Publication Search

94,961 articles from 887 journals · 2,123 citations tracked

Showing 1-11 of 11

Analytics

Mardiana, Mardiana; S, Sukardi; H, Handoko

Jurnal Pendidikan Manajemen Transportasi 2026 Sekolah Tinggi Manajemen Transportasi (STMT Malahayati Jakarta)

Produksi minyak yang meningkat pesat dari ladang minyak, kilang minyak serta depot–depot minyak di Indonesia menjadikan peran serta kapal tanker sebagai sarana pengangkut minyak menjadi lebih vital dari pada sebelumnya. Peralatan bongkar muat di kapal tanker pun harus selalu dalam kondisi baik agar dapat menunjang kelancaran proses bongkar muat. Proses optimalisasi bongkar muat juga harus didukung dengan komunikasi yang baik antara pihak kapal dengan pihak pelabuhan. Penelitian ini penulis fokuskan pada pelaksanaan bongkar muat di Kapal Overseas Petromar Pada PT. Global Maritim Industri yang sering mengalami keterlambatan karena faktor manusia maupun faktor peralatan serta upaya optimalisasi kegiatan bongkar muat tersebut. Metode penelitian yang penulis gunakan adalah kualitatif deskriptif. Penulis memaparkan data yang didapat dari hasil studi lapangan selam penulis melaksanakan praktek laut, wawancara dengan perwira kapal Kapal Overseas Petromar Pada PT. Global Maritim Industri dan studi kepustakaan yang penulis dapatkan dari bukubuku, internet dan literatur yang berkaitan dengan proses bongkar muat oil product. Berdasarkan hasil penelitian yang penulis laksanakan, dapat diketahui bahwa kendala-kendala yang terjadi pada saat proses bongkar muat di Kapal Overseas Petromar Pada PT. Global Maritim Industri diantaranya adalah kurangnya pemahaman, pengetahuan dan kesadaran dari kru kapal tentang bahaya dan bagaimana prosedur bongkar muat yang sesuai dengan standar serta aman. Selain itu proses bongkar muat di Kapal Overseas Petromar Pada PT. Global Maritim Industri sering terhambat karena cargo pump tidak berfungsi secara optimal. Dari permasalahan tersebut, perlu diadakan pelatihan kepada seluruh kru mengenai proses bongkar muat yang sesuai dengan prosedur dan pengoperasian alat-alat bongkar muat yang benar serta melakukan perawatan terhadap peralatan bongkar muat. Disamping itu, kru kapal juga harus melakukan pengecekan berkala terhadap peralatan bongkar muat 

Octy Avriani; Mardiana, Mardiana; Laksmana, Boy; H, Harmuzan

Jurnal Pendidikan Manajemen Transportasi 2026 Sekolah Tinggi Manajemen Transportasi (STMT Malahayati Jakarta)

Cuaca ekstrem merupakan salah satu dampak nyata dari perubahan iklim global yang semakin intensif dan kompleks, serta memberikan pengaruh signifikan terhadap sektor transportasi laut. Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia memiliki tingkat ketergantungan yang sangat tinggi terhadap transportasi laut sebagai sarana utama konektivitas wilayah, distribusi logistik, serta perdagangan nasional dan internasional. Dalam beberapa dekade terakhir, peningkatan frekuensi dan intensitas fenomena cuaca ekstrem, seperti gelombang laut tinggi, angin kencang, badai tropis, dan curah hujan ekstrem, telah menimbulkan berbagai gangguan terhadap keselamatan pelayaran dan operasional pelabuhan di Indonesia. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada aspek keselamatan dan efisiensi transportasi laut nasional, tetapi juga berimplikasi terhadap stabilitas rantai pasok global, mengingat posisi strategis Indonesia pada jalur pelayaran internasional. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak cuaca ekstrem terhadap transportasi laut di Indonesia dalam perspektif global. Pendekatan yang digunakan adalah kajian deskriptif-analitis berbasis studi literatur, laporan institusi maritim, serta kebijakan internasional terkait keselamatan pelayaran dan perubahan iklim. Hasil kajian menunjukkan bahwa cuaca ekstrem berkontribusi terhadap meningkatnya risiko kecelakaan laut, keterlambatan jadwal pelayaran, gangguan aktivitas bongkar muat di pelabuhan, serta peningkatan biaya logistik, khususnya di wilayah kepulauan dan daerah terpencil yang sangat bergantung pada transportasi laut. Dalam konteks global, tantangan serupa juga dihadapi oleh negara-negara maritim lainnya, namun terdapat perbedaan signifikan dalam tingkat kesiapsiagaan, pemanfaatan teknologi, dan kepatuhan terhadap regulasi internasional. Negara-negara dengan sistem peringatan dini yang terintegrasi, armada kapal yang adaptif terhadap cuaca ekstrem, serta standar keselamatan yang ketat cenderung memiliki ketahanan transportasi laut yang lebih baik. Oleh karena itu, penguatan kapasitas nasional melalui pengembangan teknologi, peningkatan infrastruktur, dan kerja sama internasional menjadi langkah strategis yang perlu dioptimalkan.

