mana menjadikan ikatan persaudaraan dalam perguruan ini sangat kuat antara satu warga dengan yang lain.
Ajaran dasar mengeai kesetia hatian yang sangat erat dalam Persaudaraan Setia Hati Winongo, anggota yang baru masuk harus segera disahkan sebagai Warga agar ikatan emosional dan fisik yang bersangkutan dengan perguruan tidak terlepas, dari adanya ini menjadikan momen-momen yang mengikat solidaritas atau dapat menumbuhkan rasa kekompakan dengan seiring berjalannya proses pengesahan sehari semalam yang mana dapat membentuk kuatnya ikatan persaudaraan dan kesetiaan. Persaudaraan setia hati yang mana memiliki arti “satu rasa, satu jiwa, untuk saudara”, maka selain mengamalkan seni bela diri menggabungkan antara bela diri dengan peragakan seni tarinya, dalam Persaudaraan Setia Hati Winongo.
Para peneliti telah menemukan bahwa mayoritas penganut Winongo Setia Hati mengikuti Persaudaraan Pencak Silat, lebih menyukai kekerabatan antara penganut Winongo Setia Hati daripada praktik seni bela diri, dengan tujuan menjalin ikatan persahabatan yang kuat untuk mencapai tingkat fanatisme yang sangat tinggi antara penganutnya dan Persaudaraan Hati Setia Winongo itu sendiri, serta membangun harga diri untuk selalu dihormati dan disegani dalam kehidupan bermasyarakat.
Kegiatan Berbagi Sayur Gratis Perguruan Setia Hati Winongo di Kabupaten Magetan Jawa Timur
Pada saat adanya pandemic Covid-19 banyaknya masyarakat yang kesulitan sebab tidak diperbolehkannya keluar untuk beraktivitas yang mengakibatkan kondisi ekonomi mereka terpuruk. Pentingnya memiliki rasa peduli terhadap sesama untuk bisa saling membantu satu dengan yang lain. Menurut Hurlock (1980) Seseorang yang tindakannya bermanfaat bagi orang lain akan merasa sangat berarti di lingkungan mereka dan memiliki konsep diri yang positif atau ke atas. Namun, konsep diri seseorang akan condong negatif atau turun jika mereka percaya bahwa apa yang mereka kontribusikan kepada lingkungan mereka tidak ada artinya. Ketika orang terhubung dengan cara yang bermanfaat satu sama lain, mereka dapat memperoleh pengalaman yang mengubah cara mereka memandang diri mereka sendiri.
Adanya pandemic Covid-19 yang mana dapat menumbuhkan rasa keperdulian antar sesama karena mengupayakan agar dampak yang terjadi tidak parah. Sepertinya halnya yang dilakukan oleh Persaudaraan Setia Hati Winongo dikabupaten Magetan Jawa Timur. Yang mana tercetuskannya ide ini karena atas kesadaran sikap tolong menolong pada diri mereka masing-masing, dan mereka juga melihat pada daerah-daerah sekitar yang menerapkan hal ini lalu dimusyawarahkan dan dapat terealisasikan pada tahun 2020 yang mana masih berjalan hingga tahun 2023. Dalam kegiatan ini tidak adanya maksud ataupun tujuan lain selain ingin membantu masyarakat sekitar karena dampak dari pandemic covid-19 ini. Sebelum adanya pandemic Covid-19 Persaudaraan Setia Hati Winongo ini juga memiliki kegiatan-kegiatan lain seperti membersikan masjid yang ada dilingkungan sekitar, memotong rumput yang mana dapat bermanfaat juga untuk lingkungan sekitar.
