Publication Search

70,604 articles from 612 journals · 1,760 citations tracked

Showing 221-236 of 236

Analytics

Libriyanti, Yuyun

Abstrak Penyelenggaraan pendidikan agama sudah sewajarnya didasari pada pemenuhan hak peserta didik untuk mendapatkan pendidikan agama sesuai agamanya masing-masing. Pemenuhan hak peserta didik dalam mendapatkan pendidikan agama mengalami sejarah panjang dalam potret pendidikan agama di Indonesia. Memahami urgensi penyelenggaraan pendidikan menjadi hal utama dalam rangka memenuhi hak peserta didik untuk memperoleh pendidikan agama. Dengan merumuskan aksesibilitas pendidikan agama diharapkan pemenuhan hak peserta didik dalam mendapatkan pendidikan agama sesuai agamanya dapat dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Ketersediaan pendidik, penyelenggaraan pendidikan agama serta pemenuhan sarana dan prasarana merupakan indikator kunci dalam memastikan aksesibilitas pendidikan agama telah terpenuhi.   Abstrack The implementation of religious education is naturally based on fulfilling the rights of students to get religious education according to their respective religions. Fulfillment of the rights of students in getting religious education experiences a long history in the portrait of religious education in Indonesia. Understanding the urgency of organizing education is the main thing in order to fulfill the rights of students to obtain religious education. By formulating the accessibility of religious education, it is expected that the fulfillment of the rights of students to obtain religious education in accordance with their religion can be carried out in accordance with applicable laws and regulations. The availability of educators, the organization of religious education and the fulfillment of facilities and infrastructure are key indicators in ensuring the accessibility of religious education has been met.

Fredyarini Soedjiwo, Novena Ade

Pembelajaran bahasa Inggris yang merupakan pelajaran wajib dan harus diikiti dari jenjang sekolah dasar hingga perguruan tinggi sesuai kurikulum yang berlaku di Indosesia saat ini. Persoalan yang dihadapi dalam pembelajaran bahasa Inggris adalah sulitnya siswa menerima bahasa kedua yaitu bahasa Inggris dan pendidik yang bukan native speaker, sehingga terkadang pembelajaran yang disampaikan mengalami human error. Dalam mentransformasikan pembelajaran bahasa Inggris melalui media pembelajaran diharapkan mampu mengurangi kebosanan, sulit dalam memahami pembelajaran dan mengurangi human error. Metode dengan menggunakan media sebagai alat transformasi pembelajaran, salah satunya melalui permaianan, slide, dan gambar-gambar yang menarik. Melalui metode tersebut perubahan siswa dalam menerima pembelajaran lebih baik sesuai dengan indikator pada tiap-tiap tingkat pembelajaran. Selain iti siswa bergairah untuk belajar, dapat berinteraksi yang lebih langsung antara anak didik dengan lingkungan dan kenyataan dan semangat belajar sendiri-sendiri sesuai kemampuan dan minat masing-masing.

Nursyah Arifin, Haris

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hasil peningkatan  pemahaman tajwid hukum bacaan nun sukun tanwin siswa kelas VII  SMP Bintang Persada melalui teknik BBM Tahun Pelajaran 2017/2018. Penelitian tindakan kelas ini menggunakan metode BBM (Bermain, Berdiskusi dan Melantunkan) dengan cara bermain menggunakan alat permainan berbentuk “beberan” yang berisi pertanyaan-pertanyaan. Setelah menjawab pertanyaan dilanjutkan dengan berdiskusi dalam kelompok. Dalam akhir proses siswa melantunkan potongan ayat Al-Qur’an sesuai dengan teori tajwid yang sudah diperoleh sehingga proses penerimaan siswa terhadap pelajaran akan lebih menyenangkan. Penelitian ini merupakan PTK dengan 2 siklus melalui 4 tahapan yaitu perencanaan, tindakan, pengamatan dan refleksi. Penelitian dilakukan di SMP Bintang Persada. Subyek penelitian ini sebanyak 22 siswa. Hipotesis yang diajukan adalah jika metode BBM dapat digunakan dengan baik untuk meningkatkan pemahan siswa materi tajwid hukum bacaan nun sukun tanwin.Indikator keberhasilan 75% dengan KKM sebesar 70. Teknik pengumpulan data dengan observasi. teknik analisis data dengan rumus untuk mengetahui nilai rata-rata dan tingkat ketercapaian KKM. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata prestasi belajar pada siklus I sebesar 69,09 dan siklus II sebesar  77,72.

