Publication Search

72,210 articles from 658 journals · 2,111 citations tracked

Showing 201-220 of 221

Analytics

Nur Muhibbah; Eka Falentina Tarigan; Adelina Sembiring

Jurnal Rumpun Ilmu Kesehatan 2022 Pusat Riset dan Inovasi Nasional

Berdasarkan data WHO tahun 2013 kejadian balita pendek atau biasa disebut dengan stunting merupakan salah satu masalah gizi yang dialami oleh balita di dunia saat ini. Pada tahun 2017 22,2% atau sekitar 150,8 juta balita di dunia mengalami stunting. Balita stunting di masa yang akan datang akan mengalami kesulitan dalam mencapai perkembangan fisik dan kognitif yang optimal. Berdasarkan rekap data e-PPGBM pertanggal 27 november 2019, dari 10.755 balita yang didata, terdapat sebnyak 1517 balita stunting di kabupaten aceh singkil, dari survey awal yang dilakukan penulis 10 dari 15 anak mengalami stuning atau bertumbuh pendek. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Faktor-Faktor Yang Memengaruhi Terjadinya Stunting Di Desa Tanjung Mas Kecamatan Simpang Kanan Kabupaten Aceh Singkil Tahun 2020. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh balita yang berkunjung pada posyandu didesa tanjung mas kecamatan simpang kanan pada bulan April – Juni Tahun 2020. Dalam penelitian ini jumlah populasi penulis yaitu 33 orang. Jumlah Sampel dalam Penelitian ini diambil secara total sampling yang berjumlah 33 orang. Hasil yang di peroleh dalam penelitian ini mayoritas responden berpendidikan SD memiliki anak yang tidak mengalami stunting yaitu sebanyak 12 (36, 4 %) dengan p value 0,001. Mayoritas responden yang memiliki pengetahuan yang baik memiliki anak yang tidak mengalami stunting yaitu sebanyak 15 (45,5 %) dengan p value 0,000. Mayoritas responden yang memberikan ASI Eksklusif memiliki anak yang tidak mengalami stunting yaitu sebanyak 22 (66,7 %) dengan p value 0,000. Mayoritas responden dengan pendapatan kategori tinggi memiliki anak yang tidak mengalami stunting yaitu sebanyak 22 (66,7 %) dengan p value 0,00. Diharapkan bagi kepala desa tanjung mas untuk memperhatikan anak yang mengalami stunting di Desa Tanjung Mas dan ikut serta dalam mencegah terjadinya stunting dengan Program kesehatan.  

Helly M. Katuuk; Sri Wahyuni; Berthina H. Korah

Jurnal Pengabdian Masyarakat Nusantara (Pengabmas Nusantara) 2022 Universitas Muhammadiyah Manado

Anak usia sekolah adalah anak dalam rentang 6 – 12 tahun memiliki kemampuan menghasilkan karya, berinteraksi dan berprestasi dalam belajar berdasarkan kemampuan diri sendiri. Hambatan atau kegagalan dalam mencapai kemampuan tugas perkembangan pada anak, dapat menyebabkan anak merasa rendah diri sehingga pada masa dewasa anak dapat mengalami hambatan dalam bersosialisasi (Keliat, Helena, dan Farida, 2011). Data yang didapatkan berdasarkan survey awal di wilayah kerja Puskesmas Kombos, yaitu ada 7 anak usia sekolah yang memiliki masalah dalam hal perkembangan baik secara fisik, psikis, dan sosial. Masalah perkembangan yang terjadi seperti kurangnya interaksi antara teman sebaya, secara kognitif dan sosial belum mampu bekerja secara berkelompok, dan kurangnya kemampuan dalam menghasilkan karya secara mandiri. Tujuan kegiatan ini untuk mengetahui efektifitas Terapi Kelompok Terapeutik terhadap peningkatan perkembangan Anak Usia Sekolah.. Metode pelaksanaan kegiatan dengan melakukan terapi kelompok yang bersifat terapeutik kepada anak usia sekolah di Kel. Kombos Barat, Kec. Singkil, Kota Manado, Sulawesi Utara. Ketecapaian tujuan pengabdian kepada masyarakat yakni dilihat dari hasil evaluasi, dimana terapi kelompok terapeutik efektif dalam meningkatkan perkembangan anak usia sekolah.dapat dilihat dari kemampuan peserta untuk saling memberikan komentar positif dan motivasi kepada sesama peserta.  