R, Capt. Pantjadjatmika; Jabrial, Nur Achmad; Mardiana, Mardiana; Jhon, M

Jurnal Pendidikan Manajemen Transportasi 2025 Sekolah Tinggi Manajemen Transportasi (STMT Malahayati Jakarta)

Dalam rangka menjamin keselamatan transporasi laut selama dalam pelayaran maka penulis melakukan suatu penelitian literut dan kajian Pustaka dimana dengan kajian ini penulis berharap bahwa akan menambah wawasan atau literatur tentang pentingnya stabilitas kapal selama dalam pelayaran dan juga untuk mengetahui bagaimana pentingnya menjaga kondisi stabilitas kapal pada saat berlayar atau melakukan pelayaran dari satu Pelabuhan ke Pelabuhan lainnya dengan kondisi muatan penuh sehingga dapat menunjang serta menjamin keselamatan transportasi laut. Hal yang diinginkan adalah mengetahui apakah kondisi stabilitas kapal selama dalam pelayaran penting dan bagaimana menjaga stabilitas kapal yang baik selama dalam pelayaran lalu apa yang harus dilaksanakan atau dilakukan oleh awak kapal dalam hal ini para navigator kapal laut dalam menjaga stabilitas kapal serta apakah telah dilakukan sesuai dengan prosedur yang telah ditentukan berdasarkan kaidah keselamatan pelayaran serta peraturan yang telah ditetapkan oleh IMO (international maritime organization), dan tentu saja dengan dilakukan analisis yang baik dan sesuai prosedur maka diharapkan akan dapat menjamin keselamatan pelayaran selama kapal dapam pelayaran yang tentu saja juga akan menciptakan keselamatan transportasi laut. Namun jika tidak dilaksananakan dengan baik serta tidak sesuai dengan prosedur, maka stabilitas kapal selama pelayaran menimbulkan resiko selama dalam pelayaran dan hal ini tentu harus dicari dan diketahui apa yang menyebabkan tidak terlaksananya penerapan stabilitas kapal pada saat muatan penuh karena hal ini sudah pasti akan berkibat rawan terhadap keselamatan transportasi laut khususnya pelayaran kapal. Untuk mengetahui apakah penting menjaga stabilitas kapal dan telah dilaksanakan dengan baik dan sesuai dengan prosedur adalah tidak terdapatnya kejanggalan atau keanehan pada stabilitas kapal selama dalam pelayaran, dan kapal terhindar dari resiko kecelakaan yang diakibatkan karena kelalaian dalam melakukan atau menjaga stabilitas kapal selama dalam kegiatan pelayaran kapal. Penelitian dengan kajian Pustaka dan berbagai literatur terkait dalam menjaga dan  dengan mengetahui pentingnya stabilitas kapal selama dalam pelayaran dari Pelabuhan tolak ke Pelabuhan tiba mendapatkan hasil dari kesimpulan bahwa memang penting awak kapal dalam hal ini para navigator kapal laut menjaga stabilitas kapal selama dalam pelayaran untuk itu wajib bagi  awak kapal untuk selalu menjaga stabilitas kapal pada saat mengangkut muatan penuh selama dalam pelayaran yang selama dalam penelitin literatur ini awak kapal memang sudah dilaksananakan dengan baik, meskipun mungkin masih ada yang tidak sepenuhnya sesuai dengan prosedur atau aturan yang telah ditetapkan sehingga masih berdampak sedikit kurang baik terhadap stabilitas kapal, namun tidak sampai menimbulkan resiko kecelakaan kapal karena memang awak kapal telah dibekali keahlian dalam menjaga stabilitas kapal  selama dalam pelayaran kapal.