Rusmayani, Rusmayani

AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) profesionalisme guru PAI dalam pemanfaatan media pembelajaran, (2) kendala guru PAI dalam pemanfaatan media pembelajaran, (3). Upaya kepala sekolah dalam meningkatkan profesionalisme guru PAI dalam pemanfaatan media pembelajaran, dan (4) upaya guru PAI dalam meningkatkan profesionalismenya dalam pemanfaatan media pembelajaran. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kuantitatif. Subyek penelitian ini adalah guru-guru PAI di MA Al Ma’ruf Denpasar. Objek penelitian ini adalah profesionalisme guru PAI dalam pemanfaatan media pembelajaran. Metode pengumpulan data yang digunakan, ialah metode observasi, dokumentasi, wawancara, dan kuesioner/angket. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar observasi, wawancara tidak terstruktur, dan lembar kuesioner/angket. Data dianalisis dengan menggunakan model analisis deskriptif kuantitatif melalui tiga tahapan yaitu reduksi data, penyajian data, dan penyimpulan. Berdasarkan hasil penelitian menunjukan: 1) profesionalisme guru PAI dalam pemanfaatan media pembelajaran di MA Al Ma’ruf Denpasar dapat disimpulkan cukup profesional hal ini dapat dilihat dari sekitar 66,67% guru sudah cukup menguasai definisi, jenis dan manfaat media pembelajaran sedangkan sisanya sekitar 33,33% memiliki pengetahuan yang kurang terhadap definisi, jenis dan manfaat media pembelajaran, dalam pemanfaatan media pembelajaran, guru-guru MA Al Maruf memiliki keberagaman dalam hal intensitas penggunaan sumber belajar, 2) kendala yang dialami guru PAI dalam pemanfaatan media pembelajaran adalah kurangnya tersedianya media pembelajaran yang dapat digunakan guru PAI di sekolah, kurangnya alokasi waktu untuk mata pelajaran PAI, guru kurang kreatif dalam menyajikan materi pembelajaran dengan menggunakan media pembelajaran elektronik, kurangnya pemahaman guru PAI mengenai keanekaragaman media pembelajaran yang bisa digunakan dalam proses pembelajaran, dan tidak tersedianya tempat khusus untuk menyimpan dan merawat media pembelajaran, 3) upaya yang dilakukan Kepala Sekolah MA Al Ma’ruf dalam meningkatkan profesionalisme guru-guru PAI dalam hal pemanfaatan media pembelajaran adalah mengikutsertakan guru-guru PAI dalam penataran yang diselenggarakan nantinya oleh lembaga-lembaga pendidikan khususnya LPMP (Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan) Provinsi Bali, mendorong guru-guru PAI untuk memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi dalam proses pembelajaran, serta berupaya meningkatkan ketersediaan media pembelajaran baik dari pendanaan khusus dari sekolah maupun bantuan dari Kementerian Agama, dan 4) upaya yang dilakukan guru PAI untuk meningkatkan profesionalismenya dalam hal pemanfaatan media pembelajaran termasuk kategori cukup bagus, hal ini di lihat dari indikator prosentase membaca, diskusi, mengikuti kegiatan MGMP, mengikuti seminar. Hanya saja kurang dalam melakukan penelitian secara mandiri.