Margiyati Margiyati; Tria Friska Ningrum; Ainnur Rahmanti; Mimin Indah Lestari

Jurnal Fisioterapi dan Ilmu Kesehatan Sisthana (JUFDIKES) 2022 Stikes Kesdam IV/Diponegoro Semarang, Indonesia

The elderly are at risk of experiencing cognitive function disorders due to the aging process. Wapuwan Puzzle (Wayang Punakawan) is a game therapy that was developed to improve cognitive function by carrying elements of the art of wayang punakawan characters that are popular with the elderly. The purpose of this study was to analyze the influence of the Wapuwan Puzzle on the cognitive function of the elderly. The design of this study was a quasi-experimental with a pre-post design with a control group. The research sample was 38 elderly people using the total sampling technique at the Posyandu Setya Manunggal III. Research instrument using MMSE. Data analysis using Mann Whitney. The results showed that the gender characteristics of the majority of the respondents were female, the average age of the respondents was in the range of 60-74 years, and the education of the respondents was on average not attending school and completing elementary school. The MMSE score of the elderly who received the Wapuwan Puzzle increased significantly than the elderly who did not receive the Wapuwan Puzzle. The results of the Mann Whiteney test obtained a significance value of 0.000 (P value < 0.05) so that it was concluded that there was an effect of the application of the Wapuwan Puzzle on the increase in cognitive function in the elderly at the Setyamanunggal Posyandu III Lempuyangan Hamlet.

Ramadhan Almadani; , Dede Indra Setiabudi

Jurnal Riset sosial humaniora, dan Pendidikan (Soshumdik) 2022 LPPM Universitas 17 Agustus 1945 Semarang

Orang tua memiliki persepsi terhadap pembelajaran di masa Covid-19 oleh sebab itu munculnya internet pada pembelajaran membuat orang tua peserta didik mempunyai kekhawatiran tersendiri terhadap peranan internet dalam hasil belajar peserta didik. Maka dari itu pada penelitian di dalam jurnal ini peneliti mencoba menggali persepsi orang tua dengan metode wawancara dan pengumpulan data berupa dekripsi kualittatif dengan pendekatan induktif dan teknik analisa naratif. Persepsi yang didapat dengan adanya peran internet dalam hasil belajar peserta didik adalah bahwa banyak orang tua yang mengeluhkan hasil belajar peserta didik turun karena penyalahgunaan internet dan kurangnya pendampingan orang tua dalam proses belajar mengajar di rumah sebab banyak kendala yang di dapatkan dengan adanya penggunaan internet. Salah satu faktor kendala adalah tidak semua orang tua paham penggunaan internet, kurangnya kuota dan signal yang tidak memungkinkan sehingga banyak miscommunication antara pengajar dan peserta didik. Terlebih lagi banyak peserta didik yang malas untuk mengerjakan tugas rumah dan mengandalkan orang tua serta internet .

Pranata, A. A. Gede Raka Suta; Krisnayani, Ni Made Wina; Widyanata, Komang Agus Jerry; Daryaswanti, Putu Intan

Bali Health Published Journal (BHPJ) 2022 Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan KESDAM IX/Udayana

Latar Belakang : Masalah kesehatan yang sering dialami oleh lansia salah satunya adalah penyakit dimensia. Demensia merupakan kumpulan gejala neurodegeneratif yang timbul karena kelainan yang bersifat kronis dan progesif disertai dengan gangguan fungsi kognitif seperti kemampuan mengingat, proses berpikir, kalkulasi, kapasitas belajar, orientasi, bahasa, dan mengambil keputusan. Demensia terjadi karena sel saraf otak di bagian tertentu mengalami kerusakan, sehingga menyebabkan kemampuan otak untuk berkomunikasi dengan saraf tubuh lainnya menjadi menurun. Dampak demensia terjadinya penurunan dalam daya ingat, kemampuan untuk mengingat waktu, mengenali orang, tempat dan benda. Tujuan penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan lansia tentang penyakit demensia Metode : Penelitian ini menggunakan metode deskriptif menggunakan alat ukur kuesioner. Lokasi penelitian ini di Banjar Kerta, Kecamatan Payangan, Kabupaten Gianyar, dengan jumlah sampel 77 orang lansia yang berusia lebih dari 45 tahun dengan teknik purposive sampling. Hasil : Karakteristik berdasrakan usia sebagian besar usia 60-74 tahun 55 responden (71,4%), berdasarkan jenis kelamin sebagian besar perempuan 43 (55,8%), berdasarkan pekerjaan sebagian besar tidak bekerja 39 (50,6%), berdasarkan pendidikan sebagian besar SD 48 (62,3), hasil tingkat pengetahuan lansia tentang penyakit demensia yang diperoleh yaitu hasil pengetahuan dalam kategori kurang sebesar 64 (83,1%). Simpulan : Tingkat pengetahuan lansia tentang penyakit demensia di Banjar Kerta, Kecamatan Payangan, Kabupaten Gianyar sebagian besar memiliki tingkat pengetahuan kurang. Perlu penekanan pengetahuan pada pasien yang berlatar belakang pendidikan rendah dan yang tidak bekerja dan pada lansia tentang demensia.