Mardiana, Mardiana; Sukardi, Sukardi; Rendi, Rendi; Laksmana, Boy; Laksmana, Boy

Jurnal Pendidikan Manajemen Transportasi 2025 Sekolah Tinggi Manajemen Transportasi (STMT Malahayati Jakarta)

Kedisiplinan kru merupakan faktor krusial dalam operasional kapal penumpang, yang berkontribusi terhadap keselamatan, efisiensi, dan kelancaran pelayaran. Nakhoda sebagai pemimpin tertinggi di kapal memiliki peran penting dalam menerapkan strategi kepemimpinan guna memastikan bahwa setiap kru menjalankan tugasnya dengan disiplin. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi strategi kepemimpinan yang diterapkan oleh nakhoda KMP. BAMBIT dalam menjaga disiplin kru, menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi kedisiplinan kru, serta mengevaluasi efektivitas strategi kepemimpinan tersebut dalam menunjang keberhasilan operasional kapal. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif, dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Subjek penelitian adalah nakhoda dan kru KMP. BAMBIT yang berjumlah 19 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nakhoda menerapkan strategi kepemimpinan berbasis disiplin, komunikasi yang efektif, pemberian penghargaan dan sanksi, serta pengembangan kapasitas kru melalui pelatihan rutin. Strategi ini terbukti efektif dalam meningkatkan kedisiplinan kru, yang pada akhirnya berdampak positif terhadap efisiensi dan keselamatan operasional kapal. Penelitian ini memberikan kontribusi bagi dunia maritim, khususnya dalam pengelolaan sumber daya manusia di kapal penumpang. Rekomendasi dari penelitian ini mencakup perlunya peningkatan pelatihan kepemimpinan bagi nakhoda serta implementasi kebijakan yang lebih sistematis dalam menjaga kedisiplinan kru.

Dwi Arif, Muhammad; Sohriadhana, Rikman; Mardiana, Mardiana; Sukardi, Sukardi

Jurnal Pendidikan Manajemen Transportasi 2025 Sekolah Tinggi Manajemen Transportasi (STMT Malahayati Jakarta)

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi optimalisasi sumber daya manusia dalam meningkatkan kinerja crew kapal laut. Latar belakang penelitian ini adalah pentingnya peran awak kapal sebagai ujung tombak operasional pelayaran, yang tidak hanya dituntut memiliki kompetensi teknis, tetapi juga keterampilan manajerial, komunikasi, serta kedisiplinan kerja. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik wawancara mendalam, observasi, dan analisis dokumen. Informan terdiri dari nahkoda, perwira, dan awak kapal pada perusahaan pelayaran nasional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa optimalisasi sumber daya manusia dapat dilakukan melalui peningkatan kompetensi teknis, pelatihan soft skill, manajemen waktu kerja, serta peningkatan kesejahteraan dan motivasi kerja. Kesimpulan penelitian ini menegaskan bahwa kinerja crew kapal laut dipengaruhi oleh sinergi antara kebijakan manajemen perusahaan, kesiapan individu, dan lingkungan kerja.

Octy Avriani; Mardiana, Mardiana; Laksmana, Boy; Harmuzan, Harmuzan

Jurnal Pendidikan Manajemen Transportasi 2025 Sekolah Tinggi Manajemen Transportasi (STMT Malahayati Jakarta)

Transportasi laut merupakan tulang punggung perdagangan global, namun aktivitasnya berkontribusi signifikan terhadap emisi gas rumah kaca, pencemaran laut, dan kerusakan ekosistem. Kebijakan go green dalam sektor ini diarahkan untuk mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan sekaligus mendorong efisiensi ekonomi. Artikel ini meninjau kebijakan hijau pada transportasi laut dari perspektif lingkungan dan ekonomi. Tinjauan literatur dan regulasi menunjukkan bahwa penerapan energi alternatif, efisiensi bahan bakar, serta penggunaan teknologi ramah lingkungan mampu menurunkan emisi sekaligus meningkatkan daya saing pelaku usaha. Namun, tantangan utama terletak pada biaya investasi awal dan keterbatasan infrastruktur.