Eniyati, Sri; Santi, Rina Candra Noor; Retnowati, Retnowati; Mulyani, Sri; Martha, Khristma

Dinamik 2017 Universitas Stikubank

Smart City adalah skonsep tata kota yang mengoptimalkan teknologi informasi dan digital untuk meningkatkan kesejahteraan dan kebahagiaan masyarakat, serta meningkatkan layanan Pemerintah. Kota Pekalongan sedang berupaya untuk mempersiapkan diri dalam proses implementasi Smart City. Dalam referensi diketahui bahwa salah satu indikator kesiapan implementasi Smart City adalah Smart Governance, yang terdiri atasi empat indikator utama yaitu Participation in decision-making, public and social services, Transparent Governance, political strategies and perspectives. Dari keempat indikator tersebut diperjelas ke dalam indikator operasional yang lebih mudah diukur secara kuantitatif. Oleh sebab itu metode penelitian dipilih mix research methods karena data yang diperoleh dilakukan melalui cara kualitatif dengan wawancara kepada narasumber. Hasil data dikelola dan diolah menggunakan cara kuantitatif. Cara kuantitatif tersebut adalah metode Fuzzy Inference System (FIS) Mamdani. Dari keempat indikator utama diturunkan menjadi 21 variabel input Hasil yang diperoleh adalah tingkat kesiapan Kota Pekalongan dalam mengimplementasikan Smart City dari Perspektif Smart Governance adalah 1,5 (Sedang).

Hapsari, Aprina Nugrahesthy Sulistya; Sindu Santoso, Steven

Dinamika Akuntansi Keuangan dan Perbankan 2016 Faculty of Economic and Business Universitas STIKUBANK

The purpose of this research is to find out if the company which  paying big dividend have better earnings quality than companies that paying small or do not pay dividend. The number of data samples 87, from manufacturing companies specified consumer goods in year of 2011-2013. The result show that the company which  paying big dividend have better earnings quality and statistically significant. Keywords: Dividen, Kualitas Laba, Akrual

Wismarini, Th. Dwiati; Khristianto, Teguh

Dinamik 2016 Universitas Stikubank

Pemodelan spasial adalah representasi ataupun model spasial dari data yang digunakan danmerupakan penggambaran suatu bagian muka bumi. Pemodelan spasial dapat digunakan untukmenyelesaikan suatu masalah dari dunia nyata dan memodelkannya. Pemodelan ini terdiri dari berbagaivariabel yang dipetakan secara digital dan disesuaikan sistem proyeksi maupun koordinatnya denganmelibatkan aspek resolusi dan sistem klasifikasinya.Maka salah satu sarana bantuan yang sering digunakan untuk melakukan kegiatan dalam rangkamemperoleh gambaran situasi muka bumi atau informasi tentang ruang muka bumi yang diperlukan, yangdapat menjawab atau menyelesaikan suatu masalah yang terdapat dalam ruang muka bumi yangbersangkutan, diperlukanlah Sistem Informasi Geografis (SIG). Kegiatan tersebut merupakan rangkaiankegiatan yang meliputi mengumpulkan, menata, mengolah, menganalisis hingga menyajikan data/faktayang terdapat dalam ruang muka bumi yang kemudian sering disebut sebagai data/fakta geografis/spasial.Terungkap juga bahwa Sistem Informasi Geografis (SIG) terbukti mampu menyediakan informasi datageospasial untuk setiap objek di permukaan bumi secara cepat. Sekaligus juga mampu menyediakansistem analisa keruangan yang akurat.Maka dalam penelitian ini, yang mengharapkan dapat menghasilkan suatu visualisasi darizona/daerah rentan banjir di kota Semarang berikut informasi tingkat rentan pada masing-masing zonajuga informasi indikator-indikator banjirnya, dibutuhkan suatu pengolahan data spasial melalui prosesanalisa spasial untuk bisa mengintegrasikan data-data yang dibutuhkan, yang sifatnya lebih dari satu danmerupakan data komprehensif. Adapun proses analisa spasial ini akan mengimplementasikan prosessuperimpose yang dalam SIG dinamakan Overlay. Metode yang akan digunakan dalam Overlay yaitujoin-UNION dan join-INTERSECTION.Hasil dari penelitian ini adalah menghasilkan suatu pemodelan spasial baru yang akan menjadisebuah Peta Tematik Digital dan dinamakan Peta Tematik Zonasi Tingkat Rentan Banjir di KotaSemarang.