Ahmad Riyanto; Wahidin Wahidin; Muhammad Taufiq

Jurnal Pengabdian Masyarakat Sains dan Teknologi 2022 Fakultas Teknik Universitas Cenderawasih

Kebutuhan adanya batas administrasi wilayah desa yang jelas menjadi semakin penting sejalan dengan dengan pesatnya pengembangan wilayah dan pertumbuhan investasi. Penataan batas wilayah desa memberikan kontribusi penting dalam rangka pelaksanaan mendorong terlaksana otonomi desa. Pemetaan merupakan salah satu metode praktis yang memeberikan informasi muka bumi yang berupa fakta, dunia nyata, baik bentuk permukaan bumi maupun sumber daya alamnya berdasarkan skala peta serta simbol simbol dari unsur muka bumi yang disajikan. Tujuan kegiatan pengabdian masyarakat (PkM) pembuatan pemetaan adalah agar memberikan informasi informasi, pengetahuan dan keefisiensian dalam menuju lokasi yang diinginkan. Metode PkM mencakup tiga tahapan, yakni  tahapan pendekatan, mulai dati upaya peningkatan aspek kognitif terhadap peserta, tahap pendampingan dan pemberdayaan, tahapan pekerjaan, dan tahapan tindak lanjut program. Kegiatan ini sangat dibutuhkan warga masyarakat Desa Ciawi. Sasaran kegiatan ini adalah para perangkat desa, pengurus RT RW dan Karang Taruna. Respon warga sangat positif terhadap kegiatan ini. Hasil kegiatan ini diharapkan memberikan respon yang sangat baik bagi keterbukaan informasi bagi masyarakat Desa Ciawi mengenai potensi desa dan pengetahuan dasar peta.

Magfirah, Ilmi; Nurhidayah, Irfanita; Wahid, Ulfiani; Hamdana

Jurnal Rumpun Ilmu Kesehatan 2022 Pusat Riset dan Inovasi Nasional

Tahap perkembangan ini menunjukkan hal yang unik dan memerlukan perhatian yang khusus dari orang dewasa untuk tumbuh dan kembang. Hal itu yang memicu makin mantapnya anggapan bahwa sesungguhnya pendidikan yang dimulai setelah usia SD tidaklah benar. Pendidikan harus sudah dimulai sejak usia dini supaya tidak terlambat. Sehingga penting bagi anak untuk mendapatkan Pendidikan Anak Usia Dini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Hubungan pendidikan anak usia dini dengan perkembangan kognitif anak usia prasekolah di TK Abdi Setia Bakti di Desa Taccorong Kecamatan Gantarang Kabupaten Bulukumba 2017. Penelitian ini merupakan penelitian observacional-analitik dengan pendekatan study cross sectional. Pengambilan sampel dilakukan dengan tehnik Non Probability sampling dengan Purposive Sampling. Sampel penelitian yang diambil berjumlah 38 anak sekolah di TK Abdi Setia Bakti Desa Taccorong Kecamatan Gantarang Kabupaten Bulukumba pada tanggal 19 Mei sampai 17 Juli 2017. Alat ukur yang digunakan adalah observasi. Analisa data yang digunakan dengan uji uji Chi-Square. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa persepsi responden dengan pendidikan terakhir PAUD dengan perkembangan kognitif optimal sebanyak 23 (82,14%) responden, sedangkan pendidikan terakhir PAUD dengan perkembangan kognitif tidak optimal yaitu 0 (0%) responden, dan persepsi responden dengan pendidikan terakhir tidak PAUD dengan perkembangan kognitif optimal sebanyak 5 (17,85%) responden, sedangkan pendidikan terakhir tidak PAUD dengan perkembangan kognitif tidak optimal sebanyak 10 (100%) responden.  Berdasarkan hasil analisis menggunakan uji statistik uji Chi-Square diperoleh nilai p < 0,001. Terdapat Hubungan Pendidikan Anak Usia Dini Dengan Perkembangan Kognitif Pada Anak Usia Prasekolah di TK Abdi Setia Bakti Desa Taccorong Kecamatan Gantarang Kab.Bulukumba dengan nilai p < 0,001.