Untuk anggota dari kegiatan ini yang kebanyakan dari anak sekolah yang lama kelamaan mulai berkurang karena berjalannya waktu anak sekolah mulai mengikuti KBM. Awal dimulainya kegiatan ini menggunakan uang kas dari Persaudaraan Setia Hati Winongo dan juga keikhlasan dari setiap anggota, lalu seiring berjalannya waktu jalan untuk mencari donator, setelah itu banyak donator yang tau dan ikut berpartisipasi mulai dari sayuran atau bahan pangan dan ada juga yang menitipkan uang untuk dibelanjakan sayur, tidak sampai disitu saja jika ada kekurangan itu akan ada sumbangan seikhlasnya bagi para anggota. Untuk sayur yang dibagikan sendiri berupa bahan mentah yang awalnya hanya dibudget lima ribu rupiah perkantong lama kelamaan bisa bertambah karena banyaknya donator yang datang. Pada umumnya setiap kegiatan memang ada struktur kepanitiaan, akan tetapi untuk kegiatan ini karena berniat ikhlas dari hati ntuk menolong sesame jadi semua bertanggung jawab mengetuai diri sendiri dalam kegiatan ini.
Beradasarkan wawancara yang penulis lakukan bahwa peminat dari sayur gratis ini hanya warga sekitar yang jumlahnya juga sudah lumayan banyak, misalkan ada pengendara yang melitas jika memang minat memang dipersilahkan walaupn bukan warga sekitar. Dikarenakan kegiatan ini memang dengan tujuan membantu sesama, tidak ada pengecualian untuk penerima dipersilahkan. Para anggota pun tidak hanya meletakkan satuyuran lalu pergi tetapi juga menawarkan agar semua bisa habis dan tidak mubazir. Kegiatan ini dilakukan pada jum’at pagi, yang mana tidak ada waktu pasti kapan jam pelaksanaan karena jika semua sudah selesai disiapkan maka para warga pun sudah antri.
Sumber : foto dari panitia
Sumber: foto dari panitia
Respon Masyarakat Terhadap Kegiatan Berbagi Sayur Gratis
Berdasarkan wawancara yang telah dilakukan kepada masyarakat Desa Duyung Kecamatan Takeran Kabupaten Magetan Jawa Timur, banyak respon dari masyarakat. Disini penulis akan menyebutkan beberapa narasumber. Pertama, yaitu wawancara kepada ibu Yuli salah satu warga penerima sayur gratis. Menurut penuturan beliau dengan adanya kegiatan berbagi sayur gratis tersebut sangat membantu keadaan ekonomi keluarga beliau dalam hal pangan. (Wawancara, 5 Juni 2023).
Kedua, wawancara kepada Ibu Siti selaku pemasok tahu pada kegiatan berbagi sayur gratis tersebut. Menurut penuturan beliau kegiatan tersebut membantu beliau dalam menyalurkan sedekah kepada masyarakat dalam bentuk uang maupun bahan pangan. Sedekah bukan di nilai seberapa banyak tetapi ke ikhlasan hati untuk membantu sesama. (Wawancara, 5 Juni 2023).
Ketiga, wawancara kepada Bapak Agus selaku salah satu panitia yang mengadakan kegiatan berbagi sayur gratis. Menurut penuturan beliau, kegiatan tersebut pada dasarnya adalah membantu masyarakat dalam memenuhi kebutuhan ekonomi dalam bidang pangan. Uang yang digunakan untuk menjalankan kegiatan ini awalnya dari kas organisasi, namu seiring berjalanya waktu bagi siapapun yang ingin berbagi dengan ikhlas bisa ikut bersedekah. (Wawancara, 28 Mei 2023)
Metode Dakwah Bil Hal
Kata "dakwah" dikatakan berasal dari bahasa Arab "( )" (Shodiqin, 2011; Asror, 2018; Enjang, et al., 2009), yang berarti mengundang, memanggil, melayani, dan memanggil. Istilah "dakwah" juga digunakan dalam sumber-sumber lain untuk merujuk pada berbagai hal, termasuk: 1) propaganda dan penyiaran; 2) panggilan untuk merangkul, mengkaji, dan mengikuti ajaran Islam; dan 3) tumbuhnya agama di masyarakat. Irawan dan Suriadi (2019) menegaskan bahwa kata-kata lain, seperti tabligh, tabsyir indzhar, amar ma'ruf dan nahi munkar, mauidzoh hasanah, tarbiyah, ta'lim, wasyiyah, dan khotbah, juga dapat digunakan untuk memahami kata "dakwah".