Harmuzan, Harmuzan; Dapot Diaman; Mardiana, Mardiana; Boy Laksmana; Ihram Wiratantri

Jurnal Publikasi Sistem Informasi dan Manajemen Bisnis 2025 Pusat Riset dan Inovasi Nasional

This research investigates how maintenance of Anchor Handling Tug Supply (AHTS) vessels and the availability of spare parts affect operational efficiency in Pertamina Marine Solutions’ Transko Andalas activities. Using a qualitative approach, the study engaged maritime experts, engineers, and operational supervisors to identify essential determinants of vessel performance and continuity. Data collection was conducted through semi-structured interviews, focus group discussions, and thematic analysis, which provided insights into maintenance issues and their direct implications for daily operations. The findings show that operational efficiency improves significantly when preventive maintenance is carried out consistently and supported by reliable spare parts availability. Conversely, delays in spare parts procurement, shortages of skilled technical staff, and gaps in maintenance expertise are found to weaken vessel reliability. The study makes an important contribution to the field of maritime transportation management by offering practical, evidence-based maintenance guidelines and emphasizing the importance of developing human resources for specialized offshore support vessels. In addition, the research highlights several practical measures, including the establishment of stronger maintenance systems, the provision of comprehensive training for technical personnel, and the optimization of supply chain strategies to ensure timely spare parts readiness. These implications provide valuable direction for enhancing operational performance and sustainability within the Indonesian maritime sector, particularly in complex offshore support operations where efficiency and reliability are critical.

Putri Dwi Jayanti; Mardiana, Mardiana; Boy Laksmana; Sukardi, Sukardi; Rajes Kahardianto

Jurnal Publikasi Sistem Informasi dan Manajemen Bisnis 2025 Pusat Riset dan Inovasi Nasional

This research explores how pilotage-tug assistance, cargo-handling efficiency, and document-processing duration affect the operational performance of PT. Berkah Tata Baruna, Branch Banten. Adopting a qualitative descriptive design, the study utilized interviews, focus group discussions, and analysis of official documents to capture a wide range of stakeholder perspectives, including port authorities, shipping agents, and maritime cadets. The collected data were examined through thematic analysis and further consolidated into two evaluative measures: the Port Call Friction Index (PCFI) and the Agency Performance Score (APS). The findings indicate that shortcomings in tug services, loading-unloading productivity, and administrative procedures impose considerable limitations on agency effectiveness, even though the overall performance assessment remains generally favorable. Beyond these operational insights, the study contributes to the literature on maritime economy and sustainability by presenting practical diagnostic instruments that can be applied in similar contexts. Furthermore, it strengthens the relevance of vocational maritime education by linking theoretical learning with the realities of port operations. The results also emphasize the pressing need for stronger coordination among stakeholders, simplification of documentation workflows, and systematic training programs designed to enhance professional competence. By addressing these areas, shipping agencies and port authorities can improve service delivery, minimize delays, and foster sustainable practices that align with the broader objectives of maritime development.

Nur Afifah Nazaruddin; Hermiaty Nasaruddin; Mardiana, Mardiana

Jurnal Riset Rumpun Ilmu Kedokteran 2025 Pusat riset dan Inovasi Nasional

Low Back Pain (LBP) is one of the most common musculoskeletal problems experienced by people in various age groups and work backgrounds. This complaint can be acute, subacute, or chronic, with various causes ranging from mechanical, degenerative, to psychosocial factors. This study aims to examine the characteristics of LBP through a literature review of several previous studies that focus on prevalence, risk factors, and their impact on patients' daily lives. The method used is a narrative literature review, with data sources coming from national and international journals, research reports, and academic repositories. The results of the study show that the prevalence of LBP is very high, with a significant percentage of occurrence in the elderly, pregnant women, administrative workers, and individuals with a sedentary lifestyle and non-ergonomic work posture. In addition to age, female gender, non-ideal body mass index, and long work duration, it was also found that psychosocial characteristics such as low social support and high work pressure play a role in triggering or worsening LBP. A study at Ibnu Sina Hospital Makassar showed that most LBP patients were elderly women with acute pain and radiological results showed lumbar spondylosis as the most common diagnosis. The conclusion of this study emphasizes the importance of prevention through ergonomic education, work stress management, and early intervention based on a healthy lifestyle. These findings are expected to be the basis for designing promotive and preventive strategies for high-risk groups.