Nurasia Natsir; Yuliyanah Sain; Aliah, Nuraziza

Journal of Administrative and Sosial Science (JASS) 2022 Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi (STIA) Yappi Makassar

In human development, it is often characterized as a developmental milestone where new behaviors emerge and are increasingly complex as the stages of development appear in this modern era. Development does notoccur at a constant pace. A relatively fast growth (spurt) can be interspersed with slow growth (plateau).Some scholars use such uneven patterns of growth and change as evidence of qualitatively different periods of development. From the results of the study found 3 factors that have the potential to affect the development of each child's reasoning,namely; Hereditary factors (heredity), environmental factors, heredity and environmental factors that interact to form behavior. The characteristics inherited by each child have a sensitive period, namely when children are active and motivated learners and when children construct their knowledge based on experience. In implanting physical and cognitive devices there is thought and language becoming increasingly interdependent; As thought and language begin to fuse, children often talk to themselves which is known as self-talk. Self-talk has an important function in cognitive development: By talking to themselves, children learn to guide and direct their own behavior in the process of performing difficult tasks and performing complex maneuvers_just as adults guide them.

Euis Kusumarini; Andi Aslindah

Nusantara: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat 2021 Pusat Riset dan Inovasi Nasional

Alat  Permainan  Edukatif  (APE)  diharapkan  agar  proses  pembelajaran menjadi menarik dan menyenangkan sehingga anak betah,tidak merasa bosan dan fokus dalam belajar. Walaupun telah diketahui bahwa Alat Permainan Edukatif (APE) sangat menunjang bagi terlaksananya proses belajar yang efektif namun perlu mengkreatifitaskan lebih banyak variasi di sekolah dalam menggunakan Alat Permainan Edukatif (APE) secara maksimal dalam proses pembelajaran. Tujuan kegiatan ini adalah untuk menumbuhkan  minat  belajar  anak, pengabdi akan menerapkan suatu tindakan dalam bentuk penggunaan media Alat Permainan Edukatif (APE) disiapkan oleh guru sesuai dengan kebutuhan pokok bahasan yang akan diajarkan pada anak dan didapat dengan mudah bisa gunakan bahan dari tersedia dibeli, barang bekas ataupun dalam bentuk kreatifitas lain yang bisa dibentuk, dibuat, digunakan dan dimanfaatkan terutama guru memiliki keahlian  keterampilan untuk hal tersebut perlu membekali diri dari sosialisai, pelatihan dan seminar  untuk belajar lagi dan memuntut hal baru dari ilmu pengetahuan dan keterampilan. Berdasarkan hasil dari sosialisai tersebut adalah berjalan dengan lancar dan tercapainya salah satu cara pilihan  untuk  dapat  membantu  dan  saling memberikan kebermanfaatan bersama dalam kemajuan dibidang pendidikan anak usia TK terutama usia 5 sampai 6 tahun dalam memotivasi mereka selain guru, peserta didik juga pihak lain yang berkepentingan dalam memajukan dunia pendidikan agar anak anak yang merupakan bagian dari nantinya sebagai penerus bangsa merupakan anak anak yang cerdas selain kognitifnya, keterampilannya juga prilaku serta wawasan dan pengembangan dirinya yang dimiliki berguna dan bermanfaat kelak nantiya baik bagi dirinya orang lain lingkungan dan negara tentunya.  

Yanti, Mutiara Frida; Gusmaweti, Gusmaweti; Sari, Rona Taula

JOURNAL OF BIOLOGY LEARNING 2021 Universitas Veteran Bangun Nusantara Sukoharjo

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh peta konsep terhadap hasil belajar biologi siswa kelas XI IPA SMAN 13 Padang Tahun Pelajaran 2016/2017. Jenis penelitiannya adalah eksperimen. Sampel penelitian sebanyak 64 orang diperoleh melalui teknik purposive sampling dan menghasilkan kelas eksperimen dan kelas kontrol. Instrumen pengumpulan data berupa soal tes hasil belajar ranah kognitif dan lembar observasi penilaian ranah afektif dan psikomotor. Analisis data menggunakan uji normalitas, homogenitas dan hipotesis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aspek kognitif pada kelas eksperimen memiliki mean 82,18 dengan persentase 65,625% dan kelas kontrol 70,46 dengan persentase 37,5%. Nilai rata-rata aspek afektif pada siswa kelas kontrol 83,43 dengan predikat sangat baik dan psikomotor 84,89 dengan predikat baik sedangkan nilai rata-rata afektif pada kelas kontrol 76,29 dengan predikat baik pada aspek psikomotor 73,03 dengan predikat cukup. Disimpulkan bahwa penggunaan peta konsep berpengaruh positif terhadap hasil belajar siswa dibandingkan dengan pembelajaran konvensional. Saran diharapkan kepada guru mata pelajaran biologi agar dapat lebih menerapkan peta konsep dalam pembelajaran untuk meningkatkan daya pikir, kreativitas dan ide siswa.