Rosyikhul F.S M Nango; Dewi Shinta Achmad; Tusaban Tusaban; Nur Jihan Fareranty Piu

Student Scientific Creativity Journal 2016 Pusat Riset dan Inovasi Nasional

Small pelagic fisheries play an important role in food security, coastal livelihoods, and local fishery economies in Indonesia. Sardinella fimbriata is one of the economically important small pelagic fish species widely utilized in coastal communities. However, increasing fishing pressure may alter population size structure and reduce reproductive sustainability. This study aimed to analyze the size structure, gonad maturity stage, and exploitation status of Sardinella fimbriata in Kwandang Waters, Tomini Bay, Indonesia. The research was conducted from August to November 2025 using a descriptive quantitative approach. A total of 1,560 fish samples collected from commercial landings were measured for total length and examined macroscopically for gonad maturity. Data were analyzed using length-frequency distribution, maturity proportion, and logistic regression to estimate length at first maturity (L₅₀). The results showed that fish length ranged from 8.0 to 19.9 cm and was dominated by the 12.0–15.9 cm size group, accounting for 75.45% of total samples. Immature gonads dominated the catch, representing 91.35% of individuals, while mature fish accounted for only 8.65%. Logistic regression estimated L₅₀ at 16.72 cm, whereas the average catch length was 13.56 cm with an Lc/L₅₀ ratio of 0.81. These findings indicate that most fish were captured before reaching reproductive maturity, suggesting growth overfishing conditions. The study highlights the importance of minimum catch size regulation, selective fishing gear, and routine biological monitoring to support sustainable management of small pelagic fisheries in Tomini Bay.

Budiarso, Zuly; Prihandono, Agung

Dinamik 2015 Universitas Stikubank

Perkembangan teknologi                digital secara umum menyebabkan berkembangnya industri elektronik sejalan dengan perkembangan sistem digital. Perubahan Sistem Analog menjadi Sistem Digital merupakan salah satu hal yang menjadi awal berkembangnya industri perangkat elektronik. Dengan berubahnya sistem analog menjadi sistem digital maka jenis perangkat yang digunakan.Sensor merupakan perangkat pendukung untuk mengubah besaran fisik menjadi besaran listrik. Secara umum semua sensor bekerja secara analog. Besaran yang dihasilkan oleh sensor adalah besaran analog, yaitu berupa arus listrik dengan nilai tegangan tertentu. Agar arus listrik yang dihasilkan sensor dapat diproses secara digital maka besaran tersebut harus diubah menjadi besaran digital.Mikrokontroler merupakan perangkat yang dapat mengolah sinyal digital. Sebuah perangkat yang bekerja secara analog dapat diubah dengan sistem digital dengan cara mengubah sinyal analog menjadi sinyal digital, kemudian mengolah sinyal digital dengan mikrokontroler. Dengan mengubah sinyal analog menjadi sinyal digital, maka semua proses yang ada dalam sistem digital dapat dilakukan. Proses yang dilakukan mikrokontroler dapat berupa sistem kontrol maupun mengubah besaran analog menjadi besaran digital.Sensor ultrasound Parallax merupakan sensor yang dapat digunakan untuk menentukan jarak sebuah tempat dengan suatu objek di tempat lain. Sensor ini menggunakan sinyal ultrasound untuk mendeteksi adanya objek didepan sensor. Sensor terdiri dari pembangkit gelombang dan penerima gelombang. Pada saat bekerja pembangkit gelombang akan memancarkan gelombang ke depan. Jika di depan sensor terdapat sebuah objek, maka gelombang akan dipantulkan oleh objek tersebut dan akan diterima oleh penerima pada sensor. Waktu tempuh gelombang dari sumber sampai dengan penerima merupakan waktu yang diperlukan untuk menempuh dua kali jarak benda dengan sensor. Sehingga waktu tempuh yang diperlukan merupakan setengah dari waktu tempuh gelombang. Kecepatan gelombang suara dalam udara adalah 445 m/detik. Dengan mengetahui waktu tempuh tersebut akan dapat diketahui jarak antara objek dengan sensor.Sinyal yang dihasilkan oleh sensor hanya berupa pulsa listrik dengan frekuensi tertentu. Parallax Ping merupakan seperangkat peralatan elektronik yang berupa sensor ultrasound, pengubah sinyal, dan pembangkit frekuensi. Sinyal dari sensor sudah diubah menjadi sinyal yang dapat diolah oleh mikrokontroler. Dengan mikrokontroler Arduino, sinyal tersebut dapat dijadikan sebagai masukan untuk mengubah nilai-nilai analog menjadi besaran digital. Dengan diubahnya besaran analog menjadi besaran digital maka semua proses digital dapat dilakukan pada sinyal tersebut diantaranya menampilkan hasil di LCD, mentriger indikator, masukan untuk sistem sinyal dan lain-lain.Dari hasil penelitian yang dilakukan dapat diketahui bahwa jarak terdekat objek yang dapat ditangkap adalah 2,34 cm dan jarak terjauh adalah 374 cm. Dengan kemampuan tersebut maka sensor parallax ping dapat digunakan untuk mengukur jarak resonansi bunyi.