Tujuan dakwah, di sisi lain, adalah untuk meningkatkan status umat di semua bidang kehidupan dengan mengintegrasikan ajaran Islam ke dalam kehidupan sehari-hari, termasuk kehidupan pribadi, keluarga, dan komunitas seseorang (Mulkan, 1993). Apabila terdapat interaksi antara berbagai faktor yang saling mempengaruhi seperti yang ditunjukkan pada pembahasan sebelumnya, antara lain: pesan dakwah, mad'u, lingkungan, lingkungan, dan sarana/media dakwah, maka tujuan dakwah dapat terwujud dengan tepat (Attabik, 2014; Maghfiroh, 2016).
Fungsi dakwah sebagai media pembinaan dan pengembangan, menurut Asmuni Syukir dalam Asror (2018), dapat terwujudkan secara optimal jika semua unsur terpenuhi. Pembinaan dalam dakwah berarti mempertahankan dan menyempurnakan suatu hal yang telah ada sebelumnya, sedangkan pengembangan berarti mengadakan atau membaharui suatu hal yang belum ada sebelumnya.
Secara harfiah, dakwah bil-hal mengacu pada penyebaran prinsip-prinsip Islam melalui perbuatan. Definisi dakwah bil-hal yang diberikan oleh Rasyid et al. dalam Sagir (2015) adalah upaya untuk mendorong orang dan kelompok untuk mengembangkan diri dan masyarakat dalam rangka mewujudkan tatanan dan kebutuhan sosial ekonomi yang lebih baik sesuai dengan tuntunan Islam tentang isu-isu sosial seperti kemiskinan, keterbelakangan, dan kebodohan.
Strategi dakwah bil-hal adalah cara untuk menyebarkan nilai-nilai agama melalui tindakan suri tauladan. Ini dilakukan untuk memastikan bahwa si penerima dakwah tidak akan mengikuti jejak si da'i sebagai juru dakwah. Dengan demikian, tidak hanya penyebaran pengetahuan tetapi juga penyebaran nilai-nilai, yang dimaksudkan untuk menjadi dakwah efektif dan efisien bagi mereka yang menerimanya (Zakiyyah & Haqq, 2018).
Strategi dakwah bil-hal adalah cara untuk menyebarkan nilai-nilai agama melalui tindakan suri tauladan. Ini dilakukan untuk memastikan bahwa si penerima dakwah tidak akan mengikuti jejak si da'i sebagai juru dakwah. Dengan demikian, tidak hanya penyebaran pengetahuan tetapi juga penyebaran nilai-nilai, yang dimaksudkan untuk menjadi dakwah efektif dan efisien bagi mereka yang menerimanya (Zakiyyah & Haqq, 2018).
Metode dakwah bil hal ini berkaitan dengan penelitian ini. Kegiatan berbagi sayur gratis di hari jumat yang diselenggarakan oleh organisasi Persaudaraan Setia Hati Winongo di Desa Duyung Kecamatan Takeran Kabupaten Magetan Jawa Timur. Kegiatan tersebut merupakan suatu bentuk dari merealisasikan metode dakwah bil hal dalam bidang ekonomi. Berdasarkan penjelasan di atas bahwa awal mula kegiatan ini diadakan yaitu marak nya virus Covid-19 yang berdampak pada masyarakat salah satu nya ekonomi yang menurun. Berawal dari rasa peduli organisasi ini terhadap kondisi masyarakat yang tidak bisa bekerja maka kegiatan ini akhirnya didirikan dan berjalan hingga tahun 2023 dengan maksud bersedekah membantu masyarakat dalam hal kebutuhan pangan. Hal ini merupakan suatu bentuk terealisasikanya metode dakwah bil hal.
Kesimpulan
Menurut pemaparan pembahasan penelitian di atas dapat diperoleh kesimpulan dengan adanya kegiatan berbagi sayur gratis di Magetan Desa Duyung Takeran, adapun pelaksana dari kegiatan tersebut yaitu organisasi Persaudaraan Setia Hati Winongo di Desa Duyung. Tujuan diadakanya kegiatan tersebut adalah semata-mata karena munculnya rasa kepedulian kepada masyarakat di masa pandemi Covid-19 di tahun 2020 dengan membantu sedikit kebutungan ekonomi berupa bahan pangan yang berlanjut hingga tahun 2023.
