Publication Search

73,319 articles from 707 journals · 2,111 citations tracked

Showing 1-9 of 9

Analytics

Mahenra, Ridwan; Setiawan, Dandi

Dinamik 2026 Universitas Stikubank

This study evaluates the efficiency of two artificial intelligence models, DeepSeek and OpenAI, in generating code for algorithmic systems. Efficiency is assessed through execution speed, code accuracy, and the number of code characters produced. Data were collected from 100 tests covering search, sorting, graph, dynamic programming, optimization, data processing, text, and machine learning algorithms. The objective is to compare the performance of both models to support the development of efficient information retrieval systems. The method involves algorithm testing with statistical analysis of execution time, accuracy, and code length. Results indicate that DeepSeek has an average execution time of 28.74 seconds, slightly slower than OpenAI’s 28.49 seconds. However, DeepSeek’s accuracy (85.88%) surpasses OpenAI’s (85.03%). The average number of code characters is identical at 96.35 characters. The study concludes that DeepSeek excels in accuracy, while OpenAI is faster in certain cases, providing valuable insights for developers in selecting AI models for information retrieval applications.

Wibisono, Setyawan; Wahyudi, Eko Nur; Hadikurniawati, Wiwien; Lestariningsih, Endang; Cahyono, Taufik Dwi

Dinamik 2025 Universitas Stikubank

This study evaluates the performance of three community detection algorithms—Leiden, Infomap, and Label Propagation—on the legal network of the Republic of Indonesia spanning the period 2014–2024. The network consists of 679 nodes and 2,295 edges, constructed based on citation relationships among regulations. The evaluation employs four network topology metrics: modularity, coverage, conductance, and inter-cluster density. Results show that the Leiden algorithm achieves the highest modularity score (0.522991), indicating the formation of communities with strong internal density. Additionally, it yields the lowest conductance value (0.302455), suggesting relatively well-isolated communities. In contrast, the Label Propagation algorithm produces the highest coverage (0.835294) and inter-cluster density (0.542331), but with a lower modularity (0.431583), reflecting the formation of large communities with less distinct boundaries. Infomap exhibits moderate performance, with a modularity score of 0.508406 and inter-cluster density of 0.420803, yet records a relatively high conductance (0.410409). Network visualizations reveal three major communities for each algorithm, representing thematic clusters such as institutional governance, constitutional law, and public finance. Overall, the Leiden algorithm is considered the most optimal for detecting modular, stable, and thematically coherent community structures within the complex and interrelated network of Indonesian laws.

Rizal, Muh; Yusuf, Andi M; Ali, Lutfi; Mursalim, Mursalim; Latif, Nuraida +1 more

Dinamik 2025 Universitas Stikubank

Permasalahan dalam pengembangan media pembelajaran Aksara Lontara Bahasa Makassar untuk siswa sekolah dasar yang menggunakan animasi motion graphic berbasis multimedia adalah bahwa selama ini pembelajaran Aksara Lontara di sekolah masih mengandalkan buku dan belum tersedianya media pembelajaran interaktif yang mendukung proses belajar. Kondisi ini menyebabkan siswa mengalami kesulitan dalam mempelajari Aksara Lontara. Solusi atas permasalahan ini adalah pengembangan media pembelajaran Aksara Lontara dengan menggunakan Animasi Motion Graphic, yang diharapkan dapat memfasilitasi proses pembelajaran. Tujuan penelitian ini adalah mengembangkan dan mengimplementasikan media pembelajaran Aksara Lontara Bahasa Makassar dengan Animasi Motion Graphic berbasis multimedia di SDN Paccerakkang. Data diperoleh melalui penelitian lapangan, penelitian pustaka, dan wawancara. Metode yang digunakan adalah metode ADDIE, yang terdiri dari lima tahapan: Analisis, Perancangan, Pengembangan, Implementasi, dan Evaluasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media pembelajaran yang dikembangkan mendapatkan persentase keberhasilan sebesar 76,66% dari pengujian alpha oleh ahli materi dan ahli budaya, yang termasuk dalam kategori layak. Sementara itu, persentase total dari pengujian beta yang dilakukan dengan memberikan kuesioner kepada siswa SDN Paccerakkang adalah 80,13%, juga termasuk dalam kategori layak.

Maolana, Angzal

Dinamik 2024 Universitas Stikubank

Dalam melakukan penyimpanan file hasil dari kompresi citra biasanya berformat raw data. Karena dengan format tersebut file gambar berupa mentahan dari hasil yang akan di edit. Selain itu, terdapat penggunaan format PNG (Portable Network Graphic) yang berfungsi untuk menyederhanakan proses penyimpanan dan pengiriman data antarserver.Format SVG adalah format yang biasanya digunakan untuk menyimpan file yang berberntuk vector atau karakter. Sehingga pengguna dari SVG sendiri dapat mendeskripsikan file itu sendiri. Pada penelitian ini akan digunakan teknik kompresi citra untuk melakukan kompresi kedua file tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melakukan analisis perbandingan hasil kompresi citra format PNG dengan SVG untuk penyimpanan file.