Wismarini, Th. Dwiati; Sukur, Muji

Dinamik 2015 Universitas Stikubank

Daerah rentan banjir adalah daerah yang mudah atau mempunyai kecenderungan untuk terlanda banjir. Maka kawasan rentan banjir merupakan kawasan yang sering atau berpotensi tinggi mengalami bencana banjir. Daerah atau kawasan tersebut dapat diidentifikasi dengan menggunakan pendekatan geomorfologi khususnya aspek morfogenesa, karena kenampakan seperti teras sungai, tanggul alam, dataran banjir, rawa belakang, kipas aluvial, dan delta yang merupakan bentukan banjir yang berulang-ulang yang merupakan bentuk lahan detil yang mempunyai topografi datar, sesuai karakteristik penyebab banjir.Sedangkan tingkat kerentanan banjir dapat ditentukan berdasarkan paramater-parameter yang berpengaruh terhadap terjadinya banjir. Dari beberapa penelitian mengenai banjir, telah diketahui bahwa kondisi lahan seperti penutup lahan, topografi, dan geomorfologi juga curah hujan, sebagai salah satu unsur iklim yang utama adalah merupakan faktor-faktor berpengaruh dalam menentukan terjadinya banjir di Indonesia.Terungkap juga bahwa Sistem Informasi Geografis (SIG) terbukti mampu menyediakan informasi data geospasial untuk setiap objek di permukaan bumi secara cepat. Sekaligus juga mampu menyediakan sistem analisa keruangan yang akurat. Selain itu, siapapun dapat menggunakan informasi tersebut untuk mengantisipasi dampak bencana baik untuk respon darurat, pemulihan pasca bencana, penetapan strategi mitigasi bencana, ataupun perencanaan pembangunan berkelanjutan.Maka dalam penelitian ini diharapkan dapat menghasilkan ulasan contoh-contoh parameter, metoda dan tahapan langkah dalam penentuan tingkat kerentanan banjir secara geospasial. Dalam hal ini, parameter rentan banjir yang ditentukan berdasarkan aspek lingkungan, dapat diterapkan untuk data geospasial indikator banjir dan yang nantinya akan dibentuk berupa data yang komprehensif antara data spasial dan atributnya data non spasial. Kemudian penentuan tingkat kerentanan banjir menggunakan metoda Analisis Weighted Scorring dalam perhitungan penentuan tingkatan parameter-parameter rentan banjir dan Analisis Penentuan Tingkat Rentan Banjir, sehingga menghasilkan model klasifikasi tingkat rentan Banjir.Hasil akhir dari penelitian ini adalah menghasilkan suatu model klasifikasi tingkat rentan banjir yang terlihat implementasinya dalam model data tabel untuk data geospasial tingkat rentan banjir.