Adapun uang untuk mengadakan kegiatan ini awalnya diambilkan dari uang kas anggota organisasi Persaudaraan Setia Hati Winongo. Namun, seiiring berjalanya waktu bagi siapapun yang berkenan untuk sedekah dipersilahkan. Kegiatan ini juga sudah mendaptkan beberapa sponsor/pemasok berupa sayuran, tahu, bahkan uang yang nantinya akan dibelikan sayur untuk dibagikan. Pelaksanaan berbagi sayur gratis ini yaitu satu minggu satu kali pada hari jumat. Dimulai kisaran pukul 6 sampai pukul 7 biasanya sudah habis. Dalam sehari sayur yang dibagikan yaitu 50 sampai 100 kantong. Setiap satu kantong sayur di budget 5000 rupiah.
Kaitanya dalam hal berdakwah yaitu kegiatan tersebut masuk dalam kategori strategi dakwah bil hal atau dakwah dengan aksi langsung kepada masyarakat dalam bentuk membantu kebutuhan pangan. Hal ini bisa dijadikan suatu motivasi kepada kita semua, bahwa dalam berdakwah tidak hanya pemantapan dalam hal keimanan saja namun juga dalam bentuk dakwah bil hal yaitu dengan aksi terdahap kondisi masyarakat yang masih belum sejahtera di bidang ekonomi maupun di bidang pendidikan.
Daftar Pustaka
Abdullah, Muhammad Qadaruddin. Pengantar Ilmu Dakwah. Jakarta: Qiara Media, 2019.
Chosinawarotin, C., & Sudrajat, H. (2021, October). Sayur Berkah di Masa Pandemi. In Prosiding Seminar Nasional Pengabdian Masyarakat Universitas Ma Chung (Vol. 1, pp. 75-81).
Fadilah, A. (2011). Pengaruh penggunaan alat komunikasi handphone (hp) terhadap aktivitas belajar siswa SMP negeri 66 Jakarta Selatan.
A.Kadir Sobur, Tauhid Teologis, (Jakarta: Gaung Persada Press Group 2013), hlm. 5
Khaerunnisa, N. (2021, December). Efektivitas Dakwah Bil-Hal Melalui Gerakan Infaq Beras Bengkayang di Kecamatan Bengkayang. In Bandung Conference Series: Islamic Broadcast Communication (Vol. 1, No. 1, pp. 28-31).
Kholis, N., Mudhofi, M., Hamid, N., & Aroyandin, E. N. (2021). Dakwah Bil-Hal Kiai sebagai Upaya Pemberdayaan Santri (Action Da'wah by the Kiai as an Effort to Empower Students). Jurnal Dakwah Risalah, 32(1), 112-129.
Mahanani, S. (2019). Efektivitas Kegiatan Jimpitan dalam Meningkatkan Kepedulian Sosial Masyarakat di Desa Karanglo Kidul Kecamatan Jambon Kabupaten Ponorogo (Doctoral dissertation, IAIN PONOROGO).
Martanti, D. E., Hartono, N. R., & Sunarsasi, S. (2021). FENOMENOLOGI “SAYUR GANTUNG” MASYARAKAT BLITAR SEBAGAI UPAYA PENGURANGAN DAMPAK EKONOMI DI TENGAH COVID-19. AKUNTABILITAS: Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Ekonomi, 14(1), 40-41.
Mulkan, AM, 1993; “Paradigma Intelektual Muslim”, Yogyakarta, Si Press
Putra, I. D. G. U., & Rustika, I. M. (2015). Hubungan antara perilaku menolong dengan konsep diri pada remaja akhir yang menjadi anggota tim bantuan medis janar duta fakultas kedokteran universitas udayana. Jurnal Psikologi Udayana, 2(2), 198-205.