Winatun, Istilah

JOURNAL OF BIOLOGY LEARNING 2021 Universitas Veteran Bangun Nusantara Sukoharjo

Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan hasil belajar Biologi siswa keles VII A SMP Negeri 1 Prambanan tahun pelajaran 2019/ 2020 melalui model pembelajaran discovery learning. Penelitian tindakan kelas ini terdiri dari tiga siklus, setiap siklus terdiri tahapan perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Subyek dalam penelitian ini adalah siswa kelas VII A SMP Negeri 1 Prambanan sebanyak 32 siswa. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu tes untuk hasil belajar kognitif dan observasi untuk mengamati aktivitas belajar. Teknik analisis data yang digunakan adalah deskriptif komparatif. Pada penelitian ini indikator kinerjanya adalah 85% dan siswa dapat mencapai nilai KKM 70. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setelah diterapkan model pembelajaran discovery learning persentase ketuntasan hasil belajar IPA biologi siswa meningkat. Pada siklus I sebanyak 65,62%, siklus II sebanyak 81,25% dan pada siklus III 93,75%. Sedangkan untuk persentase aktivitas belajar biologi siswa juga meningkat pada setiap siklus, pada siklus I sebesar 59,37%, pada siklus II sebesar 65,62% dan pada siklus III 81,25%. Berdasarkan hasil yang diperoleh, model pembelajaran discovery learning dapat meningkatkan aktifitas dan hasil belajar IPA biologi siswa kelas VII A SMP Negeri 1 Prambanan tahun pelajaran 2019/ 2020.

Syukur, Nurainun; Bahtiar, Bahtiar; Sundari, Sundari

JOURNAL OF BIOLOGY LEARNING 2021 Universitas Veteran Bangun Nusantara Sukoharjo

Model pembelajaran Inquiry Learning merupakan model pembelajaran yang menekankan pada siswa untuk menemukan sendiri permasalahan yang diberikan oleh guru. Penelitian ini bertujuan: (1) untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh penerapan model pembelajaran inkuiri terhadap kemampuan metakognitif siswa kelas VII SMP Negeri 4 Kota Ternate (2) untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh penerapan model pembelajaran inkuiri terhadap kemampuan metakognitif siswa kelas VII SMP. model pembelajaran inkuiri terhadap hasil belajar (3) untuk mengetahui pengaruh metakognisi terhadap hasil belajar. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen semu. Sampel penelitian ini terdiri dari dua kelas yaitu kelas VII-4 dan kelas VII-5 dengan jumlah siswa 62 orang. Instrumen yang digunakan adalah angket metakognisi dan tes hasil belajar. Analisis data menggunakan uji normalitas dan homogenitas berbantuan SPSS, sedangkan pengujian hipotesis menggunakan uji Anacova dan regresi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) terdapat pengaruh model pembelajaran inkuiri terhadap kemampuan kognitif dengan taraf signifikansi 0,000 > 0,05 (2) terdapat pengaruh model pembelajaran inkuiri terhadap hasil belajar dengan taraf signifikansi nilai 0,000 > 0,05 dan (3) terdapat pengaruh metakognisi terhadap hasil belajar dengan nilai taraf signifikan 0,001 > 0,05.

Dea A’iwara Selena; Paulina Maria E.W; Silvester Adinuhgra

Sepakat : Jurnal Pastoral Kateketik 2021 Sekolah Tinggi Pastoral Tahasak Danum Pambelum Keuskupan Palangkaraya

This  study  aims  to  determine  the  role  of  parents  in  online  learning  on children's cognitive abilities, inhibiting and supporting factors experienced by parents at SDN 1.2 Pangelak. Through this study, it is hoped that parents can realize how important  parental  involvement  in  online  learning  towards  children's  cognitive abilities in Catholic Religious Education subjects during the covid-19 pandemic. The type of research used in this research is descriptive qualitative research. This research was conducted on May at SDN 1.2 Pangelak. The informants are 14 people consisting of the Principal, 1 Catholic Religion Teacher, 6 parents and 6 students. Data collection techniques through interviews and documentation. The data analysis technique used is the model of Miles and Huberman which consists of three stages, data reduction, data presentation and conclusion drawing.

