Publication Search

73,097 articles from 684 journals · 2,111 citations tracked

Showing 1-6 of 6

Analytics

Ardiansyah, Reza; Roidah, Ida Syamsu; Syah, Mirza Andrian

Dinamik 2025 Universitas Stikubank

Produksi padi di Indonesia, termasuk Kabupaten Sidoarjo, menghadapi berbagai tantangan seperti alih fungsi lahan, perubahan iklim, dan keterbatasan infrastruktur. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan potensi produksi padi secara spasial di Kabupaten Sidoarjo dengan memanfaatkan pendekatan Sistem Informasi Geografis (SIG). Metode yang digunakan meliputi analisis spasial untuk menggambarkan sebaran luas baku sawah, tanam, panen, irigasi, dan produktivitas di tingkat kecamatan, serta analisis deskriptif untuk menafsirkan hasil pemetaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa wilayah dengan sistem irigasi teknis dan luas baku sawah yang masih terjaga, seperti Kecamatan Tarik, Sukodono, dan Wonoayu, memiliki produktivitas yang relatif tinggi. Pemetaan spasial berbasis SIG terbukti efektif dalam mengidentifikasi wilayah potensial yang mendukung pengelolaan produksi padi secara lebih terarah. Penelitian ini merekomendasikan pemanfaatan SIG sebagai alat strategis dalam perencanaan pertanian dan pengambilan kebijakan yang berbasis data spasial untuk meningkatkan ketahanan pangan di Kabupaten Sidoarjo.

Asnawi, Saryulis

Dinamik 2024 Universitas Stikubank

Pengembangan kawasan industri di Jawa Barat perlu pembangunan yang memperhatikan kesesuaian lahan agar tidak memberikan masalah bagi lingkungan dan keberlanjutan ekologi. Oleh karena itu, perlu dilakukan analisis kesesuaian lahan untuk pengembangan kawasan industri dengan melihat Satuan Kemampuan Lahan (SKL). Hasil evaluasi SKL menunjukkan bahwa Provinsi Jawa Barat bagian utara memiliki tingkat kesesuaian lahan yang paling baik untuk pengembangan kawasan industri untuk jenis SKL bencana alam, erosi, pembuangan limbah, morfologi, kestabilan pondasi, kestabilan lereng, dan kemudahan pengembangan. Sementara itu, hasil analisis kesesuaian kawasan industri menunjukkan bahwa 33,31% dari total luas wilayah Provinsi Jawa Barat sesuai untuk pengembangan kawasan industri dengan sebaran spasial di bagian utara Provinsi Jawa Barat, 61,99% kurang sesuai, dan 1,70% masuk dalam kategori tidak sesuai. Perbandingan hasil analisis kesesuaian lahan dengan RTRW Jawa Barat juga menunjukkan rencana industri di utara pulau masuk dalam kategori sesuai untuk pengembangan industri, sedangkan rencana industri di tengah dan selatan pulau masuk dalam kategori kurang sesuai.

Wismarini, Theresia Dwiati; Prihandono, Agung

Dinamik 2020 Universitas Stikubank

Kebutuhan air bersih merupakan suatu hal yang mendasar bagi masyarakat, terlebih bagi masyarakat yang berada di wilayah perkotaan. Salah satu jenis sumber air yang digunakan sebagai air bersih adalah air tanah. Namun ketersediaan lahan terbuka hijau untuk membuat sumur semakin berkurang. Hal ini menjadi salah satu latar belakang sekelompok masyarakat berisisiatif untuk membangun sebuah sumur pompa agar dapat digunakan secara bersama-sama. Salah satu daerah yang membangun sumur pompa artesis lengkap dengan jaringan pipa ke masing-masing rumah telah dilakukan oleh warga di komplek Jl Candi Prambanan Timur Kelurahan Kalipancur Semarang. Meski dilakukan secara swadaya, namun semua warga di kompleks tersebut merasa terbantu dengan adanya fasilitas tersebut Dikarenakan kesibukan warga, mereka sepakat menginginkan sebuah sistem yang dapat mengatasi berbagai permasalahan di atas. Warga berharap dapat melihat informasi jumlah biaya pemakaian tanpa harus menghubungi petugas pencatat. Sehingga diperlukan sebuah sistem yang berbasis server agar informasi dapat diakses kapan saja dan di mana saja. Aplikasi pengelola data server dengan web service menggunakan PHP dan MySql dibuat mencakup fungsi dasar yaitu pendataan user, pendataan pelanggan, input pemakaian dan laporan pemakaian. Aplikasi pada sisi android dengan antarmuka sederhana untuk mengakses data menggunakan pustaka Volley.  