Shodiqin, Asep. (2011) Membingkai “Episteme” Ilmu Dakwah, Jurnal Ilmu Dakwah Vol.5 No 2
Sugiyono, F. X. (2017), Neraca pembayaran: Konsep, Metodologi dan Penerapan (Vol. 4). Pusat Pendidikan dan Studi Kebanksentralan (PPSK) Bank Indonesia.
Kegiatan ini merupakan kegiatan pengabdian masyarakat yang dilakukan di desa Sumberarum, Kecamatan Moyudan, Kabupaten Bantul, Kota Yogyakarta pada salah satu Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) yaitu UMKM Telur Asin DMN. Beberapa tahun yang lalu di Indonesia sempat mengalami krisis perekonomian yang disebabkan karena adanya pandemi COVID-19. Hal ini sangat berdampak bagi perekonomian masyarakat terutama pada sektor usaha kecil seperti UMKM. Setelah berbagai upaya dilakukan, sekarang perekonomian Indonesia sudah mulai pulih kembali salah satunya dengan adanya kemudahan dan keuntungan yang diperoleh oleh para pelaku UMKM melalui digital marketing. Tujuan kegiatan ini adalah untuk mengajarkan dan melatih para pelaku UMKM terutama pada UMKM Telur Asin DMN bagaimana cara memanfaatkan digital marketing untuk memperluas pemasaran produknya sehingga dapat meningkatkan pendapatan usahanya serta memiliki banyak konsumen dari dalam maupun luar daerah. Kegiatan ini dilakukan karena pelaku UMKM masih minim pengetahuan tentang digital marketing dan pemasaran yang masih menggunakan metode tradisional seperti dititipkan ke warung. Metode yang digunakan dalam kegiatan ini adalah survey, pembinaan, dan evaluasi. Kegiatan tersebut dilaksanakan dengan antusias yang positif dari UMKM Telur Asin DMN karena memiliki banyak manfaat bagi usahanya. Setelah dilaksanakannya kegiatan ini, diharapkan UMKM Telur Asin DMN dapat memperluas pemasarannya.
This community service activity aims to increase the knowledge of students participating in sports extracurriculars about developing physical fitness, regarding forms of physical fitness tests, and compiling menus for coaching physical fitness training. This activity was carried out at SMA Negeri 3 Sentani as an activity partner. The results of this activity show that: 1) sports extracurricular participants understand various aspects of physical fitness, 2) sports extracurricular participants are able to take a physical fitness test, and 3) sports extracurricular participants can design a physical fitness training menu. The monitoring and evaluation process is carried out through a pretest and posttest to measure students' knowledge of aspects of physical fitness, fitness tests, and exercise menus before and after activities are carried out. Based on the results of the pre-test and post-test, the average pre-test score was 7.5 and the post-test was 13.4. These results indicate an increase in student knowledge after participating in physical fitness development training in sports extracurriculars at SMA Negeri 3 Sentani.
Elderly prisoners are classified as a special vulnerable group because at that age they have decreased immunity and physical weakness so special treatment is needed. Correctional Institution must be able to fulfill the rights of elderly prisoners while they are serving their sentences. The purpose of this research is to find out the implementation of guidance for elderly prisoners and the obstacles faced by the Surabaya Class 1 Correctional Institution. The type of this study is empirical legal research. The results showed that the guidance for elderly prisoners at the Surabaya Class 1 Correctional Institution has not been running optimally.. This is due to budget constraints from the government, lack of human resources, insufficient infrastructure, the covid-19 pandemic, lack of support from the families of prisoners, and the difficulties of marketing the work products of prisoners. But with these obstacles, various kinds of efforts can be made to handle the problem
This research aims to provide reinforcement to the community so that they can further strengthen their faith, namely through the development of Islamic law on the Islamic jurisprudence of prayer with the Sanad. Bersanad prayer is an activity that begins with learning and deepening and understanding the meaning of fardu prayer both from the perspective of the Shari'a and from the essence. Prayer is the pillar of religion. Praying with a sanad does not mean that people have not had a sanad during their prayers. What is meant by bersanad prayer is that we try to connect our prayer practice to our teachers and the ulama who themselves got it from their teachers up to the prophet Muhammad SAW. We carried out this research by observing the people of Cermen village, Kedamean sub-district, Gresik district. The method used in this research is the PAR (Participatory Action Research) method. The stages of assisting the implementation of the PAR method in the Cermen village community use 3 stages, namely the preparation stage, implementation stage, and evaluation stage.