Wismarini, Dwiati; Sunardi, -; Anis, Yunus

Dinamik 2014 Universitas Stikubank

Klasifikasi sebagai aktivitas ilmiah yang dapat digunakan untuk mendeskripsikan, meringkas dan menyederhanakan data ke dalam suatu format yang diinginkan, apabila diterapkan untuk klasifikasi data, merupakan proses yang dapat menemukan properti-properti yang sama dalam himpunan obyek pada sebuah basisdata dan kemudian terklasifikasi menjadi kelas-kelas berbeda menurut model klasifikasi tertentu. Pada data raster dan vektor klasifikasi spasial merupakan pemetaan suatu besaran dari berbagai interval (domain) tertentu pada interval-interval lain berdasarkan batas-batas ataupun kategori yang telah ditentukan. Sedangkan kenampakan dari metode klasifikasi tersebut dapat dilakukan berdasarkan warna dan simbol. Berbantuan Sistem Informasi Geografis dan penerapan suatu metode klasifikasi spasial, pembangunan dan penyajian informasi Kelas pada data spasial bagi data indikator banjir dapatlah dilakukan sehingga informasi tersebut akan dapat menjadi lebih informatif. Melalui penelitian ini, metode klasifikasi spasial berbentuk reclassify vector, dicoba untuk diterapkan dengan menggunakan rumus Sturges dalam penentuan jumlah kelas dan rumus Kingma dalam pembuatan interval kelasnya. Sehingga hasil akhirnya akan terbentuk pemodelan spasial baru berupa peta digital yang dapat menyajikan informasi secara spasial kelas-kelas pada data indikator banjir.     Kata kunci : Klasifikasi Spasial,  data spasial,  peta digital, data indikator banjir

Budiarso, Zuly; Hadikurniawati, Wiwien; Prihandono, Agung

Dinamik 2014 Universitas Stikubank

Mikrokontroler yang mewakili suatu figur sistem kendali modern telah dikemas hanya dengan mengimplementasikan sebuah chip / rangkaian terpadu, yang kemudian berkembang hingga penggunaan memori dan processor beserta elemen pendukungnya seperti register, AT command, I/O system, dan lain sebagainya. Bahkan hingga pada saat ini, mikrokontroler telah dikemas dalam sebuah modul aktif kit. Perancang sebuah sistem kendali menjadi lebih tertantang dengan hadirnya kemampuan untuk programming, sehingga perancang dapat dengan lebih leluasa membuat bentuk maupun model sistem kendali. Kemampuan modul yang bervariasi dengan berbagai aksesorisnya yang siap pakaipun telah meningkatkan keinginan lebih lanjut dalam keberagaman modul berbasis ATMEL. Salah satu penerapan sistem kendali adalah sistem kendali digital terpadu pada generator sinyal XR-2206 dengan Arduino UNO R3 yang semula menggunakan sistem kontrol analog. Dengan adanya perubahan sistem kendali dari analog ke digital harus diketahui perangkat keras dan perangkat lunak yang diperlukan untuk menunjang kinerja sistem. Sistem kendali tersebut terdiri dari 3 (tiga) bagian pokok yang masing-masing mempunyai fungsi dan peranan yang berbeda-beda, yaitu Power Supply, Sistem Kendali dan Display. Power Supply berfungsi sebagai sumber tegangan, Sistem Kendali merupakan Arduino dan Display terdiri dari LED dan LCD. Power Suply, berfungsi sebagai sumber tegangan untuk seluruh rangkaian yaitu rangkaian generator sinyal XR-2206 (12 Volt), rangkaian kendali (6 volt), dan untuk Arduino (5 volt). Arduino merupakan bagian utama yang berfungsi sebagai pengendali generator sinyal XR-2206. Tugas dari sistem kendali adalah menghidupkan dan mematikan generator sinyal, mengatur jenis sinyal keluaran, mengatur tegangan dan frekuensi sinyal keluaran dan mengatur tampilan pada indikator LED dan LCD Display. Dengan adanya perubahan sistem kendali dari analog ke digital akan diperoleh beberapa keuntungan diantaranya adalah kemudahan dalam mengoperasikan generator sinyal, akurasi besaran lebih tepat, pengembangan sistem kendali lebih mudah.   Kata kunci: Arduino, mikrokontroler, sistem kendali