Dewi, Ni Made Melati; Daryaswanti, Putu Intan

Bali Health Published Journal (BHPJ) 2020 Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan KESDAM IX/Udayana

Background: Cognitive level is a mental process or physical or thought activity that leads to the role of perception, ability, memory and thought processes possessed by every human being. The incidence of cognitive decline in Indonesia in 2019 as many as 47% of elderly experience a decrease in cognitive level. The occurrence of changes and setbacks in the cognitive level in the future will have an impact on the health of the elderly one of which is, a decrease in memory and changes in memory. This study aims to determine the cognitive level in the elderly in the village of more Banjar Duur Kaja Gianyar in 2020. Method: This study used a descriptive research method with cross sectional approach, the measuring instrument used in this study was the MMSE (Mini Mental State Examination) questionnaire. The population in this study is the elderly who live in the village of more Banjar Duur Kaja Gianyar with a total sample of 47 samples. The sampling technique used in this study was purposive sampling. Results: The results of the study of 47 elderly, the cognitive level of the elderly in the category of probable cognitive levels. Respondents with age > 60 are 18 elderly (45%) have a probable cognitive level. Respondents who were not educated 15 elderly (36.59%) had a probable cognitive level. Respondents who did not work 8 elderly (38.10%) had a probable cognitive level. 11 male respondents (44%) had a probable cognitive level. Conclusion: The cognitive level of the elderly in the village of more Banjar Duur Kaja Gianyar is in the category of probable cognitive level of 19 elderly (40.4%).    

Margiyati Margiyati; Novita Wulan sari; Mimin Indah Lestari; Anisa Sulistyaningtyas; Tria Friska Ningrum

Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Sisthana 2020 Stikes Kesdam IV/Diponegoro Semarang, Indonesia

Proses  menua  menimbulkan  permasalahan  baik  secara  fisik,  biologis, mental maupun sosial ekonomi. Lansia merasa terbatas aktivitasnya, sering sakit, lingkungan kurang bersahabat, dan tidak percaya diri dengan penampilan fisiknya dan ini menjadi tanda rendahnya kualitas hidup lanjut usia karena mereka tidak menikmati masa tuanya.  Hasil  survey menggunakan  Mini  Mental  Status  Exam (MMSE)  diperoleh  data  bahwa  lansia  sebanyak  45  orang  yang  terdaftar  di Posyandu Setya Manunggal III Dusun Lempuyangan Bulan Januari 2020 menunjukkan yang mengalami penurunan kognitif sedang sebanyak 13 orang, penurunan kognitif berat sebanyak 5 orang. Hasil wawancara dengan kader lansia didapatkan data yang banyak mengalami pikun dikarenakan lansia hanya di rumah tanpa  adanya  aktivitas  lain  karena  adanya  keterbatasan  mobilitas  fisik.  Kader sendiri  oleh  penanggunggjawab  BKL  (Bina  Keluarga  Lansia)  dari  kecamatan Bergas sudah diarahkan untuk memberikan edukasi kepada lansia dan keluarga, baik itu bisa berupa permainan ataupun memberikan pelatihan kerajinan tangan, namun karena keterbatasan informasi, minimnya dana operasional, dan kurangnya kemampuan kader menjadikan program tersebut hanya wacana. Analisis fenomena tersebut menjadi latar belakang tim pengabdian masyarakat Akper Kesdam IV/Diponegoro bekerjasama dengan Puskesmas Bergas untuk melaksanakan kegiatan bertema, “ Penerapan Brain Gym, Puzzle Therapy, dan Handycraft Training  sebagai  Upaya  Meningkatkan  Kualitas  Hidup  Lansia  Dusun Lempuyangan, Gebugan, Kab.Semarang”.    

Fahmi A. Lihu; Rona Febriyona; Annisa Frizke Botutihe; Cahyani Napu

Jurnal Sains dan Kesehatan (JUSIKA) 2020 Universitas Muhamadiyah Manado

 Lansia merupakan kelompok umur pada manusia yang telah memasuki tahapan akhir dari fase kehidupannya. Proses menua ini ditandai dengan perubahan pada fisik maupun mental lansia maupun kemunduran fungsi kognitif salah satunya demensia. Salah satu kelainan yang diduga memiliki hubungan dengan penurunan fungsi kognitif ini adalah adanya defisiensi vitamin D. Tujuan dari penelitian ini untuk Mengetahui Hubungan Antara Keadekuatan Asupan Vitamin D Dengan Kejadian Demensia Pada Lansia Di Wilayah Kerja Puskesmas Telaga. Desain penelitian analitik dengan rancangan cross sectional untuk mengetahui hubungan antara keadekuatan asupan vitamin d dengan kejadian demensia pada lansia di wilayah kerja Puskesmas Telaga. Populasi dalam penelitian ini adalah lansia di wilayah kerja puskesmas telaga yang menderita demensia sejumlah 38 orang, sampel berjumlah 38 orang yang telah terseleksi melalui kriteria inklusi dan eksklusi. Instrumen yang digunakan adalah cross sectional dengan menggunakan analisis univariat dan bivariat.          