Based on the results of a survey which shows that Christian youths view church and spiritual activities as no longer attractive, such as prayer, worship, quiet time, reading the Bible and other spiritual activities. This causes Christian youth to experience an identity crisis, moral degradation and is easily influenced by today's juvenile delinquency. Even though they are important assets for the church, nation and state. This also happens to Christian youth at PPA GBT Kristus Ajaib Tulungagung and the reason is because they do not have a good spiritual life and even underestimate their spiritual development. This study used a qualitative field method with an observation and direct observation approach. So that the results of direct observation and observation can describe about attainment an overview of the research objectives, namely to provide a series and presentation of authentic data on the implementation of the application of Christian youth spirituality development at PPA GBT Kristus Ajaib Tulungagung using Donald S. Whitney's theory of Spirituality Development.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui manfaat bimbingan bagi siswa SD. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kepustakaan. Metode pengumpulan data yang digunakan yaitu membaca buku-buku, makalah atau artikel, majalah, jurnal, web (internet yan). Tujuan penelitian bimbingan Rohani bagi anak-anak ini adalah untuk meningkatkan pemahaman mereka tentang bagaimana pengajaran Rohani yang lebih melekat dalam pengenalan akan kasih Tuhan dan juga ajaran- ajaran yang benar didalam Alkitab. Didalam dunia pendidikan kurang lebih 25% penyamapain materi tentang Alkitab (pendidika agama kristen), karena kenapa? Dari jadwal yang telah di sediakan maka senin-sabtu belajar agama hanya 1 kali dalam seminggu. Dalam hal itu saya berinisiatif untuk mengadakan yang namaya pembinaan Rohani yang di ikuti oleh seluruh siswa/siswi yang beragama Kristen, dengan tujuan saya menyampaikan materi tersebut adalah agar mereka selalu ingat dan bisa memami yang namanya pengajar dalam Alkitab.
Banjir merupakan suatu peristiwa alam yang sering terjadi ketika musim penghujan. Di Mojokerto tepatnya di desa Tempuran terjadinya banjir diakibatkan oleh air sungai yang meluap dan kurangnya daerah resapan air di daerah Tempuran. Anak-anak merupakan korban yang paling rentan terkena dampak banjir ini akibat dari kurangnya edukasi tentang penyelamatan diri ketika bencana banjir tersebut terjadi. Maka edukasi sejak dini tentang mitigasi bencana banjir pada anak usia dini harus dikenalkan sebagai upaya menumbuhkan kesadaran siaga bencana sebagai upaya mengurangi resiko bencana. Tujuan penelitian ini untuk meningkatkan dan mendeskripsikan kemampuan berfikir logis mengenai mitigasi bencana banjir pada media pop up book untuk anak usia 5-6 tahun. Jenis penelitian ini menggunakan metode penelitian pengembangan atau R&D (Research and Development) dengan model pengembangan ADDIE. Desain uji produk pada peneitian ini menggunakan one group pretest dan posttest. Subjek penelitian ini menggunakan 30 anak di TK Negeri Pembina II Sooko Mojokerto. Teknik pengumpulan data menggunakan kuisoner dan observasi. Teknik analisis data pada penelitian ini menggunakan N-Gain. Hasil penilaian dari para ahli memperoleh 88,24% dari ahli media sedangkan dari ahli materi memperoleh skor sebesar 86,76%. Hasil efektifitas produk dari 30 anak sebesar 0,74 yaitu g ≥ 0,7 yang berarti nilai N-Gain yang diperoleh lebih besar sehingga media dinyatakan layak dan berpengaruh dalam memberikan pengetahuan mitgasi bencana banjir pada anak usia 5-6 tahun.