Listiyono, Hersatoto; Prasetyo, Agus; Supriyanto, Aji

Dinamik 2013 Universitas Stikubank

Selama ini penentuan tingkat kemiskinan penduduk menurut BPS ditentukan berdasarkan 14 indikator. Pendataan, pengolahan, dan penyajian informasi yang dilakukan selama ini masih tersentralisir oleh lembaga BPS dan belum melibatkan secara langsung pada lembaga lain. Hal ini tentunya memberikan dampak bahwa   pemerintah daerah hingga tingkat desa atau kelurahan hingga saat ini hanya menjadi objek saja. Dalam penelitan ini akan dilakukan peralihan peran dalam pendataan, pengolahan, dan penyajian informasi dilakukan oleh aparat desa atau kelurahan hingga RW dan RT untuk dapat memberikan hasil yang lebih akurat dan transparan pada setiap daerah, sehingga dapat dilakukan secara Bottom-Up untuk menyajiakn informasi tentang kemiskinan menurut indikator BPS dan pemberian program penanggulangan kemiskinan (PRONAKIS) kepada warga miskin. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah Action Research dengan teknik pengolahan data warga miskin menggunakan metode logika Fussy dan pengembanagn sistem informasi menggunakan metode System Developmen Life Cycle (SDLC). Hasil dari penelitian ini adalah menentukan status atau level kemiskinan warga yang didata pada suatu wilayah dan PRONAKIS yang sudah dijalankan pada suatu desa atau kelurahan kepada warganya. Informasi yang dihasilkan dapat digunakan sebagai pengambilan kebijakan tetang program pengentasan kemiskinan disuatu daerah.   Kata Kunci : Kemiskinan, informasi, BPS, pronakis.

Utomo, Agus Prasetyo; Murti, Hari; Rejeki, Rara Sri Artati

Dinamik 2013 Universitas Stikubank

Program studi perlu melakukan monitoring dan pengukuran secara terus-menerus  terhadap kinerjanya untuk memastikan ketercapaian tujuan yang telah ditetapkan.  Proses monitoring kinerja memerlukan data dan informasi yang diambil dari  seluruh bagian organisasi. Hasil monitoring kinerja selanjutnya akan disampaikan kepada pihak-pihak yang berkepentingan, secara efisien dan efektif. Performance Dashboard merupakan alat untuk menyajikan informasi secara sekilas . Dashboard  menginformasikan  Key Performance Indicators (KPI) dengan menggunakan media penyajian yang efektif. KPI yang digunakan dalam pembangunan Performance Dasboard  program studi ini seluruhnya menggunakan instrumen dari Badan Akreditasi Nasional (BAN) perguruan tinggi. Metodologi yang digunakan dapat diterapkan dengan baik pada studi kasus mengenai pembangunan dashboard untuk menunjang upaya penjaminan mutu program studi di lingkungan Universitas Stikubank Semarang. Penelitian ini lebih menitikberatkan bagaimana  aplikasi ini bisa memberikan kemudahan informasi terhadap  pengelola program studi, fakultas maupun pihak universitas terhadap capaian mutu dari program studi sarjana. Kata kunci : Performance Dashboard, Key Performance Indikator, Badan Akreditasi Nasional (BAN) Perguruan Tinggi.