Wismarini, Th. Dwiati; Sukur, Muji

Dinamik 2015 Universitas Stikubank

Daerah rentan banjir adalah daerah yang mudah atau mempunyai kecenderungan untuk terlanda banjir. Maka kawasan rentan banjir merupakan kawasan yang sering atau berpotensi tinggi mengalami bencana banjir. Daerah atau kawasan tersebut dapat diidentifikasi dengan menggunakan pendekatan geomorfologi khususnya aspek morfogenesa, karena kenampakan seperti teras sungai, tanggul alam, dataran banjir, rawa belakang, kipas aluvial, dan delta yang merupakan bentukan banjir yang berulang-ulang yang merupakan bentuk lahan detil yang mempunyai topografi datar, sesuai karakteristik penyebab banjir.Sedangkan tingkat kerentanan banjir dapat ditentukan berdasarkan paramater-parameter yang berpengaruh terhadap terjadinya banjir. Dari beberapa penelitian mengenai banjir, telah diketahui bahwa kondisi lahan seperti penutup lahan, topografi, dan geomorfologi juga curah hujan, sebagai salah satu unsur iklim yang utama adalah merupakan faktor-faktor berpengaruh dalam menentukan terjadinya banjir di Indonesia.Terungkap juga bahwa Sistem Informasi Geografis (SIG) terbukti mampu menyediakan informasi data geospasial untuk setiap objek di permukaan bumi secara cepat. Sekaligus juga mampu menyediakan sistem analisa keruangan yang akurat. Selain itu, siapapun dapat menggunakan informasi tersebut untuk mengantisipasi dampak bencana baik untuk respon darurat, pemulihan pasca bencana, penetapan strategi mitigasi bencana, ataupun perencanaan pembangunan berkelanjutan.Maka dalam penelitian ini diharapkan dapat menghasilkan ulasan contoh-contoh parameter, metoda dan tahapan langkah dalam penentuan tingkat kerentanan banjir secara geospasial. Dalam hal ini, parameter rentan banjir yang ditentukan berdasarkan aspek lingkungan, dapat diterapkan untuk data geospasial indikator banjir dan yang nantinya akan dibentuk berupa data yang komprehensif antara data spasial dan atributnya data non spasial. Kemudian penentuan tingkat kerentanan banjir menggunakan metoda Analisis Weighted Scorring dalam perhitungan penentuan tingkatan parameter-parameter rentan banjir dan Analisis Penentuan Tingkat Rentan Banjir, sehingga menghasilkan model klasifikasi tingkat rentan Banjir.Hasil akhir dari penelitian ini adalah menghasilkan suatu model klasifikasi tingkat rentan banjir yang terlihat implementasinya dalam model data tabel untuk data geospasial tingkat rentan banjir.

Wismarini, Th. Dwiati; Ningsih, Dewi Handayani Untari

Dinamik 2011 Universitas Stikubank

Sistem Drainase Perkotaan merupakan salah satu komponen prasarana perkotaan yang sangat eratkaitannya dengan penataan ruang. Bencana banjir yang sering melanda sebagian besar wilayah dan kota diIndonesia disebabkan oleh kesemrawutan penataan ruang. Analisa ini bisa dilakukan denganmemanfaatkan teknologi Sistem Informasi Geografi dan ketersediaan data dijital untuk kawasan regionalatau skala global yang dihasilkan dari scanning peta wilayah, foto udara atau citra yang dihasilkan darisatelit, profil saluran drainase dan bangunan-bangunan drainase yang diperlukan sebelum perencanaanfasilitas drainase. Analisa pada System Drainase untuk mengetahui daerah yang tergenang danpengaruhnya pada tataguna lahan, sarana dan prasarana serta pada pemukiman penduduk.Denganmemanfaatkan prototipe sistem drainase perkotaan yang berkelanjutan  dengan alat bantu SistemInformasi Geografi secara optimal akan mempercepat pengambilan keputusan dalam upayapenanggulangan banjir yang terprogram dan terencana .

Wismarini, Th.Dwiati; Ningsih, Dewi Handayani Untari

Dinamik 2011 Universitas Stikubank

Perhitungan debit air dilakukan untuk mengetahui laju aliran puncak pada Sistem Drainase . Metode yang digunakan untuk memperkirakan laju aliran puncak (debit banjir) adalah metode Rasional, dimana metode ini umum dipakai karena sangat simpel dan mudah penggunaannya, namun penggunaannya terbatas untuk DAS-DAS dengan ukuran kecil, yaitu kurang dari 300 ha. Analisis  intensitas seragam dan merata di seluruh DAS selama paling sedikit sama dengan waktu konsentrasi (tc) DAS.  Beberapa metode untuk memperkirakan laju aliran puncak (debit banjir) , lebih banyak ditentukan oleh ketersediaan data. Data yang digunakan sebagai indikator menentukan wilayah yang berpotensi rawan banjir berdasarkan indikator, Debit Air DAS, Curah Hujan, Topografi,dan  penggunaan lahan. Analisa pada sistem drainase untuk menentukan wilayah yang berpotensi banjir dengan memanfaatkan aplikasi Sistem Informasi Geografi.