Dwi Mulianda; Endro Haksara; Arum Kusuma Andini; Lulu Swastika; Martiyastuti Gandarini +2 more

Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Sisthana 2020 Stikes Kesdam IV/Diponegoro Semarang, Indonesia

Hipertensi merupakan masalah kesehatan yang berdampak pada peningkatan angka kesakitan dan kematian serta beban biaya kesehatan. Hipertensi merupakan faktor risiko terhadap kerusakan organ penting seperti otak, jantung, ginjal, retina, pembuluh darah besar (aorta) dan pembuluh darah perifer, serta penurunan kognitif. Tingkat kontrol tekanan darah tetap buruk dan jauh dari nilai memuaskan di seluruh dunia. Oleh karena itu, diperlukan penatalaksanaan yang terintegrasi antara perubahan gaya hidup, pengobatan, dan kontrol tekanan darah untuk menurunkan tekanan darah secara efektif. Kegiatan ini bertujuan agar lansia di Posyandu RW 02 Kelurahan Tambakaji Ngaliyan Semarang dapat mengetahui penatalaksanaan hipertensi. Berdasarkan Evidance Based penatalaksanaan peningkatan tekanan darah dengan upaya pencegahan gaya hidup dan herbal. Hasil pengabdian masyarakat diantaranya adalah lansia yang hadir pada tanggal 15 Desember 2015 sebanyak  orang 54 ; Screening tekanan darah 27 orang (50 %) mengalami peningkatan tekanan darah; terdapat peningkatan pengetahuan lansia setelah diberikan pendidikan kesehatan penatalaksanaan gaya hidup dan herbal hipertensi. Lansia Kelurahan Tambakaji Ngaliyan Semarang sudah menerapkan penatalaksanaan hipertensi dalam kehidupan sehari-hari.    

Tuti Anggarawati; Nanang; Enggar Dwi Prasetyo; Alfia Tyas Mahestye; Bynar Fredy Anggara +2 more

Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Sisthana 2019 Stikes Kesdam IV/Diponegoro Semarang, Indonesia

Remaja adalah masa transisi usia dimana seseorang belum dikatakan dewasa namun bukan lagi seorang anak. Remaja  akan fase pencarian identitas diri, gejolak hormon, dan tekanan yang besar dari sekolah serta lingkungan sekitarnya. Proses pematangan fisik  yang terjadi lebih cepat dari proses pematangan kejiwaan (psikososial)  menyebabkan   remaja harus menghadapi perubagan fisik, kognitif dan emosional yang dapat menimbulkan kondisi stres dan memicu perilaku unik pada remaja. Perilaku –perilaku yang dimunculkan oleh remaja untuk menghadapi kondisi stres seperti  cemas,  depresi, merokok,  menjadi anak  jalanan,  adiksi game, kekerasan, penyalahgunaan obat, sampai bunuh diri. Bunuh diri merupakan kematian no.2 terbanyak di dunia pada usia 15 – 29 tahun (WHO, Preventing Suicide, 2014), 350 juta orang di dunia diestimasikan mengalami  depresi,  dan  depresi  merupakan  penyebab  disabilitas  utama  di dunia. (WHO, Depression, 2012). Gangguan mental emosional: gejala depresi dan anxietas pada usia ? 15 tahun sebesar 6% atau sebesar > 14 juta jiwa Gangguan jiwa berat (Psikosis): gejala psikosis sebesar 1,7/1000 atau sebesar > 400.000 jiwa.   Salah satu penyebab dari timbulnya gangguan mental emosional sampai akhirnya mengalami psikotik adalah karena remaja tidak mampu dalam beradaptasi pada masa transisi atau dalam menghadapi perubahan kehidupannya. Secara alamiah sebenarnya apabila tubuh baik fisiologis maupun psikologis  terpapar  oleh  suatu  stressor  atau  tekanan  atau  keadaan  yang tidakpasti tubuh akan melakukan suatu mekanisme untuk mempertahankan kondisi tubuhnya seperti semula. Bentuk dari pertahanan diri seseorang berbeda sesuai dengan mekanisme psikis yang diperlukan untuk beradaptasi dengan relitas eksternal.Defence  mekanisme  yang  positif  /konstruktif  akan  membangun  jiwa remaja menjadi pribadi yang handal dan siap menjadi generasi penerus bangsa yang dapat dibanggakan untuk keluarga, masyarakat dan negara. Kesehatan jiwa remaja merupakan hal  penting dalam menentukan kualitas bangsa. Remaja yang tumbuh dalam lingkungan kondusif dan mendukung merupakan sumber daya manusia yang dapat menjadi aset bangsa tidak ternilai.          