Budiarso, Zuly; Sulistiyono, Hersatoto; Nurraharjo, Eddy

Dinamik 2011 Universitas Stikubank

Ketidakpastian (uncertainty) dapat dinyatakan dalam tiga model, yaitu : numeric (Numeric), Grafik(Graphic), Simbolik (Symbolic). Metode yang paling umum untuk merepresentasikan ketidakpastian adalahdengan metode numerik.Kerusakan pesawat televisi merupakan masalah yang sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari.Penyebab kerusakan televisi adalah karena adanya kerusakan pada suatu rangkaian. Untuk menetukan blokrangkaian yang mengalami kerusakan hanya bisa dilakukan oleh seorang pakar yang ahli di bidang televisi.Salah satu metode yang  dapat digunakan untuk menentukan tingkat kerusakan televisi adalahdengan menghitung faktor kepastian (Confidence Factor). Faktor Kepastian dalam masalah ini merupakanpenggabungan dari beberapa pakar dan faktor kepastian yang dimasukkan user.Dalam penelitian ini perhitungan faktor keyakinan yang digunakan adalah dengan faktor keyakinanrumus baku dan rumus Lukasiewicz. Racangan sistem yang dibuat dalam penelitian ini menggunakanVisual Basic dan basis data Microsoft Access 97. Dari hasil pengujian diperoleh bahawa sistem telahberjalan sesuai dengan kaidah-kaidah dalam teori ketidakpastian .

Santi, Rina Candra Noor

Dinamik 2011 Universitas Stikubank

Kriptografi berasal dari kata crypto yang berarti rahasia dan graphy yang berarti tulisan. Jadikriptografi dapat diartikan sebagai tulisan rahasia. Secara istilah dapat didefinisikan sebagai studi tentangteknik-teknik matematika yang berhubungan dengan keamanan informasi.Playfair merupakan digraphs cipher, artinya setiap proses enkripsi dilakukan pada setiap dua huruf.Adapun tujuan yang akan di capai adalah membuat aplikasi untuk pengamanan pada file text denganmenggunakan metode Playfair yang dapat mendukung proses perlindungan data yang tidak mudahdicuri dan tidak mudah dipecahkan yang dapat digunakan sebagai keamanan pada data-data yang sangatpenting.

Sasongko, Jati

Dinamik 2010 Universitas Stikubank

Kriptografi (cryptography) merupakan ilmu dan seni untuk menjaga pesan agar aman. (Cryptography is the art and science of keeping messages secure) “Crypto” berarti “secret” (rahasia) dan “graphy” berarti “writing” (tulisan). Para pelaku atau praktisi kriptografi disebut cryptographers. Sebuah algoritma kriptografik (cryptographic algorithm), disebut cipher, merupakan persamaan matematik yangdigunakan untuk proses enkripsi dan dekripsi. Biasanya kedua persamaan matematik (untuk enkripsi dan dekripsi) tersebut memiliki hubungan matematis yang cukup erat. Enkripsi digunakan untuk menyandikan data-data atau informasi sehingga tidak dapat dibaca oleh orang yang tidak berhak. Dengan enkripsi data disandikan (encrypted) dengan menggunakan sebuah kunci (key). Untuk membuka (decrypt) data tersebut digunakan juga sebuah kunci yang sama dengan kunci untuk mengenkripsi (untuk kasus private key cryptography) atau dengan kunci yang berbeda (untuk kasus public key cryptography).

Ningsih, Dewi Handayani Untari; Setyadi, Agung

Dinamik 2003 Universitas Stikubank

Remote sensing is the science and art of obtaining information about an object, area, or phenomenon through the analysis of data acquired by a device that is not in contact with the object, area, or phenomenon under investigations Remote sensing data is of such nature and volume as to require it to be compatible with processing and outputing by computers. They are the easiest, fastest, and most efficient way to produce images, extract data sets, and assist in decision making. One special function is to assist in manipulating other kinds of data about the spatial or locational aspects of areas in the world that are the subjects of interpretation and decision making. The bulk of the data in such systems have in common a geographical significance, that is, they are tied to definite locations on the Earth. In this sense, they are similar to or actually make up what has become a powerful tool in decision making and management. The Image-Based Information System (IBIS) was developed in 1975 at the Jet Propulsion Laboratory, and is designed to be a comprehensive geographic information system that performs operations on raster image, tabular, and graphics format data, using the Video Image Communication And Retrieval (VICAR) image processing system. This was accomplished by the creation of a new VICAR-based file format for tabulating raster format geographic information over multiple data planes.

Ningsih, Dewi Handayani Untari

Dinamik 2003 Universitas Stikubank

When creating databases for GIS-applications often existing maps are scanned and vectorised for used. However, vectorisation becomes obsolete when GIS-objects can be referred to both in theme and geometry in a raster environment. This article shows to use model spatial data raster and vector for GIS - applications in both the graphical and image structure. Geographical data must first be converted into a computer- readable format before it can be used in a GIS. Spatial data are "elements that can be stored in map form." These elements correspond to a uniquely defined location on the Earth's surface. Spatial data have also been describe as “any data concerning phenomenon a really distributed” in two or more dimensions. (Peuquet and Marble, I990.) Data model is the rules to convert real geographical variation into discrete objects. There are two main GIS data models - vector and raster. Each of the two data models has specific types of data, analysis and displays that can handle better than the other system. The vector model represents geographical reality as a series of discrete objects or features, classified as points, line's or areas (polygons). The geographical co-ordinates describing the locations of these features are stored in the computer database which lies at the heart of the GIS. In the raster model a regular grid of cells, or pixels, is used to encode the features found on the earth's surface. Each pixel has a number associated with it representing; the value of a geographical phenomenon, such as terrain elevation, soil type or biomass. Layers of raster grids covering the same region can be built up to represent further variables.