SE, MM, M.Mar, Capt. Pantjadjatmika R; Mardiana, Mardiana; Novianto, Anton

Jurnal Pendidikan Manajemen Transportasi 2025 Sekolah Tinggi Manajemen Transportasi (STMT Malahayati Jakarta)

Dunia transportasi saat ini telah berkembang dengan sangat pesat termasuk dalam transportasi laut dimana teknologi maritime mengikuti perkembangan zaman, dan dalam transportasi laut dibutuhkan moda transportasi laut yang dapat mewujudkan perpindahan barang dan penumpang dari satu tempat ke tempat lain dengan aman, selamat dan ekonomis, moda transportasi laut transportasi laut tersebut dalam dunia transportasi laut dinamakan kapal, dan sebuah kapal agar dapat menjadi alat transportasi laut yang aman harus memenuhi standara keselamatan dalam pembuatannya bergantung dari jenis kapalnya dimana hal tersebut telah diatur oleh IMO (International Maritim Organisation) yang merupakan salah satu badan PBB (Perserikatan Bangsa Bangsa) dimana IMO mempunyai 4 (empat) pilar utama peraturan hukum dibidang pelayaran internasional, dari keempat pilar tersebut masing masing saling berkaitan dalam menjamin keselamatan transportasi laut, khususnya dunia pelayaran, salah satu pilar IMO (International Maritim Organization) adalah yang berkaitan dengan berkaitan dengan keselamatan jiwa dilaut yang mencakup segala jenis kapal laut adalah SOLAS (Safety of Life at Sea), sebagaimana disebutkan pada awal awal kalimat bahwa kapal kapal yang melakukan pelayaran harus memenuhi standar keselamatan dan standar keselamatan tersebut diatur secara lengkap dan detail pada SOLAS (Safety of Life at Sea), namun keselamatan pelayaran bukan hanya terdiri dari standar keselamatan kapalnya saja, melainkan juga harus diikuti dengan standar keterampilan dan keahlian dari para awak kapalnya, agar merak dapat melayarkan kapal dengan aman, selamat dan ekonomis, sehingga untuk menjamin standara kesematan tersebut IMO (Intenational Maritim Organization) juga mengeluarkan peraturan hukum dibidang standar pelatihan awak kapal dan ini juga merupakan salah satu dari 4 pilar utama dari IMO yaitu STCW (Standar of Training, Certification and Watchkeeping) yang merupakan konvensi internasional yang mengatur standar pelatihan, sertifikasi, dan dinas jaga bagi pelaut, tujuannya adalah untuk memastikan keselamatan seluruh awak kapal saat  bekerja dikapal, ternasuk Nahkoda kapal, yang mana dalam sebuah kapal keberadaan Nahkoda adalah sebagai pemimpin tertinggi diatas kapal, sehingga Nahkoda harus mampu dan cakap dalam menjamin keselalamatn pelayaran, dengan demikian peran seorang Nahkoda sangat penting dalam menjaga keselamatan kapalnya dalam setiap pelayaran, antara lain adalah Nahkoda mampu berperan sebagai penentu kebijakan dikapal, nahkoda harus mampu berperan sebagai pembuat keputusan yang benar dan tepat selama dalam pelayaran dan nahkoda juga harus mampu berperan sebagai penjaga kedamaian atau situasi kondusif dikapal, sehingga dalam setipa pelayaran kapal Nahkoda kapal dapat menjamin terciptanya keselamatan transportasi laut.

Mardiana, Mardiana; Kamsariyati, Kamsariyati

Jurnal Pendidikan Manajemen Transportasi 2025 Sekolah Tinggi Manajemen Transportasi (STMT Malahayati Jakarta)

PT Rifjali Sukses Indonesia which wants to participate in development, especially in the field of sea transportation. In line with efforts to achieve development goals in the economic and social fields, namely to improve a better standard of living both materially and spiritually, special attention is needed to the human resource factor (HR), especially in the protection and welfare of the crew's labour. The crew recruitment process at PT Rifjali Sukses Indonesia is in accordance with the existing theory. The parties responsible for the recruitment process are the Crewing Division and other staff required in the recruitment section. The recruitment methods used by PT Rifjali Sukses Indonesia are internal and external methods, but the company tends to recruit internally because the cost is lower, faster and easier. The internal method uses references from current employees or crew members and the external method uses cooperation from shipping institutions. The recruitment process begins with notifying job vacancies, then using recruitment methods, and finally job applicants come to the PT Rifjali Sukses Indonesia office.