Wulansari, Bety; Hanik, Nur Rokhimah; Nugroho, Anwari Adi

JOURNAL OF BIOLOGY LEARNING 2019 Universitas Veteran Bangun Nusantara Sukoharjo

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan Hasil Belajar Biologi Pada Siswa Kelas X IPA 6 SMA Negeri 1 Tawangsari Tahun Pelajaran 2017/2018.Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan observasi/ pengamatan, tes/ teknik penilaian, dan dokumentasi. Setelah diadakan tindakan kelas, pada siklus I hasil belajar kognitif sebesar 57%, aspek afektif sebesar 41% dan aspek psikomotorik 33%. Dari siklus I ketuntasan belajar dari aspek kognitif, aspek afektif dan aspek psikomotorik belum memenuhi kriteria tuntas, perlu dilanjutkan ke siklus II. Pada siklus II hasil belajar kognitif sebesar 71%, aspek afektif 46% dan aspek psikomotorik 51%. Pada siklus II telah mengalami peningkatan, tetapi hasil belajar kognitif dan aspek afektif belum mencapai ketuntasan, maka dilanjutkan pada siklus III. Pada siklus III mengalami peningkatan dengan hasil belajar kognitif sebesar 77%, aspek afektif 60% dan aspek psikomotorik 66%. Sehingga dapat disimpulkan bahwa dengan menggunakan model PBL disertai mind mapping dapat meningkatkan hasil belajar biologi.Kata Kunci: Hasil Belajar Biologi, Mind mapping, Problem Based learning (PBL).

M Hery Yuli Setiawan, Feri Faila Sufa &

Adi Widya: Jurnal Pengabdian Masyarakat 2018 Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Pengabdian ini dilaksanakan dengan latar belakang tentang pentingnya pendidikan orang tua dalam memberikan stimulasi anak untuk mengembangkan potensi anak sejak dini agar mencapai perkembangan yang optimal di masa depannya. Pada hasil penelitian Feri faila SufadanM Hery Y.S (2017) menunjukan peran parenting ternyata dapat meningkatkan kualitas pembelajaran di Lembaga PAUD. Adanya kegiatan parenting yang terencana dengan baik sangat direkomendasikan untuk dilaksanakan oleh Lembaga PAUD.Pada Pengabdian ini akan melakukan optimalisasi parenting dalam menggali potensi anak. Guru dan orangtua perlu memiliki kemampuan menggali potensi anak sejak dini. Pada lembaga lembaga PAUD seperti TK, KB, SPS, aspek pengembangan moral agama, pengembangan bahasa, pengembangan kognitif, pengembangan sosial emosi , pengembangan fisik motorik, dan pengembangan seni menjadi struktur kurikulum yang selalu distimulasi oleh pendidik dalam prose pembelajaran PAUD. Diharapkan apa yang telah dilakukan pendidik dapat dilanjutkan oleh orang tua, sehingga perkembangan anak lebih optimal, karena waktu anak bersama orang tua dan keluarga lebih panjang daripada di sekolah. Karena setiap anak mempunyai potensi kecerdasan yang berbeda, diharapkan setelah orang tua dan guru dapat mengenali dan mengidentifikasi berbagai minat dan potensi kecerdasan anak, dan memberikan stimulasi yang tepat agar perkembangan anak lebih optimal. . Untuk mencapai tujuan pengabdian maka dilakukan pelatihan dan pendampingan pada guru dan orang tua. Sebelum dilakukan pelatihan, masih banyak dari orang tua siswa yang belum faham tentang hakikat pendidikan anak usia dini, penting PAUD bagi anak-anak. Para orang tua membawa anak ke lembaga PAUD agar tidak saja bermain di rumah, dan sebagian besar tidak faham akan tujuan PAUD secar umum. Metode yang digunakan adalah ceramah, diskusi, Pemberian Tugas dan Praktek Langsung. Hasil kegiatan pengabdian menunjukan bahwa orang tua yang dan guru yang bersama-sama.menjalin komunikasi yang baik dapat mengenali potensi anak nya sehingga stimulasi dapat dilakukan sejak dini dan anak lebih berkembang . Berdasarkan kegiatan pengabdian diatas dapat disimpulkan bahwa orang tua perlu mengenali potensi yang ada pada diri anak, kemudian peran orang tua dan pendidik dalam memberikan stimulasi yang tepat pada anak sangat pentin untuk mengembangkan potensi anak sejak dini.Kata Kunci: Peran orang tua, Potensi anak,