Wismarini, Th.Dwiati; Ningsih, Dewi Handayani Untari

Dinamik 2011 Universitas Stikubank

Perhitungan debit air dilakukan untuk mengetahui laju aliran puncak pada Sistem Drainase . Metode yang digunakan untuk memperkirakan laju aliran puncak (debit banjir) adalah metode Rasional, dimana metode ini umum dipakai karena sangat simpel dan mudah penggunaannya, namun penggunaannya terbatas untuk DAS-DAS dengan ukuran kecil, yaitu kurang dari 300 ha. Analisis  intensitas seragam dan merata di seluruh DAS selama paling sedikit sama dengan waktu konsentrasi (tc) DAS.  Beberapa metode untuk memperkirakan laju aliran puncak (debit banjir) , lebih banyak ditentukan oleh ketersediaan data. Data yang digunakan sebagai indikator menentukan wilayah yang berpotensi rawan banjir berdasarkan indikator, Debit Air DAS, Curah Hujan, Topografi,dan  penggunaan lahan. Analisa pada sistem drainase untuk menentukan wilayah yang berpotensi banjir dengan memanfaatkan aplikasi Sistem Informasi Geografi.

Utomo, Agus Prasetyo; Mariana, Novita

Dinamik 2011 Universitas Stikubank

Tata kelola TI atau IT (Information Technology) Governance merupakan struktur hubungan dan proses untuk mengarahkan dan mengendalikan organisasi untuk mencapai tujuannya dengan menambahkan nilai ketika menyeimbangkan risiko dibandingkan dengan TI dan prosesnya. Dalam penelitian ini dihasilkan suatu rekomendasi IT Governance yang merupakan pengembangan dari IT Governance yang sudah dilaksanakan oleh Institusi saat ini, namun saat ini proses IT Governance belum dilakukan secara menyeluruh. Rekomendasi IT Governance ini dibuat guna meningkatkan kinerja TI layanan akademik yang ada di UNISBANK, dimana aktivitas layanan akademik tersebut menjadi tanggung jawab kerja suatu biro yang bernama BAAK dan pengadaan dan pengelolaan TI yang ada  menjadi tanggung jawab suatu divisi yaitu P2ICT. Perancangan IT Governance dalam penelitian ini menggunakan kerangka kerja COBIT (Control Objective For Information and Related Technology) versi 4.0, Dalam penelitian ini hanya dibahas 2 domain dari 4 domain yang ada di COBIT dengan pembahasan dibatasi pada tingkat control process saja, tidak membahas aktivitas-aktivitas yang terdapat di setiap control process. Domain yang dipilih dalam penelitian ini untuk dibuatkan rekomendasi pengelolaan TI adalah domain Deliver and Support (DS), Monitor and Evaluate (ME). Dari pemetaan model maturity tersebut diperoleh bahwa tingkat maturity untuk DS mendidik dan melatih users berada pada level maturity 4 (diatur), sementara untuk DS mengelola data berada pada tingkat maturity 3 (ditetapkan), Domain untuk Monitor dan evaluasi kinerja TI berada tingkat maturity 3 (ditetapkan). Berdasarkan pemetaan maturity tersebut dirancang rekomendasi IT Governance untuk masing-masing control process agar tingkat maturity dari masing-masing control process tersebut bisa lebih baik. Berdasarkan visi, misi, tantangan masa depan, dan tingginya harapan manajemen UNISBANK terhadap proses IT COBIT, dapat disimpulkan untuk dapat mendukung pencapaian tujuan UNISBANK setidaknya tingkat maturity pengelolaan IT yang dilakukan harus berada pada tingkat 4 – diatur (managed) dimana proses di monitor dan diukur manggunakan indikator tertentu.